
Pagi-pagi sekali, kami telah berdiri diruangan paman Oliver, menghadapnya. Ini mungkin masih belum masuk waktu fajar, tapi kami sudah harus segera berangkat. Kemana lagi kalau bukan menuju misi kami yg selanjutnya.
Aku dan Kayn hanya membawa beberapa helai pakaian. Sedangkan Elie dan Liana yg masih terlihat mengantuk itu hanya membawa barang yg mereka bawa dari rumah. Sudah waktunya kami kembali ke kota Bluelagoon.
" Padahal baru seminggu disini tapi sudah mau pergi jauh lagi..." Ucap Zero. " Apa kalian sebegitunya membenci markas?"
" Bukankah kau sudah tahu kalau ini misi? "
" Tentu saja dasar bodoh. Jangan terlalu serius begitu Kayn, aku hanya bercanda. Bercanda..." Jawab Zero
Kali ini tak seperti kedatangan kami yg menggunakan transportasi darat. Kali ini Zero yg akan mengirim kami menggunakan sihir teleport nya. Jadi kami akan sampai ke kota hanya dalam waktu 5 detik saja.
" Kalian semua berhati-hati lah. Jangan lakukan sesuatu yg menonjol ataupun berbahaya kecuali dalam keadaan yg benar-benar terdesak " ucap nona Stephanie menasihati kami.
" Ini misi yg cukup penting dan juga berbahaya. Jaga diri kalian baik-baik" ucap paman Oliver.
" Baik!"
" Ah dan juga aku lupa mengatakan sesuatu..." Ucapnya lagi " kali ini kalian tak akan bekerja sendirian saja. Karena lawan kalian bukanlah makhluk yg menjadi keahlian kita, kalian akan mendapatkan bala bantuan..."
" Bala bantuan?"
" Kalian akan segera tahu ketika saatnya sudah tiba."
Bala bantuan ya. Aku belum pernah dengar ada organisasi lain yg bersekutu dengan kami. Dan juga sepertinya kalau dilihat dari situasi nya, bala bantuan kami sepertinya adalah kelompok yg ahli dalam menghadapi vampir. Kalau begitu mereka pastinya pemburu vampir atau semacamnya.
" Yah...kalian sudah siap kan? Kumulai ya.." ucap Zero.
" Nah, berjuanglah anak-anak"
" Baik!"
" Teleport"
Lingkaran sihir biru kembali muncul dibawah kaki kami. Aku sudah terbiasa dengan ini, tapi beda halnya dengan Elie dan Liana. Mereka masih saja terlihat takjub dengan sihir teleport ini. Kelihatan sekali dari mata mereka yg berbinar-binar.
Sesaat kemudian, kami seketika muncul di tengah-tengah alun kota. Tepatnya didepan air mancur alun-alun. Karena panik aku dan Kayn segera menoleh ke sekitar, takut jika ada yg melihat kedatangan kami. Tapi untunglah, karena masih sangat pagi hampir tak ada orang di sekitar kami. Benar-benar kosong.
" Kita... kembali"
Gumaman itu keluar dari mulut Elie. Sepertinya ia masih sedikit kaget karena bisa sampai di tempat ini secepat kilat.
" Kita kembali!!"
" O-oi Elie tenanglah. Bisa gawat kalau ada yg dengar" ucapku. Elie dengan segera menutup mulutnya.
" Benar juga..." Ucapnya " tapi aku masih tak percaya. Kita kembali hanya dalam hitungan detik?"
" Yah...begitulah.." ucap Liana. Ia mungkin sedikit lebih tenang dari Elie. Tapi masih terlihat di wajahnya kalau ia juga kaget.
" Gawat..sihir benar-benar menakjubkan!"
" Elie!"
Sekali lagi Elie menutup mulutnya.
" Sebaiknya kita segera kembali...." Ucap Kayn. " Akan aneh jadinya kalau anak-anak seperti kita pagi-pagi buta sudah keluyuran di tempat ini".
" Benar juga... tunggu, apa maksudmu anak-anak tadi Kayn."
Seketika Elie yg tengah bergumam itu kaget seakan menyadari sesuatu. Dan tentunya itu membuat kami semua keheranan.
" Ada apa Elie?"
" Z-zayn....sudah berapa hari kira pergi?"
" Eehmm...sekitar seminggu lebih.."
" Lalu....apa yg harus kukatakan pada ayah dan ibu tentang ini?" Tanya Elie sedikit gemetar " semingguan ini, apa yg telah kita lakukan? Ayah dan ibu pasti akan menanyakan hal itu..."
" Huh, hanya karena itu kau kaget?"
__ADS_1
" Apa maksudmu hanya karena itu?!" Seketika Elie memekik kearahku " tak mungkin aku bilang kalau aku bergabung dengan kalian dan berlatih sihir tanpa sepengetahuan mereka kan?!"
" Elie, tenangkan dirimu.."
" Ini masalah terbesar dalam hidupku!"
Sementara Liana menenangkan Elie yg sangat panik, aku dan Kayn segera memeriksa sekitar. Bisa gawat kalau tiba-tiba ada orang yg datang dan mendengar percakapan kami.
" E-elie... sebaiknya kita bahas soal itu dijalan saja. Kita harus segera pergi ke rumahmu." ucapku berusaha menenangkannya.
" Zayn benar Elie. Kalau kau teriak-teriak disini bisa gawat" bujuk Liana juga.
" Tidak! Aku tak bisa berpikir jernih kalau seperti itu!"
" Huh, apa boleh buat" ucap Kayn " biar aku yg bicara pada ayah dan ibumu"
" Eh? Benarkah Kayn? Kau bisa melakukannya?"
" Yah, setidaknya aku bisa melakukannya lebih baik dari Zayn"
" Kalau begitu mohon bantuannya, juru bicara" ucapku menepuk bahu Kayn.
" Baiklah, kalau begitu ayo kita ke rumahku" ucap Elie dengan nada masih sedikit panik.
" Huuh.." Kayn menghela nafas. Jelas sekali kalau dia terpaksa melakukannya.
Kami berjalan menuju mansion keluarga Bathory. Butuh waktu sekitar 20 menit untuk sampai kesana dari sini dengan berjalan kaki. Dalam waktu 20 menit itu, kami semua mempersiapkan diri kami masing-masing.
Elie bersiap dengan tanggapan orang tuanya, begitu juga dengan Liana yg saat ini tinggal di kediaman Bathory. Kayn memikirkan kata-kata yg akan ia utarakan ke orang tua Elie. Dan aku mempersiapkan hatiku untuk menerima sindiran Kayn saat ia berbincang dengan orang Elie nanti. Sudah pasti Kayn akan melemparkan sindiran dan kata-kata tajam yg mengarah padaku nanti, itu sudah menjadi kebiasaannya saat berbincang dengan orang lain. Ia akan berlagak seperti kakak yg sedang menyindir adiknya yg nakal. Aku harus bersiap untuk itu.
Sejauh ini kami belum bertemu satu orangpun penduduk. Ini cukup aneh. Setidaknya ada satu atau dua orang yg beraktivitas pagi-pagi begini.
Kami akhirnya sampai di gerbang masuk mansion kediaman keluarga Bathory. Dengan gagah kami memasuki pekarangan, menuju pintu masuk mansion. Elie sebagai tuan rumah mengetuk pintu rumahnya, menuggu jawaban dari balik pintu. Beberapa saat kemudian, pintu terbuka. Seorang pelayan wanita membukakan pintu rumah.
" Selamat datang kembali, nona Elizabeth "
" Ya, aku pulang.." jawab Elie santai. Aku tak habis pikir. Bagaimana dia bisa terbiasa dengan sambutan seperti itu?
" Nona Liliana, tuan Kayn, tuan Zayn, silahkan masuk.."
Kami pun masuk kedalam mengikuti Elie. Kami digiring menuju ruang tamu dan dipersilahkan untuk duduk di kursi tamu. Sementara itu Elie dan Liana masuk ke dalam mansion. Sepertinya mereka hendak memanggil ayah dan ibunya. Aku dan Kayn pun terpaksa duduk di kursi, menunggu sang tuan rumah muncul.
" Selamat datang kembali, Kayn, Zayn.."
" Lama tak jumpa, tuan Vermount"
Orang itu tak lain adalah Vermount Bathory, ayah Elie sekaligus kepala keluarga Bathory. Kali ini ia datang sendirian. Tak ada istrinya, Arthur adiknya Elie atau pun Elie dan Liana. Itu membuatku heran kemana sebenarnya mereka itu.
" Sepertinya kalian sudah bersenang-senang ya..bagaimana? Apa hasilnya memuaskan? Bagaimana keadaan Liana?" Tanya pak Vermount memulai percakapan.
" Semuanya sudah baik-baik saja. Liana sudah sembuh total. Tak ada yg perlu dikhawatirkan" ucap Kayn. " Selain itu...dimana Elie dan Liana?"
" Ah...mereka sedang dikamar" jawab pak Vermount " sepertinya Elie sangat merindukan kasur empuk dan boneka kesayangannya itu"
Ah, sudah kuduga sih. Walaupun seperti itu dia tetaplah putri bangsawan. Selain itu selama dimarkas mereka sudah berusaha keras untuk terbiasa tidur di kasur yg tipis. Wajar saja kalau mereka jadi merindukan kasur empuk mereka.
" Jadi, apa saja yg kalian lakukan selama seminggu lebih ini?"
" Tentu saja mengobati Liana, sekaligus jalan-jalan " jawab Kayn " ah, jangan khawatir tuan, aku yakin Elie merasa sangat senang. Lagipula selama ini dia selalu menempel dengan kekasihnya ini"
" K-kayn..." Gumamku kesal.
Sontak pak Vermount tertawa lebar.
" Begitu ya, ternyata begitu. Kalian sudah sangat dekat ya. Sepertinya liburan ini cukup membuahkan hasil. Sebelumnya aku cukup terkejut saat tahu Elie mau pergi keluar kota. Dia itu paling sulit kalau diajak keluar. Sebagai ayahnya aku jadi sedikit iri" ucap pak Vermount tersenyum. " Sepertinya Elie benar-benar menganggapmu sebagai sosok yg sangat berharga ya Zayn."
" T-tidak juga..."
" Ya, itu benar sekali tuan " ucap Kayn dengan senyuman liciknya. Aku kembali menatapnya kesal.
" hahahaha, begitu ya. Kuharap hubungan kalian lancar. Kalau bisa aku ingin saja menjadikanmu tunangannya "
__ADS_1
" T-tidak tuan Vermount, aku merasa masih belum siap untuk itu" bantahku dengan cepat.
" Hahahaha. Yah, yg penting aku sangat senang kalau Elie bertemu dengan pria sepertimu "
" Ya, sebagai kakaknya saya juga merasa sangat bahagia " ucap Kayn " asal anda tahu tuan, Zayn ini sebenarnya adalah orang yg sangat tertutup dan anti sosial. Mengetahui ia bisa dekat dengan seorang gadis saja sudah membuat saya sangat bahagia "
" Begitu ya, sepertinya kau kakak yg baik ya Kayn.."
" Yah, anda terlalu memuji saya tuan Vermount" balas Kayn dengan tawanya yg menjengkelkan.
Sialan kau Kayn. Walaupun sudah bersiap aku masih saja harus menahan malu seperti ini.
" Sepertinya kalian akan masuk sekolah hari ini. Sebaiknya kalian segera bersiap-siap. Matahari sudah hampir terbit." ucap pak Vermount.
Benar juga. Kami masih harus melanjutkan identitas kami sebagai pelajar di sekolah itu. Walaupun sebenarnya kami bisa saja tidak masuk dengan alasan baru sampai, tapi berdiam diri seharian saja itu tidak enak. Aku tak seperti Zero yg tahan melakukan itu, karenanya kami akan masuk hari ini pagi ini juga. Masih ada waktu beberapa jam untuk bersiap-siap.
" Ah, kalau begitu kami permisi dulu tuan Vermount. Terimakasih atas sambutannya " ucap Kayn pamit.
" Kalau begitu sampai jumpa " ucap pak Vermount
" Sampai jumpa "
Kami keluar, dan meninggalkan kediaman keluarga Bathory dengan damai. Tentu saja aku masih kesal dengan perkataan Kayn tadi.
Kami kembali berjalan ke rumah sementara kami di kota Bluelagoon. Setelah seminggu lebih ditinggal, sepertinya tak banyak yg berubah. Jadi kami bisa bersiap-siap ke sekolah dengan cepat tanpa kendala.
Satu jam bersiap, kami pun segera berangkat. Tanpa kami sadari, butiran es jatuh dari langit. Membentuk hujan salju yg turun dengan anggun. Sepertinya kita sudah mulai memasuki musim dingin. Kami lupa membawa pakaian musim dingin, tapi untungnya kami masih bisa mengatasi suhu dingin ini dengan sihir.
" Zayn! Kayn!"
Elie dan Liana lagi-lagi muncul dari arah gerbang sekolah. Seolah menunggu kami, mereka segera berlari menghampiri kami.
" Ah, kalian sudah semangat ya..." Ucap ku.
" Tentu saja. Selain itu apa kalian tidak kedinginan dengan pakaian tipis itu?" Tanya Elie.
" Ya, tak Masalah selama kami bisa menggunakan sihir" ucap Kayn.
" Jangan begitu. Setidaknya gunakan sarung tangan " protes Liana. Ia segera memberikan sarung tangan yg ia keluarkan dari tasnya pada Kayn " ini pakailah Kayn"
" A-ah, terimakasih Liana"
" Z-zayn, ini juga pakailah" tak kusangka Elie juga melakukan hal yg sama. " A-aku tahu kalau kau pasti tak membawanya, karena itu aku membawa dua"
Sampai sejauh apa kau mengetahui pergerakanku Elie? Kau sudah seperti penguntit saja.
Aku memakai sarung tangan pemberian Elie dengan senang hati. Kami pun segera berjalan menuju ruang kelas. Aku, Elie dan Liana pun berpisah dengan Kayn yg berada di kelas sebelah. Akhirnya kami kembali memulai pelajaran kami seperti biasa.
" Tolong perhatiannya. Hari ini kita kedatangan murid baru... "
Guru kami pagi ini memulai pelajaran dengan pengumuman yg mengejutkan
" ...Mulai hari ini dia akan menjadi teman sekelas kalian..."
Sebuah kabar yg membuat mata ku terbelalak tak percaya
"... silahkan perkenalkan namamu"
" Baik!"
Suara itu membuatku , Elie dan juga Liana tersentak kaget. Sebuah kejadian yg tak terduga. Sesaat aku mengingat perkataan paman Oliver. " akan ada 3 orang yg kukirim ke kota Bluelagoon. Kayn, Zayn, dan satu orang lagi yg masih kuperhitungkan.." itu yg ia katakan.
Orang itu akan membantu kami dan menyamar seperti kami, berarti ia seumuran dengan kami. Orang yg seumuran dengan kami di organisasi hanyalah Zero, Tony, dan Fiera. Mustahil Zero mau menerima tawaran ini, begitu juga dengan Tony. Itu berarti hanya ada satu kemungkinan siapa orang ketiga itu
" ...aku baru tiba dikota ini pagi ini. Perkenalkan.."
Dan itu adalah orang yg paling tak kuharapkan.
"... namaku Fiera Flamie, salam kenal"
" Fiera?!!"
__ADS_1
"Eh? Zayn!!"