
Setelah kepergian para vampir, semua anggota Magic Assosiation dan juga ReVoid memulai kesibukan yg baru. Karena amukan dari wujud Grand Orario milik Rozalia, area perbatasan antara distrik 4 dan distrik 3 rata dengan tanah. Amukan nya benar-benar menimbulkan kerusakan yg sangat parah. Jika saja dari awal kami tak menggunakan Infinity Chamber, kemungkinan kerusakan yg ada jauh lebih besar.
Karena itu, semalaman suntuk kami bekerjasama memperbaiki bangunan disana sebisa mungkin. Untungnya, berkat bantuan sihir alkimia milik Hughess pekerjaan kami jadi lebih mudah. Ini adalah hasil dari pertarungan kami, tentu saja kami harus bertanggungjawab atas ini semua. Karena alasan itulah kami melakukan nya.
Berkat kerjasama kedua kelompok besar ini, kota Bluelagoon sudah bisa kembali beroperasi di pagi harinya. Memang melelahkan, tapi setidaknya kota yg indah ini dan para penduduknya bisa kembali menjalankan keseharian mereka. Yah, mungkin masih butuh waktu sehari aau dua hari untuk kembali menjalankan kegiatan sehari-hari mereka. Tapi untuk saat ini, setidaknya tak ada lagi kekhawatiran di hati para penduduk setempat.
Dengan selesainya masalah vampir dan masalah warga kota Bluelagoon, berakhir juga kontrak yg di buat antara Magic Assosiation dan ReVoid dengan kota ini. Yg berarti, sudah waktunya kita semua pergi meninggalkan kota ini dan menyerahkan sisanya pada pihak kerajaan.
Dan itu juga berarti perpisahan antara Magic Assosiation dan ReVoid.
Pada pukul 7 pagi, semua anggota ReVoid berkumpul di sekitaran gerbang barat. Mulai dari prajurti biasa sampai para Reign berkumpul disana, bersiap untuk berangkat kembali ke kota mereka. Sedangkan beberapa anggota ReVoid yg bertugas di kota ini seperti Shiki dan Aoi masih menetap di kota ini. Meskipun begitu, mereka tetap berkumpul untuk ikut mengantar kepergian ketua mereka.
Di waktu dan tempat yg sama, kami para Magic Knight juga ikut berkumpul. Alasannya tidak lain untuk mengucapkan salam perpisahan pada mereka, sekaligus
Persiapan untuk kembali ke markas.
"Kerja bagus sobat. Ini mengingatkanku, sudah sangat lama sejak kita bertarung bersama," ucap paman Oliver.
"Meskipun kau datang terlambat, aku sangat berterimakasih karena kau datang, Oliver," balas pak Vestine.
"Jangan formal begitu Vestine, kita ini sahabat sekaligus rekan seperjuangan kan? Tak perlu repot-repot berterimakasih."
"Memangnya sahabat tak boleh berterimakasih kepada sahabatnya?"
Mendengar balasan itu, paman Oliver tertawa kecil.
"Yah, benar juga."
Sesaat setelah itu, mereka menatap satu sama lain dengan raut wajah seakan sedang mengingat kenangan indah. Seperti sahabat yg lama tak jumpa, seakan-akan mereka tak akan pernah kehabisan kata-kata.
"Sudah sudah, jika kalian terus ngobrol bawahan Vestine bisa kerepotan nantinya," nyonya Stephanie datang dan memotong acara reunian itu. "Kalau mau ngobrol, kapan-kapan kita bisa mampir ke Silverstone kok, jadi tenang saja."
"A-ah, kami terbawa suasana ya ...."
"Ya ... Mari kita lanjutkan pembicaraan ini dengan santai di lain waktu, Vestine."
"Ya, kami akan sangat menantikan kedatangan kalian ke kota kami," ucap pak Vestine.
"Tapi ingat, kami tak janji ya. Kami akan mampir kalau sedang menganggur atau keadaan mendadak lainnya, oke?" Ucap nyonya Stephanie.
"Baiklah baiklah, aku mengerti Senie ...." Jawab pak Vestine.
"Sudah berapa kali kubilang jangan panggil aku dengan sebutan itu. Kau memang selalu saja melupakan hal penting ya, Vestine. Hei sayang, sesekali ingatkan orang ini untuk memanggil ku Stephanie."
"Ya ya, akan kuingatkan dia lain kali," balas paman Oliver.
Setelah menyelesaikan kata-katanya, akhirnya pak Vestine bergerak meninggalkan kota Bluelagoon.
"Sampai jumpa di lain waktu, Oliver, Senie," ucap pak Vestine. "Sampai jumpa, Magic Assosiation."
"Sampai jumpa juga, ReVoid."
"Ya, sampai jumpa. Dan ingat, panggil aku Stephanie!"
Setelah mengucapkan kata perpisahan, rombongan ReVoid pergi dengan menggunakan kereta kuda yg mereka bawa dari kota kerajaan Silverstone. Tak butuh waktu lama, dalam hitungan menit sosok mereka yg gagah berani itu telah menghilang dari pandangan kami.
Yg namanya perjumpaan, pasti akan diakhiri dengan perpisahan. Namun, tak berarti semua perpisahan akan kembali mengalami perjumpaan. Yah, kami hanya bisa berharap kalau kita semua bisa kembali bertemu. Selain itu, aku juga ingin sekali pergi ke kerajaan Silverstone yg terkenal canggih itu.
Tidak, tunggu dulu Zayn. Ini masih belum selesai. Masalah sebenarnya baru saja muncul dihadapan ku.
Setelah mengalami berbagai macam kejadian di kota ini, sangat berat rasanya untuk pergi meninggalkannya.
__ADS_1
Ditambah lagi, setelah mengenal Elie dan Liana lebih dekat, aku jadi lebih tak ingin pergi dari sini. Kedatangan kami ke kota ini untuk yg kedua kalinya mungkin hanyalah kebetulan yg dibuat paman Oliver. Itu berarti, tak ada lagi alasan untuk kami tinggal disini lebih kama. Tapi, aku tetap tak ingin meninggalkan tempat ini. Membawa mereka berdua ke markas hanya akan membuat keluarga Elie khawatir. Belum lagi Elie pernah berkata ingin sekali lagi fokus dalam belajar, meskipun aku benci belajar.
Dengan alasan ini, aku berusaha memantapkan hati dan mulai mengambil langkah. Aku tak tahu apa ini akan diterima atau tidak, tapi aku tetap harus mencoba nya.
"Pama Oliver. Sebelum kita pergi, boleh aku meminta satu hal?" Tanyaku, maju dengan semua keberanian ku.
Tentu saja, karena ucapan ini semua orang langsung menatapku heran. Yah, memang tak biasanya aku bertanya seperti ini.
"Ada apa, Zayn?" Tanya paman Oliver dengan wajah tegasnya, membuatku semakin takut untuk mengatakan apa yg kupikirkan.
Tapi, aku sudah mengambil langkah.
" ... Sebagai perwakilan Magic Assosiation ... Bolehkah aku tetap tinggal disini?" Tanyaku.
Itu memang berkesan cari-cari alasan, tapi hanya itu alasan yg terpikirkan olehku.
Aku terus menatap wajah paman Oliver, berharap beliau menerima permintaan ku.
Dilain sisi, Elie menatapku terkejut. Nampaknya, ia langsung mengerti alasan kenapa aku meminta hal itu. Bersama dengannya, Liana dan Kayn juga menatap ku. Nampaknya, mereka juga memikirkan hal yg sama.
Tak lama setelah itu, paman Oliver lantas tersenyum puas.
"Kau sudah banyak berubah, Zayn. Sampai memberanikan diri untuk meminta sesuatu dariku, padahal sejak kecil kau bahkan tak pernah bertingkah layaknya anak kecil yg dengan mudahnya meminta pada orang yg lebih tua, seperti halnya anak kecil lainnya. Akhirnya, kau bertindak sedikit egois ya," ucap paman Oliver. Aku tak paham apa maksud nya, tapi memang benar, ini bukan seperti diriku yg biasanya.
"Yah, kenapa tidak terima saja. Lagipula kau juga membutuhkan pengetahuan lebih banyak di sekolah itu. Benarkan, Louise?" Tanya nyonya Stephanie.
"Benar, tentu saja masih banyak yg harus dia pelajari dibawah bimbingan ku," ucap Osamu penuh percaya diri.
Itu bagus karena aku memiliki alasan lain untuk tinggal. Yah, meskipun bukan itu tujuanku tinggal disini. Sepertinya aku perlu berterimakasih padanya nanti.
Setelah mendengar perkataan nyonya Stephanie, Zero maju dan merusak suasana.
"Y-ya ... Itu juga salah satu alasan nya ...."
"Dasar payah, jujur saja pada perasaan mu itu."
"Tapi ya, siapa sangka kau bisa jujur dan terus terang seperti ini, Zayn. Itu hal yg bagus. Sepertinya aku harus berterimakasih juga pada Elizabeth dan juga Liliana," ucap paman Oliver.
"A-anda tak perlu melakukan nya, tuan Oliver," ucap Elie dan Liana serentak.
"Tak perlu formal begitu, Elizabeth, Liliana. Kalian saat ini juga bagian dari keluarga kami, panggil saja aku paman." Paman Oliver merespon dengan senyumannya. Ia lantas menatap ku. "Baiklah Zayn, sepertinya aku bisa menerima permintaan mu."
"B-baiklah, terimakasih banyak Paman ...."
"Elizabeth dan Liliana juga, kalian boleh menetap disini. Orang tua kalian juga sudah tahu semua tentang kami bukan? Kalau begitu tak ada masalah. Lagipula, kota ini juga rumah kalian berdua. Kami tak akan memaksa kalian meninggalkan kampung halaman kalian."
"T-terimakasih banyak, paman!".
"Kalau begitu, aku juga akan tinggal, Paman." Kali ini Kayn juga angkat suara. "Lagipula, aku dan Zayn adalah saudara kembar yg saling melengkapi."
"Benar juga, aku hampir melupakan mu Kayn. Karena Liliana juga tinggal, sudah pasti kau akan ikut tinggal juga."
"Ugh, aku tak bisa membantahnya."
"K-kalau begitu Fiera juga mau tinggal—
"Maaf Fiera, pelajaran kita masih belum selesai," cegah kak Chezie.
"Eh? Eeh?! Curang! Fiera juga mau tinggal dengan Zayn dan kak Kayn!!!"
Fiera terus berteriak dan merengek layaknya anak kecil yg meminta dibelikan mainan. Benar-benar merepotkan.
__ADS_1
"Sudah lah Chezie, tak masalah memberinya liburan kan?" Ucap Gale. "Lagipula, bukankah ini menguntungkan buatmu?"
"E-eh, A-apa yg kau bicarakan Gale?"
"Hmmm, benar juga. Jika Fiera pergi itu berarti kau juga bisa berduaan di ruang uji coba dengan pangeran yg kau dambakan itu?" Paman Oliver juga ikut melanjutkan.
Tapi jujur saja, aku tak mengerti apa dan siapa sebenarnya yg sedang mereka bicarakan. Kalau tentang pangeran, apa itu berarti khayalan romantis kak Chezie yg waktu itu??
"T-tunggu, aku tak heran kalau Gale tahu, tapi bagaimana bisa kak Oliver juga sampai tahu??" Tanya Kak Chezie panik.
"Tahu ... Tentang apa?" Tanya Hughess malu-malu.
"T-tidak, bukan apa-apa! Jangan terlalu dipikirkan Hughess!"
Serius, sebenarnya apa yg terjadi dengan merek berdua. Tapi tunggu, orang yg biasa berada di ruang uji coba hanya ada 3 orang. Hanya kak Chezie, Hughess, dan juga Fiera. Paman bilang kalau Fiera pergi, kak Chezie bisa berduaan dengan orang itu, padahal disana masih ada Hugh—
Tunggu, apa jangan-jangan pangeran yg kak Chezie maksud itu adalah Hughess?! Yg benar saja, sejak kapan mereka jadi seperti ini?!
"Orang yg tahu tentang itu hanya Gale dan Fiera, lalu bagaimana kak Oliver bisa tahu?" Gumam kak Chezie, seakan sedang memutar otaknya.
"Hey Fiera, apa yg sebenarnya terjadi?" Tanyaku. Tentunya dengan suara yg terdengar oleh kak Chezie.
"Eh? Mau Fiera ceritakan?"
"Hey Zayn! Barusan kau menguping kan? Benarkan?!"
Uwah, meskipun sedang mabuk cinta kak Chezie tetaplah kak Chezie. Kengerian amarahnya sangat mengerikan.
namun dilain tempat, Zero menatap kak Chezie sambil memberikan senyuman liciknya.
"Hehehe kak Chezie, jangan pikir hal seperti itu bisa lolos dari mata sihirku," ucap Zero.
"I-itu kau ya ... Dasar mulut ember," ucap kak Chezie geram.
"Mau kusebarkan ke semuanya? sebagai balasan karena sudah pamer kemesraan didepanku tadi malam mungkin?"
"Kalau kau ingin cepat mati, lakukan lah."
Lagi-lagi Zero membuat masalah baru. Yah, memang seperti itulah Zero.
Tapi siapa sangka, pembicaraan kami sudah berlalu cukup lama. Masih banyak yg harus mereka lakukan di markas, karena itu sudah saatnya pergi.
"Kalau begitu Zayn, Kayn, Fiera, Elizabeth, Liliana, kalian berlima akan tinggal disini sebagai perwakilan dari Magic Assosiation. Selain itu, kalian juga diwajibkan untuk selalu mengikuti pelajaran disekolah dibawah arahan dari Louise sebagai kepala sekolah," ucap paman Oliver panjang lebar.
"Tapi sebelum itu, ada syarat yg harus kalian penuhi," ucap nyonya Stephanie.
"Syarat?"
"Jika kalian menerima tugas atau misi dari markas, kalian harus segera melaksanakan nya. Ingat, misi lebih penting dari segalanya. Tapi, jangan jadikan itu alasan untuk lari dari kehidupan kalian. Mengerti?"
"Baiklah!"
Mendengar jawaban kami, paman Oliver lantas tersenyum.
"Baiklah, kuharap kalian baik-baik saja, Zayn, Kayn, Fiera, Elizabeth, dan juga Liliana."
"Ya, tentu saja!"
"Kalau begitu, kami berangkat."
"Teleport!"
__ADS_1