Absolute Twin Magician

Absolute Twin Magician
Anti Magic [ Stephanie Grace ]


__ADS_3

"mari kita mulai duel kita, Rosalia."


Saat ini, Rosalia berdiri didepan ku dengan ekspresi takut. Entah apa yg terjadi padanya, tapi sepertinya ia sudah mengenal siapa aku sebenarnya. Huh, memangnya rumor seperti apa yg beredar dikalangan vampir, sampai membuat vampir bangsawan yg arogan sepertinya ketakutan.


Meskipun terlihat ketakutan, ia masih memiliki sedikit semangat bertarung. Ya, sedikit saja. Itu bisa terlihat dari kuda-kuda nya saat menggenggam pedang yg kuberikan sebelumnya. Ia terlihat begitu waspada, seakan melihat monster yg sangat menakutkan.


Hey yg benar saja? Bagaimana bisa kau menatap wanita cantik seperti ku ini layaknya menatap monster?


Aku ingin mengatakan itu, tapi sayangnya ia sudah mulai maju menyerangku. Meskipun terlihat nekat, tapi gerakannya cukup terlatih. Sepertinya, ucapannya tentang pengguna pedang terbaik di Archarke bukan bualan belaka.


Rosalia maju menyerang, tanpa bantuan sihir ataupun teknik Blood Sacrified sedikitpun. Ia maju dengan cepat, hanya mengandalkan kemampuan aslinya. Ia menebaskan pedangnya dengan cepat. Ia lincah, dan juga gesit.


Aku menangkis semua serangannya dengan menggunakan pelindung di gagang pedangku. Rapier memiliki semacam pelindung yg kuat di gagangnya, berfungsi untuk melindungi tangan dari serangan dadakan. Selain untuk melindungi tangan, gagang itu juga bisa dimanfaatkan sebagai perisai kecil untuk menahan serangan musuh.


Yah, dalam kelincahan, pengguna Rapier lebih unggul.


"Hebat. Bahkan tanpa Blood Sacrified kau masih sekuat ini," ucapku.


"Ugh, jangan terus mengejekku!!"


"Padahal aku memujimu lho."


Rosalia semakin meningkatkan kecepatan serangannya. Hal yg sama juga kulakukan. Dengan Disspell Area yg masih aktif, aku tak akan mampu menggunakan sihir. Karena itu, aku masih memiliki batasan secepat apa aku mampu bergerak.


Sepuluh menit berlalu, Rosalia masih belum bisa melukaiku sedikit pun. Nah, sepertinya sudah saatnya serangan balik.


"Selamat, Rosalia. Kau menjadi salah satu dari sedikit orang yg pernah melihat serangan Rapier ku," ucapku.


"Apa maksud—


Sebelum Rosalia mengakhiri kata-katanya, aku sudah maju tepat didepan matanya. Dan dengan Rapier, aku menusuk tubuhnya dengan cepat. Tapi ia menyadarinya dan sesegera mungkin menghindar. Tapi tetap saja, aku berhasil menusuk bagian perutnya. Sedikit meleset karena yg kuincar adalah jantung nya, tapi itu lumayan.


"Hebat. Kau bahkan menjadi orang pertama yg berhasil menghindari seranganku. Kau benar-benar sudah berjuang keras ya," ucapku.


"Kau ... Bagaimana bisa kau tiba-tiba muncul disana?"


"Mudah saja, aku menghilangkan hawa keberadaan ku dan diam-diam maju ketika kau sedang lengah. Itu teknik dasar lho."


Orang yg lengah sering kali melupakan sekitar mereka. Karena itulah, menyerang saat merek sedang berbicara, berpikir, atau keheranan adalah jalan terbaik. Serangan dadakan tak mungkin mengecewakan selama ia tetap menjadi dadakan.


Tak terima dengan itu, Rosalia menjadi semakin waspada. Bahkan saat aku mengajaknya bicara, mengejek nya, atau pun memprovokasi nya, ia sama sekali tak menoleh. Ia benar-benar fokus pada semua gerakanku.


Tapi asal kalian tahu, terlalu fokus itu juga tak baik.


Karena jika kalian terlalu fokus ke satu titik, kalian akan melupakan titik lainnya.


Jika didalam duel, itu memang bagus. Tapi hanya jika duelnya dilaksanakan di tanah luas.


Berkat semua pertarungan kami yg sengit tadi, secara tak sadar ia telah kugiring ke tempat dengan lebih banyak bangunan.


Selama dia terus fokus padaku, aku bisa memanfaatkan bangunan disekitar sebagai jebakan dan mengalahkannya.


Rosalia kembali maju menyerangku. Kekuatan serangannya semakin kuat, tapi kecepatannya sedikit berkurang. Saat ini, ia terlihat seperti seorang pengguna pedang besar. Dengan pedang kualitas tinggi yg kuberikan padanya, pedang itu tak akan hancur karena kekuatan nya.


Itu jadi semakin bagus.


"Kali ini kau menjadi Berserk ya. Kau benar-benar serba guna ya ...."

__ADS_1


Kali ini ia tak menjawab dan terus maju mendesak ku. ia benar-benar telah fokus padaku dan melupakan sekitar.


Serangan-serangan selalu kuhindari. Aku lebih memilih untuk menghindari serangannya daripada menangkisnya. Aku bisa hancur jika mencoba menahannya, dan ini akan lebih bagus jika aku terus membiarkan semua serangannya meleset.


Satu serangannya mengenai tembok dibelakang ku. Hanya dengan satu serangan itu, tembok tersebut hancur. Itu membuat bangunan diatasnya roboh dan jatuh menimpanya. Ia tak sempat menghindar dan akhirnya tertimbun karena serangannya sendiri.


Tapi ia masih belum berakhir.


"Ayolah, kenapa kau bisa jadi seceroboh ini??" Tanyaku.


"Kau ... Kau pasti merencanakan ini kan?"


"Tentu saja. Salahmu karena terlalu fokus."


Ini sudah dua puluh menit berlalu, dan ia masih belum melukai ku. Tapi meskipun begitu, sepertinya tenagaku sudah mendekati batas.


Aku harus segera mengakhiri duel ini sebelum kehabisan tenaga.


"Sepertinya, kau sudah mencapai batasmu ya ...."


Rosalia memecahkan lamunanku, sambil tersenyum lebar. Seakan telah melihat cahaya kemenangan. Aku kaget ia bisa tahu batasanku.


"Ya, siapa yg tahu. Lagipula meskipun aku kehabisan tenaga aku masih bisa mengalahkan mu."


Aku kembali maju menyerangnya. Seperti sebelumnya, aku selalu mengincar bagian jantung nya. Tapi tetap saja aku selalu meleset dan mengenai bagian lain. Seperti yg ia katakan, aku hampir mencapai batas. Sudah lama aku tak bertarung sebebas ini. Sepertinya, semakin lama stamina ku semakin terbatas.


Aku terus menyerang, dan Rosalia yg tak mampu menyerang balik terus menghindar. Itu terus berlanjut selama sepuluh menit. Ini sudah setengah jam sejak duel kami dimulai, aku mulai kehabisan tenaga.


Tanpa sadar, aku melakukan kesalahan. Karena rasa lelah dikakiku, aku kehilangan pijakan dan tersandung. Rosalia menyadari peluang itu dan dengan cepat menebaskan pedangnya. Meski masih bisa menghindar, aku masih terkena sedikit serangannya.


Disspell Area memiliki tiga kekurangan.


Yg kedua, ia sangat rapuh. Sama jika pengguna nya terkena luka ditubuhnya, ia akan lenyap seketika.


Dan serangan Rosalia tadi telah melenyapkan Disspell Area tanpa sadar.


Yg ketiga, setelah menggunakan nya ia tak akan bisa digunakan kembali dalam waktu satu hari. Itu artinya, aku hanya bisa menggunakannya sehari sekali.


Disspell Area lenyap berkat serangan Rosalia. Dengan cepat tenaganya kembali dan Blood Sacrified miliknya segera ia gunakan. Tak ada jeda, ia segera menghujaniku dengan bola-bola darah. Sepertinya, sudah waktunya bagi Hallen untuk membantu.


"Hallen, serang aku dengan sihir terkuatmu," ucapku.


"A-apa yg anda bicarakan?! Jika seperti itu anda juga bisa terbunuh!" Jawabnya menggunakan batu telekomunikasi.


"Aku tak punya banyak waktu untuk menjelaskan nya. Lakukan saja apa yg kukatakan."


"T-tapi—


"Lakukan."


Mendengar uacapanku, Hallen tak punya pilihan lain dan menerimanya.


"Ugh ... Baiklah."


Berkat teknologi ReVoid, kami dapat berkomunikasi dengan mudah. Dan dengan itu pula, aku bisa mengetahui posisi keberadaan Hallen dari kejauhan.


Dengan sisa tenaga yg kumiliki, sebisa mungkin aku mencoba menahan semua serangan Rosalia. Serangan sihir mungkin tak mempan melawan pelindung sihirku. Tapi serangan fisik tak bisa kutahan selamanya.

__ADS_1


Aku terus menahannya, dan terus membuat Rosalia berada di depanku. Sambil menunggu saat yg tepat, aku menggiring nya ke area luas sekali lagi.


"Sepertinya kau sudah kehabisan ide ya, Anti Magic," ucap Rosalia.


"Siapa yg kau panggil Anti Magic? Aku punya nama, kau tahu?"


"Tak peduli apa yg kau katakan, takdir kematian sudah menunggu dihadapanmu."


"Siapa bilang kalau kau mampu menentukan takdir ku? Jangan sombong hanya karena kau punya lebih banyak tenaga."


Suara dari alat telekomunikasi muncul. Itu dari Hallen.


"Aku siap menembak kapanpun," ucapnya.


Seharusnya sudah saatnya mengakhiri semua ini. Dengan tangan kiri ku, aku memberinya aba-aba untuk segera menembak.


Sesaat kemudian, sebuah panah api besar muncul kearah kami. Kecepatannya seperti panah biasa, namun aku bisa merasakan Manna dan hawa panas yg sangat besar darinya. Sepertinya, ini adalah serangan terkuat milik Hallen.


Menyadari panah itu, Rosalia hendak kabur.


"Oh tidak jangan kabur. Kau harus menemaniku disini," ucapku. "Paralyze!"


Sebuah aliran sentrum muncul dari tangan kananku dan membuat Rosalia terdiam kaku. Serangan dariku barusan membuatnya tersentrum dan lumpuh sementara.


Panah besar itu terus melesat, semakin dekat, dan akhirnya menabrak kami berdua.


Gelombang ledakan muncul akibat serangan itu. Kepulan asap muncul menutupi tubuh kami, menghalangi pandangan dari luar.


Tepat sebelum panah tadi mengenaiku, sihir pelindung ku aktif dan menahan semua efek sihir Hallen. Dan diwaktu yg sama, aku menyerap dua pertiga kekuatannya menggunakan sihir Absorb. Yah, bukan hanya suamiku yg mampu menggunakan sihir Absorb. Sebagai penyihir jenius, aku bahkan mampu menguasai ketiga sihir milik Zean Endarker. Meskipun aku lebih menguasai Disspell dari yg lainnya.


Dengan serangan Hallen yg kuserap, energi ku kembali seperti semula. Dan dengan asap akibat serangan tadi, seharusnya Rosalia kehilangan pandangan. Barkat sihir Manna Detection, aku dapat melihat sosok Rosalia dengan jelas.


Dengan ini, aku akan mengakhiri duel ini, meskipun ini tak bisa dianggap duel lagi karena keterlibatan Hallen.


Namun sebelum aku menyerangnya, suara dentuman yg sangat keras terdengar dari sisi lain kota. suara itu membuatku perhatian kami teralihkan. Disaat yg sama, energi Manna gelap yg sangat kuat terasa sampai ketempat kami berada. Tak hanya itu, bahkan ruang sihir Infinity Chamber ikut lenyap.


Jika dilihat, itu muncul dari arah keberadaan Rozalia.


Sebenarnya apa yg sedang terjadi disana?


"Tidak ... Nyonya Rozalia!"


Seakan menyadari sesuatu, Rosalia berteriak dan bergegas berlari kearah ledakan.


"Hey jangan pikir bisa kabur!"


"Blood Sacrified : Rosemary!"


Seketika sulur mawar merah yg terbuat dari darah muncul dari tanah dan mengikat kaki serta tanganku. Meskipun mereka segera hilang setelah Disspell aktif, tapi Rosalia sudah pergi melarikan diri.


"Nyonya Stephanie, dia pergi!" Teriak Hallen.


"Ya, tak perlu dikejar," ucapku. "Sepertinya terjadi sesuatu di tempat Rozalia. Segera hubungi yg lain agar secepatnya kembali ke titik Rozalia."


"B-baiklah!"


Aku menghela nafas. Ini melelahkan. Tapi aku lebih khawatir dengan Kayn dan juga Louise. Sepertinya mereka ada di tempat kejadian. Sebenarnya, makhluk apa yg sedang kami hadapi saat ini?

__ADS_1


"Kuharap mereka baik-baik saja."


__ADS_2