
Perintah terbaru dari pak Vestine dikerahkan. Sesuai dengan yg dirapatkan sebelumnya, kali ini kami akan bergerak dengan kelompok berjumlah 5 orang. Akan ada sekitar 9 kelompok yg masing-masing kelompok memegang satu distrik. Tips kelompok juga dipimpin oleh setidaknya satu ketua yg merupakan Reign atau Magic Knight.
Semua bergerak ke distrik masing-masing sesuai arahan dari pak Vestine. Memimpin grup yg berjaga di distrik 6, daerah pertokoan. Disini hampir tak ada rumah yg berpenghuni. Hanya ada kios-kios yg berjejer di sisi jalan.
Sebagai ketua grup, aku bertanggung jawab atas anggota ku. Karena itu aku memutuskan untuk mengintai pergerakan dari atas bangunan yg tinggi. Sedangkan anggota yg lain berjaga di bawah.
Berdasarkan laporan, ada beberapa orang yg berhasil selamat dari serangan Rozalia. Saksi mata mengatakan kalau Rozalia memiliki bentuk tubuh seperti anak gadis berumur 14 tahun. Mereka tak melihat wajahnya dengan jelas, tapi mereka mengatakan kalau Rozalia memilik warna rambut yg berbeda di tiap sisinya. Benar-benar selera warna rambut yg aneh dan norak.
Aku mengaktifkan sihir pendeteksi ku sambil mengamati dari atas bangunan. Sejam menunggu, belum ada tanda-tanda kemunculan vampir. Sepertinya yg dikatakan pak Vestine benar, Rozalia sepertinya berniat mengurangi jumlah kita dengan hanya kekuatan nya. Sepertinya ia sangat percaya diri dengan kekuatannya. Yah, tak salah untuk ras vampir yg percaya diri. Tapi mereka terlalu meremehkan manusia.
Pukul 11 malam, aku mulai merasakan energi sihir yg samar. Energi ini terasa gelap dan kotor, sama seperti yg kurasakan ketika Rozalia muncul pertama kali. Hanya saja energi ini lebih lemah dari milik Rozalia. Ini pasti Blood Sacrified, itu berarti Vampir bangswan mulai bergerak.
"Kalian jaga jarak dan ikuti aku, kita akan memeriksa di suatu tempat," ucapku melalui alat komunikasi.
"Baiklah!"
Aku segera bergerak dengan cepat menuju sumber energi. Sementara itu, anggotaku yg lain mengikuti di belakang. Sejauh ini, aku hanya merasakan satu titik energi saja. Sepertinya hanya ada satu vampir, atau mungkin ada vampir lain yg menyembunyikan keberadaannya. Apapun itu kami perlu bertindak dengan penuh Kehati-hatian.
Saat tiba di pusat energi, aku sedikit tercengang melihat apa yg ada disana. Energi sihir yg kurasakan itu merupakan sebuah gerbang sihir. Lebih tepatnya, gerbang teleportasi.
"Jadi begini cara mereka memasuki kota." Aku masih menatap kearah gerbang, bersiaga jika saja sesuatu muncul dari dalamnya.
Tapi tetap saja, aku tak merasakan apa-apa dari dalamnya.
"Aku akan coba memasukinya. Kalian bersiaplah diluar."
"Baik!"
Dengan pedangku, aku berlari menuju gerbang misterius tersebut. Namun ketika aku berada kurang dari 1 meter darinya, aku mulai merasakan hawa membunuh yg sangat kuat dari dalamnya. Seketika makhluk berbentuk seperti bulat berwarna merah muncul melesat kearahku.
"Ketua!"
Sontak aku menahannya dan melompat mundur. Ini bukan pertama kalinya aku bertemu makhluk ini. Ini adalah Orario, Blood Sacrified milik Rozalia.
"Ketahuan ya. Mau bagaimana lagi. Aku akan membereskan kalian semua secepatnya."
Vampir bertubuh mungil seperti gadis berumur 14 tahun muncul dari dalam gerbang sihir. Wajahnya pucat, dengan taring panjang di mulutnya. Ia menggunakan gaun aneh. Dan juga seperti yg dikabarkan, warna rambutnya juga sangat aneh dan norak.
Rozalia sudah muncul dihadapan kami.
"Itu Rozalia! Segera panggil bantuan!" Teriakku.
"Kapten!"
__ADS_1
Orario tiba-tiba bergerak secepat kilat kearahku. Akupun segera berusaha menahannya dengan kedua pedangku. Tapi, siapa sangka kalau itu tadi hanya pengalihan saja. Sasaran utama Rozalia bukan aku, melainkan anggota yg berada di belakang.
Orario melesat menusuk tiap bagian tubuh anggotaku. Semua yg telah tertusuk tak dapat melakukan apa-apa, darah mereka dihisap, dan tubuh mereka mengering. Seketika, mereka yg tertusuk terlihat seperti daun kering yg tertusuk tombak. Tubuh mereka yg kering bergelantungan di tubuh Orario. Sementara itu, Orario mulai berubah menjadi semakin besar.
"Sialan kau!"
"Hmmm ... Bocah, kau hebat juga bisa menghindari Orario ku. Yah, meskipun itu hanya membuatmu seolah mengarahkan Orario pada manusia yg dibelakang mu. Tapi aku cukup terkesan ..." Rozalia menatapku sambil tersenyum tipis. "Berbahagialah manusia, aku akan memakan darahmu sebagai hadiah atas kerja kerasmu selama ini."
"Jangan bodoh! Kau pikir aku akan membiarkanmu melakukannya?!"
"Eh? Yg benar saja. Apa kau menolak kehormatan untuk menjadi makan malam pertamaku?"
"Pertama katamu? Setelah apa yg telah kau lakukan pada orang-orang ku?!"
"Hey hey, aku tak memakan mereka. Tidak, sebenarnya aku belum memakan mereka. Darah mereka di serap oleh Orario dan belum mencapai mulutku. Jadi aku belum makan apa-apa malam ini."
"Omong kosong!"
Dengan segenap keberanian ku, aku maju hendak menebas Rozalia. Tapi Orario miliknya kembali menyerangku. Meskipun aku tak terluka karena serangannya, tapi Serangan itu cukup untuk membuatku terhempas ke dinding dengan sangat keras.
"Kau ini tak punya sopan santun? Kau sedang bicara padaku lho? Aku ini ratu vampir ke-9."
"Kau kira aku peduli?! Jangan bersikap seolah tak melakukan kesalahan apapun! Kau sudah membunuh rekan-rekan ku!"
"Bukan aku yg melakukannya, tapi Orario." Rozalia merespon dengan muka santai. "Lagipula, apa meminum darah manusia itu kesalahan? Kami ini vampir. Sudah wajar bagi kami membunuh manusia untuk bertahan hidup."
"Meminum darah dan membunuh manusia itu dua hal yg berbeda! Kalau kau meminum darah hanya untuk bertahan hidup, maka kau tak perlu sampai membunuh mereka! Yg kau lakukan itu hanyalah untuk memenuhi hasrat rakus di dalam dirimu! Bukan untuk bertahan hidup!!!"
"Kau ... Banyak omong juga ya."
Hawa membunuh Rozalia berubah berkali-kali lipat lebih besar. Mukanya yg tadi terlihat santai mulai terlihat dipenuhi amarah. Orario yg mengitarinya juga menjadi semakin mengerikan.
"Aku benci manusia yg banyak omong ... Manusia hanya perlu diam dan tunduk padaku. Kalian hanyalah hewan ternak yg akan memuaskan dahagaku. Kalian tak perlu berbicara dan mengkritik ku sesuka hati kalian!!"
Apa ini? Kekuatan nya semakin membesar. Tak terasa, keringat dingin mulai mengalir di tubuhku. Apa yg karus kulakukan? Apa aku harus menghadapinya sendiri? Tidak, aku bisa mati kalau melakukannya. Aku butuh bantuan segera. Tapi dimana bantuan yg seharusnya datang menolong ku?
Sesaat kemudian Orario bergerak kearahku. Mulutnya yg sekarang sudah sebesar bus menganga lebar hendak melahapku.
"Mundur Zayn!"
Sebuah tebasan pedang muncul dengan sangat cepat dan memotong Orario menjadi dua bagian. Seketika, wujud Orario mundur kembali ke tempat Rozalia.
"Kau terlambat Shiki."
"Mau bagaimana lagi, tempatku cukup jauh dari sini."
__ADS_1
Akhirnya bantuan yg kuharapkan tiba. Meskipun hanya Shiki sendirian, tapi ini cukup untuk menahannya.
"Reign ya ... Sepertinya aku tak bisa meminum darah kotor mu itu." Rozalia menatap Shiki jijik. Sekuat apapun vampir, orang yg memiliki jumlah Void yg besar di tubuh mereka tetaplah bukan lawan yg bisa mereka anggap remeh. Meskipun mereka bukan lawan yg seimbang, tapi vampir tak punya alasan untuk membunuh orang yg tak bisa mereka minum darahnya.
Reign yg hampir seluruh darah di tubuhnya mengandung Void merupakan racun yg mematikan bagi vampir.
"Aku tak bisa meminum darahmu, tapi darah bocah kurang ajar itu sepertinya cukup nikmat. Sepertinya aku tak bisa merebutnya sebelum membunuhmu dulu ya ...."
Kali ini, Orario baru kembali muncul. Orario yg sebelumnya terbelah karena serangan Shiki juga kembali menyatu dan beregenerasi. Melawan satu Orario saja sudah membuatku terdesak seperti ini. Lalu bagaiman bisa kami mengalahkan dua Orario sekaligus?!
Dua Orario itu muali menyerang. Kami tentu saja juga mulai bergerak. Bagaimana pun caranya, kami harus bisa bertahan. Tapi tiap kali kami menebas dan memotongnya, mereka langsung beregenerasi dan kembali seperti semula. Ini membuat kami kesulitan.
"Sepertinya kita tak bisa mengalahkannya sebelum penggunanya dihabisi ...."
"Zayn, aku akan menghadapi Orario nya. Kau majulah dan incar Rozalia."
Hey hey apa kau serius?" Tanyaku.
"Tenang saja, kalau hanya menahannya aku bisa."
Shiki mengatakan itu dengan kepastian yg terlihat jelas di matanya. Sepertinya tak ada cara lain. Aku akan melakukannya.
"Baiklah, aku percaya padamu. Tolong urus mereka."
"Serahkan padaku."
Sesuai rencana, Shiki maju dan menghadang kedua Orario itu. Aku pun mundur dan mencari celah untuk melewati mereka. Dan saat celah terlihat, aku segera melesat menuju tempat Rozalia berdiri menatap semuanya.
Kekuatan sihir kualirkan ke pedangku, membuatnya 10 kali lebih kuat dan tajam. Hawa keberadaan ku juga kupudarkan. aku tak yakin kalau itu dapat mengecoh vampir, tapi aku harus mencobanya.
"Fire Armament!"
Sihir api muncul menyelimuti pedang ku. Sebuah tebasan berapi kulancarkan tepat mengarah ke atas kepala Rozalia.
Meskipun begitu, Rozalia sama sekali tak melawan dan hanya tersenyum tipis melihatku.
"Dasar naif ...."
Sebuah penghalang berwarna merah darah muncul dan menahan semau seranganku. Tidak, bukan hanya itu. Semua Seranganku juga dibalikkan, membuatku terhempas kebelakang dan menghantam tanah.
Apa itu? Blood Sacrified lagi? Dan juga itu sama persis dengan sihir Encounter yg digunakan Osamu.
"Zayn kau baik-baik saja?!"
"Yah, aku terlalu meremehkan nya. Aku lupa kalau membunuh ratu vampir tak akan semudah ini."
__ADS_1
"Ya, aku juga tak menyangka nya." Shiki menatap Rozalia dengan kesal. "Tak kusangka dia punya lebih dari satu Blood Sacrified ...."