
Mentari pagi kota Bluelagoon terasa begitu hangat. Pukul 7 pagi aku dan Kayn sudah berangkat ke sekolah. Suasana pagi di kota ini cukup ramai. Semua orang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Para murid berangkat ke sekolah mereka. Orang dewasa yg juga pergi ke tempat kerja mereka. Kota ini sungguh terlihat hidup.
Aku dan Kayn sempat bertemu dengan Elie dan Liana. Pagi-pagi sekali mereka sudah berada di gerbang masuk, menunggu kami. Aku tak tahu kenapa dia sampai datang pagi-pagi sekali hanya untuk menyapa ku. Kalau terlambat pun dia pasti masih bisa menyapaku kan?.
" Zayn, selamat pagi!" Sapa Elie tersenyum lebar.
" Ya, pagi" balasku.
Aku dan Kayn menghampiri mereka. Aku masih sedikit mengantuk dan sering menguap. Kondisi yg tak bagus untuk bertemu seorang gadis bangsawan.
" Zayn. Kuserahkan Liana padamu" ucap Kayn. " Aku akan memberitahumu jika ada ancaman mendekat"
" Tunggu..apa lebih baik kita beritahu si kepala sekolah itu dulu?" Tanyaku " sepertinya lebih baik minta bantuan orang sepertinya kan?"
" Kalau soal itu biar aku yg mengurusnya " jawab Kayn " lagi pula aku jauh lebih baik dalam bersosialisasi dibanding dirimu"
" Ya.... baiklah"
Aku menurut. Lagipula yg Kayn katakan ada benarnya. Dia jauh lebih baik dalam berbicara dibandingkanku. Lagipula aku juga perlu menjaga Liana. Kayn memberikanku tugas ini karena aku sekelas dengan mereka. Karena itu penjagaannya akan jauh lebih mudah.
" Pagi Elizabeth" sapa Kayn hangat.
" Ah, pagi juga Kayn. Kau tak perlu memanggilku Elizabeth. Panggil saja aku Elie." Ucap Elie. " Itu jauh lebih mudah "
" Elie?" Tanya Kayn menoleh padaku
" Itu nama panggilannya..."
" Ah begitu ya..." Gumam Kayn.
Ia kemudian menoleh ke Liana yg juga berada di samping Elie dan menghampirinya. Liana terlihat sangat gugup ketika Kayn mendekat.
" ah, kemarin kita tak sempat berkenalan. Namamu Liliana Rossweis kan? Zayn sudah bercerita tentangmu dan juga Elizabeth."
" Panggil aku Elie " protes Elie. Kayn tertawa kecil.
" Baiklah baiklah.." jawabnya " namaku Kayn Endarker, salam kenal."
" A-ah soal itu.. maafkan aku, soalnya Elie buru-buru sekali. namaku Liliana Rossweis..kau bisa memanggilku Liana...salam kenal..." Balas Liana sedikit malu-malu.
" Liana ya...semoga kita semua bisa akrab" ucap Kayn masih tersenyum hangat.
" Ya, te-tentu saja!"
__ADS_1
" Seperti biasa kau selalu cepat akrab ya Kayn ..." Gumamku.
" Maaf, aku harus segera menemui pak kepala sekolah. Elie, Liana, sampai jumpa" ucap Kayn. Ia memegang pundak ku seraya berbisik " berjuanglah Zayn"
" Aku tahu aku tahu..." Balasku. Kayn membalas dengan senyuman dan bergegas pergi meninggalkan kami
Yah, akhirnya hanya aku dan di gadis ini. Kayn dan Liana sudah bertemu dan berkenalan, perkembangan yg bagus. Tapi tunggu dulu, kenapa Liana kelihatan begitu bahagia setelah bertemu dengannya? Sementara itu, Elie mencuri-curi pandangan hendak menatap wajahku. Aku jadi tak enak dipandang seperti itu.
" Ada apa? Dari tadi kau terus menatapku" tanyaku. Sontak Elie tersentak.
" T-tidak, aku tak menatapmu kok kau saja yg merasa" bantahnya. Oh, jadi kau tak mau mengaku ya. Sekarang giliranku menatapmu balik. Seperti yg kuduga, ia merasa tak nyaman " t-tuh kan, kau yg menatapku"
" Yah, habisnya kau cantik sekali" jawabku masih menatapnya. Spontan mukanya langsung memerah.
" C-cantik?! A-apa yg kau katakan bodoh?!"
" Bercanda " lanjut ku, kembali jalan ke dalam area sekitar " ayo cepat kekelas, aku lelah berdiri disini terus"
" Aaahh!!! Dasar menyebalkan!" Teriak Elie
" Sebenarnya kau yg menyebalkan Elie " balasku.
Liana tertawa melihat tingkah Elie. Ia benar-benar tak bisa menyembunyikan ekspresi nya. Kami bertiga pun lanjut masuk kedalam kelas, bersiap memulai pelajaran.
Kalau boleh jujur, aku ingin Sekali menjadikam Liana sebagai umpan agar banyak iblis yg datang kesini. Dengan itu aku bisa menuangkan rasa kesalku pada iblis-iblis dengan membantai mereka habis-habisan. Lagipula, bertarung adalah hobiku disini. Tapi aku tak tahu apa yg akan terjadi kalau ia benar-benar kujadikan umpan. Bisa-bisa yg terjadi diluar perkiraanku. Konsekuensinya terlalu besar. Lagipula aku merasa tak enak dengan dua pasang sahabat itu. Sepertinya yg dikatakan Kayn malam itu benar. Elie telah berhasil merubah sedikit sifat kejamku.
Jam pelajaran usai, saatnya istirahat. Aku yg kemarin hanya menyendiri ini mulai didekati oleh dua tuan putri. Siapa lagi kalau bukan Elie dan Liana. dan juga apa ini? Mereka mau memamerkan makan siang mereka padaku?
" Apa yg kalian lakukan?" Gumamku kesal. Waktu yg harusnya kugunakan untuk menyendiri ini jadi kacau.
" Makan siang bersama. Kami selalu melakukannya setiap jam istirahat " jawab Elie.
" Ini untuk mempererat persahabatan kita, cara ampuh biar cepat akrab" kali ini Liana angkat suara.
" Setahuku hal itu hanya dilakukan oleh perempuan" jawab ku " lagipula aku tak bawa bekal "
" Tenang saja, aku bawa porsi untuk dua orang" balas Elie. Dia duduk disampingku. Sekarang posisinya sangat dekat, hanya beberapa senti disampingku. " Kita akan berbagi bekal, ini juga agar kita semakin dekat dan akrab.. a-atau kau juga ingin kusuapi.."
" Tak perlu, aku bisa sendiri" cepat-cepat ku tolak usulannya, supaya Tak ada yg mendengar dan salah paham. Lagipula akan gawat kalau ia benar-benar melakukannya.
Makan siang yg ia bawa adalah sekotak roti isi. Setelah kulihat, ini memang porsi untuk dua orang. Mustahil kalau ia membawa makanan sebanyak ini karena keliru. Ini juga bukan porsi makan anak gadis sepertinya. Itu artinya ia memang berniat memberikannya padaku. Bagaimana dia tahu kalau aku tak akan membawa bekal? Selain itu ia sengaja menghampiriku sewaktu istirahat untuk mendapat kesempatan agar bisa makan bersamaku? Apa maksudnya ini? Sebenarnya kenapa ia melakukan ini? Dasar, wanita memang sulit dipahami ya...
Pada akhirnya, aku menurut dan ikut makan siang bersama mereka. Dari yg kulihat, hubungan mereka sudah tak seperti teman biasa lagi. Mereka lebih terlihat seperti keluarga, seperti seorang kakak dan adiknya. Mereka sangat akrab melebihi keakraban ku dengan Kayn, padahal mereka hanyalah teman.
__ADS_1
Selama seharian ini, aku terus mengamati mereka. Mulai dari waktu istirahat, jam pelajaran, pulang sekolah, sampai kami berpisah pulang. Melihat mereka aku jadi sedikit iri. Sejak aku direinkarnasi ke dunia ini, aku tak pernah melakukan ini. Tak pernah ada orang yg kuanggap sebagai teman. Kehidupan yg begitu suram bagi sebagian besar orang.
Aku tak pernah jalan-jalan keluar kota bersama ayah atau ibu ketika kecil. Semenjak aku dirawat oleh Oliver, aku baru mengenal dunia ini, itupun hanya sedikit. Aku mungkin pernah pergi ke kota bersama Kayn. Tapi hanya sebatas itu. Bersama Elie dan Liana cukup membuat hatiku yg keras ini sedikit senang. Tak pernah ada orang yg membuatku sesenang ini. Tak ada orang yg kuanggap teman mengajakku bersenang-senang seperti ini. Karena mereka berdua, keinginanku untuk memiliki teman perlahan kembali muncul.
Sore harinya, ketika kami akan pulang kerumah masing-masing, Elie kembali bertanya padaku.
" Nah Zayn, apa kau mendapat sesuatu hari ini? " Tanyanya. Ini sama seperti yg kemarin. Sesi pembelajaran darinya.
" Yah... sepertinya begitu" jawabku. Entah kenapa, aku jadi lebih jujur dari biasanya. " Aku merasa lebih baik... seperti merasa senang..."
Elie kembali tersenyum lebar. Senyuman yg begitu manis seperti yg ia tunjukkan kemarin. Senyum itu keluar ketika ia merasa senang dengan usahanya, senyum yg begitu tulus.
" Pelajaran nomor 2 : dengan teman, kau akan tahu kalau dunia ini begitu indah. Karenanya kau tahu betapa menakjubkannya pertemanan" ucapnya " asal kau tahu, seseorang dengan temannya akan saling mempengaruhi. Jika kau berteman dengan orang baik kau juga akan menjadi baik, begitu pula sebaliknya"
Ya, aku tahu itu. Karena itu aku tak membantahnya. Karena aku tahu kalau semua yg ia katakan itu benar. Aku jadi menerima fakta kalau aku mulai merasa nyaman bersama mereka. Aku jadi memiliki keinginan untuk melindungi rasa nyaman yg mereka berikan ini.
" Kalau begitu sampai besok Zayn" ucap Elie. Liana juga mengucapkan salam perpisahannya.
" Jaga dirimu baik-baik" ucapnya.
Seharusnya aku yg mengatakan itu. Jika disekolah mungkin aku bisa menjagamu, tapi tidak jika sudah dirumah. Aku tak bisa melakukan apa-apa. Bisa gawat jadinya kalau dia sampai tahu kalau aku ini penyihir yg dibayar untuk menjadi pembunuh bayaran. Walaupun begitu, akan datang waktu dimana kami harus memberitahukan semua padanya. Dan waktu itu tak lama.
Ketika sampai dirumah, Kayn menyambutku seakan-akan ia adalah ibuku. Walaupun masih memegang buku yg ia baca.
" Kayn, bagaimana? Apa yg pak Osamu katakan?" Tanyaku.
Setelah aku bertanya, Kayn mulai bicara serius.
" Dia tak bisa membantu. Ini sudah bukan masalahnya. Ini masalah keluarga Liana. Kita tak bisa membawanya ke markas" Kayn mengucapkannya sambil mengeratkan gigi, kesal. Mendengar itu juga membuatku sedikit kesal. " Dia juga bilang, karena kita sudah mengetahui ini, maka kita harus menyelesaikannya. Kita harus mencari jalan keluarnya sendiri..."
" Tunggu Kayn, kau tak bercanda kan?" Tanyaku " itu mustahil"
" Kau pikir aku akan bercanda disaat-saat seperti ini Zayn?" Tanya Kayn balik. Aku diam.
Kayn benar. Mustahil ia bercanda jika sudah menyangkut masalah kehidupan orang. Yg dipertaruhkan disini adalah nyawa Liana dan ratusan penduduk kota Bluelagoon ini. Tak mungkin dia bercanda disaat-saat seperti ini.
Sial, ini jadi semakin membingungkan saja. Kenapa pak Osamu menolak untuk membantu? Jika dia juga seorang penyihir dari Magic Assosiation seharusnya ia paham keadaannya. Lagipula apa maksud kalau ini masalah keluarga Liana? Aku jadi semakin tak mengerti.
" Zayn...tak ada cara lain, kita harus melindunginya bagaimanapun caranya" ucap Kayn. " Aku akan berpikir dan berusaha mencari jalan keluarnya. Sementara itu kau harus terus mengawasinya. Kau harus melindunginya"
" Aku tahu itu..."
Sepertinya masalah ini akan menjadi semakin rumit dari yg kami pikirkan.
__ADS_1