
" sebenarnya, ayah dan ibu sudah meninggal 7 tahun yg lalu "
" Saat itu kami masih berumur 10 tahun..."
Keluarga Bathory terdiam mendengar jawaban kami. Elie dan Liana melakukan hal yg serupa. Wajar saja, ini pertama kalinya kami memberitahu mereka tentang hal ini. Seketika mereka semua memandang kami kasihan, sekaligus prihatin.
" Maaf menanyakan hal itu...pasti berat rasanya ya kehilangan orang tua, padahal kalian masih sangat muda..." Ucap nyonya Celica prihatin.
Mendengar respon nyonya Celica, aku dan Kayn menggeleng.
" Kami sudah terbiasa hidup mandiri....lagipula ada orang yg merawat kami tepat setelah ayah dan ibu terbunuh.." jawab Kayn. Kami berdua berusaha tersenyum .
" Kalau begitu sebagai permintaan maaf kami, kalian berdua tinggallah dulu di rumah kami" ucap pak Vermount, mengusulkan.
Dan tentu saja kami berdua menolak usulan itu mentah-mentah.
" Maaf..kami tak bisa melakukannya" ucap Kayn " lagipula keberadaan kami hanya akan memperburuk keadaan keluarga kalian"
" Kalian sama sekali tak membuat kami dalam bahaya kok, tenang saja" bujuk nyonya Celica. " Lagipula kalian bisa dlm bahaya kalau berkeliaran malam-malam begini"
" Ada alasan khusus kenapa kami tak bisa memenuhi permintaan anda, pak Vermount dan nyonya Celica" balas Kayn sopan.
" Jangan khawatirkan kami. Kami tak akan berada dalam bahaya. Kalaupun ada penjahat mendatangi kami, mereka lah yg dalam bahaya" ucapku.
__ADS_1
" Zayn benar, jangan remehkan keluarga Endarker." Sambung Kayn sambil tersenyum " begini-begini, kami ini adalah keluarga penyihir "
Elie dan juga Liana tersenyum memandangi kami. Tentu saja, hanya mereka yg mengerti apa yg kami maksud. Soalnya hanya mereka yg melihat secara langsung pertarungan waktu itu. Keluarga Bathory pun kelihatannya sudah mulai lega dan menerima alasan kami, walaupun sedikit ambigu...
" Baiklah kalau memang begitu " jawab pak Vermount " kalau kalian mau, kalian boleh main kerumah kok "
" Dengan senang hati"
Kayn tersenyum, kemudian menatap ke Elie dan juga Liana.
" Tolong jaga Liana, Elie" ucapnya
" Baiklah, serahkan padaku" jawab Elie sambil mengedipkan sebelah matanya.
" Elie, jelaskan kondisi Liana pada orang tuamu, tapi jangan sampai identitas kami bocor, kalau kau masih menyayangi keluargamu ini" bisikku. Sontak Elie sedikit terkejut.
" Orang yg mengetahui tentang identitas kami bisa saja diincar oleh iblis. Kami mungkin masih bisa melindungimu dan juga Liana, tapi tidak dengan keluargamu.." jawabku. Seketika Elie jadi sedikit lega " maaf karena menyeretmu kedalam masalah ini Elie"
" Tidak apa-apa kok, lagipula ini keinginanku sendiri" balas Elie tersenyum lebar.
Perbincangan kami selesai, aku dan Kayn bangkit dari kursi sofa dan menghadap ke ayah dan ibu Elie. Sudah saat nya kami pamit pergi.
" Pak Vermount, nyonya Celica, terimakasih atas jamuannya. Teh anda sungguh nikmat " puji Kayn " kami harus segera pulang kerumah. Maaf tak bisa memenuhi permintaan anda..."
__ADS_1
" Baiklah, tak perlu minta maaf seperti itu. Tadi itu hanya permintaan egois dariku" jawab pak Vermount.
" Elie, Liana, jaga diri kalian" ucapku. Elie dan Liana membalas dengan senyuman mereka.
" Selamat malam, Endarker bersaudara"
" Selamat malam, tuan Vermount Bathory"
Setelah mengucapkan kata-kata itu, aku dan Kayn diantar ke depan gerbang rumah oleh seorang pelayan yg disuruh oleh pak Vermount. Hari sudah sangat larut, kami benar-benar sudah harus pulang. Haah, benar-benar hari yg melelahkan. Tak kusangka akan selelah ini jadinya. Ya, tadi itu memang kondisi yg cukup menegangkan. Soalnya, ini pertama kalinya kami menghadapi iblis sekuat itu. Kekuatannya hampir setara dengan raja iblis. Aku masih belum cukup kuat menghadapinya. Mau tak mau kami harus menyeret tubuh kami yg kelelahan setengah mati ini kerumah agar bisa segera beristirahat.
Suasana jalan di kota Bluelagoon malam ini begitu sepi. Sepertinya ini sudah memasuki pertengahan malam. Yg menemani kami hanyalah lampu-lampu jalan serta beberapa suara binatang malam. Benar-benar malam yg sunyi.
" Hei Kayn, kau menyadarinya ya..." Ucapku " tentang ayah "
" Sekali dengar saja aku langsung tahu, walaupun tak sepenuhnya benar" jawab Kayn. " Ayah adalah seorang magic knight, tapi kenapa kita tak pernah diberitahu tentang itu?.....kenapa Oliver dan Stephanie merahasiakannya dari kita?"
" Ya...aku juga penasaran dengan itu" balasku lesu " kalau benar ayah adalah magic knight juga, lalu apa apa gelar dan nomornya?"
" Kalau nomor mungkin...nol? Magic knight number zero, itu terdengar keren bukan?" Tanya Kayn tersenyum. Aku tersenyum tipis.
" Ya...itu pun kalau ayah benar-benar magic knight...." Balasku lagi.
" Iya sih...."
__ADS_1
Masalah Liana selesai, kegiatan harian kami pun berjalan seperti biasa. Tentang hubungan keluarga Bathory dengan ayah juga sudah terungkap. Satu-satunya hal yg masih terpikir di otakku tinggal satu misteri lagi.
Siapa identitas sebenarnya dari Ryunosuke Osamu, sang kepala sekolah? Dan apa sebenarnya hubungan dirinya dengan organisasi Kami?.