
Setelah beberapa jam berjalan di kegelapan hutan, akhirnya kami sampai di dinding kota. Karena aku dan Kayn terlalu banyak menggunakan Manna, kami terpaksa harus jalan untuk bisa sampai kesini. Tapi kali ini penjaga pintu gerbang yg menjadi halangan. Kalau saja Liana dan Elie tak bersama kami, mungkin kami akan kesulitan masuk.
Suasana kota sudah sepi. Wajar saja, ini sudah jam sebelas malam. Waktu bagi warga kota untuk tidur. Kami pun bergegas masuk ke kota, menuju rumah Elie. Saat ini kediaman Liana hancur berantakan. Satu-satunya tempat yg bisa ia jadikan tempat bernaung hanyalah kediaman sahabatnya itu. Elie juga setuju dengan hal itu dan segera menuntut kami ke kediamannya.
Jalan menuju rumah cukup panjang. Perlu waktu 10 menit lebih hanya untuk mencari kediaman Bathor.
Kami berhenti di depan rumah. Tapi sebelum itu, Kayn sempat terpaku dengan keindahan kediaman Bathory ini. Ya, Elie memang bangsawan. Kediaman yg saat ini ada di hadapan kami adalah sebuah mansion besar dengan halaman seluas dua hektar lebih. Benar-benar seperti istana. Sebuah kolam air mancur di depan pintu rumah turut melengkapi kesan istana kerajaan.
" Zayn... kira-kira berapa harga keseluruhan rumah ini?..." Tanya Kayn. Ikut terpana dengan rumah Elie yg bak istana itu.
" Mana kutahu... Tanya saja langsung ke pemiliknya kan?" Jawabku.
" Kalian kelihatannya terkejut ya...." ucap Liana. " Baru kali ini melihat rumah Elie? "
Melihat reaksi Liana yg biasa saja, aku menatapnya heran.
" Kau sudah terbiasa ya, Liana..." Ucapku. Liana tertawa kecil.
" Tentu saja, lagipula aku sudah sering mengunjungi rumahnya" jawab Liana.
" Ah... Benar juga.."
Liana tersenyum tipis, kemudian menoleh kearah Elie yg kelihatan sedikit gusar. Ia ragu-ragu untuk masuk. Seperti sedang memikirkan sesuatu.
" Elie, kau harus minta maaf pada ayah dan ibumu" ucapnya. Elie menghela nafas.
" Iya iya aku tahu..." Jawabnya.
" Lagipula, bagaiman bisa kau pergi tanpa izin sih? Apa Zayn yg mengajarkanmu hal tak baik seperti ini?" Tanya Liana lagi, dan itu sedikit menusuk untukku.
" Oi, memangnya untuk apa aku melakukan itu? Lagipula ia melakukannya untuk menyelamatkanmu!" Balasku.
" Walaupun begitu, izin itu penting. Coba kau bayangkan kalau kau pergi tanpa izin, dan tanpa sepengetahuan keluargamu kau terluka atau semacamnya. Kan bisa gawat" jelas Liana.
Lagi-lagi dia menceramahiku soal izin. Benar-benar menyebalkan. Rasanya jadi Dejavu saja....
Setelah menyiapkan hatinya, Elie dan Liana pun masuk. Aku dan juga Kayn dibawa masuk kedalam, menyusul Elie dan Liana yg masuk lebih dulu.
Saat kami masuk, suasana mansion ini masih terasa hidup. Beberapa pelayan mondar-mandir di lorong-lorong rumah. Dan saat kami masuk dan para pelayan melihat Elie sedang bersama kami, sontak mereka berhenti dan menatapnya kaget. Kami jadi gugup. Ada apa ini?
" T-tuan Vermount!!! Nyonya Celica!! Nona muda Elizabeth sudah kembali!!!" Teriak seorang pelayan, diikuti oleh pelayan lain.
Kami diam tak tahu harus berkata apa.
" Elie....apa kau ini buronan?" Tanyaku lirih.
" T-tentu saja tidak!"
" Kalau begitu apa-apaan ini?"
" A-aku juga tak tahu...."
__ADS_1
Para pelayan sibuk meneriakkan nama dua orang itu. Vermount dan Celica, siapa mereka? Sementara itu di sisiku, Elia diam mematung ,heran dengan situasi tak terduga seperti ini.
Seorang pria yg kelihatannya berumur sekitar 38 tahun muncul dari salah satu lorong. Seorang wanita yg seusia dengannya ikut muncul, bersamaan dengan seorang anak laki-laki kecil. Mereka semua kelihatan begitu cemas. Siapa mereka? Keluarga Elie?.
" Elie sayangku, akhirnya kau kembali" ucap pria itu " kemana saja kau malam-malam begini? Hujan-hujanan sendirian?"
" Kami sangat mengkhawatirkan mu sayang, kemana saja kau?" Tanya yg wanita, menghampiri Kami.
Elie masih menunduk, tak berani menatap wajah dua orang itu.
" Ayah, ibu, maaf membuat kalian khawatir. Aku pergi tanpa sepengetahuan kalian berdua...." Ucap Elie. Dari nada bicaranya, kelihatannya ia begitu menyesal. Ya, semua orang pasti begini jika melakukan kesalahan untuk pertama kalinya.
" Tidak apa-apa, yg penting kau tak terluka. Selama kau baik-baik saja itu tak masalah. Tapi jangan ulangi itu lagi " ucap pria itu, mengelus kepala Elie penuh rasa sayang.
" Dan kelihatannya kau memandang tamu, sayang..." Ucap wanita yg datang bersama pria tadi. " Kalau Liana ibu sudah tahu, tapi siapa dua pemuda ini? Apa mereka teman mu?"
Elie mengangguk. Ia pun menoleh kearah kami sambil tersenyum. Moodnya sudah kembali membaik.
" Ayah, ibu, perkenalan, mereka berdua ini teman baikku...yg itu Kayn Endarker, dan itu adik kembarnya, Zayn Endarker" ucap Elie.
Sontak dua bangsawan tadi diam mematung. Aku dan Kayn berusaha untuk tersenyum sesopan mungkin.
" K-kalau...k-kalau keluarga Endarker? I-itu artinya kalian berdua anak dari Zean Endarker?"
Aku dan Kayn mengangguk. Seketika wajah dua orang itu berseri. Mereka menghampiri kami dengan antusias dan menjabat tangan kami.
" Sungguh sebuah kehormatan bisa bertemu keturunan Endarker. Ini sebuah keajaiban " ucap pria itu " namaku Vermount Bathory. Ayah Elizabeth, sekaligus kepala keluarga Bathory"
Ah, begitu rupanya. Jadi orang-orang ini adalah keluarga Elie. Ayah, ibu, dan adik laki-lakinya.
Vermount Bathory, sang ayah. ia adalah seorang pria dengan tubuh tegap dan wajah yg tampan. Tinggi sekitar 180 cm. Rambutnya yg berwarna pirang itu ia panjangkan sebahu dan diikat. Matanya menunjukkan kewibawaannya. Dari sikapnya, ia benar-benar menunjukkan potret seorang kepala keluarga.
Celica Bathory, sang ibu. Ia memiliki tubuh yg indah dan anggun. Wajahnya cantik dan tampak segar seperti wanita berumur 20-an. Rambutnya juga pirang panjang sampai pinggang. Wajahnya terlihat begitu ramah, sifatnya juga lemah lembut. Tingginya sekitar 165 cm. Ia begitu mirip dengan Elie. Atau lebih tepatnya, Elie sangat mirip dengan ibunya. Benar-benar cantik menawan.
Arthur Bathory, sang adik laki-laki. Karena usianya yg masih 9 tahun, ukurang tubuhnya masih begitu mungil. Sekitar 110 cm. Wajahnya masih terlihat imut dan polos. Dan kalau dilihat-lihat, sepertinya ia akan menjadi pemuda yg tampan jika sudah besar nanti. Rambutnya pirang pendek. Kalau dilihat-lihat, ia tampak seperti Vermount muda dengan rambut pendek.
Inilah dia, keluarga bangsawan rambut pirang kota Bluelagoon. Keluarga utama Bathory.
Keluarga Bathory menyambut kedatangan kami dengan sangat baik. Kami seakan menjadi tamu istimewa di kediaman ini. Elie buru-buru membawa Liana ke kamarnya, mengganti bajunya yg berantakan itu. Untungnya badan Elie dan juga Liana tak beda jauh. Mungkin perbedaannya hanya di ukuran dadanya saja. Liana yg memiliki dada yg lebih besar dari Elie pasti sedikit kesulitan. Ibu Elie sempat menanyakan apa yg terjadi pada kami tadi, terutama ketika melihat kondisi Liana. Kami hanya menjawab " ada penjahat menyerang kami ". Dan untunglah, beliau tak menanyakannya lebih dari itu. Ia tak meminta kami menceritakan cerita lengkapnya dan langsung menyuruh Elie membawa Liana ke kamarnya untuk ganti baju.
Sambil menunggu mereka, aku dan Kayn duduk di ruang tamu bersama. Para pelayan datang membawakan hidangan serta secangkir teh hangat untuk kami. Pak Vermount juga ikut duduk menemani kami, bersama dengan si Arthur.
" Maaf karena putri kami merepotkan kalian. Dia memang sedang dalam masa pubertas. Susah diatur" ucap pak Vermount.
"T-tidak juga, justru sebaliknya. Sebenarnya adikku ini yg membuat Elie kerepotan..." Balas Kayn mengusap kasar rambutku. Pak Vermount tertawa kecil.
" Elie ya...rupanya kalian juga cukup akrab sampai memanggilnya dengan nama itu" ucapnya " sejujurnya aku sedikit terkejut tatkala tahu Elie punya teman teman laki-laki. Dia itu pendiam dan pemalu. Jadi kukira dia akan sedikit kesulitan dalam masalah hubungan dengan lawan jenis. Malahan aku takut jika dia sampai tak punya pasangan hidup. Tapi melihat kalian bisa akrab dengannya membuatku sangat senang"
Jauh berbeda dari yg kuketahui. Ia bilang Elie pendiam dan pemalu? Aku hampir tertawa mendengarnya. Ternyata apa yg Liana katakan waktu itu benar. Elie sudah banyak berubah.
" Anu...pak Vermount. Elie bilang kalau keluarga Bathory banyak berhutang budi pada ayah kami. Apa itu benar?" Tanya Kayn " kalau memang begitu, bisa tolong anda ceritakan? Sejujurnya, kami tak tahu banyak tentang ayah. Ia sangat jarang dirumah."
__ADS_1
" Benarkah? Apa kalian juga tak tahu pekerjaannya?"
Kami menggeleng. Ayah memang tak pernah menceritakannya. Ia tak ingin membawa-bawa masalah pekerjaan dalam kehidupan masa kecil kami.
Pak Vermount mengangguk paham dan mulai bercerita.
" Sebenarnya tuan Zean tak sengaja bertemu denganku 12 tahun lalu. Saat itu keadaan keluarga kami sedang terpuruk karena ulah bangsawan lain yg memiliki status diatas kami. Sebenarnya ada banyak bangsawan lain yg dirugikan karenanya, tapi entah mengapa tuan Zean lebih memfokuskan perhatiannya pada kami. Kami juga tahu kalau beliau memiliki kemampuan sihir dan beladiri yg luar biasa. Ia juga sangat cerdas, seperti seorang detektif hebat. Ia juga bilang kalau ia datang dari negeri lain. Pekerjaan yg telah membawanya kesini.."
" Ia terlihat sangat tekun. Ia juga sering keluar masuk kantor pemerintahan. Dan tanpa kami sadari, masalah kami dan bangsawan lain perlahan menghilang. Dan dalam beberapa hari, semua masalah itu menghilang begitu saja. Dampak kejahatan bangsawan itu pun hilang, dan kami kembali ke kehidupan kami yg biasanya. Dan saat itu, tuan Zean yg kebetulan tinggal dikediaman kami pun pamit dengan hormat. Ia tak meminta imbalan apapun. Saat kami memberinya beberapa uang untuk balas Budi, ia menolaknya mentah-mentah. Kupikir itu karena ia merasa berhutang karena telah memberikannya tinggal di kediaman kami. Tapi ia menyanggahnya dan mengatakan kalau ini keinginannya sendiri. Ia bilang kalau pekerjaan kotor yg ia lakukan ini harus tetap ia lakukan, dan ia tak mau mengambil imbalan dari orang lain atas pekerjaan kotornya."
" Tepat setelah ia pergi, sebuah kabar mengejutkan muncul. Kediaman bangsawan yg pernah membuat kami resah itu dipenuhi oleh mayat-mayat makhluk aneh. Sesuatu seperti vampir dan juga iblis. Semua penghuninya lenyap tanpa sisa, dan hanya menyisakan pemandangan mengerikan itu. Setelahnya kami pun sadar, kalau bangsawan yg menghuni tempat itu bukanlah manusia. Mereka adalah vampir dan juga iblis yg menyamar sebagai manusia dan masuk ke pemerintahan. Mereka mengacaukan ekonomi negara ini dari dalam. Pelaku pembantaian itu belum ditemukan. Tapi aku merasa kalau tuan Zean pasti bekerja sama dengan mereka untuk membongkar identitas bangsawan itu.."
Aku dan Kayn terkejut mendengar cerita lengkap dari pak Vermount. Sepertinya aku mulai mengerti pekerjaan apa yg sebenarnya ayah maksud. Pekerjaan kotor yg membuatnya menolak imbalan dari pak Vermount.
Dan kesimpulan yg kudapat dari cerita pak Vermount, sepertinya pekerjaan ayah sama seperti kami. Ia kemungkinan adalah seorang Magic Knight yg bertarung melawan para iblis. Walau begitu, kenapa Oliver tak memberitahu kami?
Ayah menolak imbalan dari pak Oliver karena sebenarnya ia sudah dibayar oleh klien yg memintanya datang. Ayah yg datang kesini karena pekerjaan cukup menjadi bukti. Ia dikirim oleh organisasi untuk menyelesaikan masalah iblis yg muncul di kota ini.
Tapi aku masih belum tahu kenapa ia lebih fokus ke keluarga Bathory. Kurasa hanya ayah yg tahu alasannya. Tebakanku hanya karena ia berhutang budi. Soalnya keluarga Bathory telah memberinya tempat bernaung.
" Apa cerita ini cukup untuk kalian?" Tanya pak Vermount.
" Y-ya, terimakasih banyak atas ceritanya..." Jawab Kayn.
Beberapa menit setelah itu, Elie dan Liana bersama nyonya Celica pun kembali. Mereka berdua sudah mengganti pakaian mereka.
" Maaf membuat kalian menunggu" ucap Liana " b-bagaimana? Apa baju ini cocok untukku?"
" Y-ya...sangat cocok" jawab Kayn sedikit terbata. Liana pun sontak tersenyum mendengar jawaban Kayn.
Elie hanya diam disampingnya, sambil sesekali mencuri pandangan.
" Kau juga cocok memakainya Elie." Aku mencoba memuji.
Dan seketika muka Elie kembali memerah.
" A-aku tak meminta pendapatmu kok" balasnya.
" Tapi wajahmu seakan bertanya padaku."
" Duh, dasar menyebalkan"
Sontak kami pun tertawa menyaksikan tingkah Elie. Elie yg merasa ditertawakan itu pun sedikit protes.
" Nah Kayn, Zayn, bagaimana kondisi keluarga kalian sekarang?" Tanya nyonya Celica
Aku dan Kayn diam mematung.
" Sebenarnya...ayah dan ibu sudah terbunuh 7 tahun yg lalu" ucap Kayn.
" Saat itu kami masih berumur 10 tahun...." Sambungku.
__ADS_1