
" Apa?!!!"
Suara teriakan Kayn yg sedang terkejut itu memenuhi ruang kantin, membuat semua murid yg sedang makan siang melihat kearahnya. Ia berteriak histeris seperti itu saat aku memberitahu kabar dari Osamu. Dan kabar itu benar-benar membuatnya kaget bukan main. Aku, Elie dan Liana yg sedang duduk bersamanya sampai harus menahan malu, menyadari kalau mata semua orang menuju pada kami berempat. Kayn benar-benar menjadi pusat perhatian.
" Hey Kayn, tenanglah" ucapku " semua orang melihatmu "
Menyadari itu, akhirnya Kayn kembali duduk dengan tenang, sambil menahan malu.
" M-maaf...aku hanya sedikit kaget"
" Sedikit?" Tanya Elie. Ia memasang muka heran " me-memangnya apa yg membuat kau terkejut seperti itu Kayn?"
" Aku juga penasaran, soalnya kau histeris sekali tadi" ucap Liana.
" Aku tak histeris!". Balas Kayn, masih menahan malu.
" Kau tak perlu menutupinya Kayn..." Ucapku. Aku kemudian menatap Elie dan Liana " Elie, Liana, aku pernah mengatakan kalau kami sedang dalam masa hukuman, dan kami akan kembali setelah masa itu selesai kan?"
Elie dan Liana mengangguk. Sedangkan Kayn menatapku, seakan tak terima dengan apa yg kukatakan.
" Bukan kita yg sedang dalam masa hukuman, hanya kau Zayn" ucapnya.
" Ya, pokoknya yg seperti itulah" balasku lagi.
" Lalu...apa maksudnya dengan yg tadi?" Tanya Elie. Ia terlihat begitu penasaran.
" Ya...saat kami akan kembali ke tempat kami semula sudah tiba" sambungku " sudah saatnya kami kembali ke markas"
__ADS_1
Mendengar kabar itu, Liana dan juga Elie terdiam. Raut wajahnya mereka menunjukkan kesedihan. Ya, wajar saja itu terjadi. Mereka pasti berpikir kalau kami akan berpisah dengan mereka.
" Jangan murung begitu, ini bukan perpisahan selamnya kok" ucap Kayn, berusaha mencairkan suasana.
" Kayn benar, lagipula masih ada satu hal lagi yg perlu diselesaikan" ucapku sambil tersenyum kearah mereka berdua " kalian berdua akan ikut dengan kami, ke markas asosiasi"
" Eh?"
Sontak mereka berdua terkejut sekaligus senang bukan main. Seperti yg Kayn lakukan tadi. Wajah mereka yg tadinya lesu kembali ceria.
" Benarkah? Kami boleh ikut?" Tanya Liana dan Elie kegirangan. Aku mengangguk pasti, memberi jawaban.
" Sebenarnya kami ingin mengajak Liana saja, tapi aku tahu nanti kau pasti akan mendesakku agar mengizinkanmu ikut. Jadi mau bagaimana lagi" ucapku tersenyum tipis. Elie kembali menatap kesal kearah ku.
" Hah? Jadi kau menganggapku seperti penghalang yg merepotkan ya Zayn?" Ketusnya kesal.
" Jangan mengganti topik, Zayn Endarker" ucapnya.
Ah, dia sampai menyebut nama lengkapku. Sudah pasti kalau dia benar-benar kesal. Aku terpojok.
" Tapi Elie, yg Zayn katakan benar" sambung Liana. Elie balas melotot kearahnya
"hah?! Jadi kau juga menganggapku sebagai orang yg merepotkan Liana?"
" B-bukan itu yg kumaksud, masalah izin, aku bicara soal izin" jawab Liana
" Tenang saja, aku bisa mengurusnya. Itu bukan masalah yg sulit untukku" Elie menjawab dengan sangat percaya diri " selain itu Zayn, masalah kita belum selesai. Apa maksud perkataanmu itu tadi?"
__ADS_1
Argh, dia mengungkitnya lagi. Aku harus segera pergi.
" Ah, aku ingat. Ada yg perlu kubicarakan dengan pak Osamu "
" Bukannya kau baru saja bicar dengannya tadi Zayn?" Tanya Kayn.
" Eh?"
Argh!! Aku lupa! Sialan kau Kayn! Kenapa kau tak bisa diajak bekerjasama hanya untuk kali ini saja sih?! Dan lihat, Elie masih melotot kearah ku. Mengerikan sekali! Huh, sepertinya aku tak bisa mengelak. Aku harus mengatakan sesuatu agar suasana hatinya tenang dan kembali damai. Karena kalau lari pun percuma, dia pasti akan mengejarku. Saatnya lidahku yg berbicara.
" Yah....soalnya itu karena kalian berdua adalah sahabat dekat. Tak enak jadinya kalau hanya mengajak Liana saja kan? Aku tak mengatakan kalau kau merepotkan kok. Lagipula aku sebenarnya memang berencana untuk mengajakmu pergi keluar kota. Jadi, sekalian saja"
Mendengar kata-kataku, Elie terdiam. Seketika wajahnya sedikit memerah. Ia kemudian mengalihkan pandangan dari, sambil malu-malu.
" B-begitu ya...kalau begitu tak masalah...aku tak akan marah"
Begitu saja? Ternyata dia mudah juga ditaklukkan. Tapi tunggu dulu! Kata-kataku barusan terlihat seperti seorang pria yg mengajak wanitanya berkencan keluar kota. Itu terdengar seperti ajakan kencan!! Apa karena itu Elie jadi memerah dan salah tingkah? Tapi tak mungkin dia menyadari kode seperti itu. Walaupun begitu, ekspresi nya itu sedikit membuat jantungku berdegup kencan. Aku jadi ikutan salah tingkah.
" Kalau begitu, kita akan berangkat besok. Pagi-pagi sekali kami akan datang kerumahmu Elie, jadi bersiaplah." Ucap Kayn.
" Jangan lupa izin Elie" ucap Liana tersenyum.
" A-aku tahu aku tahu! Jangan katakan lagi" ucapnya kesal.
" Tapi Kayn, bukankah itu terlalu cepat?" Tanyaku, menatapnya.
" Kenapa? Bukankah lebih cepat lebih baik?" Tanya Kayn balik.
__ADS_1
Ya, benar juga sih. Lagipula aku sudah tak sabar ingin bertemu dengan yg lain. Kira-kira, apa mereka merindukan kami ya? Heh, siapa yg tahu. Kita lihat saja besok.