Absolute Twin Magician

Absolute Twin Magician
Chase Argonaut


__ADS_3



Didalam situasi sulit ini, kami dihadapkan pada dua pilihan sederhana.


Pilihan pertama, menyerahkan diriku dengan sukarela, dan dengan itu Aoi bisa pergi kabur.


Sedangkan pilihan kedua, merupakan pilihan yg hanya dipilih oleh orang yg sudah putus asa, atau orang yg sangat yakin dengan kemampuan yg dimilikinya. Bertarung sampai salah satu dari kami semua kalah.


Jujur saja, aku tak percaya dengan kata-kata kedua vampir ini, walaupun si vampir pria bernama Chase itu terlihat dapat memegang janji. Tapi tetap saja, aku berpikir mereka pasti akan melakukan sesuatu yg licik.


Jika aku memilih pilihan pertama dan membiarkan Aoi pergi, tak ada jaminan kalau salah satu dari mereka berdua ingkar janji dan menyerang Aoi yg lengah.


Dan kalau aku memilih pilihan kedua, aku tak yakin kami bisa menang.


"Nah, mana yg kau pilih?"


Sebuah ide terlintas di otakku. Ini merupakan ide yg sangat beresiko. Tapi aku yakin ini mampu mengalahkan mereka. Sepertinya, aku terpaksa mempercayai dua vampir itu.


"... baiklah, aku akan menyerahkan diri." Ucapku. Dan tentu saja itu membuat aoi kaget. "Aku menyerah, karena itu biarkan Aoi pergi."


"Pilihan yang bijak."


"A-apa yg kau katakan Zayn?!!"


Seperti dugaanku, Aoi pasti tak menerima pilihan ini.


"Dengarkan aku Aoi, aku akan menahan mereka berdua. Kau pergilah dan panggil Kayn dan Shiki kemari." Bisikku. "Aku akan menahan mereka sebisaku."


"Aku tak terima itu! Kau pikir aku akan membiarkanmu mengorbankan diri?!"


"Aoi, aku tak punya pilihan lain. Kalau kita kabur sekarang mereka pasti akan dengan mudah mengejar kita. Kalau kita meminta bantuan secara terang-terangan mereka pastinya tak akan tinggal diam...." Bisikku lagi. "Kumohon, percayalah padaku, Aoi. Kalau pun aku gagal, setidaknya aku bisa menyelamatkan satu orang."

__ADS_1


"tidak, biarkan aku bertarung bersamamu. kalau seperti ini kau bisa mati Zayn!"


"Aoi... kumohon." ucapku, menggenggam tangan Aoi erat. ia terdiam tak mampu berkata-kata.


"t-tapi...."


"percayalah padaku...aku pasti akan baik-baik saja." ucapku lagi berusaha meyakinkannya.


Aoi terdiam, ia terlihat sangat bimbang.


setelah berpikir beberapa detik, akhirnya ia angkat suara mengemukakan jawabannya.


"Baiklah, aku akan mempercayai mu." Ucap Aoi. "Karena itu...jangan mati Zayn."


Aoi berbalik dan berlari sekencang mungkin meninggalkan kami. Dan seperti dugaanku, para vampir ini tak mungkin memegang janji mereka.


Vience melesat mengejar Aoi, bergerak dengan sangat cepat tanpa sedikit suara pun.


Dan aku yg sudah memprediksi ini segera muncul dibelakang Aoi, menahan serangan Vience dengan kedua tanganku. Aku menggenggam erat lengan Vience, membiarkan Aoi pergi dengan aman.


"Huh, mau bagaimana lagi."


Tanpa kusadari Vience menghempaskan ku kearah Chase dengan sekuat tenaga. Dengan kekuatan itu, aku melesat tak henti dan kemudian menabrak dinding bangunan sekolah. Vience berhenti mengejar Aoi, sampai pada akhirnya Aoi lenyap tak terlihat oleh mataku.


"Nah, mari kita mulai makan malamnya."


"Heh, maaf saja. Kalau kalian memang selapar itu kalian masih harus lebih berusaha keras." Ucapku.


Aku melompat keatas, memunculkan sepasang sayap dan tangan monster. Aku juga segera menggunakan sihir penguat.


"Sepertinya santapan yg istimewa itu memang memerlukan sedikit perjuangan." Ucap Chase.


"Fufu, kau benar Chase...."

__ADS_1


Sekali lagi Vience muncul dihadapanku bersiap dengan kedua tangannya. Buru-buru aku bergerak menjauh. Disisi lain, Chase muncul mengejar ku. Kecepatannya tak secepat Vience, tapi kekuatan fisiknya diatas Vience. Dengan satu tendangan telak di lenganku, tubuhku seketika terhempas dengan mudahnya menghantam dinding. Rasanya begitu menyakitkan, kekuatan serta kecepatan mereka benar-benar bukan main.


Dilawan oleh dua vampir bangsawan, nyawaku benar-benar dalam bahaya. Aku tak yakin dapat bertahan berapa lama dalam situasi ini, tapi setidaknya aku bisa mengukur waktu sebelum Shiki dan Kayn tiba. Aku yakin dengan kemampuan mereka berdua, kedua vampir ini pasti bisa kami kalahkan. Tapi masalahnya berapa lama lagi aku bisa bertahan.


Vience bergerak menyerang sambil berputar mengelilingi ku. Sedangkan Chase tak membiarkanku menyerang sedikitpun. Kombinasi serangan mereka begitu sempurna. Serangan dari Vience yg begitu cepat, ditambah pertahanan Chase yg juga kokoh. Mereka benar-benar duo yg berbahaya.


Aku sekuat tenaga mencoba menyerang mereka. Dengan tangan kananku dalam wujud monster, sebuah pukulan keras kuarahkan ke Chase. Dan seperti sebelumnya, Chase dengan mudah menahannya. Ia menahan seranganku dengan tangan kosong yg dilapisi aura berwarna merah darah. Walaupun begitu, kekuatanku mampu membuatnya terhempas kebelakang.


Disaat yg sama, Vience bergerak terbang mengincar bagian belakang ku. Merespon gerakannya, sayap kerasku muncul mencuat kearahnya. Tentu saja hal itu membuat Vience sontak menghindar. Dan selama dia masih berada diudara, aku melesat hendak menyerangnya.


Namun, aku membuat sebuah kesalahan yg cukup fatal.


Chase yg tadinya kupikir terluka akibat serangan ku tadi kembali bergerak. Karena instingku merasakan bahaya darinya, aku pun mengurungkan niat mengejar Vience dan berbalik menatap Chase. Dan tanpa kusadari, Vience sudah muncul di belakangku menebaskan tangannya ke punggung ku. Itu membuatku berteriak kesakitan, dan panik. Dan disaat yg sama juga, Chase melesat mendaratkan pukulan keras ke perutku. Seketika tubuhku melesat kebelakang.


Vience dengan lihai menangkap kakiku diudara, lalu sekuat tenaga ia menghempaskan tubuhku ke tanah. Aku kehilangan kesadaran sejenak akibat hentakan keras itu. Saat sadar, Chase telah menahan tubuhku ketanah. Dan Vience membungkuk kearah wajahku. Tatapan mereka penuh dengan rasa haus darah.


"Menyerahlah...kau sudah tak bisa melakukan apa-apa." Ucap Chase.


Ugh, tubuhku sakit. Mulutku tak mampu berkata apa-apa lagi. Kesadaran ku pun memudar.


"Selamat makan!!!"


Vience menancapkan kedua taringnya ke leherku. Rasa perih yg menyiksa seketika memenuhi pembuluh darahku. Tubuhku langsung menjadi begitu lemah. Tak ada tenaga yg tersisa. Seakan aku dibuat lumpuh oleh gigitannya.


Di tengah keputusasaan ku, sebuah peluru melesat menghantam lengan Vience. Setelahnya, beberapa peluru kembali muncul menembaki mereka berdua. Mereka yg terkejut itu segera bergerak mundur, melepaskan leherku dari gigitan Vience. Beberapa saat setelah itu, akhirnya mereka muncul.


"Bertahanlah Zayn!!!"


"Zayn!!!"


Suara dua orang gadis yg memanggil namaku itu adalah suara terakhir yg masuk ke telingaku tepat sebelum aku sepenuhnya hilang kesadaran.


"Aoi...Elie...kalian datang...juga."

__ADS_1


Tepat setelah mengucapkan kata-kata itu, aku pun pingsan


__ADS_2