
Dua buah sabit besar meluncur kearahku. Kekuatan dari sabit itu jauh lebih kuat dari kelihatannya. Tak kusangka, serangan itu bahkan mampu membuatku terhempas kebelakang. Meskipun tak ada luka serius, serangan itu berhasil membuatku kewalahan.
"Hentikan! Aku ini bukan iblis!" Teriakku, berusaha menjelaskan situasi pada Katherine yg terus menyerangku. Dari apa yg dikatakannya tadi, sepertinya ia salah mengira diriku sebagai seorang iblis.
"Jangan kira bisa menipuku!" Percuma, dia benar-benar tak mau mendengar kata-kata ku sedikit pun.
Katherine terus mendesak ku, sementara Silvia dipojokkan oleh pak Vestine. Seperti yg kuduga, ia benar-benar menghiraukan pak Vestine karena ia tahu kalau pak Vestine adalah sekutu. Tapi, ia menyerangku karena menganggapku sebagai iblis, dan bukan manusia.
Aku tak bisa menyerangnya, tapi aku juga tak bisa bertahan terlalu lama. Ia tak mau mendengar apa yg kukatakan. Seseorang harus segera menjelaskan situasi ini padanya.
Seakan menyadari apa yg kupikirkan, asap hitam yg tadinya menyerang Silvia melesat kearah Katherine. Ia menutupi tubuh kami, sampai tak seorangpun dapat melihat apa yg terjadi didalam asap hitam yg begitu tebal ini.
"Hentikan, Katherine."
Suara pak Vestine muncul diikuti dengan wujudnya yg muncul dari dalam asap hitam. Menyadari kehadiran pak Vestine, Katherine terkejut seakan tak mengerti apa yg sebenarnya sedang terjadi.
"K-kau, Vestine? Apa yg kau lakukan disini?" Tanya Katherine.
Saat berbicara dengan pak Vestine,ia terlihat cukup tenang tanpa ada emosi. Sangat berbeda dengan wajah yg ia tunjukkan padaku. Sepertinya, Katherine adalah sosok vampir yg sangat menghormati perjanjian. Ia sampai seakan melupakan semua emosi tadi setelah bertatap muka dengan pak Vestine yg tak lain merupakan salah satu pemuka perjanjian antar ras ini.
"Hentikan seranganmu. Dia ini bukan musuh, dia sekutu kita," ucap pak Vestine.
"Sekutu? Tapi dia ini Iblis!"
"Liliana bukan iblis. Dia adalah salah satu korban dari kekejian ras iblis itu. Dia adalah bekas objek percobaan mereka, manusia setengah iblis," jelas pak Vestine. "meskipun memiliki kekuatan dan wujud iblis, dia tetaplah manusia yg saat ini berada di pihak kita."
"Manusia setengah iblis?" Tanya Katherine. Ia terlihat bingung, tapi sepertinya ia mulai bisa menerima kenyataan ini.
Katherine menurunkan sabit besar nya, lalu menatap kearah ku. Meskipun asap hitam masih menyelimuti kami, mata kami masih bisa saling mengenali.
"Aku bisa merasakan hawa manusia, dan juga iblis darinya ... Sepertinya apa yg kau katakan memang benar, Vestine. Manusia setengah iblis, apa makhluk seperti itu benar-benar ada?" Tanyanya.
"Ya, aku salah satu contohnya," jawabku.
"Kalau memang begitu, maafkan perbuatan ku barusan," ucap Katherine. "Kali ini, aku tak akan salah mengenali musuhku lagi."
Setelah mengatakan itu, suasana pertempuran kembali seperti semula. Katherine dan aku mundur saling menjauu, bersamaan dengan hilangnya asap hitam yg dikuasai pak Vestine.
__ADS_1
Aku dan pak Vestine mundur, sedangkan Katherine kembali ke sisi Silvia yg saat ini sedang terluka cukup parah karena serangan kami tadi.
"Akhirnya kau datang juga. Kerja bagus, kau sudah membuat asap menyebalkan itu mundur," ucap Silvia menepuk pundak Katherine dari belakang. "Sekarang kesempatan mu, cepat habisi mereka!"
Hening, tak ada jawaban. Katherine hanya diam disaat Silvia memberikan perintah itu. Dari sini saja, aku dapat merasakan hawa permusuhan yg cukup kuat dari Katherine, diarahkan pada Silvia yg seenaknya memberi perintah. Sepertinya, dari awal hubungan mereka sangat-sangat buruk.
"O-oi, Katherine?! Apa yg kau tunggu?! Apa kau tak mendengar apa yg kukatakan? Cepat maju dan bunuh mereka untukku!" Silvia mengulang kata-katanya.
Dan sekali lagi, hening tak ada jawaban.
"Katherine? Apa kau benar-benar tak mendengar perintah ku?"
"Berisik. Kau benar-benar berisik ya, dasar burung beo ...."
Semua itu terjadi begitu cepat, sampai aku tak sadar kapan tepatnya itu terjadi. Sabit besar Katherine yg muncul di bahunya tiba-tiba saja sudah melesat menancap di dada Silvia dari belakang. Sabit itu tertancap dalam dan menembus tubuhnya. Bahkan Silvia saja tak sadar kalau sabit itu telah tertancap di sana, karena kecepatan dan pergerakannya yg sangat tiba-tiba dan tak terduga itu. Ia hanya bisa menatap tak percaya, mati terbunuh oleh vampir yg selama ini ia anggap bawahan dan selalu ia perintah.
Tubuhnya kaku, pikirannya kosong. Silvia hanya bisa mengeluh.
"Ap-pa?! Apa yg kau lakukan ... Aku ini temanmu kan .... Kenapa ... Kenapa kau membunuh temanmu sendiri?!"
"Teman? Apa kau benar-benar menganggap ku sebagai teman? Teman macam apa yg seenaknya memanfaatkan temannya sendiri seakan-akan ia adalah budak?" Tanya Katherine dengan tatapan dingin yg begitu tajam. "Asal kau tahu, dari awal aku tak pernah menganggap kalian sebagai temanku. Malah sebaliknya. Pengikut setia Rozalia adalah musuhku. Aku bebas membunuh musuhku sesuka hati, kan?"
"Kau masih banyak bicara ya, padahal setengah tubuhmu sudah hampir lenyap."
"Ku-kurang ajar kau, Katherine! Dasar pengkhianat!"
"Para pengikut Rozalia seperti kalian lah yg seharusnya dicap sebagai pengkhianat bangsa vampir," balas Katherine. "Menghilanglah, pengkhianat."
"Ka ... Katherine!!"
Sabit besar yg masih tertancap di tubuh Silvia bergerak, mengoyak tubuh Silvia sampai tak berbentuk. Ia masih hidup bahkan setelah dipotong-potong seperti itu. Tapi meskipun masih hidup, nyawanya sudah tak terselamatkan.
Seluruh tubuh Silvia mulai meluap, dan hangus bagaikan kertas yg dibakar habis. Tubuhnya berubah menjadi abu yg bertebaran, tertiup angin didalam ruang sihir tanpa waktu. Dengan ini, Silvia De Katade sudah sepenuhnya dikalahkan.
Aku menurunkan kewaspadaan ku. Tapi, saat ini nona Stephanie sedang bertarung dengan Rosalia. Apa kita boleh merasa tenang sedangkan nona Stephanie sedang mempertaruhkan nyawa disana?
Menyadari apa yg kupikirkan, pak Vestine menepuk pundak ku.
__ADS_1
"Beristirahat lah, Liliana. Soal Stephanie, jangan terlalu dipikirkan. Meskipun dia seorang dokter, kemampuannya dalam menggunakan senjata adalah yg paling hebat di kerajaan Voracity. Kalau misalkan Stephanie dan Oliver beradu senjata tanpa sihir, aku rasa Stephanie akan menenangkan nya," ucap pak Vestine. Aku tak habis pikir, sebenarnya seberapa hebat nona Stephanie?
Aku tahu kalau beliau memang orang yg luar biasa. Kalau tidak, mana mungkin beliau bisa menjadi wakil ketua Magic Assosiation. Tapi, aku masih tak mampu membayangkan seperti apa nona Stephanie bertarung.
"Tapi pak Vestine ...."
"Kau juga lelah karena wujud setengah iblis itu bukan? Istirahat lah." Pak Vestine terus menyuruhku untuk beristirahat.
"Tapi aku masih sanggup."
"Kekuatan iblis sangat berbahaya, Liliana. Berhati-hati menggunakan nya. Jangan memaksakan dirimu," ucap pak Vestine. Kalau sudah begini, aku tak bisa menolak.
"B-baiklah ... Aku mengerti."
Aku menghilangkan wujud iblis ku, dan duduk diatas tanah berumput. Pak Vestine benar, setelah menghilangkan wujud iblis ku, rasa saki yg kurasakan selama pertarungan tadi langsung muncul. Jika akau lebih lama bertarung dengan wujud itu, aku pasti tak akan mampu menahan semua rasa sakit ini lagi.
Disaat kami sedang istirahat, Katherine berjalan mendekati kami. Ia terus menatap wajahku, sampai membuatku sedikit salah tingkah.
"A-apa? Ada apa, Katherine?" Tanyaku.
"Li ... Liliana." Katherine terlihat hendak mengatakan sesuatu.
K-kenapa?"
"Namamu Liliana kan?"
"A-ah benar, aku belum memperkenalkan diri." Benar juga, bagaimana bisa aku sampai melupakan hal sesederhana ini. "Namaku Liliana Rosweiss, salah satu anggota Magic Assosiation. Magic Knight No 14 The Diabolic."
"Magic Knight ya ...." Gumamnya. Wajahnya terlihat sedang menahan sesuatu. Seperti yg kuduga, dia pasti ingin mengatakan sesuatu, tapi terlalu malu untuk mengungkapkan nya.
"Ada apa, Katherine?" Tanyaku.
"Anu ... Soal yg tadi ... Sekali lagi, maafkan aku. Aku menyerangnya tanpa tahu kalau kau itu manusia setengah iblis, dan bukan iblis asli. Sekali lagi maafkan aku."
"A-ah, tak perlu dipikirkan. Aku juga pasti akan salah sangka jika melihat sosok seperti ku muncul," ucapku. "Lagipula, saat itu aku sempat menganggapmu sebagai lawan. Kalau pak Vestine dan nona Stephanie tak memberitahu kalau kau adalah sekutu, mungkin aku sudah menyerangmu dari awal."
Mendengar jawabanku, Katherine tertawa.
__ADS_1
"Kalau begitu, kita senasib ya," ucapnya tersenyum manis.
"Ya, begitulah," jawabku.