Absolute Twin Magician

Absolute Twin Magician
Iblis berwujud manusia ( bagian 3 )


__ADS_3

Kayn diam menatap kedua vampir dihadapannya. Sementara itu, Fiera yg dari awal selalu berada diatas atap turun menghampiri mereka. Kejadian yg barusan kami saksikan sama sekali tak menghilang nafsu membunuh Fiera.


"Apa ini? Dramatis sekali."


Fiera berdiri menatap jijik kedua vampir itu. Tapi berbeda dengan Kayn. Dari ekspresinya, ia terlihat terkejut sekaligus kagum. Bagaimana tidak? Selama ini kami hanya tahu kalau para vampir itu adalah makhluk kejam yg tak berperasaan, seperti halnya para Iblis. Tapi yg kami saksikan saat ini adalah bertentangan dengan apa yg selama ini kami pikirkan.


Vience mengorbankan dirinya agar Chase tak terkena serangan Kayn dan terbunuh. Bahkan saat Chase tak sadarkan diri ia masih kokoh berdiri melindunginya.


"Kau... melindunginya?" Tanya Kayn. "Walaupun kau ini vampir yg haus darah?"


"Kau pikir...aku akan membiarkanmu membunuhnya?"


Vience menjawab dengan lirih, sepertinya ia tengah dalam kondisi sekarat.


Meskipun sekarat, Vience masih berdiri tegak melindungi Chase, meskipun pedang Kayn sudah tertancap menembus dadanya. Kematian didepan matanya, tapi ia tak membiarkan dirinya mati sebelum memastikan kalau Chase aman.


"Aneh sekali, padahal aku tak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya...tapi entah kenapa, rasanya nostalgia...." Gumam Vience. "Rasanya seperti aku pernah melakukan ini ketika aku masih manusia dulu... walaupun aku tak ingat sama sekali."


"Kau... benar-benar melindunginya? Tapi kenapa?" Tanya Kayn. Fiera hanya memandangi mereka dari samping Kayn. "Bukankah kalian...tak punya perasaan?"


"Yah...aku tak tahu apa ini juga bisa disebut dengan perasaan seperti yg kalian para manusia miliki." Suara Vience semakin kecil. "Aku hanya...tak ingin melihatmu membunuh Chase ku, lalu tubuhku bergerak Dengan sendirinya...."


Kayn sedikit tersentak. Aku yg mendengar itu juga terdiam. Apa yg dialami Vience, aku juga pernah mengalaminya. Seperti saat raja iblis merah Orcholenius menyerang Zayn.


Apa mungkin, vampir sekalipun dapat memiliki rasa saling mencintai satu sama lain? Atau itu hanya kenangan masa lalu mereka saat masih manusia?


Tangan Kayn sedikit gemetar. Sepertinya ia jadi agak ragu untuk membunuh Vience. Membunuh makhluk yg memiliki perasaan sedalam ini, sama saja seperti membunuh sesama manusia. Sepertinya itu yg ia pikirkan.


Chase tiba-tiba saja membuka matanya, tapi ia terlihat begitu lemas. Ia tak mampu mengangkat tubuhnya seperti sebelumnya. Dan juga luka-lukanya masih belum pulih. Tapi apa yg ia lihat didepan matanya, membuatnya kaku.


"Vi-vience?"


"Kau...sudah bangun ya...chase?"


Chase terdiam kaku, tubuhnya bergemetar. Ia tak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari muka Vience yg semakin lemah.


"T-tidak...apa...apa yg kau lakukan?!"


"Hanya...membuat sedikit kesalahan, kurasa?" Jawab Vience. Ia menoleh kebelakang, menatap Chase dengan senyum yg sangat dipaksakan.


"Ti...tidak...."


Setelah puas menatap Chase, Vience kembali menatap kearah Kayn.


"Hei...aku sudah melakukan hal yg kejam ke gadis itu...dan juga pemuda dengan tato merah dimatanya, dia saudaramu kan?" Tanya Vience. Kayn tersentak. "Aku sudah melukai dan menghisap darahnya... sepertinya akan lebih baik kalau kau segera mengakhiri nyawa orang yg telah melakukan semua hal itu bukan?"


"Vi-vience? Apa yg kau katakan?!"


Kayn yg sejak tadi diam, mulai menghela nafasnya. Fiera masih dengan hawa membunuhnya, menodongkan senjatanya ke kepala Chase.


"Hentikan itu Vience!!"


"Berisik... sepertinya aku lebih baik membunuhmu dulu."

__ADS_1


"Tunggu dulu Fiera...."


Kayn dengan cepat menghentikan tindakan Fiera. Dan entah kenapa, Fiera dengan mudah menurutinya. Walaupun wajahnya terlihat sangat kesal.


Kayn menatap Vience dan Chase bergantian.


"Sejujurnya, jika aku tahu kalau ini akan terjadi, aku tak akan menggunakan pedang ini...aku mengagumi perasaan kalian berdua. Tapi maaf, ini semua sudah terlambat." Ucap Kayn dengan tatapan lesu. "Ini...adalah akhir buruk yg seharusnya tak kuberikan padamu...."


"Apa maksud—"


Belum selesai kata-kata Vience, ia tiba-tiba saja terdiam. Perlahan sesuatu yg aneh terjadi di tubuh tempat pedang hitam Kayn menancap. Daerah sekitar luka itu menjadi hitam, dan bergerak-gerak seperti air mendidih yg bergejolak hebat. Seketika tubuu Vience membesar seakan ada sesuatu yg hendak keluar dari tiap sisi tubuhnya. Seluruh tubuhnya membengkak, berubah menjadi sangat menjijikkan. Ia berteriak keras menahan rasa sakit. Tubuhnya menggembung. Dan saat sudah berada diambang batas, tubuhnya meledak dan tercerai-berai ke segala arah. Seperti balon yg meletup karena terlalu lama ditiup. Tubuhnya hancur tak berbentuk. Tak ada satu anggota tubuhnya yg bisa dikenali. Ia benar-benar mati dengan mengenaskan.


Chase hanya dapat menyaksikannya dengan mata terbelalak. Tak mampu berbuat apa-apa.


"Seandainya aku tak menggunakan pedang kutukan ini, aku pasti akan memberikanmu kematian yg layak, Vience de Meer...." Ucap Kayn.


Tiba-tiba saja, tubuhku terasa lemas. Gawat, apa aku sudah mencapai batas?


Ruang sihir hancur akibat kekurangan asupan Manna. Aku menggunakan terlalu banyak Manna, ini gawat!


"Invisibilty...."


Wujud Chase yg terbaring lemah itu menghilang tak terlihat. Itu tentunya membuat kami terkejut. Jika ruang sihir sudah hancur, dia bisa kabur dengan mudah! Aah! Aku mengacaukannya!!


"Pendekar pedang muda...aku tak akan pernah melupakan apa yg telah terjadi hari ini...."


Suara itu muncul bergema di sekitar kami.


"Aku akan mundur kali ini...tapi lain kali aku pasti akan menemuimu lagi...."


"...aku pasti akan membalaskan dendam Vience...."


Tepat setelah kata-kata itu, suara tersebut berhenti bermunculan.


"Dia kabur...si Chase itu." Ucap Aoi.


"Yah, dia memakai Blood Sacrified sih. Mustahil bisa mengejarnya sekarang...." Ucap Shiki.


"Ini salah Kayn. Kenapa Fiera tak boleh membunuhnya tadi?!"


"Kau terlalu banyak menggunakan Manna, jangan berlebihan." Jawba Kayn.


"Hanya satu serangan tak akan membuat Fiera pingsan! Jangan remehkan Fiera dong!!"


"Selain itu...." Kayn menoleh kearah kami. "Elie, Shiki, Aoi, bagaimana keadaan Zayn dan Liana?"


"Tidak buruk dan juga tidak baik...." Jawab Shiki. "Sepertinya untuk saat ini kita perlu membawa mereka kembali ke kamp."


"Zayn terkena racun milik Vience. Tapi seharusnya dia masih bisa diselamatkan. Luka di tubuh Liana juga sudah diatasi. Tapi mereka masih perlu beristirahat. Kita harus segera membawa mereka berdua kembali." Lanjut Aoi.


"Begitu ya... Kalau begitu serahkan saja pengawasanya pada kami. Kalian antarkan Zayn dan Liana ke kamp." Ucap Kayn. "Kupercayakan pada kalian...ayo Fiera."


"Bawa pulang Zayn ku dengan aman. Dan jangan curi-curi kesempatan selagi Fiera tak ada, kalian berdua dengar kan?"

__ADS_1


"Mana mungkin kami akan melakukan hal seperti itu!!" Protesku.


"Kalau begitu kami pergi dulu."


Kayn dan Fiera melanjutkan tugas mereka, meninggalkan kami berlima disini.


"Elie, kau bawa Liana. Zayn biar aku saja yg mengangkatnya." Ucap Shiki.


"Baik...."


Kami pun terpaksa kembali ke kamp sementara ReVoid untuk merawat Zayn dan Liana. Dilihat dari luka mereka berdua, seharusnya tak ada masalah serius. Kemampuan pemulihan iblis milik Liana sudah menutup sebagian besar lukanya. Zayn juga sudah diberi penawar. Mereka pasti akan baik-baik saja.


"Kak Shiki, Elie, Liana dan Zayn biarkan aku saja yg merawatnya. Kalian berdua lanjutkan saja tugas kalian." Ucap Aoi.


Aku sedikit kaget.


"Kau tak apa dengan itu?" Tanya Shiki.


"Tak masalah. Lagipula Zayn adalah partnerku. Aku tak bisa bertarung tanpa partnerku." Jawab Aoi.


"Kau hanya ingin menggunakan alasan itu untuk beristirahat kan? Yah, lakukan saja aku tak masalah."


"Eh? Kau yakin?" Tanyaku.


"Ya tinggalkan saja mereka. Lagipula Aoi juga sempat bertarung dengan Vampir itu. Biarkan dia beristirahat."


"Hmm...baiklah." ucapku.


Sebelum pergi, aku menatap wajah Aoi sejenak.ia duduk disamping Zayn, menatap wajahnya dengan muka memerah. Aku punya firasat aneh soal ini.


"Aoi...apa terjadi sesuatu antara kau dan Zayn?" Tanyaku.


"Eh,eh? Apa maksudmu?"


"Yah, soalnya kau terlihat berbeda dari biasanya...."


Aoi diam sebentar, lalu kembali tersenyum.


"Sepertinya kau benar, memang terjadi sesuatu padaku dan Zayn...aku merasa sangat nyaman bersama Zayn...ia begitu mempercayaiku, dan ini pertama kalinya bagiku. Bahkan disaat yg tak menguntungkan sekalipun, ia tetap mempercayaiku. Aku merasa senang bisa satu tim dengan kalian, terutama Zayn...." Ucap Aoi.


Tunggu dulu, dia mau curhat padaku disaat seperti ini? Ditambah lagi topiknya bersangkutan dengan Zayn. Selain itu, gerak-geriknya juga sangat khas. Ia terkadang melirik wajah Zayn, dan tersenyum sendiri. Ini sama seperti saat aku pertama kali diselamatkan oleh zayn. Aku pernah mengalami perasaan seperti ini. T-tunggu dulu, ini tak mungkin kan?! Apa jangan-jangan dia—


"Aoi....boleh aku bertanya sesuatu."


Aku memberanikan diri bertanya.


"Hmm?"


Aoi menanggapi ku dengan muka penasaran.


"Apa jangan-jangan..."


Aku sudah siap mendengar jawabannya.

__ADS_1


".... Kau menyukai Zayn?"


__ADS_2