Absolute Twin Magician

Absolute Twin Magician
Iblis berwujud manusia


__ADS_3

"Zayn!!"


Sungguh keadaan yg membuat hatiku terasa perih. Bagaimana pun juga, mana ada gadis yg tak merasa sakit ketika melihat lelaki yg dicintainya terkulai lemah ditanah.


Zayn terbaring lemas dengan darah yg mengalir dari luka di lehernya. Kedua vampir yg terkejut dengan serangan tiba-tiba Aoi tadi mundur menjauh. Ini kesempatan kami untuk mendekat.


"Elie, tolong selamatkan Kayn." Ucap Shiki.


"Baik!".


Aoi dan Shiki bergerak lebih dulu untuk menghalau para vampir agar tak mendekati kami. Aku dan Liana bergerak menghampiri Zayn, memberikan pertolongan pertama padanya.


Sebagai seorang pendukung dan sekaligus satu-satunya orang yg bisa menggunakan sihir medis, hanya aku yg dapat menyelamatkan Zayn dari keadaan ini. Dengan sigap aku menutup luka dilehernya. Meskipun begitu, Zayn sudah kehilangan banyak darah. sepertinya ia akan terus pingsan untuk beberapa saat.


"Bagaimana ini bisa terjadi...."gumamku dengan perasaan yg kacau.


"Bertahanlah Elie...jangan sampai emosi membuatmu lengah." Ucap Liana di sisiku.


"Ya...aku tahu."


Aku tak tahu siapa vampir itu, tapi sepertinya mereka bukan vampir biasa. Apa mungkin mereka yg dipanggil dengan sebutan Vampir bangsawan itu?


"Liana, tolong bantu kak Shiki!" Teriak Aoi memberi arahan.


"Baiklah."


Aoi bertukar posisi dengan Liana. Ia segera menghampiriku yg sedang mencoba untuk menyembuhkan Zayn. Sepertinya ada yg tak normal dengan tubuh Zayn. Lukanya sudah tertutup, tapi aku merasa seakan tubuhnya semakin lama semakin melemah.


"Elie, bagaimana keadaanya?" Tanya Aoi padaku.


"Sepertinya ada yg aneh dengan tubuh Zayn." Jawabku.


"Ah, begitu ya... Si sialan itu sudah menanamkan racunnya."


"Racun?!"


Tak merespon keterkejutan ku, Aoi mengeluarkan sebuah tabung berisi cairan berwarna hitam didalamnya. Ia membuka penutupnya dan memperlihatkan sebuah jarum kecil mencuat dari ujung tabung kecil itu.


"A-apa itu?" Tanyaku.


"Tak ada waktu untuk menjelaskan. Kita harus segera menyuntikkan penawar ini ke tubuh Zayn." Jawab Aoi.

__ADS_1


"T-tunggu dulu, sebenarnya apa yg terjadi?"


"Singkatnya, saat ini Zayn sudah terkontaminasi racun pembunuh milik Vience, vampir yg menggigit Zayn tadi. Jika kita tak segera memberinya penawar, Zayn mungkin tak akan terselamatkan."


Setelah mengatakan itu, Aoi menancapkan tabung dengan jarum kecil itu ke leher Zayn. Cairan itu langsung mengalir masuk ke pembuluh darah di tubuh Zayn.


"Setidaknya dengan ini kita bisa merasa sedikit lega." Ucap Aoi. "Ini bukan penawar asli, penawar ini hanya memperlambat efek Deri racun di tubuhnya. Karena itu kumohon terus bantu sembuhkan Zayn dengan sihirmu itu Elie."


"Tak kau suruh pun pasti akan kulakukan." Ucapku pasti. "Percayakan Zayn padaku, kau bantulah Liana dan kakakmu."


"Ya." Jawab Aoi. "Aku sudah memberitahu Kayn keadaan saat ini. Kita akan mengulur waktu sampai mereka tiba."


Kayn ya. Mengingat dia salah satu yg terkuat di organisasi, kupikir kedatangannya cukup membantu. Tidak, jika dia datang vampir itu pasti bisa kami kalahkan. Aku harus bertahan dan terus memperhatikan keadaan sembari menyembuhkan Zayn.


Alur pertarungan terlihat berat sebelah. Walaupun kami menang di jumlah, itu tak membuat kami memegang kendali pertarungan. Shiki dan Aoi mungkin masih sanggup menahan dua vampir itu, tapi mereka tak mampu menggoreskan luka sedikitpun ke tubuh dua vampir itu. Bahkan dengan bantuan Liana, kedua vampir itu tak terlihat kewalahan sama sekali. Mereka seakan memiliki tenaga yg sangat besar. Dan kerja sama mereka bedua juga mengerikan, sangat sempurna. Setiap kali si vampir wanita hendak menyerang, vampir pria itu selalu membukakan jalan untuknya. Dan tiap kali yg wanita dalam bahaya, si vampir pria itu selalu muncul membantunya. Mereka benar-benar duo yg mengerikan.


"Vience de Meer, Chase Argonaut...kalian benar-benar merepotkan ya." Ucap Shiki menahan lelah.


"Aku tak ingin mendengar kata-kata terakhir kalian karena kalian sudah mengganggu makan malam kami...kau harus mati tanpa mengucapkan perkataan apapun." Ucap vampir wanita. Kalau tak salah, Shiki memanggilnya Vience de Meer.


Dan Chase Argonaut, itu pasti si vampir pria.


Mereka terus-menerus memberikan serangan dan pertahan terbaik mereka. Tapi tetap saja perbedaan stamina yg terlalu besar ini membuat mereka dalam masalah. Aoi mulai kehabisan peluru. Shiki sudah mulai kelelahan. Dan Liana juga sudah menggunakan terlalu banyak Manna. Sedangkan disisi lain, para vampir itu masih segar bugar seakan tak melakukan apa-apa sebelumnya. Ini gawat, apa vampir bangsawan memang sekuat ini atau kami yg lemah. Ini benar-benar masalah besar.


Tepat setelah pikiran itu terlintas di kepalaku, sebuah kebenaran yg menyakitkan muncul dihadapanku. Hal yg paling tak kuinginkan terjadi, hal yg paling kutakutkan dalam sebuah pertarungan sungguhan.


Percikan darah segar menempel di dinding sekolah, disertai dengan suara hentakan yg cukup keras. Di depan mataku, sosok gadis berambut pirang terkulai lemas di tanah dengan luka sobek yg besar di punggungnya. Darah segar berwarna merah pekat segera mengalir dari lukanya. Membuat hatiku menjadi semakin perih.


"Li...Li...."


Aah, bagaimana ini semua bisa terjadi?


"Liana!!!!"


Liana terkena serangan telak di punggungnya tepat setelah ia hampir melukai Vience. Vience dengan sangat cepat memutar tubuhnya kebelakang Liana dan menebasnya dengan tangan kosong. Setelah mendapat luka yg parah itu, Chase menambahkan sebuah tendangan keras hingga membuat Liana terhempas menabrak dinding dan kemudian terjatuh diatas tanah berumput.


"Ti...tidak...Liana."


Aku tak mampu berkata-kata. Air mataku mengalir begitu saja. Dihadapi dua keadaan menyakitkan ini, aku mulai menyalahkan diriku yg lemah ini.


"Kurang ajar kalian...."

__ADS_1


Sebuah tekanan amarah yg begitu dahsyat muncul dari atas atap. Tekanan itu membuat Manna disekitar kami menjadi kacau, dan itu membuat kami merasa sesak. Sama halnya dengan kami, kedua vampir itu juga terpengaruh dengan tekanan mengerikan ini. Sepertinya mereka benar-benar telah menggali kuburan mereka sendiri.


"I-itu...Kayn?"


"Dan juga...Fiera?"


"Apa-apaan tekanan mengerikan ini? Sebenarnya siapa mereka berdua?" Shiki mulai merasa risih.


Diatas atap, dua orang pemuda dan pemudi berdiri menatap tajam kearah dua vampir itu. Aku tak bisa melihat wajah mereka berdua dengan jelas, seakan-akan aura merah yg menyeruak keluar dari tubuh mereka menutup pandangan kami.


"Sepertinya...mereka benar-benar marah besar sekarang." Ucapku, sambil mencoba memberi Liana pertolongan pertama.


"Tu-tunggu dulu, kau tak terganggu dengan keadaan ini?" Tanya Aoi.


Aku mengangguk.


"Inilah yg akan terjadi...jika ada yg memancing amarah terbesar yg selama ini mereka pendam."


Chase yg merasakan bahaya mulai keringat dingin. Vience juga merasakan bahaya yg besar dari dua orang yg tengah berdiri di atas atap itu.


"Siapa sebenarnya...mereka itu?" Ucap Chase.


Kayn mengangkat mukanya, memberikan tatapan intimidasi ke mereka berdua. Fiera mengangkat senjatanya, menunjukkan wajah yg menyeramkan.


Tato di mata Kayn dan di kaki Fiera mengeluarkan sinar merah pudar.


"...kalian...berani juga kalian melakukan ini ke Liana dan juga adik ku satu-satunya." Ucap Kayn. Tatapannya semakin menyeramkan.


"Tak bisa dimaafkan, Tak bisa dimaafkan, Tak bisa dimaafkan, Tak bisa dimaafkan, Tak bisa dimaafkan......."


Fiera tak hentinya mengatakan kalimat itu, seakan-akan dirinya tengah dirasuki iblis. Tatapan kejamnya muncul, bagaikan orang yg kerasukan.


"Fiera...." panggil Kayn.


Fiera tak menanggapi panggilannya. Tapi Kayn terus melanjutkan kata-katanya.


"...Bunuh mereka...."


Seketika, Fiera berhenti bicara. Ia kemudian menoleh ke Kayn sejenak. Dan saat ia kembali menoleh ke para vampir, ia memberikan sebuah senyuman yg penuh dengan hasrat membunuh. Sama sekali bukan senyuman yg hangat dan penuh ras sayang. Itu senyuman orang yg baru saja diizinkan untuk membunuh orang yg sangat ingin ia bunuh.


Benar-benar senyum yg mengerikan.

__ADS_1


"Hehehehehe....tentu saja."


__ADS_2