
suasana mulai membaik. dengan kembalinya kesadaran Liana, tak ada lagi yg perlu kami khawatirkan.
Elie yg sedari tadi memeluk tubuh sahabat baiknya itu mulai melepaskan pelukannya, ia pun menoleh kearah kami dan angkat suara. ya, aku tahu pasti apa yg ingin ia katakan. sama seperti Liana yg waktu itu melihat sosok ku dan Kayn. Elie juga menanyakan hal yg sama.
" sebenarnya kalian ini apa?" tanyanya. ini bukan pertanyaan yg bisa kami tolak. kami harus mengatakannya sekarang juga.
pada akhirnya, kami menceritakan semua tentang kami. seperti yg kami lakukan pada Liana malam itu. kami membeberkan semuanya padanya. tentang siapa kami sebenarnya. tentang apa yg terjadi pada Liana. dan tentang apa semua yg iblis bernama Mark tadi katakan. kami menjelaskan nya secara detail. untungnya, Elie dapat mencerna semuanya dengan cepat. ia mulai memahami situasinya.
Elie pun beralih ke pertanyaan kedua.
" apa kalian bisa menyelamatkan Liana dari kutukannya?"
" tidak bisa " jawabku. tentu saja jawaban itu membuat mereka berdua terkejut. " tapi...aku tahu orang yg bisa melakukannya"
" siapa dia?"
" wanita yg telah merawat kami sejak kecil. ibu kami tujuh tahun terakhir ini, sekaligus istri dari pimpinan Magic Assosiation." jawab Kayn " Magic Knight No 2 , The Doctor Stephanie Grace. ia memiliki kemampuan penyembuhan sekaligus kemampuan untuk menetralisir sihir hitam..."
" nama skill itu adalah Disspell... seperti kemampuan yg Kayn punya.." ucapku " hanya saja, kemampuannya jauh lebih hebat ketimbang Kayn..."
" kalau begitu kita harus membawa Liana padanya" ucap Elie.
" karena beberapa alasan, kami tak bisa melakukannya sekarang" jawabku." kami mungkin bisa melakukannya tahun depan"
__ADS_1
" atau secepatnya, jika si Zayn ini mengakui sesuatu yg harus ia akui..." ucap Kayn, memotong kata-kata ku. itu membuatku sedikit kesal padanya.
" mengakui apa?" tanya Elie.
" itu masalah pribadi ku, kalian tak perlu tahu" jawabku.
" tapi satu tahun itu terlalu lama" keluh Elie.
" tenang saja Elie, untuk saat ini kutukan di tubuh Liana tidak berbahaya sama sekali. butuh waktu 15 tahun agar kutukannya bisa kembali digunakan seperti tadi" jawabku berusaha meyakinkan Elie. " apa ada pertanyaan lain?"
Elie diam sebentar. ia seperti sedang memikirkan sesuatu. mencari pertanyaan apa lagi yg akan ia lontarkan pada kami. setelah beberapa menit, ia pun kembali angkat suara.
" lalu...kenapa kalian mau membantu kami... sampai bertarung mati-matian seperti tadi?" tanya Elie
aku dan Kayn saling tatap. pertanyaan macam apa itu? bagaimanapun jawabannya sudah pasti hanya satu.
" t-teman? kau benar-benar menganggap kami teman?" tanya Elie.
" kalau Kayn, mungkin ia punya alasan lain..tapi kalau aku sendiri...ya itulah" jawabku. " lagipula, sejak hari pertama kau mengajakku jalan-jalan, bukankah aku sudah setuju untuk menjadi teman kalian?"
" k-kau masih mengingatnya ya..." ucap Elie malu. mukanya sedikit memerah.
" ya, tentu saja. itu adalah hari terbaikku. bagaimana bisa aku melupakannya." jawabku " lagipula, hari itulah aku pertama kali merasakan betapa berharganya teman seperti kalian. yah, kalian adalah temanku yg berharga"
__ADS_1
Elie terdiam mendengar jawabanku. sedangkan Liana tersenyum lebar. entah apa yg ia pikirkan.
" a-anu...Zayn...apa bagimu aku ini hanya sebatas...teman biasa?" tanya Elie gugup. mukanya semakin memerah. aku jadi bingung hendak menjawab apa.
" ya...mungkin lebih dari itu" jawabku sedikit malu " karena kau telah bersedia merubah sikapku, dan selalu bersedia menemaniku...mungkin derajatnya jauh diatas Liana..."
mendengar jawabanku, Elie menghela nafas. entah apa ia puas dengan jawabanku atau tidak, yg penting aku telah mengeluarkan semua yg kurasakan. Elie lantas tersenyum hangat padaku. karena itu kupikir jawabku tepat.
" bodoh, dasar Zayn bodoh" ucap Elie tersenyum.
dasar tuan putri merepotkan. memang salahku apa? sampai kau mengataiku bodoh? yah, tadinya aku ingin mengatakan itu. tapi melihat senyumannya, aku mengurungkan niatku.
" maaf" ucapku.
Elie berjalan mendekatiku. Sambil tersenyum manis, ia berkata dengan lirihnya. Kata-kata yg begitu lembut dan penuh ketulusan.
" Zayn... terimakasih karena telah membuatku jauh lebih istimewa bagimu dari Liana..." ucapnya.
Itu terjadi secara tiba-tiba. benar-benar tanpa aba-aba dan terjadi begitu saja. Elie memberikan ciuman hangat di pipiku. walaupun hanya ciuman pipi, tapi tetap saja itu membuatku terdiam dan sedikit deg-degan. melihat ekspresi wajahku, Elie tersenyum puas. dasar wanita, mereka selalu saja berhasil memberikan kejutan tak terduga.
aku cepat-cepat menghilangkan lamunanku. walaupun wajahku masih memerah.
__ADS_1
" k-kalau begitu ayo kita kembali...berada di sini terlalu lama tak bagus." ucapku menahan malu, sambil duluan berjalan menuju jalan keluar " Kayn, Liana, Elie, ayo pergi..."
" baiklah"