
Setelah persiapan yg memakan waktu cukup lama, akhirnya Elie dan Liana sudah siap untuk berangkat. Berbekal dengan dua buah tas yg berisi beberapa perlengkapan, Elie dan Liana yg telah mendapatkan izin dari orang tua Elie beranjak menemui kami di depan rumah.
Setelah beberapa kata dari orang tuanya, kami pun kembali ke rumahku dan Kayn.
"Aku sedikit gugup ... Apa kita akan benar-benar pergi ke kerajaan Voracity?" Tanya Liana.
"Ya, itu yg dikatakan Hughess. Dia tak pernah bercanda dalam hal ini, yg berarti semua yg ia katakan benar," jawabku.
"Apa kalian pernah kesana sebelumnya?" Tanya Elie. Aku menggeleng.
"Yg sering kesana hanya paman Oliver saja. Mungkin ada anggota lain yg pernah, hanya saja kami tak pernah membicarakan nya," jawab Kayn.
"Yah, soalnya Magic Assosiation tidak diterima disana," ucapku. "Bukan hanya itu, kabarnya bahkan para penyihir tak diperlakukan dengan baik di kerajaan itu."
"E-eh?! Yg benar?!" Tanya Elie dan Liana kaget.
"Tenang saja, itu hanya sekedar rumor. Tapi untuk berjaga-jaga, sebaiknya kalian tak menggunakan sihir kecuali dalam keadaan terdesak, atau ketika tak ada orang lain yg melihat kalian," ucap Kayn menenangkan mereka berdua.
"S-sepertinya ini cukup sulit ...." Gumam Liana.
"Bukan hanya cukup sulit, ini sangat sulit terutama bagi pemula seperti kalian berdua," ucap Kayn. Ia menghela nafas berat. "Huuh ... aku masih tak paham kenapa paman Oliver sampai menugaskan kita kedalam misi seperti ini ...."
"Aku setuju ...." Lanjut ku.
Setelah beberapa menit, kami akhirnya sampai dirumah. Sepertinya berkat arahan dari Hughess, Fiera bisa menyiapkan semua keperluan kami selama kami pergi ke rumah Elie. Itu memudahkan kami, dengan begini pekerjaan kami sedikit berkurang.
Sebelum benar-benar berangkat, sebelumnya Hughess dan Zero akan kembali menjelaskan rincian misi kepada kami semua. Tujuannya untuk memperjelas agar tak ada kesalahan yg terjadi selama misi berlangsung.
Seperti yg telah disebutkan, Kayn dan Fiera akan berpisah dan langsung menuju ke pantai bagian tenggara kerajaan Voracity. Tujuannya adalah untuk menginvestigasi keanehan yg terjadi disana. Dan jika memungkinkan, mereka akan langsung mengatasi nya.
Dan sisanya yaitu aku, Elie, Liana, dan Hughess akan menyelinap masuk ke ibukota kerajaan Voracity, yaitu kota Voracity. Disana kami akan bertemu dengan salah seorang mata-mata yg juga merupakan rekan kami. Aku belum pernah mendengar ada mata-mata selain Osamu, dan itu membuatku penasaran sosok seperti apa orang yg akan kami temui kali ini.
Tujuan kami adalah untuk mencari informasi dari dalam kerajaan itu sendiri. Dan bergerak ketika keanehan seperti munculnya iblis lain terdengar. Dan tentunya, kami akan bergerak secara diam-diam. Selain itu, sebisa mungkin kami harus menjaga jarak dari para Imperial Paladin yg berada di kota tersebut. Sebagai musuh bebuyutan mereka, jika kami tertangkap kemungkinan kami bisa saja dibunuh. Aku sangat berharap untuk tidak bertemu dengan salah satu dari mereka.
Setelah menjelaskan dengan panjang lebar, akhirnya kami telah siap untuk berangkat.
"Ingat ini, aku hanya akan mengantar kalian sampai ke perbatasan kerajaan. Setelah itu terserah pada kalian," ucap Zero. "Aku tak pernah dan tak mau pergi ke kerajaan itu, jadi jangan tanya kenapa aku tak bisa mengantarkan kalian sampai ke kota."
"Iya iya, kami tahu. Lagipula kau ini kan seorang pengurung diri," ucapku.
"Berisik! Aku mengurung diri karena aku mau! Ada masalah?!"
"Tidak."
Menyebalkan seperti biasa. Tapi menjahilinya sedikit menyenangkan.
"Baiklah, kalian siapa?"
"Tentu saja."
"Kalau begitu, semoga beruntung," ucap Zero. "Teleport!"
Setelah mengatakan kata-kata itu, seperti biasa lingkaran sihir teleportasi muncul dibawah kaki kami. Ini memang terkesan sangat terburu-buru, tapi karena kami sudah bersiap, kenapa tidak? Lagipula aku juga sedikit penasaran dengan tempat tujuan kita kali ini. Seperti apa rupa dari mata-mata yg akan kami temui, dan semenegangkan apa kondisi yg akan kami alami nanti. Soal itu, siapa yg tahu pasti.
Beberapa detik setelah aktifasi sihir teleportasi Zero, kami muncul disebuah dataran tinggi. Sepertinya ini adalah daerah pegunungan yg berjejer di perbatasan antara kerajaan Voracity dengan kerajaan Bluelagoon. Dan tak seperti yg kubayangkan, ternyata di sekitar sini sangat hijau. Meskipun ini adalah pegunungan berbatu, dibawah sana kami dapat melihat hutan yg sangat lebat. Dan dari ketinggian ini pula, kami dapat melihat sebuah kota kecil. Itu bukan kota tempat tujuan kami, tapi setidaknya dengan itu kami bisa bertanya kepada warga sekitar dan menyewa jasa tumpangan menuju kota Voracity.
"Woah, kupikir Voracity adalah tempat yg gersang. Siapa sangka kalau ternyata tempat itu hijau seperti ini," ucapku.
"Darimana kau menyimpulkan kalau Voracity itu tempat yg gersang?" Tanya Kayn.
"Firasat."
__ADS_1
"Yah, entah darimana kau mendapat firasat seperti itu. Asal kau tahu, kerajaan Voracity itu terkenal dengan sumber daya yg berasal dari hutannya. Dan dengan fakta itu, kau masih menganggap kalau Voracity itu gersang?" Jelas Hughess. Aku sedikit menunduk malu, karena sama sekali tak belajar tentang pengetahuan umum seperti ini.
"Yah, salahku," jawabku. "Jadi, apa yg akan kita lakukan sekarang?"
"Apa kita akan ke kota itu? Sepertinya disana kota yg cukup ramai," usul Elie sambil menunjuk kearah kota yg berada di kejauhan.
"Kurasa memang harus begitu. Lagipula kita butuh informasi dan juga tumpangan. Jalan kaki ke kota Voracity adalah ide yg ceroboh," ucapku.
"Hm, Fiera setuju dengan Zayn. Lagipula jalan kaki itu melelahkan," lanjut Fiera.
"Bilang saja kalau kau tak mau capek, Fiera," ucap Elie.
"Itu benar, tapi alasan utamanya adalah karena Zayn yg mengusulkan." Entah kenapa Fiera bisa menjawab seperti itu dengan bangganya.
Seperti halnya Zero, Fiera juga menyebalkan. Tapi tingkat menyebalkan nya berada di tingkatan yg lebih tinggi. Jika Zero bisa berpikir rasional, Fiera hanyalah gadis berotak kosong, meskipun tak sepenuhnya kosong.
Seperti yg ku usulkan, kami berenam bergegas menuju ke kota yg kami lihat dari atas pegunungan. Menuruninya cukup merepotkan jika saja Hughess tak membantu kami dengan sihir alkimianya. Berkatnya, kami bisa turun dari pegunungan ini dengan cepat dan aman. Itu sangat menghemat waktu dan juga tenaga.
Selama perjalanan, kami menemukan banyak sekali pepohonan yg jarang terlihat di kerajaan lain. Seakan-akan, pohon-pohon itu hanya mampu tumbuh di daerah ini saja. Seperti yg Hughess katakan, kerajaan ini memiliki sumber daya hutan yg sangat melimpah.
Hanya saja, sepertinya daerah ini juga memiliki banyak monster dan hewan buas yg berkeliaran didalam hutan. Aku bisa tahu itu dari sihir pendeteksi dan juga indera penciuman dan pendengaran yg kupertajam. Tapi sejauh ini, aku tak menemukan tanda-tanda kehadiran iblis disini. Sepertinya mereka belum mencapai dataran ini dan hanya muncul di sekitar pantai seperti yg diberitakan.
Kami terus berjalan selama sekitar satu jam. Meskipun terlihat cukup dekat dari atas pegunungan, siapa sangka kalau perjalanan ini memakan waktu yg cukup lama. Yah, salah satu alasan nya adalah kedua bangsawan ini yg tak terbiasa berjalan jauh dihutan menemui beberapa kesulitan. Seperti halnya anak gadis bangsawan pada umumnya, Elie membenci sesuatu yg kotor seperti lumpur dan semacamnya. Dan siapa sangka kalau ternyata Liana membenci serangga. Karena hal itulah, hutan seperti ini menjadi tempat yg menakutkan bagi mereka berdua.
Dan, itu membuat kesempatan bagi Fiera untuk mengejek mereka berdua.
"Dasar, bagaimana bisa kalian takut pada serangga-serangga kecil itu? Sepertinya bangsawan memang orang-orang lemah ya~" ledek Fiera. "Hey Elie! Orang yg takut kotor tak pantas menjadi pendamping Zayn! Seperti yg Fiera duga, hanya Fiera yg pntas menjadi pendamping Zayn!"
"Berisik! Aku hanya perlu membiasakan diri untuk hal seperti ini, kau tahu?!"
"Tak perlu membalasnya, Elie. Itu hanya akan membuatnya semakin meledekmu—
"Zayn diam saja!! Ini urusan antar gadis! Aku tak ingin harga diriku sebagai orang terdekat mu sampai rusak!"
Yah pada akhirnya kami terus melanjutkan perjalanannya dengan situasi yg berisik seperti ini.
Satu jam berlalu, kami akhirnya sampai di depan gerbang kota. Kami bersembunyi di balik pepohonan hutan dan mengintip untuk mengamati keadaan. Ada seorang penjaga yg berdiri didepan gerbang. Apa mungkin ada pemeriksaan bahkan di kota kecil seperti ini?
"Ah, aku lupa mengatakan sesuatu," ucap Hughess mendadak. Ia kemudian menatapku dan juga Kayn. "Kayn, Zayn. Selama kalian berada di kerajaan ini, jangan pernah memberitahu nama lengkap Kalian."
"Eh? Nama lengkap?"
"Lebih jelasnya, jangan pernah menyebut nama Endarker di kerajaan ini."
Itu terdengar sangat serius. Ada apa dengan nama kami? Kenapa nama Endarker tak boleh disebut disini? Sebenarnya apa yg terjadi pada Keluarga Endarker?
"Kenapa? Apa ada sesuatu?" Tanya Kayn. Aku dan yg lain juga menatap heran.
"Yah, itu pesan dari Master. Kau tahu kan kalau Master tak pernah main-main jika menyangkut sesuatu seperti ancaman."
Jika paman Oliver yg mengatakan itu, sepertinya memang terjadi sesuatu antara keluarga Endarker dengan kerajaan ini. Apa itu mengenai ayah kami, atau "Endarker" yg lain, aku tak tahu. Yg pasti, nampaknya kami memang tak boleh seenaknya menyebut nama itu.
"Apa berarti aku perlu nama samaran?" Tanyaku.
"Itu terserah padamu ... Ah, benar juga. Mengenai samaran, apa yg akan kalian lakukan dengan tato dimata kalian itu?" Tanya Hughess.
Ah, sekarang kau menyinggungnya. Aku benar-benar lupa kalau kami memiliki tato yg sangat mencolok di mata kami. Dan juga tato itu adalah lambang milik Magic Assosiation. Orang-orang yg memusuhi kami seperti Imperial Paladin pastinya mengenal lambang ini. Jika itu terlihat, kami bisa ketahuan.
"Aku bisa menghilangkan nya dengan sihir Illusion Self. Tapi itu kurang efektif di pertarungan. Karena sihir itu akan lenyap jika aku terluka. Tapi untuk sehari-hari, sepertinya itu bukan masalah selama aku tak terkena serangan," jawabku. Untungnya aku sempat mempelajari sihir ini.
Illusion Self adalah sihir ilusi optik yg dapat mengubah bentuk dari suatu objek. Dengan sihir ini, aku bisa dengan mudah menyamar menjadi orang lain. Tapi sihir ini sangatlah rapuh. Ia akan lenyap jika penggunanya terkena luka, meskipun itu hanya goresan pisau sekalipun.
__ADS_1
Tapi untuk Kayn, aku tak yakin dia punya sihir semacam itu.
"Kalau untuk ku, sepertinya aku akan memakai topeng atau semacamnya. Tak seperti Zayn, aku tak punya sihir ilusi yg dapat menutupinya. Lagipula, tugasku tak mengharuskan ku untuk berkomunikasi dengan orang lain kan? Kurasa aku akan baik-baik saja," jawab Kayn.
Itu masuk akal, karena tugas yg ia dapat hanyalah mengamati keadaan di sekitar pantai tenggara. Meskipun ia masih membutuhkan informasi, ia masih bisa menggunakan topeng. Lagipula banyak para petualang yg menggunakan topeng sebagai identitas mereka. Sepertinya ia tak akan dicurigai semudah itu.
"Kalau kau tak masalah dengan itu, maka itu akan baik-baik saja," ucap Hughess. "Kalau begitu, kita akan segera masuk ke dalam kota."
"T-tapi tunggu dulu, bagaimana dengan penjaganya? Bukankah berbahaya kalau kita masuk seenaknya? Lagipula identitas Zayn dan Kayn bisa diketahui dengan mudah," ucap Elie. Yah, kekhawatirannya benar. Jika penjaga itu meriksa data diri kami, tamat sudah.
"Tak masalah, kita tak akan masuk dari depan."
"Eh? Lalu bagaimana?"
Ketika Elie dan Liana masih tampak kebingungan, tanah tempat kami berdiri bergetar. Perlahan, sebuah lubang muncul dari bawah tanah, membentuk sebuah tangga dan lorong yg mengarah ke bawah kota tersebut. Yah, aku sudah tahu apa yg akan terjadi. Nampaknya Hughess sudah membuat sebuah lorong bawah tanah dengan sihir alkimianya. Seperti yg kukatakan sebelumnya, sihir ini benar-benar serbaguna.
"Baiklah, kita masuk lewat sini," ucap Hughess santai, mengabaikan Elie dan Liana yg masih terdiam karena takjub.
"Benar-benar sihir yg luar biasa ...." Gumam Liana.
"Ya, dan sangat serbaguna," lanjut Elie.
"Hey jangan bengong saja dan cepatlah masuk!" Teriak Fiera menyuruh mereka berdua yg tertinggal dibelakang untuk segera masuk.
Masih dengan ekspresi kagum, Elie dan Liana memasuki lorong bawah tanah yg dibuat Hughess. Setelah mereka berdua masuk, Hughess segera menutup lubang tempat kami masuk tadi agar tak ada jejak keberadaan kami yg terlacak.
Disini agak sesak karena udaranya sangat terbatas, tapi setidaknya ini lebih aman daripada harus masuk dari pintu depan.
"Setelah ini kita akan naik ke permukaan. Pastikan untuk tidak terpisah, akan sulit jadinya kalau ada yg tersesat. Setidaknya kalian harus jalan berdua," ucap Hughess. "Tujuan utama kita adalah mencari tumpangan dan juga informasi. Untuk sekarang, kita serahkan pencarian tumpangan pada Kayn, karena diantara kita kau yg paling mirip dengan petualang dengan topeng mu itu."
"Ah, aku mengerti," jawab Kayn sambil mengenakan topeng yg ia buat dengan sihir Insomnia nya. "Serahkan saja kepadaku."
"Ah, k-kalau begitu aku akan ikut dengan Kayn," ucap Liana.
"Kalau begitu aku dengan Zayn, benarkan?" Tanya Elie merangkul lenganku.
"Ya, terserah padamu," jawabku.
"Hey, Fiera yg pergi dengan Zayn!"
"Fiera, kau pergi denganku—
"Tidak mau!!"
Ugh, kata-kata Hughess dipotong begitu saja. Dan itu sepertinya membuat Hughess yg selalu tenang jadi sedikit serius.
"Fiera mau dengan Zayn—
Tiba-tiba saja, Hughess mencengkram lengan Fiera dan menatap tajam ke mata Fiera. Ini pertama kalinya aku melihat Hughess melotot seperti itu.
"Fiera, ini perintah. Kau tahu kan apa jadinya kalau aku marah?" Ucap Hughess. "Atau mungkin, kau ingin kembali merasakan neraka buatanku, hah?"
Seketika Fiera pucat dan segera menurut seperti seekor anjing. Yg benar saja, sebenarnya siapa yg kau takuti, Fiera? Sebenarnya yg mengerikan di ruang uji coba itu Kak Chezie atau Hughess?? Apa mungkin keduanya?!
"b-baiklah ...."
"anak pintar."
sebenarnya apa yg terjadi pada mereka sih??
"Yah, sepertinya kelompoknya sudah ditentukan," ucap Hughess. Tidak, kau yg menentukannya seenakmu. "Kita akan segera masuk ke kota. Persiapan diri kalian."
__ADS_1
"Baiklah!"