Absolute Twin Magician

Absolute Twin Magician
Liliana Rossweis ( bagian 4 )


__ADS_3

" tolong.... L-liana menghilang!"


Mendengar berita itu, aku sontak terkejut. Kayn yg baru datang membawa secangkir teh hangat itu juga kaget, dan tanpa sadar menjatuhkan cangkirnya. Wajahnya terlihat pucat.


" Apa kau bilang?..Liana menghilang?" Tanya Kayn


" Tadi ketika aku dirumah, ada suara aneh terdengar dari rumah Liana. Ketika aku kesana, kondisinya kacau balau. Pintu masuk hancur, dan beberapa pelayan jatuh tak sadarkan diri. Aku juga tak menemukan Liana dimanapun. Saat masuk ke kamarnya, ada sebuah lubang besar di dinding." Jelas Elie " Liana sudah diculik oleh sesuatu"


Ini buruk. Ternyata para iblis itu sudah memulai serangan lebih cepat dari perkiraan ku.


" Liana bilang jika terjadi sesuatu padanya, aku harus segera memberitahu kalian berdua.. karena itu.." Elie mulai meneteskan air mata " kumohon selamatkan Liana... kumohon"


" Elie, kau tak perlu memohon seperti ini. Apapun alasannya kami pasti akan menyelamatkannya. Karena kita adalah teman " ucap Kayn " lagipula aku sudah berjanji padanya...aku pasti akan membawanya kembali..."


" Te... terimakasih..."


" Terlalu cepat untuk berterimakasih, kita masih harus mencarinya" ucapku " Kayn, waktu kita sedikit. Kemungkinan mereka berniat mengaktifkan kutukannya"


" Aku tahu" jawab Kayn " Elie, apapun yg kau lihat hari ini rahasiakan dari siapapun, kau mengerti?"


" B-baiklah..."


Kami bertiga keluar. Walaupun hujan begitu deras, kami tak akan diam diri dirumah menunggu hujan reda. Waktu kami sedikit. Kami harus segera membawa Liana kembali. Karena itu, kami perlu mengunjungi rumah Liana dulu untuk mencari petunjuk.


" Kayn, kau bawa Elie" ucapku. Aku memunculkan sepasang sayap dari bahuku. Mataku mulai beradaptasi dengan gelapnya malam hari, memasuki mode penglihatan malam. " Aku akan menunjukkan jalannya"


" Z-zayn...kenapa tubuhmu jadi seperti..."


Kata-kata Elie terhenti ketika Kayn mengangkat tubuhnya dan menggendongnya seperti tuan putri. Kayn mengaktifkan zirah cahayanya. Zirah itu sama sekali tak menghambat pergerakan kayn, malah sebaliknya. Dengan zirah itu gerakan Kayn semakin cepat dan serangannya juga semakin kuat.


Tanpa aba-aba, aku segera terbang ke langit diikuti oleh Kayn yg sedang menggendong Elie. Hujan yg begitu deras perlahan mulai mereda. Perjalanan kami semakin mudah. Tak sampai sepuluh menit, kami sudah berdiri didepan gerbang rumah Liana.


Seperti yg Elie katakan, keadaannya sangat kacau. Bekas-bekas ledakan dimana-mana. Pintu depan hancur tak berbentuk. Pelayan yg tergeletak tak bernyawa dilantai dibiarkan begitu saja. Mereka diserang dengan sihir. Jelas sekali kalau ini bukan ulah manusia biasa.


Ketika sampai dikamar Liana, terlihat sebuah lubang yg cukup besar didinding, membuat pemandangan luar terlihat dengan jelas. Mereka pasti menggunakan lubang ini untuk kabur.


" Kayn, kau bisa melacaknya?" Tanyaku.


" Tidak, ini diluar jangkauanku"


" Huh, jadi hanya aku ya..." Ucapku lagi " Elie, coba cari barang yg selalu Liana kenakan, atau barang yg kemungkinan milik pencuri itu.."


"B-baiklah.."


Kami memulia pencarian benda yg kukatakan. Karena reruntuhan tembok, pencarian ini jadi sedikit sulit. Begitu berantakan, sangat sulit mencari benda yg kami cari dalam kondisi ini. Tapi untungnya masih ada harapan.


Elie muncul dan memberikan sesuatu padaku.


" Apa itu?" Tanya Kayn " ikat pinggang?"

__ADS_1


" Tidak dasar bodoh, benda seperti ini tak mungkin ikat pinggang" bantahku "ini seutas tali"


" Sebenarnya ini ikat rambut yg biasa Liana pakai" jawab Elie.


Aku dan Kayn terdiam, saling memandang. Ini bukan ikat pinggang ataupun seutas tali, ini ikat rambut. Jawaban kami sama-sama salah.


" Yah, setidaknya jawabku mendekati " ucapku.


" Apanya yg mendekati?" Protes Kayn


" Ini lebih mirip tali. Sama sekali tak mirip dengan ikat pinggang ,bodoh"


" Itu sama saja kan?"


Melihat kami yg kelahi tak jelas, Elie jadi geram sendiri


" Hey, kalian bisa serius tidak?! Liana dalam bahaya!!" Ucap Elie.


" Tenang saja Elie" ucapku setelah mencium ikat rambut itu dengan hidungku " aku sudah tahu kemana Liana dibawa pergi..."


" Eh?"


" Aku memiliki sihir unik yg dapat mengubahku menjadi monster legendaris bernama Chimera. Dan salah satu dari kemampuan khusus Chimera ada melihat jejak bau. Jika aku mencium bau tertentu, jejaknya akan terlihat dengan jelas dimataku. Dan sekarang aku melihat jejak bau itu melayang ke udara. Itu artinya orang yg membawa Liana pergi menggunakan sihir terbang untuk kabur menuju ke hutan luar kota." Jelasku panjang lebar " Kayn, ayo pergi"


" Elie, kalau kau tak kuat tinggal saja disini..kami pasti akan membawa Liana pulang" ucap Kayn.


Tentu saja Elie yg keras kepala itu pasti menolak tawaran Kayn. Aku sudah tahu itu.


" Kau tak perlu mengorbankan dirimu Elie. Aku akan menyelamatkannya untukmu" ucapku. Elie terdiam, sedikit tersentak. " Lagipula kalau kau benar-benar mengorbankan dirimu, siapa lagi yg akan mengajariku arti persahabatan yg kau elu-elu kan itu? Hanya kau yg bisa mengajarkannya padaku"


Elie terdiam, lantas tersenyum bahagia. Seperti aku sudah benar-benar berubah karenanya. Pandanganku pada orang lain mulai berubah. Bagiku sekarang, nyawa orang lain itu sangat berharga. Dan orang yg dengan berani merebutnya pantas diberi hukuman. Kupikir karena itu Oliver marah padaku dan menghukumku seperti ini.


Disaat itulah, samar-samar aku mendengar Elie mengucapakan sesuatu. Suara yg ia keluarkan benar-benar halus dan lembut, tak ada yg bisa mendengarnya. Tapi aku bisa mendengarnya dengan jelas. Dibalik senyumannya itu, ia mengatakan " aku mencintaimu Zayn..." Dan tentu saja aku sedikit terkejut dan segera memalingkan muka keluar ruangan.


" Ternyata kau benar Liana...dasar" gumamku.


Aku kembali terbang ke langit, dan Kayn yg menggendong Elie terus mengikutiku. Kami tak punya banyak waktu. Jika iblis-iblis itu memang berniat mengaktifkan kutukannya, selesai sudah. Tak ada lagi yg bisa kami lakukan.


Jejak bau itu melayang ditengah kota. Sepertinya mereka sama sekali tak takut dilihat orang. Seperti dugaanku, jejak itu mengarah keluar kota, memasuki daerah hutan lebat. Disana ada pegunungan besar yg membentuk tembok kokoh. Itu pegunungan batu. Sekarang aku tahu kenapa mereka membawa Liana kesini. Pegunungan ini memiliki banyak gua, dan tak ada penduduk kota yg berani memasukinya karena hutan lebat yg begitu luas ini. Tersesat didalamnya adalah mimpi buruk. Selain itu, tempat ini tertutup secara alami oleh bebatuan gunung.


Seperti yg kuperkirakan, jejak bau itu masuk ke salah satu gua di pegunungan ini. Mulut gua itu memilik lebar dua meter dan tinggi sekitar tiga meter lebih. Gua yg cukup sempit. Kami pun segera bergegas memasukinya.


Semakin kedalam, gua ini semakin meluas. Langit-langit gua ditutupi oleh bebatuan stalaktit yg meruncing kebawah. Dan juga ada puluhan kelelawar menempel di sisi-sisi stalaktit itu. Aku merasa semakin dekat dengan Liana. Selain itu, aku juga mencium bau lain. Aroma sihir hitam. Dan juga aroma iblis.


" Sihir hitam ini begitu pekat..." Ucapku.


" Ada klan iblis dibalik gua ini.." bisik Kayn " dari aromanya, mereka adalah iblis merah"


" Klan...iblis merah"

__ADS_1


Mendengarnya saja sudah membuat emosiku meluap. Bagaimana tidak? Klan iblis merah lah yg telah membunuh ayah dan ibu. Tapi walaupun begitu aku tak boleh emosi disini. Akan berbahaya kalau aku mengamuk didalam gua, apalagi ada Elie disini.


Setelah hampir setengah kilometer berjalan lebih dalam, keberadaan Liana ditemukan. Ia melayang diatas sebuah altar, dijaga oleh belasan iblis berwujud manusia. Dari pakaian mereka, sepertinya mereka adalah prajurit tingkat menengah milik raja iblis merah. Menyadari kedatangan kami, mereka mengambil posisi siaga. Ritualnya sudah dimulai. Sepertinya butuh waktu agar kutukan itu bisa aktif sempurna.


" Liana!!" Panggil Elie dari belakang kami.


Liana menoleh, berusaha menunjukkan senyum yg jelas sekali dipaksakan. Aku dan Kayn menatap tajam kearah seorang iblis yg memilih pakaian yg berbeda dari iblis lain. Sepertinya ia pemimpin dari kelompok kecil ini.


" Oi, aku tak tahu apa yg kalian rencanakan. Tapi cepat lepaskan gadis itu " seruku.


" Oh, kalian si kembar ajaib itu ya...anggota paling menyusahkan dari organisasi menyebalkan itu" ucapnya sungguh sebuah kehormatan bertemu dengan kalian, Endarker bersaudara "


" Siapa kau?" Tanya Kayn dingin.


" Namaku Mark Jeanist, pemimpin regu pengintai iblis merah. Senang berkenalan dengan kalian"


Aku belum pernah mendengar namanya, tapi sekali lihat aku langsung tahu siapa dia. Iblis menjijikkan yg bertingkah sok sopan Dangan tata Krama yg sangat dipaksakan. Aku jadi ingin cepat-cepat menghabisinya.


" Kami tak berniat berkenalan denganmu. Cepat lepaskan gadis itu " kali ini Kayn yg angkat suara.


" Tentu saja, tapi setelah ritualnya selesai" jawabnya


" Kau pikir kami mau menunggu selama itu?!" Aku mulai muak berbicara dengannya.


" Tentu saja, kau Kayn si monster yg selalu mencari lawan yg kuat. Dan gadis ini akan menjadi lawan yg cocok untukmu"


" Liana bukan musuh!" Dari belakang, Elie berteriak menjawab ucapan iblis bernama Mark itu " dia itu teman!! Dia teman baik kami!!"


Mark menatap tajam kearah Elie.


" Aku tidak bicara padamu bangsawan manja!" Teriaknya " lagipula kau tidak tahu makhluk seperti apa gadis ini"


" Apa maksudmu?"


" Kutukan iblis tak muncul dengan sendirinya. Pasti ada orang yg menanam kutukan ini padanya kan?" Ucapnya " dia adalah makhluk percobaan...apa kau tahu siapa yg melakukannya? Kau tahu kenapa ia tak pernah tinggal serumah dengan keluarganya?"


Elie terdiam. Dia tahu persis kalau Liana sama sekali tak pernah hidup bahagia dengan keluarganya. Ia selalu hidup dibawah pengawasan pelayan dirumahnya. Muka Elie terlihat sedikit pucat


" Jangan bilang kalau itu benar...tak mungkin.." ucap Elie lirih.


" Orang tuanya yg melakukan itu, tentu saja atas perintah Mark yg hebat ini! Sekarang adalah waktu untuk memanennya. Walaupun sedikit cepat dari waktu yg dijadwalkan. Itu karena kalian berdua berusaha menghilangkan kutukan ini!!" Teriaknya. Ia mengarahkan tangannya ke kami, memberi aba-aba untuk iblis lain " musnahkan mereka!"


Para iblis mulai berjalan mendekati kami, menunjukkan Taring-taring mereka. Kalau mereka memang ingin bertarung, akan kulayani.


" Elie, bersembunyi lah dibelakang" ucapku " serahkan yg disini pada kami. Liana pasti akan kami ambil kembali"


" Zayn...jangan mati, kumohon. Ada banyak yg ingin kutanyakan langsung padamu.." ucap Elie dengan mata berkaca-kaca.


" Baiklah, akan kutunggu" jawabku " lagipula tak mungkin aku mati semudah ini..."

__ADS_1


Mendengar jawabanku, Elie tersenyum lega. Senyuman yg begitu manis, walaupun di keadaan yg menegangkan seperti ini. Ini membuatku ingin melindungi senyumannya. Akan ku hancurkan siapapun yg mencoba menghilangkan senyuman ini dengan segenap kekuatanku.


__ADS_2