Absolute Twin Magician

Absolute Twin Magician
Harapan ( Liliana Rossweis )


__ADS_3

Hatiku serasa mau hancur. Semua yg kulihat hari ini benar-benar memilukan. Tepat didepan sana, belahan hatiku terkulai lemah penuh luka, tak berdaya sama sekali. Di dekatnya, sahabat baikku juga menderita hal yg tak kalah mengerikan. Tubuh Elie terbaring berlumuran darah segar yg tak hentinya mengalir dari luka di tubuhnya. Dan yg lebih parahnya lagi, orang yg di cintai sahabatku ini telah kehilangan pikirannya. Ya, saat ini Zayn tengah bertarung melawan iblis yg menyebut dirinya sebagai Orcholenius. Akan tetapi, wujud Zayn sudah tak bisa dikatakan seperti manusia lagi. Ia benar-benar telah menjadi monster.


Seluruh tubuhnya telah benar-benar berubah. Kepalanya sudah seperti kepala monster yg mengerikan. Begitu juga dengan anggota tubuhnya yg lain. Ia tak berbicara, hanya meraung-raung layaknya binatang buas. Ditambah lagi, ia telah kehilangan kendalinya.


Aku tak tahan lagi melihat ini semua. Kumohon seseorang cepat hentikan ini semua. Cepat hentikan semua kegilaan ini!


Tubuh Zayn yg layaknya monster itu melayang ke udara. Atau lebih tepatnya terbang ke udara. Ia melesat cepat bagaikan naga, menyerang Orcholenius. Itu pertarungan udara, itu berarti mereka tak akan menyerang daratan. Bergegas kugerakkan kakiku menuju ke tempat Elie dan Kayn terbaring.


Kondisi mereka semakin melemah, luka di punggung Elie terlalu lebar. Selain itu luka di tubuh Kayn juga tak kalah parah. Aku tak yakin para dokter di kota bisa menangani ini. Tapi aku tak menyerah, aku harus menyelamatkan Elie dan Kayn sebisaku. Walaupun aku berkata seperti itu, tak ada apa-apa disini. Tak ada sesuatu pun yg bisa kugunakan untuk menyelamatkan mereka berdua.


Tanpa kusadari, gadis kecil berambut biru pendek muncul kearahku. Aku ingat Orcholenius memanggilnya Jenny. Gerakannya begitu cepat. Aku terdiam tak bisa melakukan apa-apa. Aku terlalu takut. Sontak beberapa pedang besar melayang, menghantam gadis itu. Pedang-pedang lainnya juga ikut muncul mengelilingi kami, seakan sedang melindungi kami berdua. Disisi lain, seorang wanita berambut merah panjang datang mengahmpiri kami. Aku ingat dia. Kayn dan Zayn memanggilnya dengan sebutan " kak Marry "


" Apa kau terluka?" Tanyanya " bagaimana keadaan mereka berdua?"


Aku mengusap air mataku. Kemudian merespon pertanyaannya.


" Aku baik-baik saja, tapi Kayn dan Elie terluka parah" jawabku setengah berteriak. Suara bising pedang yg beradu ini membuatku mesti mengeraskan suaraku.


" Ambil ini"

__ADS_1


Kak Marry melemparkan dua buah botol kaca kecil padaku. Cepat-cepat aku menangkapnya. Tapi, apa ini?


" Itu adalah ramuan penyembuh. Minumlah itu ke mereka berdua" ucapnya. Aku mengangguk paham


Buru-buru kuminumkan ramuan itu pada mereka. Kak Marry terus berusaha melindungiku. Tapi ia tak menyadari ada satu lagi iblis yg menyerang kami. Gadis iblis yg bernama Anna, muncul menyergapku dari belakang.


Kak Marry segera menyadarinya dan melesatkan pedang-pedangnya. Tapi itu semua bisa dihindari dengan mudah. Kelihatannya kak Marry tak terbiasa menyerang sambil melindungi. Kami benar-benar menjadi beban untuknya.


" G-gawat, cepat menghindar!" Teriaknya.


" Ah maaf, Anna tak bisa membiarkan kalian menghindar"


Sebuah penghalang berwarna ungu muncul menyelimutiku, menahan serangannya. Itu terlihat seperti sihir, tapi siapa yg melakukannya? Itu bukan kak Marry, karena ia terlihat kaget melihat penghalang itu. Sedangkan Anna juga tak kalah kagetnya. Ia bergegas mundur menjaga jarak dariku.


" Ini...aneh, sebenarnya kau ini manusia atau iblis?" Tanya Anna dengan nada heran.


Anna mundur, takut pedang-pedang kak Marry melukai tubuhnya. Gadis bernama Jenny yg tadi muncul pertama kali itu juga ikut mundur, berkumpul dengannya. Kak Marry segera memasang posisi siaga, bersiap dengan serangan selanjutnya.


" Nak, siapa namamu?" Tanya kak Marry padaku.

__ADS_1


" Li-liliana... Liliana Rossweis" jawabku.


" Kenapa Kayn dan Zayn membawa kalian ikut?"


" Itu karena..." Aku diam sejenak, berpikir tentang apa yg akan kukatakan " Kayn bilang ia akan menghilangkan kutukan di tubuhku dan menyelamatkan ku"


" Kenapa ia melakukannya?"


" Karena..kami berempat adalah teman dekat" jawabku. Kak Marry diam sebentar, kemudian tersenyum


" Kalau kondisinya berbeda, mungkin aku akan berterimakasih dan menjamu kalian dengan hormat...mendengar Kayn berteman dengan kalian itu sudah wajar bagikua, tapi beda halnya dengan Zayn yg penyendiri itu" ucap kak Marry masih tersenyum " bahkan aku sempat takut ia akan terus menjadi penyendiri seperti itu selamanya, tanpa ada seorangpun yg peduli padanya. Tapi kau bilang kalian semua berteman dekat. Aku sangat bahagia mendengarnya. Akhirnya apa yg selama ini kucemaskan telah hilang"


Perasaan ini, ini perasaan tulus seorang kakak pada adiknya. Bukan hanya kakak, ini lebih terasa seperti seorang ibu yg mencemaskan anaknya. Sepertinya kak Marry sudah menganggap Kayn dan juga Zayn seperti adiknya sendiri. Ia sangat baik dan juga lembut. Aku sedikit iri pada mereka. Seumur hidup aku belum pernah merasakan perasaan tulus seperti ini. Orang tuaku tak pernah menganggapku sebagai anak. Aku tak pernah disayangi. Aku bahkan tak pernah bermain bersama mereka. Mereka juga jarang dirumah. Kayn dan Zayn beruntung memiliki teman dan keluarga yg baik seperti ini.


" Ya, sepertinya kecemasan kakak benar-benar telah menghilang" ucapku tersenyum. Aku pun menatap kak Marry dan juga Elie bergantian. " Temanku ini, Elizabeth Bathory adalah orang yg pendiam dan sangat pemalu. Tapi berkat Zayn, ia jadi lebih berani mengungkapkan isi hatinya. Ia memutuskan berubah demi Zayn. Karena ia sangat menyukainya. Ia sangat mencintainya, cinta yg tulus dari lubuk hati terdalamnya.."


" Begitu ya.." kak Marry tersenyum, kemudian kembali fokus ke pertarungan " kalau begitu aku jadi tambah semangat. Akan kulindungi perasaan tulus itu. Akan kulindungi harapanku, dan juga sosok berharga Zayn dan Kayn dengan kedua tanganku ini"


Jenny dan Anna kembali bergerak. Mereka berdua berpisah kemudian berlari memutari kami. Mereka membatasi ruang gerak kami, sembari mencari celah untuk menyerang. Pertahanan kak Marry benar-benar luar biasa. Tiap kali dia gadis itu maju menyerang, kak Marry selalu berhasil menahannya dengan sempurna.

__ADS_1


Dilain tempat, suara raungan monster bias terdengar begitu keras. Asalnya dari atas langit. Aku mendongak keatas, menyaksikan pertarungan fisik yg sama sekali tak seimbang itu.


__ADS_2