
Di hadapanku, tiga orang anak kecil yg tak lain adalah iblis itu menatapku dengan sangat seksama. Seakan mereka sedang mempertimbangkan apakah aku ini layak untuk dihadapi atau tidak. Sedangkan dibelakangku Kayn berdiri dengan kuda-kuda bertahan, melindungi Elie dan juga Liana. Ini situasi yg berat bahkan bagi orang seperti kami. Bertarung sambil melindungi seseorang itu bukan hal yg mudah. Apalagi yg kami hadapi tak lain adalah salah satu dari empat raja iblis. Ini bukan hal yg bisa diatasi dengan sembrono.
" Mereka.... anak-anak?" Tanya Liana.
" Jangan terkecoh dengan penampilan luar mereka. Walaupun terlihat seperti anak-anak, mereka tetaplah iblis." Jawab Kayn pasti.
" Lalu, sekarang....apa yg harus kita lakukan?" Tanya Elie.
" Menyerang mereka bukanlah ide yg bagus" ucap Kayn.
" Tapi kita tak bisa membiarkan mereka begitu saja..." Sambungku
Tangan monster mulai muncul menyelimuti tanganku. Dengan cepat tubuhku melesat ke depan, berniat untuk menyerang salah satu dari mereka.
" T-tunggu Zayn! Apa yg kau lakukan?!" Teriak Kayn.
Tanpa kusadari, dua gadis iblis tadi tiba-tiba menghilang. Tidak, lebih tepatnya bergerak dengan cepat. Sampai-sampai mataku tak bisa mengikuti pergerakannya. Satu gerakan tendangan ganda muncul, mengenai bagian perutku. Seketika tubuhku terhempas kearah pepohonan. Aku sadar, dua gadis itu berhasil mendaratkan tendangan mereka ke perutku. Itu benar-benar tendangan keras yg menyakitkan.
" Zayn!!" Teriak yg lain.
Disaat yg sama, gadis berambut pirang tadi tiba-tiba muncul didepan Kayn, bersiap dengan tendangannya. Benar-benar serangan dadakan. Kayn tak punya kesempatan untuk menghindar ataupun melawan balik.
Tiba-tiba lima buah pedang besar muncul, melayang dan berbaris diantara Kayn dan gadis iblis itu. Serangannya tertahan dengan sempurna. Lima pedang besar yg berbaris seperti benteng, Teknik ini sangat familiar olehku dan juga Kayn. Teknik " Blade Fortress".
" Blade...Fortress?" Gumam Kayn. " Itu artinya.."
" Kak Marry?!"
Diatas langit, seorang wanita yg terlihat berusia sekitar 23 tahunan berdiri diatas sebuah pedang besar yg melayang di udara. Disekitarnya, belasan bahkan puluhan pedang lain melayang seakan sedang melindunginya.
__ADS_1
" Kayn, Zayn, bertahanlah sedikit lagi!" Teriak wanita itu.
Wanita itu tak lain adalah Marry August, seorang wanita pengguna sihir pedang dengan rambut merah panjang yg menjadi ciri khasnya. Dan juga merupakan sosok kakak perempuan yg sangat kusegani. Magic Knight Number 6 The Titania. Selain julukan itu, ia juga sering dijuluki dengan " Dewi Pedang " karena kemampuannya mengendalikan pedang dengan sihirnya.
" Lagi-lagi organisasi itu ya...hari ini benar-benar hari yg sial" gerutu iblis laki-laki. Kali ini, ia menatap kak Marry dengan tatapan tak bersemangat.
Kak Marry melancarkan serangannya. Puluhan pedang ia lesatkan kearah tiga iblis itu. Puluhan pedang yg melesat itu terlihat seperti hujan pedang. Kini, ketiga iblis itu sedang dihujani habis-habisan oleh pedang-pedang kak Marry. Andai saja lawan kami bukan iblis, mereka pasti mati hanya dengan ini.
Aku kembali berdiri. Berkat sihir " Transmutation" ku, luka akibat serangan dua gadis tadi bisa pulih dengan cepat. Tanpa basa-basi lagi, aku segera bergabung dengan Kayn dan yg lain.
" Kita harus segera meninggalkan tempat ini, terlalu berbahaya berlama-lama disini. Cepat masuk ke kereta" tukas Kayn.
" Tapi, bagaimana dengannya?" Tanya Elie, menoleh kearah kak Marry yg sedang sibuk dengan tiga iblis itu.
" Tenang saja, kak Marry pasti baik-baik saja" ucap Kayn
Ya, aku percaya kak Marry pasti akan baik-baik saja. Walaupun begitu, setelah menerima serangan bertubi-tubi dari kak Marry, ketiga iblis itu sama sekali tak terluka. Bocah iblis itu dengan mudah menahan serangan kak Marry. Ia bahkan berdiri dengan senyuman lebar, menatap kearah kak Marry. Dari tempatku, aku bisa merasakan aura membunuh mulai keluar darinya.
Mendengar kata-katanya, aku terdiam. Tak hanya diriku, Kayn juga melakukan hal yg sama. Serentak kami kembali menoleh kebelakang, menyaksikan pertarungan kak Marry. Aaah, aku sudah tak tahan lagi. Orang ini, orang ini adalah orang yg selama ini kami cari. Nama itu, mana mungkin kami melupakannya. Itu adalah nama orang yg merencanakan pembunuhan ayah dan ibu dengan sangat keji. Si brengsek Orcholenius. Sepertinya kami berdua sudah tak bisa menahan diri lagi. Amarah sudah mulai menguasai pikiran kami.
" Orcholenius...dia bilang?" Tanya Kayn.
" Ya...tak salah lagi..." Jawabku.
Akhirnya, setelah sekian lama momen seperti ini tiba. Akhirnya orang yg selama ini kami cari muncul dengan sendirinya kehadapan kami.
" Kayn?.. Zayn?" Liana berusaha menegur.
__ADS_1
Aku dan Kayn berjalan mendekati kak Marry, menghiraukan Liana dan Elie. Wajah kami sudah benar-benar berubah. Terutama Kayn. Wajahnya yg periang itu kini telah berganti dengan sosok dingin penuh hawa membunuh. Liana yg menyadari itu menarik tubuh Elie menjauh.
" Apa yg terjadi Liana? Bagaimana dengan Kayn dan Zayn?" Tanya Elie.
" aku tak tahu apa yg terjadi pada mereka...tapi sepertinya iblis yg disana itu memiliki kesan buruk diingatan mereka berdua. Kita tak bisa menghentikan mereka..."
" Tapi Zayn dan Kayn bisa terluka!"
" Aku tahu itu! Tapi apa yg bisa kita lakukan? Apa yg bisa dilakukan orang biasa seperti kita?!"
" Aku...tak tahu..."
Tangan monster mulai muncul. Seluruh bagian tubuhku mulai berubah perlahan menjadi setengah monster. Tangan, kaki, badan, hingga sayap monster menutupi seluruh tubuhku.
Kayn mengeluarkan pedang sihirnya, dilapisi dengan berbagai macam sihir penguat. Ia juga sudah siap dengan armornya. Perlahan, kami berjalan kearah Orcholenius.
" Aah.. kalian masih mau lanjut? Kalian tangguh juga ya, sama seperti ayah kalian. Kuakui, ayah kalian itu cukup hebat. Aku sampai kesusahan karenanya." Ucapnya " tapi seperti yg kukatakan, dia menyusahkan. Dia pengganggu menyusahkan yg layak untuk dibunuh. Dia mati karena dia lemah, dan orang lemah pantas untuk mati"
" Apa seperti itu caramu berbicara dengan orang yg telah kau bunuh keluarganya, Orcholenius?!" Teriakku. Tatapan tajam kuarahkan padanya
Karena kata-katanya, amarahku berlipat ganda. Pertama karena fakta bahwa dialah dalang dibalik pembunuhan ayah dan ibu. Dan kedua karena ia telah mengolok-olok ayah tepat didepan kami. Sebagai anak, bagaimana bisa kami tak marah.
" Kayn! Zayn! Apa yg kalian lakukan?! Cepat pergi dari sini!!" Teriak kak Marry.
Maaf kak, mungkin kau adalah orang yg paling kukagumi di organisasi. Kau juga mungkin merupakan sosok kakak bagiku. Tapi kali ini kami tak bisa melakukan apa yg kau katakan.
" Lupakan balas dendam! Pikirkan nyawa kalian!!"
Kayn menunduk, matanya masih melotot tajam. Bagi Kayn yg taat peraturan itu, melanggar perintah kak Marry memang hal yg berat. Tapi amarah telah menaklukannya.
__ADS_1
" Cukup sudah, aku tak tahan lagi. Maafkan kami kak Marry, kami tak bisa mematuhi kata-katamu kali ini. Kami akan membunuhnya demi ayah dan ibu...." Ucap Kayn dan kembali menatap Orcholenius " Insomnia : Light of Plaides "