
Tubuh raksasa itu dipenuhi dengan cairan berwarna merah darah yg melapisi tiap sisinya. Bukan hanya di tiap sisi, bahkan seluruh bagian tubuhnya terbuat dari mineral tersebut. Itu bukan sesuatu yang bisa dilihat setiap hari, tak bisa dirasakan setiap hari, tapi pasti adanya di dalam tubuh. Tak salah lagi, tiap inci tubuh makhluk itu terbuat dari darah segar makhluk tak bersalah. Darah dari para korban kerakusan Rozalia sang petaka.
Semakin lama bentuk makhluk menjijikkan itu semakin jelas. Sekarang ia tampak seperti naga raksasa berkepala dua. Sepertinya, ia menggunakan sosok makhluk legenda Hydra sebagai bentuk akhirnya. Atau mungkin itu memang lah Hydra sejak awal, tak ada yg tahu secara pasti bahkan para vampir sekalipun.
Tak hanya manusia dan makhluk lainnya, bahkan didalam tubuh itu ada darah dari bangsa nya sendiri. Betapa rakus dan hina nya makhluk satu ini.
"Ini benar-benar bukan sesuatu yg bagus ya ...." Gumamku.
Untuk sekedar menguji, aku menembakkan sihirku kearah makhluk itu.
"Strom Blast!"
Sebagai seorang penyihir dengan tingkat kecocokan element angin yg tinggi, Strom Blast milikku bukan lah sembarangan sihir. Serangan terlemahnya saja mampu menghancurkan pintu gerbang sebuah kerajaan dengan sekali serangan.
Tapi yg terjadi dihadapan ku saat ini, sihirku lenyap ketika menghantamnya tanpa meninggalkan bekas sedikit pun.
"Ini tak sesuai harapan ku ...."
"Benda itu menyerap segala sesuatu yg mendekati nya untuk diubah menjadi tenaganya. Sebaiknya jangan menyerang dengan sembrono ...."
Seseorang menegurku yg tengah kebingungan ini. Hanya saja ....
"Boleh aku tahu kenapa vampir seperti mu malah membantu ku?"
Orang ini adalah vampir, sekali lihat saja aku sudah tahu. dan saat mendengar pertanyaan ku, ia memasang wajah bingung.
"Sepertinya anda belum diberitahu tentang ini ya. Maaf terlambat menyampaikan nya, saat ini pihak vampir terbagi menjadi dua kubu. Kubu Rozalia dan juga kubu pemberontak yg dipimpin oleh pemimpin kami, Zuan Von Archimiste," ucapnya dengan penghormatan. "Namaku adalah Nebula Teano, salah satu bawahan Zuan, dan juga sekutu kalian."
"Sekutu? Kenapa manusia bersekutu dengan vampir?"
"Ya ... Itu akan sangat panjang untuk diceritakan. Dan sekarang bukan saat yg tepat untuk melakukan nya."
Vampir bernama Nebula itu menutup kata-katanya sambil menunjuk kearah Rozalia yg sedang bersiap menyerang kami dengan kedua kepala naganya.
Yah, aku tak tahu apa yg terjadi tapi akan kuikuti kata-katanya. Meskipun sedikit mencurigakan, tapi aku tak merasakan niat membunuh sama sekali darinya. Selain itu, apa yg ia katakan padaku tadi selaras dengan apa yg kulihat barusan. Semua serangan sihirku diserap seperti halnya sihir Absorb milikku.
"Kuanggap kau berkata jujur. Apa makhluk itu punya kelemahan?"
"Sejujurnya, saya tak begitu yakin. Tapi jika dilihat dari tipenya yg merupakan tipe summon, kemungkinan besar kelemahan nya adalah tubuh asli yg ia sembunyikan disuatu tempat didalam makhluk raksasa itu," jawabnya.
__ADS_1
Begitu ya. Jadi makhluk besar ini hanya seperti perisai yg melindungi tubuh aslinya dari serangan luar. Dan tak hanya melindungi, sepertinya ia juga memulihkan keadaan tubuh penggunanya dengan menggunakan Manna yg ia serap. Jika seperti ini maka mengalahkan secepatnya adalah cara terbaik. Tapi aku tak bisa menggunakan sihir untuk menyerangnya.
"Huh, sepertinya aku memang harus menggunakan itu ...."
Pedang panjang ku keluarkan dari sarungnya. Seketika aura berwarna putih muncul melapisinya. Ini bukanlah sihir, tapi sebuah Skill yg hanya dimiliki para ksatria. Sebagai mantan Ksatria kerajaan Voracity, wajar saja kalau aku mampu menggunakannya lebih hebat dari siapapun.
"Sword of Aura : Arthur." Skill ini berguna untuk memperkuat senjata yg kugunakan. Membuat nya sepuluh kali lebih kuat dari senjata biasa. "Levitation."
Dengan sihir Levitation, aku membuat berat tubuhku menjadi sangat ringan hingga memungkinkan untukku melayang diatas langit. Ditambah dengan efek sihir angin, aku melesat terbang kearah Rozalia.
Untuk yg kedua kalinya, aku mencoba menyerangnya dengan teknik ini.
"X-Slash!"
Sebuah tebasan menyilang kulancarkan, tepat kearah kepalanya. Hanya dengan itu, kepalanya tercabik dan hancur. Tapi tepat beberapa detik setelah itu, kepala tadi kembali menyatu dan kembali seperti semula. Regenerasi sel nya sangat cepat. Jauh lebih cepat dari makhluk lain yg pernah kuhadapi sebelum nya.
Kepala naga itu mengerang keras dan menembakkan serangannya. Ia menembakkan beberapa bola api dari mulutnya untuk menyerangku. Serangannya tak terlalu cepat, karena itu cukup mudah bagiku untuk menghindari nya. Hanya saja, kekuatan penghancurnya benar-benar mengerikan. Aku bahkan tak yakin sanggup menahan serangan itu dengan sempurna.
Satu serangan lagi kulancarkan, kali ini di daerah badannya. Seperti sebelumnya, ia hancur tercabik-cabik dan segera beregenerasi dengan sangat cepat. Tiap kali aku menyerangnya, ia akan segera pulih saat itu juga.
"Ugh, ini merepotkan," gumamku.
Memang merepotkan. Untuk saat ini sebaiknya aku mencari keberadaan tubuh aslinya terlebih dahulu.
Aku menggunakan penglihatan Manna untuk melacak sumber keberadaan tubuh aslinya. Metode ini menggunakan Manna sebagai titik lacaknya.
Namun sepertinya ini akan sedikit memakan waktu, karena hampir setiap tubuh naga itu terdiri dari Manna yg berbeda-beda. Keberagaman Manna itu membuatnya alirannya kacau dan tak beraturan. Mencari Manna Rozalia akan sangat sulit.
Ditambah lagi, aku harus mencarinya sambil mengurus naga darah yg dari tadi mengamuk dan terus menyerangku.
Ini jauh lebih merepotkan daripada menghadapi para Paladin dari Imperial Knight kerajaan Voracity.
Aku terus terbang menghindari tiap serangan yg ditujukan padaku. Diwaktu yg sama, aku terus berusaha melacak dan mencari keberadaan Rozalia dibalik arus Manna yg kacau itu. Dua pekerjaan dalam satu waktu, dan dua-duanya menggunakan cukup banyak Manna. Akan gawat jadinya kalau aku kehabisan Manna sebelum berhasil menemukan keberadaan Rozalia.
Sepuluh menit berlalu, belum ada kemajuan dalam situasi ku.
Dan setelah dua puluh menit, aku akhirnya berhasil mengidentifikasi sumber Manna yg unik. Ini adalah Manna vampir murni yg telah berusia ratusan tahun. Dan dari bentuknya, itu terlihat seperti gadis berumur belasan tahun dengan keadaan lemah. Tak seperti Manna yg lainnya, Manna yg satu ini memiliki wujud fisik.
Kesimpulan ku, disanalah Rozalia tertidur dan memulihkan diri.
__ADS_1
"Aku menemukan mu, tua bangka."
Aku terus melesat terbang menghindari serangannya, dan disaat yg sama bersiap memasanga kuda-kuda menyerang. Jika saja aku membawa dua pedang, mungkin ini akan jad sedikit lebih mudah.
Aura putih menyala di pedangku, aku dapat merasakan energi yg sangat besar mengalir didalam pedangku, bersiap untuk dilepaskan. Dan kemudian dalam satu lompatan, aku melesat kearah Rozalia.
"Upper Cut Slash!"
Sebuah tebasan lurus dari atas menembus tubuh naga Rozalia, membuatnya terbelah menjadi dua. Tapi tak kusangka, Rozalia berhasil menghindar dari serangan itu bahkan disaat ia tak sadarkan diri. Ini jadi semakin sulit.
Naga darah itu kembali beregenerasi, dan tanpa menunggu ia langsung menyerangku seperti sebelumnya. Hanya saja, kali ini kecepatannya semakin meningkat. Setelah serangan tadi, ia jadi lebih kuat dan semakin waspada.
Sekali lagi aku bermanuver diudara, menghindari semua serangannya. Aku belum bisa menyerangnya dengan teknik yg sama, karena skill memiliki rentang waktu pemakaian, tak seperti sihir. Karenanya aku tak bisa menggunakan satu skill yg sama diwaktu yg berdekatan. Aku bisa saja menggunakan skill yg lain, tapi kemungkinan serangan itu berhasil cukup rendah. Dan jika serangan itu melesat, kemungkinan besar Rozalia akan jadi semakin dan lebih waspada lagi.
"Paman Oliver!"
Suara itu memanggil ku dari kejauhan. Dan disaat yg sama sesuatu yg tak terlihat muncul menghancurkan kepala naga itu. Anehnya, ia tak langsung beregenerasi. Serangan itu seakan menghentikan gerakan dan waktu benda yg mengenainya. Alhasil partikel darah yg menyusun bentuk naga itu berceceran dan berhenti diudara.
Seumur hidupku, aku hanya pernah melihat satu orang yg memiliki kemampuan ini. Ia adalah Tony Edward, si penyihir gravitasi.
"Tony?"
Satu serangan lagi muncul, menghancurkan kepala yg lain. Disaat yg sama, lingkaran sihir besar muncul dibawah kakinya. Dari lingkaran sihir tersebut, tekanan yg sangat besar muncul dan menahan tubuh raksasa nya.
"Sepertinya paman sedikit kesulitan disini. Biar aku bantu sedikit," Ucap Tony lagi.
Terakhir, serangannya melesat kearah Rozalia dan membentuk sebuah jalur yg mengarah lurus ke tempat dimana Rozalia berada. Tak hanya itu, bahkan diujung jalur tersebut Rozalia sudah tak bisa bergerak karena tekanan gravitasi nya.
Ya ampun, padahal ia bisa saja dengan mudahnya membunuh Rozalia dengan sihir itu. Kau benar-benar pemalas ya, Tony.
"Terimakasih, Tony."
"Ya, aku serahkan serangan terakhir ke Paman saja ...."
Seperti yg kau minta, aku akan menerima kehormatan untuk memberi serangan penghabisan.
Karena tak ada darah yg berperan sebagai penghalang sihir, kali ini aku bisa menggunakan sihir sesuka hati.
"Synthesize : Wind of Destruction." Manna alam yg ada disekitar ku berkumpul, membentuk sebuah tombak raksasa didepan tanganku yg sedang mengarah ke Rozalia. "Gae Bolg!"
__ADS_1
Dengan satu kata, tombak raksasa itu meluncur bagaikan anak panah, tepat kearah Rozalia. Karena ukurannya yg besar, serangan itu mengenai seluruh tubuh Rozalia. Dan karena kekuatan penghancurnya, seluruh tubuh Rozalia hancur lebur, tercabik-cabik, dan kemudian lenyap seperti abu yg berterbangan di udara.
"Pembasmian, selesai."