
"bertarung lah denganku!"
Sebuah permintaan yg tak jelas keluar dari mulut Lia. Sebenarnya apa yg ingin ia lakukan? Memintaku untuk berduel dan memaksa siapapun yg kalah untuk menuruti permintaan si pemenang? Cara yg sangat pasaran.
Apa mungkin ia ingin membuatku bergabung dengan Imperial Paladin melalui cara ini?
"Apa maksudmu?"
"Seperti yg kukatakan, bertarung lah denganku!"
"Tidak, maksudku kenapa kau ingin aku bertarung denganmu?"
"Ah tentu saja itu karena aku terkesan dengan kemampuan bertarung mu, dan aku ingin melihatnya sekali lagi. Lagipula ini bisa menjadi kesempatan ku untuk menguji seberapa hebat kemampuan ku."
"Kenapa harus aku, apa kah tak punya teman yg bisa dijadikan lawan tandingmu? Sampai-sampai meminta orang yg baru kau kenal sebagai lawan."
"B-bukan berarti aku tak punya teman, hanya saja aku tak punya teman yg sekuat dirimu itu!"
"Darimana kau bisa menyimpulkan kalau aku ini kuat?"
"Itu jelas ketika melawan bandit kemarin. Kau tak takut bahkan saat mereka menggunakan sihir!"
Hey hey, itu hal yg biasa. Siapapun akan baik-baik saja jika mengetahui jenis sihir yg digunakan lawan.
"Hanya itu? Kalau hanya itu, temanku juga bisa melakukannya, kau tahu?"
"Bukan hanya itu, kau bahkan bisa menghadapi 3 orang sekaligus, bahkan salah seorang diantaranya adalah petualang rank-B!"
Yah, kalau itu kurasa karena aku sudah terbiasa melawan banyak musuh sekaligus. Dan juga aku tak tahu sekuat apa rank-B itu.
"Tentu saja ini bukan permintaan tanpa imbalan," ucap Lia. Ini dia, tujuan aslinya. "Yg kalah harus menuruti semua permintaan si pemenang. Bagaimana dengan itu?"
Sudah kuduga itu yg diinginkannya. Yah, aku tak tahu seperti apa kemampuannya, karena kemarin ia sama sekali tak berguna di depan sihir. Jadi aku tak bisa menentukan siapa yg akan kalah. Jika aku meremehkannya, bisa saja aku yg kalah. Tapi ini cukup menarik. Sudah lama aku tak melakukan latih tanding dengan seseorang yg sudah terlatih dalam kelompok militer.
Dan juga, jika aku menang aku bisa menggunakan nya sebagai sumber informasi yg berguna. Sekali dayung dua pulau terlampaui.
Tapi tetap saja, aku tak bisa menghitung presentasi kemenangan ku.
"Kalau misalnya aku menang, apa kau bisa memberitahuku semua hal tentang kerajaan ini? Setidaknya semua yg kau ketahui," tanyaku.
"Tentu saja, aku bukan orang yg seenaknya menarik perkataanku."
Benar-benar gadis yg jujur.
Tapi disini aku punya satu masalah. Aku tak bisa melawannya karena bisa saja serangannya membuat sihir Illusion Self ku lenyap. Jika itu terjadi, identitas ku bisa ketahuan.
Jika begitu, pilihanku satu-satunya adalah bertarung serius tanpa membiarkannya menggoresku.
"Baiklah, kurasa itu bukan ide yg buruk."
"Benarkan?! Kau benar-benar mau menerimanya?!"
"Dengan syarat kau harus benar-benar memegang janjimu."
"Tentu saja, aku mempertaruhkan gelar kesatriaku dalam janji ini."
Benar-benar gadis yg gigih. Sepertinya ia benar-benar cocok menyandang gelar kesatria dengan semangatnya itu. Yah, itu akan lebih baik jika ia sedikit lebih pintar.
"Kalau begitu, dimana kita akan bertanding?"
"Kalau soal itu, ikut aku. Aku akan menunjukkan padamu tempat yg cocok untuk pertandingan kita berdua."
"Ah untuk tambahan, aku harap itu bukan tempat yg ramai dengan banyak penonton nya."
"T-tidak mungkin aku membawamu kesana kan?! Jika misalnya aku kalah,aku akan jadi sangat malu nantinya!" Sanggah Lia dengan cepat.
"Oh, kalau begitu baguslah."
__ADS_1
Akan jadi masalah kalau ia sampai membawaku ke arena atau stadium kota. Tempat seperti itu biasanya ramai kan?
Aku tak tahu ia mau membawaku kemana, tapi aku akan mengikuti nya untuk sekarang. Kalau saja dia ada maksud lain, aku akan segera kabur.
Beberapa menit berjalan, kami berdua berhenti di luar dinding kota. Tepatnya di sebuah lembah di salah satu kaki gunung yg ada sekitar 5 kilometer dari gerbang masuk kota. Itu tempat yg cukup luas dan dipenuhi dengan bebatuan. Tempat ini sepi, tak banyak pepohonan, dan tentunya jauh dari penglihatan penduduk kota.
Ah, dan juga alasan kenapa aku bisa keluar dari kota dengan aman adalah karena Lia bersamaku. Disaat aku ditanya oleh penjaga, Lia mengatakan pada mereka kalau aku adalah kenalannya. Untung lah, tapi sepertinya kedepannya aku harus benar-benar membuat kartu identitas di Guild.
"Kita akan bertarung disini," ucap Lia antusias.
"Kenapa kau jadi semangat seperti itu?"
"Tentu saja itu karena aku akan menghadapi lawan sekuat dirimu."
"Apa jangan-jangan kau maniak pertarungan?"
"T-tidak, bukan begitu! Aku hanya sedikit senang bisa bertemu lawan tanding yg seimbang! Bukan berarti aku suka bertarung atau semacamnya! Lagipula aku masih punya sisi feminim sebagai seorang gadis!!"
Aku tak bertanya sampai kesana, kenapa arah pembicaraannya bisa sampai begini?
"Itu bukan hal yg buruk, lagipula kuakui kalau aku ini seorang maniak pertarungan."
Lia terdiam sejenak.
"Eh, benarkah?"
"Itu benar."
"K-kalau begitu baiklah, kuakui aku sedikit menyukai pertarungan ... Hanya sedikit."
"Ya ya, aku tau. Kalau begitu bisa kita mulai sekarang?"
"Apa kau ini benar-benar orang yg tak sabaran? Ternyata kau benar-benar seorang maniak bertarung."
"Berisik, bukankah kau tadi mengajakku kesini untuk bertarung?"
Ada apa dengan gadis ini? Dia benar-benar kikuk.
"Kalau begitu aku akan bersiap."
Lia mengarah tangannya kedepan, dan seketika sebuah sinar berwarna biru terang muncul membentuk sebuah tombak panjang yg indah. Tadi itu, bukankah itu sihir? Jadi ia juga bisa menggunakan sihir?
"Apa itu sihir?" Tanyaku.
"Ah, ini? Bukan, ini bukan sihir. Yah, mungkin bisa dibilang sejenis sihir karena dia menggunakan Manna untuk bisa beroperasi." Ucap Lia. Ia kemudian menunjukkan padaku sebuah gelang berwarna bisa dengan sebuah permata hijau yg ia kenakan di tangannya.
Tunggu, kurasa aku tahu benda apa itu.
"Alat sihir ya?"
"Ah, ternyata kau juga tahu. Seperti yg diharapkan dari penduduk Bluelagoon yg terpelajar."
Berhenti menyebut ku seperti itu, aku sama sekali tak seperti yg kau pikirkan.
"Benda ini menggunakan Manna di dalam tubuh untuk menyimpan berbagai benda ke dalamnya. Ini sangat praktis karena bisa menyimpan berbagai benda, dan bisa digunakan bahkan oleh orang yg bukan penyihir."
Tentu saja, itu karena alasan dibuat nya alat sihir adalah untuk membantu mereka yg tak bisa menggunakan sihir. Karena alat sihir seperti ini biasanya menggunakan sangat sedikit Manna, maka orang biasa pun bisa menggunakannya. Karena pada dasarnya semua orang memiliki Manna walaupun hanya sedikit. Jadi wajar saja benda seperti ini bisa digunakan oleh orang biasa.
Pertanyaannya, kenapa Imperial Paladin, kesatria dari kerajaan yg melarang sihir menggunakan alat sihir?
Sepertinya aku mendapat informasi lebih hari ini.
"Lia, bukankah kerajaan ini melarang sihir?" Tanyaku. "Lalu kenapa kalian malah menggunakan alat sihir?"
"Ya, peraturan larangan sihir itu sudah di cabut jadi tak ada masalah kan?"
"Meskipun begitu, nampaknya kau tak terlihat seperti baru saja menggunakan alat itu. Dimata ku, cara mu menggunakannya terlihat sangat natural, seakan-akan kau sudah sangat lama menggunakannya."
__ADS_1
Kali ini, Lia terdiam sejenak.
"Yah, kau benar. Kami memang sudah menggunakan alat sihir bahkan sebelum peraturan itu dicabut. Bahkan sebelum aku bergabung, alat ini sudah menjadi benda wajib setiap kesatria."
"Lalu apa alasan mereka menggunakan nya?"
"Sebenarnya kerajaan ini tak benar-benar menolak sihir. Mereka hanya menolak para penyihir luar, hanya mereka yg di cap sebagai penyihir."
Ah, aku mengerti maksudnya.
Seorang penyihir itu akan diakui sebagai penyihir jika mereka memiliki bukti atau lisensi yg menunjukkan bakat mereka sebagai penyihir. Itu berarti, yg disebut sebagai penyihir adalah mereka yg memiliki kekuatan yg hebat dan telah diakui. Orang yg baru belajar sihir seperti Elie dan Liana masih belum terdaftar sebagai penyihir. Di mata dunia, mereka hanyalah orang biasa yg menggunakan sihir.
Jadi, bisa dikatakan yg dilarang untuk memasuki kerajaan ini adalah seorang penyihir tingkat lanjut, atau yg bisa disebut sebagai Sage.
Omong-omong, di Magic Assosiation hanya ada beberapa orang yg memegang gelar Sage atau diakui sebagai penyihir. Sage adalah paman Oliver dan nona Stephanie, sedangkan yg diakui sebagai penyihir adalah kak Marry, kak Chezie, Hughess, Tony, dan juga Gale. Sisanya hanyalah penyihir tanpa identitas atau bisa disebut sebagai penyihir tak dikenal.
Sebenarnya mereka semua dicap sebagai penyihir bukan karena keinginan sendiri. Mereka semua punya alasan masing-masing. Kak Marry dianggap sebagai penyihir karena ia mewarisi sihir ciptaan ayahnya yg merupakan seorang penyihir kerajaan. Kak Chezie dikenal sebagai penyihir karena keluarganya meruukeluarga penyihir. Hughess, sepertinya ia dikenal karena kejadian saat ia secara tak sengaja menjadi buronan Redstone. Tony dianggap sebagai penyihir karena pengaruh keluarganya. Dan Gale, itu karena jarang sekali ada pendekar pedang yg menggunakan sihir di zamannya. Setidaknya itu yg kutahu.
Dan yg mengangkat nama mereka sebagai penyihir adalah organisasi lembaga sihir benua Fitzgerald yg berpusat di kerajaan Huntmoon. Mereka adalah organisasi penyihir yg terpercaya di mata masyarakat, dan dianggap sebagai tempat berkumpulnya penyihir berbakat. Mereka juga mempunyai buku sihir yg memuat semua sihir di dunia ini. Buku itu disebut sebagai Buku Sihir Dunia.
Kembali ke pembicaraan sebelumnya, itu berarti sejak dulu sihir sudah biasa digunakan oleh penduduk kerajaan Voracity? Lalu apa maksud mereka melarang penyihir masuk ke kerajaan?
"Sepertinya aku mengerti maksud mu, tapi kenapa kerajaan sampai melakukan itu?"tanyaku. "Bukankah akan jadi lebih bagus jika mereka membiarkan beberapa masuk? Lagipula tak semua penyihir itu jahat."
"Yah, itu karena ...."
Dan entah kenapa, tiba-tiba Lia terdiam. Ia juga tiba-tiba menutup mulutnya sambil memasang ekspresi kecewa. Apa mungkin ia sadar kalau yg ia katakan adalah rahasia?
"Ah aku lupa, bukankah alasan mu menerima duel ini karena kau ingin aku menceritakannya?! Kalau aku mengatakan semuanya duel ini akan jadi sia-sia jika kau menang!!" Teriaknya.
Eh? Ternyata itu alasannya.
"Y-yah, aku tak benar-benar ingin meminta itu sebagai imbalan, kau tahu?" Balasku. Sial, dia berhenti di tengah-tengah pembahasan hanya karena alasan itu?
"Eh? Lalu kenapa? Apa mungkin kau jadi penasaran karena cerita ku barusan?"
Entah kenapa sekarang ia memasang wajah penuh muslihat.
"Itu karena kau menceritakannya sampai sejauh itu. Dan berhenti di tengah-tengah pembahasan penting. Tentu saja aku akan jadi penasaran kan?!"
"Oho, jadi begitu. Kalau begitu kau harus memenangkan duel ini jika ingin tahu kelanjutan nya."
Gadis ini licik juga.
"Baiklah baiklah! Cepat mulai duel ini sekarang!"
"s-sebentar! karena kau mengajakku bercerita persiapan ku jadi terhenti!"
"tunggu, apa kau serius ingin berduel dengan pakaian santai seperti ini?"
"sudah kubilang ini karena kau mengganggu persiapan ku tadi!!"
benar sih, sepertinya lebih baik aku menunggu nya untuk bersiap. huh, wanita di dunia manapun sama saja. kalau soal persiapan dan berdandan, mereka membutuhkan waktu yg sangat lama.
seperti halnya tombak tadi, Lia mengeluarkan sepasang armor ringan dan segera memasangnya ke tubuh. dengan armor bahu, kepala, pinggang, dan kaki itu, kini ia lebih terlihat layaknya seorang kesatria.
"jadi seperti ini sosok mu jika sedang bertugas? tak buruk juga."
"e-eh? apa barusan kau memujiku?"
"sedikit, apa ada masalah dengan itu?"
"t-tidak, hanya saja ... Terimakasih atas pujiannya."
tak diduga ia bisa tersipu hanya dengan pujian ringan seperti itu. benar-benar gadis yg polos.
yah, untuk sekarang mari kita bersungguh-sungguh dan mengalahkan nya.
__ADS_1