
Suara langkah kaki terdengar di dalam kegelapan malam. Menyusuri jalan-jalan kota Bluelagoon yg sangat-sangat sepi. Disana terlihat 5 orang pemuda-pemudi sedang berjalan dengan waspada, takut akan serangan mendadak dari musuh.
Jam 10 malam di alun-alun kota Bluelagoon, Ini malam kedua kami di kota ini setelah seminggu lebih berlatih di markas Magic Assosiation. Ini bukan rutinitas harian kami yg biasanya, berkeliaran di malam hari tanpa sepengetahuan orang lain.
Kami bergerak ke markas sementara ReVoid. Tempat itu berada cukup jauh dari kediaman Bathory, tempat kami bertemu sebelumnya. Melihat Elie dan Liana yg mengendap-endap keluar dari mansion besar membuat kami yakin kalau mereka pergi tanpa izin. Tak kusangka Liana yg tegas soal peraturan itu sampai mengendap-endap keluar seperti itu.
"Brrr...tak kusangka malam bisa jadi sedingin ini...." Keluh Elie.
"Kau tak sanggup?"
"T-tentu saja aku sanggup! Jangan remehkan aku Zayn. Kau tahu kan aku sudah berlatih dengan keras untuk ini?!"
"Ya ya terserah lah...." Balasku.
"Tapi yah, kalau sampai sedingin ini bisa gawat juga." Kayn juga berkomentar. "Bisa berbahaya kalau kondisi fisik kita menurun disaat menjalankan misi."
"Kayn benar, karena itu jaga diri kalian baik-baik." Sambung Liana.
"Kau tak masalah dengan ini Liana?" Tanyaku.
"Bukan masalah. Lagipula aku sama sekali tak merasa kedinginan. Kurasa ini efek dari perubahan iblis ku." Jawabnya.
"Heh, yg lemah akan Fiera tinggal."
"Jangan berkata seolah-olah kau pemimpin Fiera...."
Lima menit lamanya kami berjalan. Suhu udara di musim dingin ini bisa dibilang cukup ekstrim. Bahkan kami yg sudah dilindungi sihir pun masih merasa sedikit kedinginan.
"Hei Zayn...kau yakin ini jalannya kan?" Tegur Kayn. "Seingat ku kau itu payah soal menghafal jalan. Apa mungkin kita tersesat?"
"Eh?! Benarkah?!" Elie berteriak histeris.
"Kenapa kau histeris begitu Elie?! Kau tak percaya denganku?" Tegurku. "Jangan meremehkanku Kayn. Meskipun aku lemah dalam menghafal jalan, aku masih punya penciuman yg kuat."
"Zayn melacak Manna mereka ya?! Fiera takjub sekali!"
"Aku tak butuh pujianmu Fiera. Simpan saja semangatmu itu untuk nanti."
"Buh... membosankan."
"Yah, kalau seperti itu keadaannya sepertinya tak masalah. Aku percaya kalau semakin hari kau semakin kuat." Ucap Kayn "apa jangan-jangan kau berniat melampaui ku?"
"Kau mengatakan itu seakan-akan kau selalu di atasku. Jujur, itu membuatku kesal."
"Itu kenyataan kan?"
"Bicara soal kekuatan, apa kita benar-benar bisa melawan vampir Zayn?" Tanya Elie. "Vampir itu kuat lho. Mereka cepat dan juga abadi."
"Kalau kita sendiri mungkin kita tak akan mampu mengahadapi mereka. Karena itulah sekarang kita akan bekerjasama dengan ReVoid." Jelasku. "Saat ini kita memerlukan kekuatan mereka untuk mengalahkan vampir. Soalnya hanya mereka saat ini yg bisa membunuh vampir."
"Ah, begitu ya. Kalau begitu syukurlah." Ucap Elie lega
Beberapa menit kemudian, cahaya dari lampu camp ReVoid mulai terlihat. Beberapa orang juga terlihat sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Sepertinya pekerjaan mereka sudah dimulai. Rakyat sipil juga tak terlihat lagi. Sepertinya mereka dengan patuhnya menutup dan mengunci tiap sudut ruangan rumah mereka masing-masing. Itu cukup memudahkan tugas kami. Bisa gawat nantinya kalau ada rakyat sipil yg berkeliaran.
"Zayn! Fiera! Sebelah sini!!"
Suara teriakan itu mencuri perhatian ku. Disana Shiki dan Aoi tengah bersiap dengan perlengkapan mereka masing-masing. Kami pun segera menghampiri mereka.
"Wah, sepertinya kau cukup bersemangat ya Zayn...." Ucap Shiki.
"Tentu saja, lagipula ini tugas pertama kami."
"Dan orang-orang ini...siapa mereka?"
Aoi yg berdiri di sebelah Shiki menatap heran ke arah Kayn, Elie, dan Liana. Elie yg menyadari keberadaan Aoi Dengan segera menggenggam erat lenganku, seakan waspada padanya.
__ADS_1
"Kau...gadis yg sok akrab dengan Zayn disekolah tadi siang...." Tatap Elie waspada.
"Tenanglah Elie...." Ucapku berusaha menenangkannya. "Mereka rekan-rekan Magic Knight ku. Saat ini kalian juga bertanggung jawab atas mereka...."
"Eh?!! Serius ini?!" Teriak Shiki dan Aoi kaget.
"L-lima orang Magic Knight..."
"Berada di...bawah bimbingan kami?!"
"Benar-benar suatu kehormatan!!"
Seperti yg kuduga, reaksi mereka pasti akan seheboh ini. Yah, aku hanya bisa melipat tangan menyaksikannya sambil tersenyum geli.
"H-hei...tak perlu se histeris itu kan?" Tegur Kayn.
"Tidak! Ini sangat menakjubkan karena itu aku tak bisa menahan rasa takjubku!" Balas Shiki dengan teriakan penuh semangat. Aku khawatir kalau orang sekitar yg mendengarnya akan mencap kami sebagai orang aneh.
"Selain itu, aku merasa pernah melihat kalian disekolah...." Ujar Kayn.
"Ya! Kayn benar! Kalian orang yg sok akrab dengan Zayn disekolah tadi siang!!" Lanjut Elie.
"Sudah kubilang tenanglah Elie...."
"Mana mungkin aku bisa tenang melihat gadis lain yg tak kukenal bicara akrab denganmu!" Balas Elie lagi.
"Hei, memangnya kau ini pacarnya?" Tanya Aoi. Sepertinya ia mulai terpancing.
"Ya itu memang benar. Zayn itu pacarku jadi jangan macam-macam!" Lanjut Elie lagi.
Aoi sontak sedikit kaget dengan jawaban Elie. Beda halnya dengan Fiera.
"Hey Fiera tak terima itu!!"
Setelah menenangkan mereka selama hampir dua menit, akhirnya kami bisa melanjutkan perkenalan awal tadi dengan nyaman.
"Namaku Shiki Mikoto, dan ini adikku—"
"Aoi Mikoto, salam kenal...." Potong Aoi.
"Mereka ini pembimbing yg kuceritakan waktu itu Kayn. Mulai saat ini kita akan bergerak di bawah bimbingan mereka." Ucapku. Kayn mengangguk paham.
"Tak kusangka. Padahal kalian terlihat masih sangat muda tapi sudah menjadi master kami." Ucap Liana.
"Yah, sebenarnya kita seumuran." Balas Aoi.
"Ya aku tahu. Tapi tetap saja aku cukup terkejut." Balas Liana lagi. "Namaku Liliana Rosweiss. Magic Knight No 14 The Diabolic. Kalian bisa memanggilku Liana seperti Kayn dan yg lainnya memanggilku."
"Ya tentu saja."
"Namaku Elizabeth Bathory, Magic Knight No 15 The Stalwart. Panggil aku Elie. Dan ingat, Zayn itu pacarku. Jangan sekali-kali mendekatinya."
"Kumohon hentikan itu Elie. Kalau kau terus begini mana mungkin kau bisa punya teman." Ucapku.
"Kau yakin mengatakan itu padaku Zayn? Orang yg membantumu berteman ini?"
"Terserah...."
"Namaku Kayn Endarker, Magic Knight No 12 The Holy. Mohon bimbingannya."
"Fiera adalah Fiera. Magic Knight No 09 The Sniper!"
"Kau sudah memperkenalkan dirimu kemarin Fiera...." Gerutuku.
"Yah, melihat yg lain memperkenalkan diri itu cukup keren. Fiera jadi ingin ikutan."
__ADS_1
"Memangnya kau anak kecil?"
Setelah semuanya selesai memperkenalkan diri, Shiki kemudian menatapku sambil tersenyum.
"Ada apa Shiki?" Tanyaku.
"Yah, tak ada apa-apa. Aku hanya tak menyangka kau yg renkarnasi ini bisa punya kembaran."
"Renkarnasi?"
Sial, apa yg dia lakukan?! Bukankah waktu itu kami sudah sepakat untuk merahasiakan itu?!
Cepat-cepat aku merangkul pundak Shiki, berbisik padanya.
"Jangan katakan itu didepan orang lain sialan! Kalau mereka mendengarnya bisa-bisa aku dianggap orang aneh yg suka menghayal!" Bisikku.
Shiki pun tersentak, seakan baru menyadari sesuatu. Ia mengacungkan ibu jari dan tersenyum menyesal. Aku pun kembali mundur.
"Yah, maaf aku tadi hanya bergurau. Jangan dianggap serius." Ucap Shiki tersenyum lebar. Dari mukanya seakan mengatakan padaku kalau dia benar-benar melupakan perjanjian kami kemarin.
Ia lalu mendekati Kayn.
"Jadi biar kutebak, kau pasti kakak kembarnya Zayn kan?" Tanyanya.
"Kau menyadarinya ya."
"Tentu saja. auramu sebagai seorang kakak sangat kuat. Karena aku juga seorang kakak jadi aku langsung menyadarinya." Jelas Shiki.
"Hahaha, jadi begitu ya. Aku paham itu." Balas Kayn.
"Benarkan? Aura seorang kakak itu memang beda."
Aku sama sekali tak mengerti apa yg mereka bicarakan. Selain itu sejak kapan Kayn dan Shiki jadi akrab begitu?
Setelah percakapan pendek selama hampir 5 menit, akhirnya sudah tiba saat kami memulai tugas pertama.
"Sebelumnya aku akan menanyakan satu hal. Kalian semua bisa bertarung kan?" Tanya Shiki.
"Yah, setidaknya 4 dari kami bisa bertarung. Tapi kalau soal pertahanan diri, kami semua bisa." Jawab Kayn.
"Itu cukup. Kalau begitu ayo kita mulai tugas pertama kalian." Ucap Shiki. "Kita akan berpencar menjadi 2 kelompok. Kayn, Liana, Fiera. Kalian ikut denganku."
"Baiklah."
"Sisanya, Zayn dan Elie akan ikut dengan Aoi."
"Baik."
"Tapi sebelum itu, kalian harus diberi Void dulu." Sahut Aoi.
Ah, benar juga! Inti dari penyerang adalah Void. Tanpa Void kami tak akan bisa apa-apa.
Ini pertama kalinya aku menyaksikan Void dengan mata kepalaku sendiri. Shiki dan Aoi mengalirkan Void yg ada ditubuh mereka melalui sentuhan fisik. Sekejap aku melihat aura berwarna hitam muncul dari dalam tubuh mereka, mengalir ke tubuh kami. Kekuatan yg asing pun mulai terasa di sekujur tubuhku. Energi Void menyebar dalam tiap pembuluh darahku. Seperti sebuah sihir penguat, tubuh kami terasa begitu segar, bahkan dingin yg ekstrim ini terasa biasa saja bagi kami. Jadi ini alasan kenapa semua anggota ReVoid bisa betugas seperti biasa di tengah-tengah udara dingin yg ekstrim.
"Pengiriman Voidnya selesai. Biar ku peringatkan sekali lagi. Ketika menghadapi vampir, kerjasama tim dan reflek yg cepat sangat dibutuhkan. Itu karena vampir memiliki kecepatan, kelincahan, insting berburu, dan kekuatan yg diluar akal sehat manusia. Berduel satu lawan satu dengan mereka adalah ide terburuk. Jadi sebisa mungkin hindari mereka jika kalian sendirian. Jangan pernah lengah apalagi meremehkan mereka. Selalu perhatikan sekitar, karena vampir adalah makhluk malam sudah pasti mereka akan sangat diuntungkan disini. Tetap berhati-hati dan percaya dengan rekan kalian...." Jelas Aoi.
"Vampir memiliki regenerasi yg sangat cepat. Jika bagian tubuh mereka terpotong, mereka hanya perlu menyambungkannya kembali seperti semula." Jelas shiki. "Kalau kalian pernah menghadapinya kalian pasti tahu itu. Bukan begitu Zayn, Fiera?"
Aku dan Fiera mengangguk. Yg dikatakan Shiki memang benar. Regenerasi mereka bisa dibilang terlampau cepat. Ditambah lagi kecepatan dan kelincahan mereka, benar-benar sesuatu yg tak dapat dilakukan oleh manusia biasa.
"Untuk membunuh mereka, incar bagian jantung mereka." Ucap Shiki lagi.
"Kalau begitu kita mulai operasi ini." Ucap Aoi.
"Berpencar!"
__ADS_1