Absolute Twin Magician

Absolute Twin Magician
Rencana Awal


__ADS_3

Sore hari, kira-kira pukul enam. Matahari sudah mulai tenggelam. Matahari sore tak berbahaya bagi para vampir, itu karena cahaya matahari sore hanyalah pantulan dari matahari yg telah tenggelam. Meskipun begitu, pasukan vampir masih belum menampakkan diri.


Proses evakuasi warga telah selesai semenjak pukul 5 tadi. Saat ini, kota Bluelagoon telah benar-benar dikosongkan. Semua warga mulai dari keluarga kerajaan, bangsawan, sampai rakyat jelata telah mengungsi di luar kota, dikawal oleh beberapa anggota ReVoid yg bertugas melindungi mereka. Kota Bluelagoon saat ini hanya diisi oleh para Magic Knight dan ReVoid yg tengah bersiap menghadapi perang di malam yg akan menjadi malam terakhir serangan vampir di kota Bluelagoon.


Semua anggota yg siap bertempur bergerak sesuai dengan rencana yg Osamu buat tadi siang. Rencana ini tak seperti sebelumnya yg mengutamakan keselamatan ketua ReVoid, malahan sebaliknya.


Dari atas menara ditengah-tengah kota, Kate bersama dengan Aoi, Elie dan Liana memantau keadaan kota. Sejauh ini, mereka belum menemukan keberadaan vampir di dalam kota.


Dibawah mereka, Guts dan juga pasukan ReVoid bersiap dengan senjata-senjata mereka. Mereka hanya akan bertugas untuk menghadapi vampir kelas bawah yg akan muncul sewaktu penyerangan dimulai.


Bersama dengan Guts dan para prajurit, kak Chezie dan Fiera bersiap menunggu perintah.


Sementara itu, Zero dan juga Tony bertugas sebagai radar yg akan memberitahu informasi terbaru pada kami. Dengan kemampuan sihir pendeteksi Zero, dan kemampuan Tony untuk terbang diudara, mencari informasi bukanlah hal yg sulit.


"Tony, di atas gerbang barat. Sepertinya ada beberapa vampir bangsawan disana," ucap Zero.


"Ya, aku melihatnya. Ada 8 vampir disana. Orang itu juga ada disana ...."


"Zuan ya ...."


"Seperti yg Osamu bilang, mereka pasti muncul."


"Apa semua vampir itu bangsawan?"


"Dilihat dari aura yg mereka pancarkan, sepertinya begitu," jawab Zero. "Lagipula aku tak terlalu mengerti perbedaan vampir bangsawan dan vampir biasa. Jangan terlalu bergantung padaku. Tapi ya, sepertinya mereka vampir kelas atas."


"Sebagai pembawa pesan, mereka terlalu kuat," ucap Tony. "Aku bisa menyadari nya hanya dengan sekali lihat saja."


"Itu berarti mereka bukan benar-benar pembawa pesan. Mereka pasti berniat mengamati kita, lalu membunuh pak Vestine," ucapku.


"Semua sesuai perkiraan," lapor Tony.


"Seperti biasa, kau selalu bisa diandalkan ya Louise," ucap nona Stephanie. "Kita akan memulai rencananya dalam lima menit. Vestine, bersiaplah di posisi."


"Kami dalam perjalanan."


Semua bersiap di posisi mereka masing-masing, sesuai dengan apa yg Osamu arahkan. Berkat teknologi informasi milik ReVoid, komunikasi kami jadi jauh lebih mudah.


Kelompok nona Stephanie yg berisi aku, Kayn, Gale, Zero , dan kak Marry maju menuju gerbang barat, tempat para vampir itu berada. Di tempat lain, pak Vestine bersama dengan Hallen, Shiki dan Kallen juga ikut kesana dengan rute lain. Sementara itu, Osamu mengikuti mereka dari belakang.


Dipimpin oleh nona Stephanie, kelompok kami bertatap muka dengan Zuan dan vampir lainnya diatas bangunan tinggi.


percakapan antar ketua pun dimulai.


"Selamat malam tuan dan nyonya vampir sekalian. Sepertinya kalian sudah bersiap-siap untuk perang kali ini ," sapa nona Stephanie. Ia berencana untuk berunding dengan mereka, sambil mencari informasi terkait perang ini. "Apa ini benar-benar peperangan yg sepele bagi kalian, sampai tak perlu susah payah mempersiapkan diri?"

__ADS_1


"Kami para vampir selalu siap untuk berperang. Tak butuh waktu lama untuk mempersiapkan nya," jawab Zuan, mewakili semua vampir dibelakangnya. "Dimana pimpinan kalian, ReVoid?"


Mendengar itu, nona Stephanie tertawa kecil.


"Apa ada yg lucu dari pertanyaanku barusan?"


"Ah maaf, tak kusangka kalian akan langsung menanyakan hal itu. Tentu saja, kami tak perlu repot-repot membawanya hanya untuk menemui kalian kan?" Jawab nona Stephanie. "Lagipula, aku percaya tanpa mereka pun kami bisa mengalahkan kalian ...."


"Sepertinya kau meremehkan kami, manusia."


"Tidak tidak, aku tak pernah meremehkan kalian. Malah sebaliknya, aku sangat kagum dengan kekuatan kalian yg luar biasa itu."


"Kalau begitu, bukankah lebih baik kalau kalian segera menyerah?" Tanya Zuan. Entah kenapa, ia seakan membujuk kami agar menyerah dengan tenang. "Sebentar lagi, pembantaian sepihak akan terjadi, dan kalian akan kehilangan rekan-rekan kalian. Sebagai manusia, bukankah nyawa rekan kalian itu sangat berharga?"


"Sebagai manusia ya ... Apa itu berarti kalian tak memiliki nya, vampir?"


"Aku tak bisa mengatakannya, karena itu bukan hal yg penting. Aku menyarankan agar kalian segera menyerah," lagi-lagi dia meminta kami agar menyerah. "Jika kau menyerah, mungkin aku bisa mempertimbangkan nyawa kalian. Tergantung situasi, aku juga bisa memberimu kehormatan untuk menjadi peliharaan tuan kami ...."


Sekali lagi nona Stephanie tertawa mendengarnya. Dan itu sedikit membuat merek jengkel. Yah, nona Stephanie memang pandai membuat lawan bicaranya jengkel.


"Wah wah, itu tawaran yg sangat menarik. Aku menghargainya. Tapi maaf saja, sepertinya aku tak punya kualifikasi untuk menjadi peliharaan. Aku sangat tidak cocok untuk mengisi posisi itu ...."


Nona Stephanie terdiam sebentar, masih berusaha menahan tawanya. Sekali lagi, itu membuat vampir lain dibelakang Zuan merasa tak senang dan jengkel. Rasanya seperti mereka sedang diejek habis-habisan.


Seketika, aura membunuh mereka menyeruak keluar. Kata-kata nona Stephanie sepertinya berhasil memancing emosi mereka.


"Yah, kau benar. Aku tarik tawaranku barusan. Kalian benar-benar tak cocok untuk menjadi peliharaan tuan kami," ucap Zuan. Kali ini nada suaranya berubah.


"Ah sayang sekali. Padahal aku sudah berencana mengambil peran itu. Peliharaan yg membunuh majikan—


Belum habis kata-kata nona Stephanie, Zuan tiba-tiba muncul didepannya dengan aura merah berbentuk monster seperti saat itu. Aura membunuh nya benar-benar terasa sangat berat.


"Aku akan segera mengakhiri mu." Zuan mengangkat tangannya, menebaskan tangan monster raksasa itu kearah nona Stephanie.


Meskipun begitu, nona Stephanie hanya tersenyum santai.


"Absolute Shield ...."


Sebuah perisai muncul melindungi seluruh bagian tubuh nona Stephanie. Perisai itu terlihat sangat tipis, tapi tak selemah kelihatannya. Bahkan dengan serangan kuat yg membuat kami terhempas barusan, perisai itu sama sekali tak lecet. Seperti namanya, perisai itu sangat kokoh dan menahan semua serangan dengan sempurna.


Dari bawah bangunan, sebuah panah api muncul melesat kearah Zuan. Tapi sebelum mengenainya, parah itu meledak dan menimbulkan asap yg menutupi penglihatan. Nona Stephanie lantas mundur kebelakang, bersama dengan kak Marry, Gale , Hughess, Zero, Kayn, dan juga aku. Sementara itu, perhatian Zuan teralihkan kearah sumber panah.


Dibawah sana, Hallen bersiap dengan panah apinya, bersama dengan pak Vestine.


"Menyerang dengan serangan selemah itu hanya akan membongkar persembunyian kalian, ReVoid."

__ADS_1


Zuan segera melesat hendak menyerang Hallen. Tujuh vampir lain yg tadi diam ikut bergerak menyerangnya. Tepat seperti dugaan, mereka mengincar pak Vestine.


"Encounter!"


Tepat sebelum semua serangan mereka mengenai Hallen dan kak Vestine, sebuah sihir lain muncul diantara mereka dan Hallen. Pelindung sihir berwarna kuning keemasan itu menahan semua serangan mereka. Bukan hanya itu, ia juga menyerap semua serangan itu dan mengembalikan nya ke si pemilik. Ledakan campuran Manna itu membuat semua vampir itu terhempas ke udara. Dari sana lah, mereka menyadari keberadaan Osamu di sisi lain bangunan.


"INFINITY CHAMBER!"


Sebuah gelombang sihir muncul dalam radius 1 kilometer dari Osamu, membentuk sebuah ruang dimensi tanpa waktu. Semua yg terkena gelombang sihir itu terperangkap di dalam dimensi sihir tanpa waktu yg dibuat oleh Osamu.


Akhirnya, rencana kami memasuki tahap kedua.


Tahan awal rencana ini adalah memancing para vampir utusan yg akan datang kedalam dimensi sihir tanpa waktu yg akan dibuat Osamu. Didalam dimensi itu, mereka akan dipaksa untuk bertarung dengan kami. Tujuan nya adalah untuk melemahkan kekuatan vampir.


Dari 20 Vampir bangsawan yg datang ke kota ini, kami telah berhasil membunuh 3 dari mereka. Yg pertama adalah Vience, kemudian Quiela, lalu Ozax. Dengan ini, masih ada sekitar 17 dari mereka yg tersisa. Jika ditambah Rozalia, berarti masih ada 18. Jumlah itu masih cukup banyak untuk kami hadapi. Karena itulah, kami berencana mengurangi jumlah mereka dengan cara ini.


Jika 8 vampir ini berhasil kami habisi, akan tersisa sekitar 11 vampir lagi yg akan kami lawan. Itu masih terbilang banyak, tapi lebih baik dari pada sebelumnya. Dengan jumlah itu, aku yakin kami bisa bertahan.


Di dalam dimensi ini, para vampir tak akan mampu melarikan diri. Tak akan ada yg membantu mereka. Mengulur waktu juga percuma, karena selama apapun mereka disini waktu didunia nyata tak akan berubah. Selain itu Osamu memiliki jumlah Manna yg tak masuk akal. Ia bahkan dapat mempertahankan dimensi ini selama berminggu-minggu tanpa takut kehabisan Manna. Satu-satunya cara untuk bisa keluar dari sini hanyalah dengan membunuh Osamu. Tapi jika membunuhnya semudah itu, Osamu tak akan sepercaya diri ini.


Disini, kami hanya akan saling bertarung sampai salah satu dari dua pihak habis terbunuh.


Kami juga sudah memberi perintah kepada Kate yg berjaga di luar dimensi. Jika dalam waktu 15 menit kami belum kembali juga, maka ia mendapat izin untuk memberi pasukan perintah. Untuk membawa mereka mundur, atau maju berperang. Dengan kata lain, ia ditunjuk sebagai ketua pengganti jika pak Vestine dan Hallen terbunuh disini.


Ini pertaruhan besar dengan hasil yg tak kalah besarnya.


Pak Vestine, Hallen, dan juga Osamu pergi dan bergabung bersama dengan kelompok nona Stephanie. Mulai sekarang, pertempuran tiada akhir akan segera dimulai.


"Begitu ya ... Sihir ruang tanpa waktu. Jadi kalian berniat menghabisi kami semua disini untuk mengurangi total kekuatan pihak Rozalia. Mengesankan," ucap Zuan. "Aku harap kalian tak meremehkan kami ...."


Disisi seberang, Zuan dan vampir lain terlihat sedang berunding. Apapun keputusan mereka, kami sudah siap menghadapinya.


"Zuan ... Sepertinya tak ada cara untuk keluar selain dengan membunuh si pengguna sihir," ucap seorang vampir wanita berambut perak panjang. "Masalahnya adalah, kita tak tahu siapa pengguna sihir ini. Kira kekurangan informasi."


"Yg kau katakan benar, Elsie. Sepertinya satu-satunya cara adalah dengan membunuh mereka semua," ucap Zuan.


"Apa itu berarti kami harus membantai mereka, tuan Zuan?"


"Benar sekali, Nebula."


Aku mengenal dua dari mereka. Si Nebula Teano dan juga Bayorn Jackal. Dua vampir yg pergi setelah Quiela terbunuh ditangan kami.


"Habisi mereka tanpa sisa, rekan-rekan ku yg sangat kubanggakan," ucap Zuan.


"Dengan senang hati."

__ADS_1


__ADS_2