
Bola-bola darah melesat kencang dari atas langit, menembaki kami yg berlindung dibalik bangunan. Saat ini, kelompok yg beranggotakan Nona Stephanie, pak Vestine, nona Hallen, dan juga diriku ini tengah bertarung dengan Vampir di distrik 5. Di distrik yg memiliki banyak bangunan dan mansion bangsawan ini, kami memiliki banyak tempat untuk berlindung. Dan juga itu berarti, para vampir juga memiliki banyak tempat untuk bersembunyi dan menyerang diam-diam.
Tapi untuk mereka yg saat ini menyerang kami, mustahil mereka berniat untuk menggunakan cara bertarung yg terkesan pengecut itu. Alasannya karena mereka punya harga diri dan kepercayaan yg tinggi, bahkan terlalu tinggi. Seperti yg diharapkan dari ras vampir, hampir semua dari mereka memiliki rasa percaya diri dan harga diri yg sangat tinggi. Karena itu, menggunakan cara sembunyi-sembunyi itu pastinya akan melukai harga diri mereka.
"Ayolah, bisakah kalian segera keluar dan menghibur kami? Apa semua manusia itu pengecut seperti kalian?"
"Ini akan selesai dengan cepat jika kalian tak serius menghadapi kami lho. Aku sarankan kalian segera maju dan menghadapi kami langsung dari depan, manusia."
Lawan kami saat ini adalah dua vampir bangsawan kelas atas. Dan keduanya memiliki kemampuan serangan jarak jauh.
Vampir yg mengaku menduduki posisi ke-3 dalam penaklukan kota Bluelagoon, Rosalia Ousford. Ia memiliki Blood Sacrified yg menyerupai bola-bola darah yg melayang dan bergerak sesuai perintahnya, Pierce.
Yg satunya lagi mengaku sebagai vampir yg menduduki posisi ke-9, Silvia De Katade. Ia juga memiliki Blood Sacrified dengan kemampuan serangan jarak jauh. Blood Sacrified Havania, Sepasang sayap yg terbuat dari darah. Sayap itu dapat menembakan bulu-bulu merahnya menjadi seperti ratusan panah yg melesat cepat.
Dan juga, kedua-duanya wanita.
"Vestine, Hallen, apa kalian punya informasi mengenai kedua Blood Sacrified itu?" Tanya nona Stephanie. Seperti biasa, ia terlihat santai. Meskipun kali ini, pertanyaannya terdengar begitu serius.
"Dari kedua Blood Sacrified itu, Havania adalah yg paling rapuh. Kelemahannya adalah bagian pangkal sayap. Jika bagian itu ditebas atau dipotong, Havania akan menghilang dan memerlukan waktu untuk kembali pulih," jelas Nona Hallen. "Sedangkan Pierce, ia hampir tak punya kelemahan. Satu-satunya cara untuk mengalahkan Pierce adalah dengan membunuh penggunanya."
"Pierce akan selalu aktif selagi penggunanya masih hidup. Karena itu, membunuh penggunanya adalah satu-satunya cara. Tapi, melakukan itu bukan hal yg mudah. Ketika penggunanya dalam bahaya, bola-bola itu dapat berganti perang sebagai pelindung dan menyerang siapapun yg mencoba untuk mendekatinya," jelas pak Vestine juga.
"Jadi, akan lebih bagus untuk mengalahkan si Silvia yg merupakan pengguna Havania itu terlebih dahulu kan?" Tanya ku.
"Itu benar tapi jangan terlalu meremehkan nya Liliana," jawab pak Vestine. "Meskipun rapuh, Havania kurang lebih memiliki kemampuan yg sama dengan Pierce dalam pertahanannya. Ia dapat melindungi pengguna nya dari serangan jika didesak. Karena itu, serangan dadakan akan jauh lebih bagus untuk melawannya."
"Hmmm, sepertinya mereka lawan yg cukup menarik," ucap nona Stephanie.
"Sudah kubilang jangan remehkan mereka Stephanie," sahut pak Vestine.
"Aku tak meremehkan mereka, aku hanya sedikit tertarik untuk melawan mereka," jawabnya. Nona Stephanie benar-benar santai. Aku iri dengannya yg bisa selalu santai kapanpun dia mau.
"Jadi, apa rencana nya?" Tanya nona Hallen. Berkebalikan dari nona Stephanie, nona Hallen selalu terlihat serius.
"Menyerang mereka berdua sekaligus akan sangat merepotkan. Aku akan mencoba untuk menjauhkan salah satu dari mereka," ucap nona Stephanie. "Vestine dan Hallen. Bantu Liliana menghadapi yg satunya. Sebisa mungkin, Serang dia dari dekat."
"Kau yg seorang medis ini berniat menyerang sendirian? Ternyata kau masih penggila pertarungan ya ...." Ucap pak Vestine.
Aku sedikit kaget mendengarnya, nona Stephanie adalah penggila pertarungan seperti Zayn? Yg benar saja! Bukankah beliau itu ahli medis, dan bukan petarung?
"Jangan menyebutku dengan panggilan itu Vestine, aku ini masih waras kok."
"Tidak ada seorang medis waras yg akan maju ketengah pertempuran dan berperan sebagai penyerang garis depan seperti mu. Aku tahu kau sanggup, tapi aku tak akan membiarkan mu melakukan nya," Ucap pak Vestine. "Hallen akan ikut denganmu. Disini aku ketuanya, jadi tak ada keluhan."
"Huh, baiklah baiklah. Lagipula aku juga butuh penyerang jarak jauh disini."
"Kalau begitu, aku dan Liliana akan mengincar pengguna Havania. Stephanie dan Hallen, kalian urus si pengguna Pierce."
"Baiklah ...."
Suara serangan mereka mulai mereda. Sepertinya mereka sudah berhenti menyerang. Apa mungkin kehabisa tenaga? Tidak, itu mustahil. Aku yakin mereka bosan menyerang tanpa hasil. Itu berarti mereka mulai berniat membuat kami keluar.
__ADS_1
Dengan wujud iblis ku, Indra pendengaranku menjadi jauh lebih tajam. karena itu, aku tak sengaja mendengar percakapan mereka.
"Ternyata ReVoid itu tak setangguh yg kukira ...."ucap Rosalia.
"Hey manusia! Cepat keluar sini! Aku sudah bosan menunggu dan menunggu seperti ini!!" Teriak Silvia. "Oi Katherine! Apa kau sudah selesai istirahat?! Kau bisa maju sekarang kan?!"
"Tidak, masih belum! Aku masih perlu mengumpulkan lebih banyak kekuatan lagi!"
Suara satu vampir lain terdengar. Itu bukan suara Rosalia ataupun Silvia. Itu berarti, ada orang ketiga yg tengah bersembunyi di balik bangunan lain.
"Cepatlah! Kami butuh penyerang jarak dekat sekarang!"
"Aku bilang sebentar lagi! Belajarlah untuk lebih bersabar lagi!"
Dia penyerang jarak dekat?! Kalau dia muncul, bisa-bisa kami jadi semakin kewalahan.
"Pak Vestine, aku mendengar pembicaraan mereka. Sepertinya ada satu vampir lagi yg bersembunyi. Ditambah, dia itu penyerang jarak dekat," ucapku. "Apa yg harus kita lakukan? Jika ia muncul membantu, kita bisa kerepotan."
"Tenanglah, siapa nama vampir itu?"
"Hmmm ... Kalau tak salah vampir bernama Silvia itu memanggilnya Katherine ...."
"Ah begitu ya, kalau begitu tak masalah," ucap pak Vestine. "Di sekutu kita. Salah satu bawahan Zuan, Katherine Oze."
"Sekutu?" Tanya ku bingung. Tapi sesaat kemudian, aku sadar kalau saat ini kami tengah menjalani kerjasama sementara dengan Vampir dari kelompok Zuan. "A-ah, begitu ya ...."
"Sepertinya kau melupakan hal yg sangat penting ya, Liliana," tegur nona Stephanie.
"Y-ya, maafkan aku."
Rencana dimulai, Rosalia menjadi yg pertama kali melirik pergerakan nona Stephanie. Itu benar-benar tepat seperti yg kami harapkan. Sekarang sisanya bagaimana respon yg akan diberikannya.
"Ah, yg sepertinya dua dari mereka berusaha untuk kabur ...."ucap Rosalia.
"Apa yg akan kau lakukan, Rosa?"
"Sepertinya, mereka mengarah ke tempat nyonya Rozalia ... Apa mereka berniat untuk meninggalkan kita lalu menyerang nyonya?"
"Eh? Yg benar saja?!" Teriak Silvia. "Bukan hanya pengecut, tapi mereka juga terlalu meremehkan nyonya Rozalia?! Aku tak bisa membiarkan mereka—
"Tunggu dulu Silvia, masih ada dua dari mereka yg tertinggal. Sepertinya dua yg tadi pergi untuk menjadi umpan, lalu sisanya akan maju dan menyerang Katherine yg sedang istirahat."
"Eh, kalau begitu kita bisa kehilangan kekuatan tempur yg berguna itu," ucap Silvia, dengan suara yg sengaja dikecilkan.
"Menarik. Sepertinya mereka yg menjadi umpan cukup tangguh juga, sampai menggunakan cara seperti ini. Mereka bukan lawan yg bisa kau hadapi dengan mudah Silvia," ucap Rosalia. "Kau urus yg tertinggal. Dua yg kabur itu, biar aku saja yg mengurusnya."
"Hmmm, baiklah kalau kau bilang begitu."
Bagus, sesuai dengan yg kami rencanakan. Sisanya bergantung pada kemampuan kami semua.
Rosalia mulai bergerak dan mengejar nona Stephanie dan nona Hallen. Tentunya, dengan kecepatan yg tak dapat dijangkau oleh manusia biasa.
Sekarang, saatnya kami berdua melancarkan serangan pertama kami.
"Hey ... Kalau kalian ingin keluar cepat lah keluar," ucap Silvia.
__ADS_1
Aku menyembunyikan hawa keberadaan ku, sampai pada titik dimana vampir sekalipun tak akan mampu menyadariku. Dan perlahan-lahan, aku maju mendekati Silvia yg saat ini menunjukkan dirinya tepat di atas sebuah mansion yg cukup besar.
Sebagai permulaan, pak Vestine keluar dari persembunyian seakan mengikuti apa yg Silvia pinta. Dan tentunya, sendirian.
"Wah wah, tak kusangka aku akan bertemu dengan orang penting seperti mu disini, Vestine de Oust," ucap Silvia. "Apa yg kau lakukan disini? Sebagai pemimpin semua orang ini, bukankah seharusnya kau bersembunyi dan memimpin mereka dari tempat aman? Atau mungkin, kau berniat untuk menyerahkan diri? Jika benar begitu, aku akan dengan senang hati membawamu lho."
"Simpan saja mimpi mu itu untuk nanti, vampir. Tidak, sebaiknya kau lupakan saja semua angan-angan mu itu," balas pak Vestine. "Soalnya, sebentar lagi kau juga akan mati ...."
"Hah? Kau meremehkan ku ya? Meskipun aku hanya peringkat ke-9, jangan kira membunuh orang bodoh seperti mu akan sulit untukku."
"Tidak, karena kau peringkat ke-9 itulah, kau akan mati dengan cepat."
"Kau benar-benar meremehkan ku ya sialan!"
Disaat yg menurut ku tepat, aku melesat maju kearah Silvia. Keberadaan ku masih belum diketahui, dan itu membuat Silvia yg melihatku tiba-tiba muncul didekatnya kaget. Ditambah lagi ia telah terpengaruh oleh provokasi dari pak Vestine. Ia pasti akan kehilangan keseimbangan pikiran nya dan tak bisa bereaksi dengan semestinya.
"B-bagaimana kau bisa disini?!"
"OverHeat!"
Seluruh tubuhku mengeluarkan aura panas. Berkat aura itu, pukulan yg kuarahkan ke Silvia menajdi jauh lebih kuat. Silvia terhempas ke dinding hanya karena serangan itu. Tapi, Havania sempat melindungi tubuhnya sebelum pukulan ku mengenai tubuhnya. Benar-benar kemampuan yg merepotkan.
"Abysial Impact."
Pak Vestine tiba-tiba muncul dari arah yg tak terduga, menebaskan pedangnya yg telah dilapisi dengan sihir bayangan. Seketika, dari tebasan pedang itu sesosok monster mengerikan muncul menerjang kearah Silvia dengan sangat cepat.
Panik karena serangan dadakan, Silvia melesat mundur sambil menembakkan puluhan duri dari sayapnya, berniat untuk menghancurkan bayangan monster mengerikan itu.
Serangan Silvia mengenai monster itu, membuatnya hancur menjadi serpihan bayangan yg berhamburan diudara. Tepat setelah bayangan itu hancur, sosok pak Vestine menghilang tanpa jejak.
"Setelah semua yg kau katakan, jangan pikir bisa kabur dariku semudah itu!!" Teriak Silvia.
Serangan kedua kulancarkan, kali ini sebuah pukulan keras dengan seluruh tenaga. Ditambah efek dari OverHeat, pukulanku menjadi semakin kuat.
Havania mulai mengitari tubuh Silvia, berusaha melindungi nya dari pukulanku. Dan ketika pukulanku beradu dengan sayap itu, gelombang ledakan api muncul dari tangan ku. Dan tentu saja, berkat ledakan itu sayap Havania terkikis habis dan membuat Silvia terhempas kebelakang. Havania tak terpotong, tapi setidaknya luka dari seranganku barusan dapat melemahkannya.
Disaat Silvia terluka akibat serangan ku, sebuah kabut asap hitam muncul menerjang Silvia. Dari kabut hitam itu, pak Vestine muncul dengan tebasan pedang yg begitu cepat. Beberapa tebasan mengenai tubuh Silvia, dan melukai bagian sayap Havania. Sekarang, sayap yg ia banggakan itu tak akan mampu menyerang ataupun menahan kami lagi.
Dan untuk mengakhiri nya, aku melesat maju hendak menebasnya dengan tanganku. Tapi sesuatu yg diluar dugaan terjadi.
Sebuah sabit merah seperti darah muncul dan menahan seranganku. Sesosok vampir wanita dengan rambut perak pendek menghadang serangan ku dan memberikan tatapan yg begitu tajam.
"Kau datang juga akhirnya, Katherine!" Teriak Silvia.
Vampir ini, bukankah dia sekutu yg ok Vestine katakan tadi? Dia Katherine Oze, bukan? Lalu kenapa dia malah menyerangku?!
"A-apa yg kau lakukan? Aku dipihakmu!"
"Aku tak pernah berpihak pada iblis ...."ucapnya. Kata-katanya begitu dingin, dan penuh dengab kebencian.
Tapi tunggu, dia bilang iblis?
"Bersiaplah untuk mati, iblis!"
__ADS_1