
Seorang vampir dengan rambut aneh, tiba-tiba saja muncul dan merebut Death Wand dari tangan si kakek tua. Dan tentunya, vampir yg mengaku bernama Ozax Mathel itu merupakan vampir kelas bangsawan. Itu bisa dilihat dari aura serta kecepatan geraknya yg tak terduga.
Vampir memang memiliki kecepatan gerak yg tak masuk akal. Namun vampir bangsawan jauh lebih cepat dari vampir biasa. Jika vampir biasa memiliki kecepatan gerak dua kali lebih cepat dari manusia, maka vampir bangsawan 3 kali lebih cepat dari manusia.
"Kembalikan tongkat itu!" Teriakku. Yah, meskipun aku tahu kalau ia pasti akan menolaknya.
"Death Wand adalah milik kami, vampir. Ditangan kalian, ini hanya benda tua biasa. Hanya vampir lah yg mampu membangunkan kekuatan sebenarnya tongkat ini," ucap Ozax.
Dan saat itu juga, ia berlari meninggalkan kami, menuju sebuah lorong yg sepertinya merupakan jalan keluarnya. Tapi tunggu dulu, bukankah pintu masuknya di segel? Lalu bagaimana vampir ini bisa masuk? Apa jangan-jangan karena kakek itu melepas segel Death Wand, lalu segel di pintu itu juga terlepas? Jika benar begitu, kami harus segera menangkapnya sebelum ia mencapai permukaan.
"Ability Boost!"
Tubuh Guts seketika dipenuhi Manna. Dan setengah dari semua Manna itu berkumpul di kakinya, membuat setiap langkah kaki yg ia lancarkan menjadi sebuah hentakan. Hanya dengan satu hentakan kaki, tubuh Guts melesat cepat bagaikan rudal yg diluncurkan.
Itu adalah sihir utama Guts, Ability Boost. Sebuah sihir yg mampu meningkatkan kemampuan disini penggunanya. Dan di kasus Guts, sihir ini dapat mengubah Manna di tubunya untuk meningkatkan semua status fisiknya. Badannya akan menjadi kekar, dan kekuatan nya bagaikan seekor monster. Dan karena ia memiliki jumlah Manna yg melimpah seperti Elie, kekuatan nya bisa bertambah lebih banyak lagi.
Tubuh Guts melesat mengejar Ozax. Tak kusangka, bahkan gerakannya jauh lebih cepat dari Ozax yg merupakan vampir bangsawan.
Dibantu dengan sihir teleport milik Zero, kami pun menyusul Guts mengejarnya. Sedangkan dibelakang kami Elie berusaha keras menyembuhkan kakek tua yg terluka itu, meskipun tangannya yg sudah putus itu tak mungkin dapat kembali seperti semula.
"Merepotkan sekali. Jujur saja aku sebenarnya ingin sekali membunuh kalian. Tapi aku sedang buru-buru!"
"Kau pikir kami peduli hal itu?!"
Guts kembali menghentakkan kakinya, membuat bongkahan batu naik dan menutupi jalan keluar.
"Cih, kalian tak memberiku pilihan ya ...." Gumamnya. "Blood Sacrified : Crimson."
Gumpalan darah muncul di tangannya, membentuk sebuah cakar merah darah yg melapisi tangan kanannya. Dengan cepat Ozax berbalik dan menebas Guts dengan cakar tersebut. Namun, Guts berhasil menahan itu dengan pedangnya.
Mengikuti alur pertarungan, aku maju dengan sebuah pedang panjang di tanganku. Dnegan kemampuan berpedang yg kupelajari dari Kallen, aku berhasil sedikit mendesaknya. Meskipun begitu, serangan Guts yg begitu besar itu membuat dinding batu yg tadi ia buat perlahan hancur. Yah, bertarung di lorong yg sempit bukan keahliannya.
"Gawat!"
"Zero! Kejar dia!"
Kembali dengan teleport, Zero mengejar vampir itu. Meskipun ia masih terlihat setengah-setengah dalam bekerja, tapi ia dapat sedikit menghambat pergerakan Ozax.
"He vampir, mau sampai kapan kau berlari?" Tanya Zero.
Ia tiba-tiba saja muncul di sebelah Ozax, melancarkan tebasan belati secara mendadak. Serangan itu berhasil melukai tangan kiri Ozax, namun ia masih tetap berlari.
Cahaya mulai terlihat, sepertinya jalan keluar sudah dekat. Tapi tunggu dulu, diluar masih siang. Bukankah itu berarti Ozax yg tak lain adalah vampir ini tak bisa kemana-mana? Dibawah sinar matahari, ia akan langsung hangus dan mati.
"Hey hey! Apa kau berniat untuk bunuh diri?!"
"Siapa yg bilang begitu?!"
__ADS_1
Ozax mendadak menyerang Zero yg mengejar dibelakang nya. Serangan dadakan itu sempat membuat Zero kaget dan sedikit mundur. Saat itulah, Ozax menggunakan sebuah Hoodie yg menutupi seluruh kepalanya.
Dengan cepat ia melesat keluar dari lorong, berjalan di bawah sinar matahari tanpa hambatan sedikit pun. Sepertinya, Hoodie dan juga jubah panjangnya itu melindungi tubuhnya dari sinar matahari. Kalau begini, dia bisa kabur dengan mudah!
"Zero, cepat hentikan dia!" Teriakku.
"Aku tahu itu! Jadi berhentilah menyuruh-nyuruh ku!!"
Zero menggunakan teleport dan muncul tepat di hadapannya. Dengan skill sihirnya, Air Walk, Zero dapat dengan leluasa bergerak diatas udara seakan memiliki pijakan tak terlihat. Ia menyerang Ozax dengan kecepatan yg tak terduga. Perlahan, ia membuat pakaian Ozax sobek. Selain itu, ia juga dapat menghindari serangan perlawanan Ozax dengan sangat sempurna.
"Menyingkirlah!!"
Ozax berteriak keras, dengan sebuah ledakan aura yg muncul dari tubuhnya. Gelombang ledakan itu membuat Zero terhempas dan sedikit pusing
Tiba-tiba saja, sebuah panah api muncul dari atas bangunan. Panah api itu mengenai tubuh Ozax, dan menembus badannya. Api dari serangan itu juga membakar habis pakaian Ozax. Mati karena serangan itu atau sinar matahari, kami tak bisa menebaknya. Yg pasti, Ozax Mathel telah terbunuh didepan mata kami. Meninggalkan Death Wand yg tergeletak diatas tanah.
"Kerja bagus, Magic Knight. Kalian sudah berjuang dengan sangat bagus."
Suara seorang wanita terdengar dari atas bangunan. Saat kami memandang keatas, seorang wanita berambut hijau dengan seragam ReVoid berdiri menatap kami. Sebuah busur panah dari api yg membara ia genggam tanpa kepanasan sedikit pun. Sepertinya, itu bukanlah senjata fisik, melainkan sebuah sihir.
"Kau ... Siapa?"
Wanita itu turun dari atas bangunan, menghampiri kami yg dipenuhi segudang pertanyaan. Jika dilihat-lihat, seragamnya tak seperti anggota ReVoid biasa.
"Jadi ... Ini artefak yg dibicarakan itu?" Tanyanya sambil menatap Death Wand yg telah Guts pungut dari tanah.
"Kalau begitu, akan kuhancurkan benda terkutuk itu sekarang juga," ucapnya.
"Percuma saja, sebaiknya kau hentikan itu," ucap Zero. "Kalau benda ini bisa dihancurkan semudah itu, untuk apa ia disegel selama ratusan tahun?"
Perkataan Zero benar. Menyegel benda ini tak akan menghentikan para vampir. Akan lebih baik jika ini dihancurkan. Tapi para pahlawan tak menghancurkannya. Itu berarti ada alasan kenapa mereka melakukannya. Dan alasan yg logis adalah, mereka tak mampu menghancurkannya.
Mendengar kata-kata Zero, wanita itu mengurungkan niatnya untuk menghancurkan Death Wand dan menuruti kata-kata Zero.
"Dan juga, kau siapa? Baru muncul sudah mau berbuat seenaknya saja," tanya Zero.
Wanita itu menatap Zero tanpa ekspresi. Ia memiliki wajah yg lumayan cantik, tapi berkesan dingin. Dan juga sangat datar.
"Namaku Hallen Von Nachetanya. Reign of Fire," jawabnya. "Dan juga wakil ketua ReVoid."
Hallen Von Nachetanya, Reign penguasa api. Itu berarti ia adalah pengguna sihir api. Eh, tunggu dulu. Kalau aku tak salah Zoe pernah mengatakan namanya ketika aku bertanya tentang orang yg bisa menggunakan sihir di ReVoid. Jadi ia orangnya?
"Ya aku tak peduli kau wakil ketua atau apalah. Tapi bisakah kau tak tergesa-gesa mengambil keputusan seperti tadi?" Tanya Zero. "kalau kau tiba-tiba mengerahkan sihir api mu itu ke Death Wand, bisa saja sesuatu yg tak diharapkan terjadi dan kami dalam masalah karena mu. apa kau tak memikirkan nya? Untung saja aku menghentikan mu sebelum terjadi sesuatu yg buruk."
"Itu bukan urusanku, dan kau juga tak perlu memikirkan nya karena itu tak terjadi."
__ADS_1
"H-hah?! Hey apa kau serius?! Apa kau benar-benar seorang wakil ketua dengan sifat cuekmu itu?!"
"Itu bukan urusanmu."
"Hah?!"
Baru saja muncul dan wanita ini memberi kami kesan yg buruk. kuharap pekerjaan nya tak seburuk kesan yg ia miliki. Tapi meskipun begitu, aku tak habis pikir seorang wakil ketua bisa seperti ini. Apa dia benar-benar bisa memimpin sebuah unit dengan sifatnya itu? Dan juga, ia tak berpikir panjang dan terlihat seperti selalu melakukan semua sesuka hatinya. Tak jauh dari sifat Zero yg seenaknya, tapi dia ini seorang wakil ketua. Setengah nasib ReVoid ada di tangannya, dan ia bersikap sesuka hati seperti ini?
"Yah, meskipun begitu kami cukup berterimakasih karena bantuan mu datang tepat waktu," ucap Guts.
"Aku tak membantu kalian. Aku hanya menjalankan tugas yg kuterima," jawabnya datar.
"Kau mengesalkan juga ya ...." Gerutu Zero.
Setelah selesai mengurus yg diluar, kami kembali masuk kedalam ruang bawah tanah untuk menjemput Elie dan kakek tua itu. Namun saat kami sampai, kami terlambat. Kakek tua itu sudah kehilangan sangat gmbanyak darah, dan ia tak mampu menahan rasa sakit di tangannya karena umurnya yg sudah sangat tua. Ditengah-tengah usaha penyelamatan yg diberikan Elie, ia tewas kesakitan. Disana, aku dapat melihat wajah putus asa Elie, melihat seseorang mati karena ketidakmampuan nya.
"Maaf ... Maaf ... Aku tak bisa menyelamatkan nya ...." Ucap Elie. Ia terlihat sangat lesu dan sedih.
"Tak apa-apa Elie. Kau sudah berjuang," ucapku mengusap kepala Elie yg masih terduduk di sisi kakek tua itu.
"Tapi tetap saja ... Aku tak bisa menyelamatkannya. Jika saja aku lebih hebat dalam sihir pengobatan, nyawa orang ini pasti bisa kuselamatkan ...." Ucapnya.
"Kalau melanjutkan ini tak akan ada habisnya," potong Zero. Serius, gadis ini tak bisa melihat suasana. "Camkan ini Elie, tak semua orang bisa melakukan apa yg ingin ia lakukan. Sebagian besar orang malah tak bisa melakukan apa yg ingin ia lakukan. Kau ingin menyelamatkan nya, tapi kau tak mampu melakukannya. Itu hal yg wajar, karena kau adalah manusia. Ingat, siapapun itu, manusia pasti akan mati. Cepat atau lambat ... Karena itu jangan roboh hanya karena satu kesalahan ini."
Tak seperti biasanya, ternyata Zero bisa berkata bijak seperti itu.
Selain itu, ini pertama kalinya Zero memanggil Elie dengan namanya.
"Perkataan si pirang ini benar. Jangan menyerah hanya karena kau tak mampu ...." Dan entah sejak kapan, Hallen ikutan menenangkan Elie.
Mendengarnya, Elie jadi sedikit tenang.
"Tak kusangka, ternyata kau cukup bijak dari kelihatannya ya," ucap Hallen ke Zero.
"Kau mau cari ribut hah?!"
Elie yg telah sedikit tenang itu akhirnya berdiri dengan tegap. Ia berbalik dan menghadap Zero dan juga Hallen.
"Maaf, terimakasih sudah menenangkan ku Zero. Dan juga ...." Elie menatap Hallen erat-erat. "Kau siapa?"
Sudah kuduga ia akan menanyakan hal itu.
Hallen kembali memperkenalkan dirinya ke Elie. Dan tentunya, Elie sedikit kaget ketika tahu kalau Hallen adalah wakil ketua ReVoid.
"Sebaiknya kalian segera kembali dan membawa Death Wand ke markas. Nanti kita akan mengadakan rapat dadakan. Bilang itu juga ke teman-teman kalian." Sekarang, ia mulai bersikap sebagaimana wakil ketua yg seharusnya.
"Teman-teman?"
__ADS_1
"Tentu saja rekan-rekan kalian, para Magic Knight."