
Malam hari setelah selesai bersih-bersih, kami bersiap untuk istirahat. Bagaimana pun juga, bersih-bersih setelah perjalanan panjang sangat menguras tenaga. Hanya karena itu saja, tubuh Elie dan Liana sudah mulai kelelahan. Yah, meskipun aku masih baik-baik saja, kupikir lebih baik aku juga ikut beristirahat. Memaksakan diri itu tidak bagus. Ditambah lagi, besok adalah hari dimulainya misi kami yg sebenarnya.
Melalui penjelasan singkat dari Aleesha selaku mata-mata yg mengurus bagian kerajaan Voracity, kami mendengar rinciannya secara langsung. Menurut pengamatan nya, informasi mengenai penyerangan iblis kuning di pantai Utara bukan lagi rahasia kerajaan. Karena banyaknya pendatang dari daerah Utara, kabar penyerangan itu sudah menyebar luas. Meskipun begitu, para penduduk kota ini seakan-akan cuek dan tidak peduli dengan itu. Mungkin saja mereka beranggapan kalau serangan iblis kuning tak mungkin mencapai kota ini.
Yah, itu bisa dimaklumi mengingat jauhnya jarak antara kota Voracity dengan pantai Utara. Meskipun kota ini merupakan kota besar terdekat dari pantai, jaraknya masih cukup jauh. Kabarnya kami perlu melewati beberapa kota kecil dan desa-desa untuk sampai ke sana. Dan itu memerlukan waktu sekitar dua hari perjalanan dengan menggunakan kuda. Itu terbilang cukup jauh.
Tapi meskipun begitu, setidaknya mereka merasa sedikit khawatir dengan kondisi mereka kedepannya. Tapi yg kami lihat, mereka sangat santai dan hidup sebagaimana kota biasa. Itu bukan hal yg wajar.
Aleesha mengatakan kalau alasan mereka bertindak seperti itu karena keberadaan para Imperial Paladin yg saat ini melindungi kita dan bahkan mengirimkan pasukan khusus untuk mengatasi para iblis di daerah pantai Utara. Nampaknya, rakyat kerajaan ini sangat percaya dengan kemampuan para Imperial Paladin.
Tapi meskipun begitu, Imperial Paladin masihlah manusia biasa.
Masalah nya adalah para Imperial Paladin sudah mulai kewalahan menghadapi para iblis. Wajar saja, mereka sudah bertarung selama dua bulan lebih. Pasukan manapun pasti akan merasa kewalahan dengan pertempuran jangka panjang ini. Tapi meskipun dalam keadaan seperti ini, mereka masih bersikeras menolak bantuan dari pihak luar. Terutama Magic Assosiation.
Meskipun mereka menyimpan dendam pada kami, perilaku ini sangat tak wajar. Jika mereka memang berjuang agar kerajaan ini bisa selamat, seharusnya mereka mengesampingkan semua masalah pribadi. Tapi bahkan setelah semua kesulitan ini, mereka masih tetap pada pendiriannya. Seakan-akan ada sesuatu yg memaksa mereka untuk menolak semua bantuan. Dan itulah yg akan kami selidiki selanjutnya.
Apa yg membuat mereka menolak bantuan, dan bagaimana cara agar mereka mau menerima tawaran bantuan? Mencari jawaban dari pertanyaan itulah misi kami yg sebenarnya.
Di pagi harinya, kami memulai penyelidikan. Agar mempermudah proses penyelidikan, kami semua berpencar menuju tempat yg berbeda-beda. Aleesha memanfaatkan hubungan nya dengan para pedagang untuk mendapatkan informasi. Hughess menyamar dan pergi ke daerah yg dipenuhi oleh para petualang, Guild kota Voracity. Elie dan Liana yg merupakan orang baru berkeliling berdua menyusuri kota Voracity. Aku tak tahu bagaimana cara mereka mencari informasi, tapi jika ada Liana kupikir itu bukan masalah. Meskipun terlihat seperti gadis bangsawan yg manja, Liana itu cukup cerdik dan juga licik. Aku bisa tahu itu dari caranya melihat sekitar. Meskipun itu cuma prasangka ku saja.
Dan untuk ku, aku akan berusaha mengamati daerah-daerah yg tak terjangkau oleh mereka. Itu berarti aku akan jadi jauh lebih sibuk dari siapapun.
Tapi sebelum akhirnya kami benar-benar pergi, Aleesha memberi kami peringatan.
"Jangan sampai identitas kalian diketahui oleh orang-orang, terutama Imperial Paladin."
Atau lebih tepatnya, jangan dekat-dekat dengan Imperial Paladin. Tapi bagaimana juga, ada saatnya kami harus menyelidiki mereka dari dekat.
"Dengan ini sepertinya kalian semua sudah siap bertugas," ucap Aleesha. "Dengan pakaian yg kuberi, seharusnya kalian bisa membaur layaknya rakyat kerajaan Voracity."
"Kuharap begitu."
"Yah, tak perlu basa-basi lagi. Saatnya bertugas," ucap Aleesha.
"Siap!"
Kami bersiap-siap dengan barang kami masing-masing. Dan setelah itu, semuanya berpisah dan berpencar ke penjuru kota. Dengan ini misi penyelidikan kota Voracity dimulai.
Untuk hari pertama, sepertinya lebih baik untuk membiasakan diri terlebih dulu dengan kondisi kota ini. Karena ini merupakan kota dagang dengan banyak pedagang serta petualang, kota ini jauh berbeda dengan kota Bluelagoon yg kebanyakan merupakan pelajar.
Seperti yg direncanakan, kami semua bergerak sesuai posisi masing-masing. Hughess ke guild petualang, Aleesha bekerja seperti biasa dan berinteraksi dengan para pedagang, Elie dan Liana membaur dan bersikap layaknya wisatawan, dan aku menyamar sebagia petualang yg sedang mengamati kota dari ketinggian. Yah, mengamati dari atas atap rumah jauh lebih mudah daripada membaur ditengah kerumunan orang. Dan ini juga cocok dengan penyamaran ku. Salah sedikit saja, sihir Illusion Self ku bisa lenyap dan identitas ku terbongkar. Karena itu, menghindari kerumunan adalah ide terbaik.
Suasana pagi di kota ini tak jauh berbeda dari Bluelagoon. Hanya saja, sangat sedikit pelajar yg terlihat di kota ini. Mungkin ada beberapa yg terlewat dari pantauan ku, tapi sejauhyg kulihat hanya petualang dan para pedagang saja. Aku jadi bosan melihat pria kekar dan orang tua gemuk yg membawa kereta dagang. Setidaknya berikan aku pemandangan yg menyejukkan mata, seperti gadis bangsawan misalnya. Tunggu, bukan berarti aku berpaling dari Elie. Ini hanya untuk menghilangkan rasa jenuhku, itu saja.
Aku berkeliling kota dengan melompat dari atap rumah ke atap yg lainnya. Seperti anak-anak muda di dunia lama ku, kalau tidak salah mereka sering disebut Parkour. Hanya saja ini versi dunia fantasi. Dengan sihir penguat tubuh, aku tak akan takut jatuh dari ketinggalan. Dan dengan kelima indera yg dipertajam dengan Transmutation, aku bisa mengamati sekitar dengan lebih baik. Ini bisa dianggap sebagai refreshing juga, aku cukup menikmati nya.
Dan ditengah-tengah kegiatan, tepatnya di saat matahari telah naik cukup tinggi, aku mendengar suara keributan dari tempat yg seharusnya menjadi tempat yg sepi. Itu suara seorang gadis dan suara 3 orang pria. Apa mungkin perampokan di gang sempit? Siapa yg tahu, lagipula ini dunia lain. Hal-hal seperti itu pasti ada.
Aku bergegas menuju ke sumber suara. Yah, itu bukan keributan yg besar, hanya seperti percakapan yg berkesan seperti berdebat. Atau lebih tepatnya, seperti permintaan tolong tanpa imbalan.
"Kumohon, salah satu teman kami sedang terluka."
Itu suara seorang pria, suara nya terdengar berat dan terkesan dibuat-buat. Sepertinya ia berakting layaknya seorang pria paruh baya yg lemah. Ia menarik-narik lengan seorang gadis seakan memohon untuk mengikutinya. Masalahnya, ia mengarah ke sebuah gang sempit dan gelap.
"E-eh? Tapi sudah kubilang aku hanya bisa menggunakan sihir penyembuh tingkat rendah—
"Tak masalah, setidaknya tolong bantu teman kami!"
Yg beralasan itu adalah gadis yg sepertinya mangsa mereka. Dari sini aku sudah tahu kalau pria tadi mencoba menjebak gadis itu. Lagipula siapa juga yg mau membawa orang terluka ke gang sempit yg bau dan lembab itu? Dan juga, jawaban orang tua itu berkesan penuh paksaan. Seakan-akan apapun yg terjadi gadis itu harus mengikutinya.
__ADS_1
"U-ugh, kalau memang begitu apa boleh buat."
Eh? Gadis itu menurutinya? Yg benar saja? Apa dia sebodoh itu sampai tak sadar kalau ini adalah sebuah jebakan? Atau mungkin ia berpura-pura dan hendak kabur disaat yg tepat? Dari wajah dan cara dia berjalan, nampaknya dia bukan sembarang gadis. Dan lagi dia bilang bisa menggunakan sihir penyembuh, walaupun hanya tingkat rendah. Tak salah lagi, dia mungkin seorang petualang atau semacamnya.
"T-terimakasih banyak nona!! Aku sangat berterimakasih padamu!"
"A-ah tak perlu berterimakasih! Lagipula aku belum melakukan apapun! Sudah menjadi tugas orang yg berkuasa untuk membantu yg lemah. Sekarang cepat antar aku ke tempat temanmu."
"Baiklah, ikut aku nona!"
Yg benar saja, dia itu bodoh?! Dan juga, nampaknya dia tipe idealis yg menjunjung tinggi keadilan. Tipe-tipe gadis yg merepotkan. Apa perlu kubantu? Jika aku membuat dia merasa berhutang budi, mungkin aku bisa memperoleh informasi melalui dirinya? Yup, bantu saja lah.
Gadis itu berjalan memasuki gang yg bagaikan lorong labirin bersama dengan pria tadi. Mereka masuk semakin dalam, menuju ke sebuah persimpangan gang yg dimana sudah ada 2 orang pria yg menunggu disana.
Dan disana juga, aku merasakan ada sihir. Sepertinya salah satu dari mereka adalah penyihir. Dan sihir yg ia gunakan adalah tipe jebakan.
Jika sudah begini, mari kita lihat sebodoh apa gadis itu.
"Sebentar lagi sampai nona!"
Saat mereka sampai di persimpangan, mereka berdua berhenti di tengah-tengah gang.
"Jadi ... Dimana teman yg kau katakan itu?" Tany si gadis.
"Aaah, soal itu ... Itu bohong kok, nona. Jadi jangan khawatir."
"Hah?!"
Dua orang yg bersembunyi lantas melompat keluar bagaikan bandit jalanan. Mereka menodongkan pedang mereka ke gadis tanpa senjata itu, sembari mengeluarkan hawa membunuh.
"Apa maksudnya ini? Cepat jelaskan padaku."
"Cepat serahkan semua barang berharga mu, atau kau akan kami bunuh!" Ucap pria tua yg tadi.
"Tidak tidak, kau beri atau tidak kami akan tetap membunuhmu. Atau lebih tepatnya, setelah kami puas dengan tubuh indahmu itu."
"Hihihi, kau benar. Aku ingin sekali mencicipi apa yg ada dibalik pakaian itu."
"D-dasar hina! Menjijikkan!"
Ya, aku sependapat denganmu. Mereka benar-benar menjijikkan sampai-sampai membuatku ingin turun tangan. Tapi masih belum waktunya untuk ku tampil.
"Menyerahlah, buat ini lebih mudah."
Tanpa ragu, salah seorang dari mereka bertiga maju menyerang si gadis. Namun hebatnya, gadis itu malah membalikkan serangan itu dan merebut senjata si pria. Meskipun begitu, nampaknya dia bukan gadis yg terbiasa dengan pedang. Itu terlihat dari bagaimana cara ia memegang pedangnya.
"Mundur! Atau aku akan membunuh kalian!"
"Ugh, kata-kata yg terdengar tak meyakinkan. Lagipula, kau bisa apa dengan kuda-kuda amatirmu itu?" Ucap pria yg kelihatan paling tangguh dari ketiga pria itu. "Begini begini, aku ini petualang rank-B. Jangan kira bisa membunuhku semudah itu, nona."
Petualang ya, pantas saja ia terlihat cukup kuat.
Nah, Apa si gadis bisa menyelesaikan ini tanpa masalah? Atau aku perlu turun tangan?
Merasa terdesak, gadis itu diam ditempat. Nampaknya ia sedang memikirkan cara bagaimana untuk pergi dari situasi ini. Dan disaat itulah, ia melihat sebuah tongkat besi panjang di sisi lain gang. Dengan cepat ia meraih tongkat itu dan memasang kuda-kuda pertahanan. Dia memang terlihat amatir dalam berpedang, tapi kuda-kuda nya saat menggunakan tingkat itu terlihat seperti pengguna tombak profesional.
"Hoho, kau menemukan sejata ya. Kalau kau percaya diri dengan kemampuan mu, majulah!"
"Dengan senang hati!"
__ADS_1
Seakan tanpa jeda waktu, ia melesat kedepan hendak menghantam si pria rank-B dengan tombak barunya. Serangan itu seharusnya menjadi sebuah seranga telak, jika saja hal itu tidak menggangu.
"Kena kau!"
"Paralyzing!"
Kaki gadis itu menginjak jebakan sihir yg ditanam diantara dia dan si pria. Seketika, sebuah aliran listrik mengalir dari lingkaran sihir dibawah kakinya dan menyambarnya. Itu tak memberi kerusakan yg parah, hanya saja efek dari sihir itu membuat korbannya tersentrum dan kemudian lumpuh sementara. Dengan efek itu, mereka bertiga bisa melakukan apapun yg mereka mau dengan si korban.
"T-tidak ... Kalian menggunakan trik yg kotor!"
"Yah, lagipula tak ada aturan untuk ini."
"T-tunggu, bagaimana mungkin kalian melakukan hal sekeji ini?! Apa kalian masih menyebut diri kalian petualang?!"
"Ya, tentu saja."
"Ugh, s-sialan! Lepaskan aku! Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu!"
"Diamlah biarkan kami bersenang-senang."
"T-tidak! Kumohon lepaskan! Tidak! Lepaskan!"
Ugh, sepertinya sudah waktunya ya. Lagipula aku juga tak tega melihat gadis sepertinya diperkosa didepan mataku, walaupun itu tak akan terjadi.
"Oooi, kalian petualang yg ada disana! Bisakah kalian melepaskan nya? Kelihatannya dia tak menyukainya."
Dengan santai, aku duduk diatas atap menatap mereka semua dengan tatapan intimidasi.
"K-kau ... Siapa kau?! Sejak kapan kau ada disana?!"
"Eh? Baru saja. Aku disini sejak kalian menggunakan sihir pelumpuh itu padanya." Itu bohong sih.
"K-kalau begitu apa yg kau ingin—
"Sebelum itu, bisakah kalian melepaskan nya?"
"T-tidak bisa, lagipula kau tak ada hubungan apa-apa dengannya!"
"Ya benar juga sih. Kalau begitu sepertinya aku memang tak perlu repot-repot mengganggu kalian."
"I-itu benar! Sekarang pergilah!"
Suaranya gemetar. Nampaknya dia sudah tahu siapa yg lebih kuat diantara kami hanya dengan melihat auranya saja. Seperti yg diharapkan dari petualang rank-B.
Tapi, aku cuma bercanda tadi.
"Aku memang bilang begitu. Tapi, nona yg disana! Apa aku mengganggu?"
"T-tentu saja tidak, kan?—
"Aku tidak bicara padamu tua bangka."
Dia seketika diam. Benar-benar lemah ya.
Merespon pertanyaan ku, gadis itu meronta-ronta dan melepas tangan pria itu dari mulutnya. Lalu dengan segenap kekuatan, dia berteriak padaku.
"Tolong selamatkan aku, kumohon!"
Mendengar jawabannya, seketika aku tersenyum.
__ADS_1
"Permintaan diterima."