Absolute Twin Magician

Absolute Twin Magician
Hallen Von Nachetanya


__ADS_3

Siang ini, seperti apa yg dikatakan Hallen Von Nachetanya. Semua Reign dari ReVoid beserta para Magic Knight berkumpul dalam rapat dadakan.


Dipimpin oleh Hallen yg baru saja tiba dari markas pusat, ia membawa berita terbaru yg berhasil ditemukan pihak pusat.


"Para vampir mengincar tongkat sihir yg merupakan artifak terkutuk, Death Wand. Kita semua sudah tahu tentang itu. Dan sekarang Death Wand sudah ada ditangan kita. Tapi, ada alasan lain mengapa mereka datang dalam jumlah serta kekuatan yg besar. Tujuan mereka selain merebut Death Wand, ialah memancing ReVoid untuk berkumpul disini dan memusnahkan kita ...." Jelas Hallen.


Jujur saja, aku sudah menduga ini. Bagaimana pun, ReVoid adalah musuh sejati vampir. Sudah pasti vampir-vampir itu berniat memusnahkan ReVoid yg merupakan musuh terbesar mereka terlebih dahulu sebelum mulai melakukan invasi besar-besaran di benua ini.


"Dan untuk menghancurkan sebuah organisasi, jalan tercepatnya adalah dengan membunuh pemimpin nya. Ini adalah aturan umum dalam perang. Kematian pemimpin akan berakibat fatal pada bawahannya. Karena itu, kemungkinan besar para vampir itu akan sedikit memfokuskan penyerangan ke ketua ReVoid, yaitu Tuan Vestine."


"Meskipun begitu, para Reign yg merupakan pemegang Void juga akan menjadi incaran utama para vampir setelah ketua. Sebagai pemegang Void, para Reign adalah satu-satunya senjata yg dapat membunuh vampir. Karena itu, mereka juga pasti akan mencoba memusnahkan senjata itu dengan membunuh pemegangnya."


Intinya, rapat kali ini membahas tentang perubahan alur serangan para vampir. Setelah Death Wand diambil, merebutnya kembali dari kami merupakan taruhan yg berbahaya bagi vampir. Meskipun bagi Rozalia sekalipun. Karena itu, mereka mencoba untuk melemahkan lalu meruntuhkan organisasi yg menahan Death Wand, yaitu ReVoid. Dan juga karena dendam mereka, rencana pemusnahan ReVoid sudah pasti akan dijalankan.


Dan kali ini, sepertinya kami juga harus mengubah alur juga.


"Magic Knight akan bertugas untuk mengawal Vestine yg merupakan prioritas utama," ucap nona Stephanie.


Yg benar saja? Kami harus mengawal mereka? Bukankah dia jauh lebih kuat dari kami mengingat posisinya sebagai ketua?


"Sebagai wakil ketua, aku juga akan ikut bersama Tuan Vestine," ucap Hallen.


"Tapi tunggu dulu, bagaimana dengan penyerangnya?" Tanyaku menyela. "Keselamatan pak Vestine memang penting disini, tapi bagaimana dengan perang itu? Bukankah akan lebih baik kalau kita maju dan bertarung bersama?"


"Zayn benar, lagipula kemampuan pak Vestine tak bisa dianggap remeh. Meskipun ia menjadi incaran, dengan kemampuan pak Vestine pasti para vampir itu bisa dipukul mundur." Sepertiku, kak Marry juga mengatakan pendapat yg sama.


"Lagipula pemimpin ada bukan untuk dilindungi, tapi melindungi. Kau tak bisa memaksakan pendapat mu itu Stephanie."


Dan sepertinya, pak Vestine juga tak menerima rencana ini. Merasa aman disaat bawahannya mempertaruhkan nyawa, itu sama sekali tak lucu. Pemimpin waras macam apa yg akan melakukan hal konyol seperti itu?


"Aku juga akan bertarung bersama kalian. Kita akan tetap melawan mereka dengan kekuatan penuh," ucap pak Vestine.


"Tapi Vestine, bukankah itu terlalu beresiko?" Tanya nona Stephanie.


"Aku tahu itu, tapi aku tak bisa membiarkannya. Sebagai pemimpin, sudah tugasku untuk maju ke garis depan. Aku yakin Oliver juga akan melakukan hal sama jika ada di posisiku," jawabnya.


"Meskipun begitu, setidaknya 2 orang Magic Knight akan menemani mu. Aku tak mau mendengar keluhan lagi."


"Kalau kau sampai seperti itu mengatakan nya, aku tak bisa menolak."


"Lalu, siapa orang itu?" Tanya Gale.


"Tentunya aku sebagai wakil dari Magic Assosiation. Dan juga Guts sebagai tameng terkuat kita," jawab nona Stephanie. "Vestine tak butuh tambahan kemampuan bertarung, itu karena ia bisa mengatasi nya sendiri. Namun ia lemah dalam pertahanan, dan juga sedikit ceroboh sehingga membuatnya sering terluka. Ah, itu mengingatkan ku ketika kami masih muda. Kami sering berpergian bersama dengan Oliver dan kemampuan nya dalam bertahan sangat payah. Jadi pilihan yg tepat adalah dengan aku dan Guts saja."


"Aku menghargai perhatianmu itu Stephanie, tapi tidak bisakah kau sedikit menahan diri ketika membicarakan masa lalu orang lain?"


"Ups, apa kau terganggu dengan hal seperti itu?"


"Sangat."


Entah kenapa, rapat ini jadi berkesan seperti acara reuni sekolah.


"Lalu bagaimana dengan para vampir yg lain?" Tanya Kayn.


"Aku harap kau punya rencana yg bagus untuk menghadapi mereka, penyihir api ReVoid," ucap kak Chezie juga.

__ADS_1


"Tentu saja, kita akan menyerang mereka dengan semua kekuatan yg kita miliki," jawabnya. Ya, tentu saja aku kaget mendengarnya. "Kita akan menyerang langsung ketika mereka memasuki kota."


"Hey tunggu, apa-apaan rencana gila itu?!"


"Seperti yg kukatakan, para vampir akan mengerahkan semua pasukannya untuk memusnahkan kita. Jika kita mengahadapi nya dengan setengah-setengah, kita akan habis dibantai. Memanfaatkan wilayah tak berguna, karena vampir memiliki kemampuan beradaptasi yg mengerikan. Ditambah lagi waktunya adalah malam hari, waktu para vampir berkuasa."


"Meskipun begitu, apa kau yakin dengan ini?!" Tanya ku.


"Menurutku, ini adalah jalan terbaik."


Aku bungkam. Hey hey yg benar saja! Apa wanita ini hanya tau cara menyerang? Melawan Vampir tanpa rencana yg teratur adalah ide buruk. Bukankah seharusnya dia tahu hal itu?!


"Bagaimana dengan pertahanan?" Tanya Elie. Tak kusangka ia mampu mengikuti alur percakapan ini.


"Kita akan fokus menyerang. Untuk pertahanan, kita dapat memanfaatkan keadaan kota yg kosong. Itu bukan masalah selama musuh berhasil kita kalahkan."


Hey serius?! Dia pikir ada berapa banyak vampir yg akan datang?! Ada 300 lebih, dengan sisa 17 vampir bangsawan! Ditambah lagi ada Rozalia di sana! Apa dia benar-benar berniat menyerang tanpa bertahan di kondisi seperti ini?!


"T-tunggu dul—


"Maaf mengganggu, tuan-tuan dan nona-nona sekalian." Suara seorang pria tiba-tiba muncul dari balik tenda. Dan seorang pria berambut putih masuk ke dalam, menghampiri pak Vestine dan juga Hallen. Semua perhatian lantas tertuju padanya.


"K-kau!" Hallen berniat menegurnya, tapi pria itu dengan cepat memotong kata-kata Hallen.


"Aku mendengar apa yg anda rencanakan nona muda. dan jujur saja, itu adalah rencana yg amat sangat buruk untuk situasi kita kali ini ...."


"Sebelum mengatakan itu, perkenalkan dirimu dulu," ucap pak Vestine.


"Ah, maafkan ketidaksopanan saya. Nama saya Louise Lawrence, anda bisa memanggil saya Osamu. saya adalah perancang strategi, serta mata-mata yg dikirim Magic Assosiation untuk mengurus kota ini."



"Lama tak jumpa Louise. Kau masih percaya diri seperti biasa ya?" Tegur nona Stephanie.


"Dan kau juga masih lembut seperti biasa ya Senie ...." balas Osamu. "selain itu, bisakah kau memanggilku Osamu? ingat, Osamu."


"tidak, aku sudah terbiasa dengan nama Louise. sama sepertimu yg terbiasa memanggilku Senie."


"Kemana saja kau selama ini Louise? Kenapa kau baru muncul sekarang dan tak membantu Kayn dan Zayn?" Tanya kak Chezie.


"Ah, jangan dingin begitu Chezie. Aku membantu mereka kok. Hanya saja, aku sedikit sibuk dengan pekerjaan ku karena itu aku tak punya banyak waktu luang."


"Pekerjaan? Maksud mu sebagai kepala sekolah itu?"


"Tidak tidak. Selama ini, aku diam-diam mengamati dan menganalisa tiap pergerakan dan alur peperangan yg dibuat para vampir. Lagipula itulah tugas ku sebagai mata-mata."


Pak Vestine menyimak pembicaraan hangat mereka dengan tatapan heran. Sepertinya, ia benar-benar tak mengenal siapa Louise. Itu wajar, bahkan aku yg merupakan anggota Magic Assosiation baru-baru ini mengenalnya. Bahkan Elie dan Liana saja kaget ketika tahu kalau selama ini kepala sekolah mereka adalah mata-mata Magic Assosiation.


"Stephanie, bisa kau jelaskan siapa dia?" Tanya pak Vestine.


"Seperti yg ia katakan tadi. Dia adalah perancang strategi Magic Assosiation. Louise Lawrence."


Perancang strategi dan juga mata-mata, itu adalah posisi selain Magic Knight di organisasi Magic Assosiation. Memang sekilas orang luar akan menganggap organisasi kami adalah kelompok kecil beranggotakan belasan orang dengan kemampuan sihir yg hebat. Tapi sebenarnya organisasi kami lebih luas lagi. Sebagai organisasi yg bergerak secara diam-diam dan tak dikenal masyarakat, sudah pasti kami membutuhkan perantara yg menghubungkan antara kami dengan masyarakat suatu kerajaan. Itu adalah tugas seorang mata-mata Magic Assosiation. Mereka adalah orang yg menyamar sebagai orang biasa, dan diam-diam mengumpulkan informasi, serta menerima permintaan klien yg bersangkutan dengan iblis.


Meskipun mereka bagian dari kami, tak semua Magic Knight mengenal mereka. Sejauh ini, aku bahkan hanya mengetahui satu orang mata-mata. Dan itu baru-baru ini kuketahui. Paman Oliver bilang, ada sekitar 10 orang lebih yg bertugas sebagai mata-mata, menyebar ke penjuru kota di setiap kerajaan. Dan itulah, Osamu atau si Louise ini salah satu dari mereka.

__ADS_1


"Louise Lawrence ya ... Lawrence? Sepertinya nama itu tak asing ...." Gumam pak Vestine.


"Hm? Kenapa? Apa sebelumnya kita pernah bertemu? Aku tak yakin kalau kita pernah bertemu, dan namaku juga bukan nama pasaran yg terkenal," ucap Osamu.


"Ah, benar juga. Namamu mirip dengan kenalan kami. Theresa Lawrence," ketus Kate, seakan baru saja mengingat sesuatu yg penting.


"Ah, benar si Theresa. Nama keluarga kalian mirip ...."


Osamu diam mematung. Sepertinya, ia tahu nama orang yg dipanggil Theresa itu.


"T-tunggu ... Kalian bilang Theresa? Apa dia wanita berumur 30 tahun dengan rambut putih? Dia dilahirkan di kerajaan Siberia, tepatnya di kota Perth?!" Tanya Osamu. Tak seperti biasa, ia terlihat antusias.


"Kau mengetahuinya sampai sedetail itu ya ... Apa dia kerabat mu?" Tanya pak Vestine.


"Dia adik perempuan ku!!"


Semua yg hadir kaget, bukan karena berita tentang adik Osamu. Tapi karena dia tiba-tiba berteriak "dia adik perempuan ku!!" Seperti itu. Memangnya kenapa dia harus berteriak se histeris hanya karena kabar itu.


"Wah, aku tak pernah tau kalau kau punya adik, Louise," ucap nona Stephanie.


"Yah, itu karena aku tak pernah menceritakannya. Lagipula aku juga sudah lama tak bertemu dengannya," jawab Osamu. "Kira-kira terakhir kali kami bertemu itu 15 tahun yg lalu, saat aku pergi meninggalkan nya dirumah. Saat itu dia masih berumur 10 tahun dan masih sangat imut. Kuharap dia tak berubah."


"Imut?" Tanya Kate. "Yg kutahu dia itu seorang ilmuan penggila sains. Aku tak tahu dari sisi mana dia bisa dibilang imut."


"Eh, ilmuan?" Tanya Osamu.


"Saat ini, dia sedang bekerja sebagai ketua laboratorium kimia ReVoid. Kira-kira ini sudah tahun ke-5 dia bergabung dengan kami. Dan tahun ke-2 sejak dia menjabat sebagai ketua," jelas Kallen. "Seperti yg Kate bilang, dia seorang penggila sains. Yg ada di otaknya hanya sains, tak ada yg lain. Karena itu ia hampir tak pernah memperhatikan soal penampilan ataupun kehidupan sosial. Tapi yah, kemampuannya mengenai ilmu pengetahuan sangat luar biasa."


"Bisa dibilang, dia ilmuan terbaik yg pernah dimiliki ReVoid," ucap pak Vestine juga.


Mendengar semua itu, Osamu sedikit tersenyum.


"Ilmuan ya ... Tak kusangka dia benar-benar menjadi orang hebat seperti itu. Sepertinya usahaku mengajarinya selama 4 tahun itu tak sia-sia," ucapnya.


"Mengajari?"


"Yah, semua pengetahuan yg dia punya itu berasal dari ku. Dia belajar dariku sejak umurnya menginjak 6 tahun. Dia benar-benar jenius dari lahir."


Yg benar saja?! Kau mengajarkan ilmu seperti itu pada anak usia enam tahun?!


"Yah, ini kabar baik buatku. Aku jadi ingin sekali menemuinya lagi. Kira-kira apa dia masih mengingatku tidak ya ...." Gumam Osamu. Ia lantas membuyarkan pikiran itu, dan kembali fokus. Ini bukan saat untuk bernostalgia. Ini adalah rapat penting yg menyangkut hidup kita.


"Kesampingkan soal yg tadi. Jadi, bagaimana selanjutnya?"


"Ah, pak Vestine dan nona Hallen kan?" Tanya Osamu. "Kali ini, biarkan aku sebagai perancang strategi Magic Assosiation yg mengemukakan pendapatku. Selama hampir sebulan ini, aku secara sembunyi-sembunyi mengamati gerak-gerik para vampir, sampai pada tahap aku memahami alur yg mereka buat. Terus terang, rencana menyerang tanpa bertahan yg dikemukakan nona Hallen hanya akan membuat kita mengikuti alur mereka."


"Lalu, apa kau mempunyai rencana yg lebih bagus dari itu?" Tanya Hallen.


"Ya, dengan rencana ini aku yakin kita bisa terlepas dari alur yg dibuat para vampir. Kita akan bertarung dengan alur cerita kita sendiri, dan secara perlahan menyeret mereka ke dalam perangkap kita. Menghancurkan mereka secara perlahan. Memang sedikit beresiko, tapi hasil akhirnya jauh lebih memuaskan."


"Kalau kau mang berpikir seperti itu, coba katakan seperti apa rencana itu."


"Ya, saya memang berniat mengatakannya ...."


Dan pada akhirnya, kami setuju dan bergerak berdasarkan rencana yg akan Osamu beritahu pada kami.

__ADS_1


__ADS_2