
Pukul 8 malam, didalam ruang sihir tanpa waktu Infinity Chamber. Pertempuran antara ras vampir melawan ReVoid dan Magic Assosiation dimulai.
Kelompokku pergi menuju ke distrik 9 di selatan kota. Daerah itu memiliki banyak bangunan dan gedung-gedung sekolah. Yah, itu karena distrik ini merupakan pusat pendidikan kota Bluelagoon. Sekolah, perpustakaan, serta beberapa lembaga pendidikan lain berserakan di distrik ini.
Aku, Elie dan juga Zero terus berlari menuju distrik 9. Meskipun dibelakang aku tak melihat ada vampir yg mengejar kami, tapi aku dapat merasakan keberadaan serta hawa membunuh mereka yg besar. Tak salah lagi, mereka ada sangat dekat dengan kami.
Kami berhenti di halaman sebuah perguruan tinggi. Kabut malam dan tumpukan salju, ditambah dengan gelapnya area ini membuat kami sedikit kesulitan untuk mengamati keadaan sekitar.
"Mereka sudah disini ya ...." Ucap Zero.
"D-dimana? Aku tak melihat satupun," Elie merespon dengan sedikit rasa takut.
"Sepertinya mereka mampu menyembunyikan sosok mereka dengan sempurna ... Seperti sihir Hide milik Zatrox," ucapku.
"Yeah, dan itu cukup merepotkan."
Kami terus berjalan sambil memasang posisi siaga. Aku mempertajam pendengaran, penglihatan, serta penciumanku. Sementara itu Elie dan Zero mengamati dan bersiap dengan serangan kejutan. Karena lawan kami adalah vampir, serangan kejutan kemungkinan besar akan terjadi. Sebab itu kami harus benar-benar siaga.
"Ho ho, sepertinya kalian sudah menyadari keberadaan kami ...."
Suara seorang gadis menggema di sekitar kami. Meskipun begitu, sosok nya masih belum terlihat.
"M-mereka datang," ucap Elie. "S-seperti yg Zayn bilang, mereka benar-benar tak terlihat. Sama seperti vampir bernama Chase yg waktu itu menyerang kami."
"Chase? Maksudmu Chase Argonaut?"
"Ya, yg itu."
Aku baru dengar itu. Sebelumnya Aoi pernah menceritakan kalau saat itu Chase melarikan diri setelah melihat Kayn membunuh Vience. Ia melarikan diri dengan Blood Sacrified nya. Tapi aku tak bertanya lebih lanjut tentang Blood Sacrified seperti apa yg Chase miliki.
Karena Elie menyinggung namanya, firasat burukku tentang Kayn kembali muncul. Kayn pernah bilang kalau Vience dan Chase memiliki semacam ikatan dan hubungan yg dalam, layaknya sepasang kekasih. Dan saat itu, Chase menyaksikan Vience terbunuh ditangan Kayn dengan mata kepalanya sendiri.
Besar kemungkinan, ia akan muncul untuk membalas dendam pada Kayn karena telah membunuh Vience. Sepertinya, inilah firasat buruk yg kurasakan saat itu.
Aku buru-buru menyambungkan penglihatan ku dengan penglihatan clone milikku. Untuk seseorang yg telah menguasai sihir Clone untuk waktu yg lama, ini bukanlah hal yg sulit. Walaupun sebenarnya ini karena sihir Tranmutation milikku.
Ketik penglihatan ku tersambung, Kayn sudah berjalan mendekati Rozalia. Sepertinya, para vampir bangsawan telah berpencar meninggalkan Rozalia bersama dengan Zuan. Ini saat yg tepat untuk melancarkan serangan dadakan Kayn.
Hanya saja, sesuatu muncul mengganggu nya. Firasat buruk yg kurasakan telah menjadi kenyataan.
"Zero, Kayn dalam masalah!" Ucapku tepat setelah memutuskan sambungan penglihatan ku. Karena aku menyambungkan penglihatan ku dengan clone ditempat yg jauh, penglihatan di tubuh asliku sementara terputus. Karena itu, aku tak tahu apapun tentang apa yg terjadi disini. "Kita harus segera membantu nya atau rencana ini akan gagal."
"Wow tenanglah ... Lagipula kita juga punya beberapa masalah disini," ucap Zero. "Mereka mulai berani menampakkan diri ...."
Tepat setelah mengatakan itu, dari balik kabut malam seorang gadis berambut perak dengan beberapa corak merah muncul. Bersama dengannya, vampir laik juga muncul menampakkan diri.
"Sudah cukup petak umpet nya, Lilia. Aku ingin cepat-cepat menghabisi mereka lalu pulang."
"Buru-buru sekali. Terkadang kau harus sedikit menikmati ini, Natalia."
Sialan, kenapa mereka harus muncul disaat-saat seperti ini. Memang bagus jika mereka mengikuti kami dan muncul dengan percaya diri, tapi jika Kayn kalah disana semua rencana ini akan sia-sia. Sepertinya yg bisa kulakukan saat ini hanya berharap agar ia dapat menang.
"Dua vampir bangsawan ya ...." Gumam Zero.
Tidak, bukan hanya dua. Aku bisa merasakan ada satu lagi aura vampir yg datang mendekati mereka.
"Hey hey, apa kalian tak bisa sedikit lebih pelan? Apa kalian tak peduli denganku ini?"
"Itu salahmu karena jarang olahraga, Elsie."
"Jangan dingin begitu dong Natalia. Olahraga itu melelahkan."
Ternyata itu bukan masalah besar. Karena yg terakhir muncul adalah Elsie Von Austede, salah satu bawahan Zuan yg paling kupercayai. Ia adalah sekutu penting yg akan membantu kami nanti.
Elsie berjalan dengan tergopoh-gopoh menghampiri dua vampir yg datang pertama kali. Dan saat berada di samping mereka, ia mendadak menatapku.
"Ah, kita bertemu lagi ya, Zayn Endarker," ucapnya.
Aku diam menatap nya dengan tajam. Aku tak terbiasa dengan akting seperti ini, karena itu aku lebih memilih beraksi secara natural.
"Kau mengenalnya Elsie?"
"Yah, aku sempat bertarung melawannya saat itu. Meskipun saat itu kami dipaksa mundur."
"Anak itu ... Nampaknya sedikit takut denganmu."
__ADS_1
"Tentu saja. Pada asalnya dia hanyalah manusia. Wajar saja jika manusia takut pada kita, para vampir."
"Tidak, maksud ku ia hanya takut padamu."
Eh? Apa benar mukaku menunjukkan hal seperti itu? Aku tak pernah merasa takut padanya sedikit pun!
Mendengar perkataan mereka berdua, Elsie tersenyum.
"Aaaah, sepertinya ia takut karena saat itu kalah melawanku ...." Ucapnya. "Ya, dia itu lemah jadi wajar saja kalau dia takut."
Meskipun itu hanya akting dan kebohongan belaka, aku tetap merasa sedikit kesal. Dan sama sepertiku, Zero yg sudah tahu semua kebohongan ini juga merasa kesal.
Berbeda dengan kami, Elie yg tak tahu kalau Elsie berada di pihak kami benar-benar merasa kesal tanpa tau kalau itu semua hanya akting.
"Kalau begitu akan kuperkenalkan diriku lagi. Namaku Elsie Von Austede. Salam kenal, manusia."
"Aku Natalia Fuego. Vampir bangsawan terhormat ...." Ucap gadis vampir yg memiliki rambut perak.
"Namaku Lilia Rose, bangsawan terhormat kerajaan Monster Archarke. Senang bertemu dengan kalian ...." dan gadis vampir yg satunya, dengan rambut pirang pendek.
"Apa kalian tak punya sopan santun pertarungan, rakyat jelata?" Tanya Natalia. "Kami sudah memperkenalkan diri. Selanjutnya kalian."
Aku menatap tajam kearah vampir bernama Natalia itu. Tak seperti penampilan nya yg seperti anak kecil berusia 14 tahun, mulut serta kepribadian nya yg sombong itu membuatku semakin kesal.
Sepertinya, kami harus menuruti tata krama pertarungan mereka ini.
"Aku Zayn Endarker, The Monster."
"Zero, The Apocalypse."
"Aku Elizabeth Bathory, The Stalwart."
Perkenalan singkat, hanya sekedar formalitas saja.
"Zayn, Zero, dan Elizabeth ya ...." Ucap Natalia. "Nah, sekarang biar kulihat ... Seberapa lemah kalian semua ini."
Hawa membunuhnya kembali menyeruak keluar. Hanya dengan hawa membunuh yg besar itu, bulu kudukku sedikit berdiri. Dengan segera kami memasang posisi siaga.
Natalia mulai menggunakan Blood Sacrified miliknya. Gumpalan darah muncul dan membentuk sepasang cakar di kedua tangannya. Cakar yg panjang dan besar serta terlihat menyeramkan, dengan warna merah darah yg sangat pekat. Itu membuatnya terlihat layaknya serigala.
"Tranmutation!"
Aku memunculkan tangan serta kaki monsterku dalam wujud kecil. Dalam pertarungan ini, nampaknya kami memerlukan kecepatan serta kelincahan yg tinggi. Itu karena Natalia, ia memiliki kelincahan layaknya serigala liar.
Ia bergerak dengan cepat, mengincarku yg merupakan penyerang jarak dekat. Tangan kosong tak terlalu mempan saat ini, karena itu aku memunculkan sebuah pedang tipis untuk menghadapinya. Menggunakan pedang besar dan panjang hanya akan memperlambat gerakanku. Karena itu, menggunakan pedang tipis adalah pilihan terbaik.
Dilihat dari kekuatan nya saat serangan kami saling beradu, nampaknya ia berada di tingkatan yg jauh diatas Chase, ataupun Quiela. Tapi tak sekuat Kuvra. Kecepatan serta kekuatan serangnya sangat berbahaya. Dan kedua cakar di tangannya itu menambah kesan buas seekor serigala. Ia benar-benar menghilangkan kesan imut saat sedang bertarung.
Ditempat lain, Zero dan Elie sedikit disibukkan oleh Lilia. Blood Sacrified miliknya adalah Rosemary, sulur mawar darah seperti milik Quiela. Itu cukup merepotkan, ditambah lagi kecepatan gerak sulurnya seperti diatas Quiela. Ia lebih cepat, dan lebih kuat. Gerakan Lilia juga sangat lincah. Ia tak hanya menyerang dengan sulur, tali juga dengan sebuah pedang panjang. Tapi dihadapan Zero, kelincahan dan kecepatan seperti ini bukan masalah besar.
Dalam hal kelincahan dan kecepatan serang, Zero adalah yg terhebat diantara kami. Ia dengan mudah mengimbangi Lilia. Gerakan akrobat Zero yg elegan itu ditambah dengan kemampuan nya menggunakan dua buah belati ditangannya benar-benar mematikan.
Sulur-sulur itu dapat dengan mudah dibasmi habis oleh Zero, bahkan sebelum ia sempat memulihkan diri. Semua seranga Lilia juga berhasil ditangkis oleh Zero. Bahkan ia didesak balik. Tak kusangka Zero bahkan dapat mendesak vampir bangswan kelas atas dalam pertempuran satu lawan satu.
Sementara itu, Elie yg menghadapi Elsie tak menemukan kesulitan apapun. Atau lebih tepatnya, tak terlihat seperti sebuah pertempuran disana. Elie hanya mampu menembak beberapa peluru sihir, dan semua serangan itu dapat dihadapi dengan mudah oleh Elsie. Ia tak benar-benar serius, tapi ia berakting seakan-akan sedang bertarung serius. Benar-benar kemampuan akting yg mengerikan.
Aku tak mampu mengimbangi kecepatan Natalia, tapi jika hanya menahannya itu bukan masalah. Sepertinya, hanya Zero yg mampu menyelesaikan semua ini.
Tapi disana, Zero kelihatannya menemui sedikit masalah.
Vampir yg ia hadapi, si Lilia itu memiliki dua Blood Sacrified.
"Blood Sacrified : Invisibilty."
Tubuh Lilia menghilang dengan sempurna. Bahkan sulur-sulur mawar nya juga ikut lenyap. Apa mungkin, kemampuan itu juga dapat membuat rekannya menghilang juga? Tapi, Natalia nampaknya tak menghilang. Itu berarti, ia tak mampu menghilangkan nya jika jaraknya jauh darinya.
Lilia mulai menyarang dari segala penjuru, dan tentunya dengan sosok yg tak terlihat sama sekali. Ia kelihatannya hendak membuat Zero bingung, dan kemudian lengah. Tapi lawannya adalah Zero The Apocalypse. Serangan seperti ini bukan masalah untuknya.
"Huh, sepertinya kau meremehkan ku ya sialan ...." Ucap Zero. Seketika, sebuah lingkaran sihir biru muncul di kedua matanya. "Tyrant Visual."
Mata Zero berubah menjadi biru terang, bersinar layaknya lampu. Setelah mengaktifkan sihir itu, Zero terlihat sangat santai. Ia berjalan dengan santai ke satu tempat. Dan dengan sebuah gerakan yg tak terduga, ia melempar belatinya ke udara. Tak terlihat apa-apa disana. Tapi, aku dapat mendengar suara Lilia di tempat belati itu melesat. Meskipun aku sedikit disibukkan oleh Natalia disini, aku dapat mengetahui nya.
__ADS_1
Setelah melesatkan belati, Zero tiba-tiba berteleportasi ke jalur belati yg ia lempar. Ia dengan sigap menangkap, lalu menebaskannya keudara secara Horizontal. Tepat di tempat yg ia tebas, percikan darah muncul dan sosok Lilia perlahan terungkap. Ia benar-benar ada disana, dan terkena serangan dadakan Zero.
"K-kau!"
Lilia kembali menghilang. Ia mulai menyerangnya secara langsung. Tapi meskipun begitu, semua serangan Lila berhasil Zero tepis dengan sempurna. Seakan Zero melihat semua yg Lilia lakukan. Ketika ia mengarahkan tendangan keudara, tendangan itu mengenai Lilia dengan tepat. Ketika menyerang dengan belatinya, serangan itu mengenainya dengan telak. Ia benar-benar tak punya ampun. Lilia benar didesak habis-habisan. Seakan kemampuan menghilangnya sama sekali tak berguna.
"K-kau ... Bagaimana bisa kau menebak semua serangan ku?! Bagaimana bisa kau mengetahui keberadaan ku?!" Teriak Lilia geram.
"Alasannya sederhana ...." Zero kembali ber-teleport dan menusukkan belatinya ke udara. Belati itu dengan sempurna menusuk jantung Lilia dari belakang, di tempat yg sebelumnya tak ada apapun disana. " ... Alasannya adalah, aku melihat semua yg kau lihat."
"A-apa katamu?!"
"Sihir ku, Tyrant Visual adalah sihir penglihatan yg dapat membuatku dapat menggunakan penglihatan orang lain yg ku tentukan. Dengan kata lain, aku menggunakan matamu untuk membunuhmu. Kau telah dikhianati oleh matamu sendiri, vampir bodoh ...." Jelas Zero.
"M-mustahil ...."
Lilia terbunuh ditangan Zero. Dengan itu, kemarahan Natalia memuncak. Itu dapat terlihat dari pergerakan nya yg semakin ganas. Ia hendak mengejar Zero, tapi aku dengan sigap menghadangnya.
Pertarungan Elie dan Elsie terhenti untuk sesaat setelah Lilia terbunuh. Sepertinya teknik Zero barusan benar-benar menarik perhatian mereka
"Benar-benar kemampuan yg mengerikan ..." Ucap Elie. Ia lantas kembali menoleh kearah Elsie. "sekarang giliran mu, Elsie Von Austede!"
"Wah wah, menakutkan sekali. Tapi maaf, tak ada jatah untukku saat ini. Karena aku disini datang sebagai sekutu kalian, dan bukan musuh."
"Eh?"
Elie telihat bingung. Tapi kemudian ia teringat dengan semua yg kami bahas di rapat sebelumnya.
"Ah! Apa itu berarti kau sekutu kami yg merupakan bawahan vampir bernama Zuan itu?!"
"Tepat sekali, anak yg pintar."
Mendengar kata-kata Elsie, Natalia mendadak berhenti menyerang. Ia kemudian menatap Elsie dengan tatapan yg begitu tajam.
"Kau ... Barusan kau bilang apa Elsie?"
"Hah? Bukankah sudah jelas tadi? Aku adalah sekutu mereka," jawab Elsie.
"Apa itu berarti ... Kau mengkhianati kami?"
"Ya, tentu saja," jawab Elsie. "Tapi tenang saja, aku tak mengkhianati ras Vampir. Aku hanya mengkhianati Rozalia saja."
"K-kenapa ... Kenapa kau melakukan nya?! Apa kau lupa kalau nyonya Rozalia telah menggunakan wewenangnya dan menyuruh kami untuk menyelamatkan mu disaat kau sekarat?!"
"Apa kau pikir kejadian saat itu dapat dibilang penyelamatan?" Kali ini, Elsie yg memberikan tatapan tajam. "Kau pikir mengubahku menjadi vampir disaat kalian membunuh semua keluargaku itu merupakan penyelamatan? Jangan bercanda ...."
Jadi itu yg terjadi, karena alasan ini juga Elsie membenci Rozalia dan pengikutnya. Tapi ia dapat memendam semuanya selama bertahun-tahun. Aku benar-benar salut padanya.
Saat ini, Elsie sedang beradu mulut dengan Natalia. Ini waktu yg tepat untuk mengakhiri pertarungan. Buru-buru aku mengganti semjata ku, bersiap menggunakan sabit besar yg kusimpan di Magic Space, sihir penyimpanan serbaguna.
"Kau ... Kau mengkhianati kami semua?! Kau juga mengkhianati tuan Zuan, orang yg paling percaya padamu?! Dasar rendahan tak tahu diri!!" Teriak Natalia. Ia benar-benar tak tahu apa-apa.
"Huh, sudah kubilang jangan sok tahu dasar bocah. Apa otakmu itu masih bocah seperti penampilan mu? Padahal kau sudah berumur ratusan tahun," Ucap Elsie. "Aku tak melakukan semua ini sendiri kau tahu? Coba kau pikirkan baik-baik, kami ini adalah bawahan Zuan ... Bawahan pasti memiliki sosok yg memimpin mereka ...."
Mendengar kata-kata Elsie, Natalia tersentak seakan menyadari sesuatu.
"Kalian ... Apa jangan-jangan tuan Zuan yg merencanakan semua ini? Apa mungkin ini berarti ia sudah berencana untuk membuat kami semua terpisah dan meninggalkan nyonya Rozalia sendirian bersama dengannya dan lalu membunuhnya?!"
"Sepertinya beberapa bagian dari otakmu bukan anak kecil lagi ya ...."
"K-kalian, benar-benar kurang ajar!"
Natalia melompat, hendak melarikan diri. Tapi bola darah Elsie dengan cepat melesat dan membuat tangan kanan serta kaki Natalia putus. Dengan ini ia tak akan mampu melarikan diri.
"Hal seperti ini tak akan menghalangi ku!!"
Natalia melayang di udara, namun gerakannya begitu lambat. Ini seperti apa yg Ozax lakukan saat itu, melayang diudara tanpa Blood Sacrified. Ini bukan Blood Sacrified, dan aku tak pernah melihat vampir biasa melakukan hal ini. Apa mungkin, ini salah satu kemampuan vampir bangsawan yg tak kami ketahui?
"Pertarungan kita belum selesai!!" Teriakku.
"Menyingkir dariku, manusia!!"
Serangan sabitku masih dapat ia tahan. Sepertinya, ia masih memiliki beberapa kekuatan untuk melawan.
"Indite : Drain life Arrow!"
__ADS_1
Dua buah anak panah berwarna biru muda muncul diatas Elie. Dengan cepat, dua anak panah itu melesat dan menancap di tubuh Natalia. Disaat kedua panah itu tertancap, aku dapat merasakan kalau semua Manna milik Natalia diserap oleh kedua anak panah itu. Seperti sihir Drain life yg Elie gunakan waktu itu, tapi kali ini ia mengubah nya menjadi anak panah menggunakan sihir original nya, Indite.
Disaat ia mulai melemah,aku pun melesat maju dan menghabisinya dengan beberapa tebasan sabit besar. Tebasan itu membuat tubuh Natalia tercabik-cabik, dan kemudian hancur menjadi seperti abu yg terbakar.