Absolute Twin Magician

Absolute Twin Magician
Duel ( Bagian 2 )


__ADS_3

Lia tengah bersiap dengan zirah Imperial Paladin miliknya, memegang sebuah tombak panjang yg menjadi senjata utamanya. Seperti yg kuduga dari pertarungan sebelumnya saat melawan bandit kota, nampaknya Lia memang seorang pengguna tombak yg terlatih. Itu bisa terlihat dari kuda-kuda saat diawal pertarungan. Dan dari tatapan matanya, jelas sekali kalau ia mengincar kemenangan. Entah apa yg ingin ia lakukan padaku jika ia menang, tapi nampaknya ia benar-benar serius ingin mengalahkan ku.


Kalau begitu aku juga harus serius disini.


"Sebelum memulai pertandingan ini, ada satu hal yg ingin kuminta padamu," ucap ku. "Tergantung jawabanmu, aku bisa saja menolak pertarungan ini."


"Baiklah, karena kau yg ditantang kau bebas memberiku syarat."


Benar-benar gadis yg jujur.


"Semua sihir dan skill yg akan ku gunakan selama pertandingan ini adalah rahasia. Jadi aku ingin kau merahasiakan kekuatan ku dan tak mengatakan nya pada siapapun, termasuk atasanmu di Imperial Paladin."


"K-kenapa? Apa kau punya masalah dengan atasanku?"


"Lebih tepatnya, aku belum bisa mempercayai mereka. Berbeda denganmu yg masih muda dan jujur, para orang tua itu punya pikiran licik yg tak bisa kita duga. Karena itu aku tak ingin menarik perhatian mereka."


"Begitu ya ... Kalau begitu aku janji akan merahasiakan nya."


"Kalau begitu kita sepakat," ucapku. Dengan ini, aku tak akan menahan diri. "Transmutation."


Segera aku mengubah ke wujud petarung. Kedua tanganku mulai dilapisi dengan kulit keras sekeras baja yg membentuk sarung tangan berlapis sihir. Sepasang sayap yg terbuat dari material yg sama juga terbentuk di bahu ku, membuatku mampu untuk melayang diudara. Serangan rambutku berubah menjadi hitam, dan beberapa corak berwarna hitam pekat muncul di wajahku. Warna mata kiri ku juga berubah menjadi hitam.


Transmutation wujud kedua, warrior. Wujud ini mengandalkan kecepatan dan kekuatan serang yg tinggi. Namun cukup lemah dalam pertahanan. Dan juga, jangkauan serangannya sangat dekat. Untuk menutupi kelemahan jangkauannya, aku bisa menggunakan Laser Beam.


"A-apa itu? Apa-apaan wujud itu?!"


Lia terlihat sedikit kaget dan juga ketakutan saat melihat wujud ini. Yah, wajar saja. Bagi orang biasa yg baru pertama kali melihatnya, wujud ini terlihat seperti monster. Yah, lagipula julukan ku memang The Monster.


"Ini adalah sihirku, Transmutation. Yg berubah dariku hanya tampilan luar dan kekuatan ku saja, jadi jangan takut begitu. Atau mungkin kau ingin menyerah?"


Mendengar ku mengatakan kata menyerah, Lia kembali memantapkan kuda-kudanya dan menatap ku dengan tajam.


"Tak akan! Mana mungkin aku menyerah sebelum bertarung!"


"Bagus, kalau begitu kita mulai saja pertandingan ini."


"Kalau begitu aku yg akan memulai!"


Lia maju pertama kali dan langsung menerobos maju. Karena ini bukan pertandingan resmi jadi kami tak perlu aba-aba. Tapi tetap saja, menyerang langsung tanpa pikir panjang seperti itu, apa dia benar-benar serius? Mungkin ia berpikir kemenangan ada pada siapa yg pertama kali menyerang. Itu memang benar, tapi jika kau tahu informasi tentang musuh. Jika kau menyerang tanpa memiliki informasi apapun, kau bisa kalah nantinya.


Lia melesat cepat dan menusukkan tombak panjangnya kedepan. Serangan itu bisa kuhindari dengan mudah. Tapi serangan berikutnya cukup sulit untuk dihindari. Karena jarak kami.sudah sangat dekat, ia memanfaatkan kakinya untuk mendaratkan sebuah tendangan keras kearah perutku. Untung saja aku menyadarinya dan bisa bereaksi dengan tepat. Tapi setelah itu, ia kembali memberikan serangan beruntun dengan tombaknya. Tusukan dan diikuti dengan tebasan yg sangat cepat, dalam kemampuan nampaknya ia tak bisa dianggap remeh.


"Mengesankan," ucapku.


Setelah beberapa saat menghindari serangannya, aku memulai serangan pertamaku. Aku memanfaatkan waktu disaat ia sedang melancarkan tusukan padaku dan memberinya serangan balik dengan cepat. Dengan sekuat tenaga aku melancarkan tinjuku ke arah badannya. Tapi siapa sangka ia menyadarinya dan dengan cepat berhenti menyerang lalu menarik tombaknya untuk kemudian digunakan sebagai perisai yg menghalangi seranganku. Refleks yg begitu cepat. Hanya saja, menahan seranganku dalam posisi seperti itu bisa beresiko.


"Ugh!"


Sesaat setelah seranganku ditahan dengan tombaknya, daya dorong yg ditimbulkan membuatnya terpental jauh kebelakang. Itu membuatnya kehilangan fokus dan menjadi mudah untuk diserang.


"Masih belum!!" Teriakku.


Aku kembali muncul diatasnya dan melancarkan pukulan kebawah. Tapi karena serangan yg sebelumnya, ia memilih untuk menghindar daripada menahannya. Alhasil, pukulanku mengenai tanah dan memberikan efek ledakan yg cukup besar disana. Lia yg menyadari itu segera bergerak mundur dan mulai menjaga jarak.


"Ada apa?" Tanyaku.


"Hei ... Apa kau ini benar-benar seorang penyihir??"


"Itu benar, aku memang penyihir."


Tak memberi celah, aku kembali melakukan serangan beruntun padanya. Sedangkan disisi lain, Lia dengan susah payah menahan dan menghindari tiap seranganku. Ia sama sekali tak punya kesempatan untuk menyerang balik.

__ADS_1


"Kalau kau memang penyihir, kenapa kau sama sekali tak menggunakan sihir untuk menyerang ku?!"


"Apa yg kau katakan? Aku sudah menggunakan sihir dari awal pertandingan ini," jawabku.


"Apa-apaan itu? Kau hanya menyerang ku dengan serangan fisik! Bagian mana yg disebut sihir disitu?!"


"Sihirku adalah tipe penguat, sudah wajar kan kalau aku menggunakan serangan fisik untuk melawanmu?"


"Y-yang benar saja?"


Aku terus menyerang tanpa memberinya waktu untuk istirahat. Aku tahu ini bukan hal yg bagus saat melawan wanita sepertinya, tapi maaf aku juga tak bisa membiarkanmu menggoresku meskipun hanya sedikit saja.


"Kalau sudah begini, aku harus menggunakan nya ...." Gumam Lia.


Aku tak tahu apa yg akan ia gunakan, tapi nampaknya aku harus mengantisipasi nya sebelum terlambat.


"Noble Spear!"


Saat ia meneriakkan itu, seketika aura yg sangat kuat keluar dari tombaknya. Dan disaat yg sama, Lia menebaskan tombak itu kearahku.


Seketika, tombak yg seharusnya tak mencapai ku itu memanjang dan menyebarkan energi yg mirip dengan sihir ke seluruh jangkauan serangannya. Aku sadar tentang itu dan dengan cepat menghindari nya. Tapi akibat serangan itu, bebatuan di belakang ku hancur lebur akibat serangan tadi.


Apa itu tadi? Sihir? Bukan, aku tak merasakan Manna di serangan itu. Tapi aku merasakan sesuatu yg mirip dengan sihir. Apa mungkin ini adalah Skill?


Lia kembali melancarkan serangan yg serupa, namun kali ini jauh lebih cepat. Ia menciptakan tebasan energi beruntun yg melesat kearahku yg saat ini sedang terbang diudara. Kecepatan serangannya cukup tinggi untuk seorang pengguna tombak. Tebakan ku benar, gadis ini tak boleh dianggap remeh.


Jika terus seperti ini, aku tak bisa mendekat dan menyerangnya.


"Laser Beam!"


Hanya untuk melihat reaksinya, aku menembakkannya Laser Beam kearahnya. Kecepatan laser Beam hampir setara dengan kecepatan serangannya, namun Lia tak mampu menangkis serangan tiba-tiba seperti itu.


Laser Beam memang sihir kelas bawah, tapi jika mengenai tubuh tetap saja akan menimbulkan luka yg dalam.


Sesaat sebelum Laser Beam ku mengenai punggung Lia, sebuah Barrier pelindung muncul dan menahan serangan Laser Beam dengan sempurna. Apa yg terjadi? Apa barusan Lia menggunakan sihir Barrier untuk menahan nya? Tidak, apa mungkin ini alat sihir yg lain?


Saat melihat kearah Barrier itu, aku pun menyadari asal aliran Manna yg menciptakan Barrier tadi. Itu berasal dari armor ringan milik Lia. Yg berarti armor itu merupakan salah satu alat sihir yg bisa menangkal sihir serangan.


Jadi ini alasan kenapa Lia menyuruh ku untuk menyerangnya dengan sihir. Dia tahu kalau sihir tak akan melukainya, karena itu ia percaya diri di awal. Tapi ia tak menyangka kalau aku menggunakan serangan fisik untuk melawannya.


"Begitu ya ...." Gumamku.


"Eh? Eh? Sejak kapan kau menyerang ku dengan sihir?!"


Lia terlihat panik saat mengetahui Barrier pelindung nya muncul. Nampaknya ia benar-benar tak sadar kalau barusan aku menyerangnya.


"Jadi ini alasanmu menyuruhku menggunakan sihir? Dasar gadis licik ...."


"B-bukan! Aku tak bermaksud seperti itu!"


Ditengah kebingungan nya, aku memanfaatkan waktu ini dan maju menyerang nya selagi sempat. Tapi siapa sangka kalau ia akan menyadarinya dengan cepat.


"Tak akan kubiarkan kau menyerang!" Teriak Lia.


"Clone."


Tepat sebelum serangan Lia mengenaiku, aku menghindari nya dan segera menggunakan Clone. Aku membuat 3 buah Clone dan kemudian bergerak menyebar untuk membingungkan nya.


"H-hey?! Bukankah ini curang?!"


Panik karena sihir Clone, Lia menebaskan tombaknya ke sekitar dan melenyapkan semua Clone yg menyerangnya dari tiap sisi. Hanya saja, ia melupakan ku yg saat ini berada tepat diatas kepalanya.

__ADS_1


"Aku cukup penasaran seberapa kuat zirah anti sihirmu itu, jadi aku akan sedikit mengujinya." Ucapku. "Fire Aura!"


"Eh?!"


Aura merah dan panas bagaikan api menyebar ke seluruh tubuh dan kemudian berkumpul ke tangan kananku. Ditambah dengan penguatan dan kecepatan dari sihir Transmutation, aku akan memberikan serangan penuh ke zirah Lia.


Dan disaat yg sama, Skill yg digunakan Lia tadi hilang. Dengan begitu ia tak akan mampu menahan serangan ku.


"T-tunggu dulu!"


"Inferno Smash!"


Satu pukulan yg dipenuhi dengan energi sihir yg sangat besar menghantam bagian punggung Lia. Seperti sebelumnya, Barrier itu muncul secara otomatis dan menahan seranganku. Tapi perlahan, itu tak sanggup menahannya dan kemudian pecah. Akibatnya, efek dari serangan ku mengenai tubuh Lia secara langsung dan membuatnya terpental jau ke depan. Itu sudah kutahan sebisaku, tapi tetap saja kekuatan nya sampai seperti itu.


Dan dengan serangan itu juga, Lia kalah telak dan pingsan.


"Yah ... Nampaknya aku sedikit berlebihan."


Karena duel ini berakhir dengan kemenangan ku, aku menonaktifkan Transmutation dan bergegas menghampiri Lia yg terbaring diatas tanah. Untungnya seranganku barusan tak memberi luka yg parah padanya. Hanya saja zirahnya sedikit rusak karena itu. Aku jadi merasa sedikit bersalah, sepertinya aku harus memberi sesuatu padanya sebagai permintaan maaf. Tapi tetap saja, apa yg harus kulakukan padanya saat ini?


"H-hei Lia ... Kau baik-baik saja kan?" Tanyaku sambil sedikit menepuk wajahnya yg lecet akibat duel tadi.


Seketika kesadarannya kembali.


"Ugh ... Apa yg terjadi?" Tanya Lia lirih. "D-duel?! bagaimana dengan duelnya?!"


"Tenang lah, kau sudah kalah jadi tak perlu melanjutkan nya," ucapku.


"T-tapi aku masih—


"Diam dan istirahat lah, kau tak akan bisa bertarung dengan tubuh penuh luka seperti itu," ucapku. Aku lantas memberinya ramuan penyembuh yg kusimpan di dalam Magic Space. "Minumlah, akan jadi masalah kalau kau kembali ke kota dengan kondisi babak belur seperti itu kan?"


"Ugh ... Terimakasih, dan maaf ...."


"Tak perlu berterimakasih, apalagi meminta maaf. Ini salah ku karena terlalu terbawa suasana dan berlebihan tadi. Anggap saja ini sebagai permintaan maaf ku."


"T-tidak, ini salah ku dari awal, lagipula aku yg meminta duel ini!"


Benar-benar keras kepala. Dan entah kenapa ini mengingatkan ku dengan seseorang yg kukenal.


"Ah, benar juga! Karena kau menang maka aku akan menunaikan janjiku yg sebelumnya!" Ucap Lia yg tenaganya sudah hampir pulih.


Ah, benar juga. Kami menentukan hal seperti itu untuk pemenang nya.


"Kalau begitu, Zayn. Sebagai pemenang, kau bisa melakukan apa saja padaku," ucap Lia percaya diri. Perkataan itu sungguh ambigu, jika ia mengatakan itu pada orang bejat aku tak tahu seperti apa nasibnya nanti.


Tapi, permintaan ya. Sebenarnya aku tak tahu ingin meminta apa. Lagipula aku sudah mendapatkan informasi yg cukup banyak hari ini. Sebaiknya apa yg akan kuminta?


"Kalau begitu, Lia. Untuk kedepannya, aku ingin kau membantuku selama aku tinggal di kerajaan ini."


"Membantu mu? Soal apa?"


"Apapun. Ini lebih tepatnya, aku ingin kau menjadi rekanku untuk sementara."


"Rekan ya ... Apa mungkin kau juga tertarik dengan kabar iblis di pantai Utara itu?"


"Yah ... Bisa dibilang begitu."


"Hmmm ... Kalau begitu baiklah, akan kulakukan," jawabnya. "Lagipula janji adalah janji. Sebagai kesatria Imperial Paladin, dan putri tertua keluarga Knight Oxvana, aku bersumpah akan selalu membantumu dan selalu berpihak padamu."


"Bagus."

__ADS_1


Dengan begini, rekan yg setia dan sedikit dapat diandalkan berhasil didapatkan.


__ADS_2