
"Zayn, bangunlah...."
Suara merdua seorang gadis membangunkanku dari tidur siangku. Sesaat kemudian aku segera membuka mata dan terjaga. Didepanku, Elie sedang menggoyang-goyangkan badanku, menatapku jengkel.
"Hey mau sampai kapan kau tidur? Semuanya sudah pulang lho." Ucapnya.
"Aku tahu kau ini pemalas kalau soal belajar, tapi ini tak seperti kau yg biasanya." Lanjut Liana. "Mulai dari awal masuk kelas sampai akhir pelajaran, kau terus saja tidur. Aku bahkan sampai heran kenapa guru tak menegurmu."
"Apa kau bergadang semalam?" Tanya Elie.
"Ya... begitulah."
"Itu tak baik Zayn, kau harus tidur dengan teratur." Ucap Liana.
"Karena itu aku tidur, tapi kalian malah menggangguku." Balasku.
"Hah? Jadi kau mau kami meninggalkanmu sendirian disini?"
Elie segera menarik lenganku. Sepertinya ia mulai emosi.
"B-baiklah, aku bangun. Jangan menarik-narik tanganku seperti itu." Keluhku.
"Ayo pulang, Kayn sudah di depan tuh." Ucap Liana menunjuk kearah pintu kelas. Benar saja, Kayn sudah menunggu di sana.
Satu-satunya alasan kenapa aku terus tidur adalah karena kejadian malam itu. Tepat setelah kunjungan kami ke markas ReVoid. Shiki yg awalnya membolehkan kami pulang malah berniat menjelaskan tentang misi kami sampai larut. Karena itu aku dan Fiera baru sampai di rumah tengah malam. Dan tentu saja itu membuat Kayn marah besar. Wajar saja, kami pulang sangat larut tanpa memberi kabar. Aku tau dia pasti sangat khawatir. Tapi mau bagaimana lagi, kejadian hari itu benar-benar mendadak.
Aku baru bisa tidur menjelang jam 2 malam. Itu karena Kayn yg terus mendesak kami untuk cerita. Selama sejam lebih, kami dipaksa menjelaskan secara detail apa yg terjadi pada kami. Dan hasilnya, aku benar-benar menghabiskan waktu disekolah dengan tidur panjang. Fiera yg satu kondisi denganku itu malah tidak mau pergi dari ranjang dan terus tidur sepanjang hari. Dia cuek sekali, padahal ini baru hari kedua dia masuk ke sekolah. Dia benar-benar membuat pengalaman awal sekolahnya sangat buruk.
"Aku tahu kalau kau sangat mengantuk karena tadi malam Zayn, tapi setidaknya kau tidak mengeluh seperti tadi saat dibangunkan." Ucap Kayn. "Kasihan Elie dan Liana, padahal mereka sudah susah payah peduli padamu...."
"Berhenti menceramahiku... lagipula ini salahmu yg memaksa kami menjelaskannya panjang lebar." Protesku.
"Memangnya apa yg terjadi sih?" Elie dan Liana mulai terlihat penasaran.
"Bukan masalah besar kok." Jawab Kayn.
Dan saat kami hendak melewati gerbang sekolah, terdengar sebuah suara yg mencegat kami.
"Yo Zayn!"
Suara ini tak salah lagi milik si orang Jepang itu. Segera aku menoleh ke sumber suara. Dibelakang kami, Shiki dan Aoi terlihat berlari kecil menghampiri kami. Tapi, kali ini mereka tak memakai seragam ReVoid. Mereka memakai seragam sekolah ini.
"Ah...kalian ya...." Desahku. "Apa yg kalian lakukan disini?"
"Ya...kami murid baru disekolah ini." Jawab Shiki.
"Tentunya ini agar kami bisa terus mengawasimu...." Ucap Aoi pelan. Walaupun begitu, aku masih bisa mendengarnya meskipun tanpa kemampuan unikku.
__ADS_1
Dan kata-kata itu membuat Elie memegang erat lenganku, menatap tajam ke Aoi.
"Siapa mereka Zayn?" Tanyanya. Dari nadanya, aku tahu kalau sepertinya ia sedikit kesal dengan kata-kata Aoi barusan. "Aku belum pernah melihat gadis ini sebelumnya. Kenapa dia sok akrab begitu denganmu?"
"Kau cemburu Elie?" Goda Liana.
"B-bukan begitu!! Lagipula untuk apa aku cemburu?!"
"Huuh...mereka ini shi—"
T-tunggu dulu, apa mereka masuk ke sekolah ini dengan nama Jepang itu?! Kalau benar kenapa si Osamu tak memberitahu apa-apa padaku?!
"T-tunggu sebentar...sejak kapan kalian masuk ke sekolah ini?" Tanyaku.
"Baru pagi ini sih...."
"Lalu kalian memakai nama aneh kalian itu?"
"Ya, tentu saja." Jawab Shiki santai "lagipula untuk apa menutupinya?"
Hey hey hey, sepertinya ada yg salah disini. Kalau si Otaku itu tahu ada orang Jepang asli yg muncul disini, sudah pasti dia akan heboh sendiri dan memamerkannya padaku, walaupun mereka ini bukan barang. Tapi ini aneh. Sepertinya, mereka sama sekali belum bertemu dengan Osamu.
"Kayn, Elie ,Liana, kalian duluan saja. Aku perlu mengurus sesuatu?"
"Hah? Apa maksudmu?"
"Eeeh?!!!" Shiki dan Aoi berteriak kaget.
Reaksi mereka sesuai perkiraanku. Tak salah lagi, mereka masuk ke sekolah ini tanpa izin. Wajar saja kalau Osamu tak memanggilku bersama mereka.
"Z-zayn? A-apa maksudnya ini??" Tanya Shiki gemetar.
"Kalian bukan murid sekolah ini kan?"
"K-kau...kau mau mengadukan kami?!" Sahut Aoi.
"Bagitulah."
"Dasar pengadu!!"
Shiki dan Aoi segera bergerak, hendak melarikan diri. Tapi tanganku sudah lebih dulu menangkap masing-masing tangan mereka. Cengkraman tanganku ini mustahil bisa dilepaskan dengan mudah oleh mereka.
"Lepaskan!!!"
"Kayn, tolong antar Elie." Ucapku.
"Huh, baiklah...tapi jangan sampai terlambat seperti kemarin ya!"
__ADS_1
"Iya aku tahu."
"Sampai besok Zayn." Ucap Elie dan Liana, mengikuti Kayn, pergi meninggalkanku.
Aku pun segera memberi sorotan mata tajam kearah dua penyusup di tanganku ini.
"Nah, sekarang ikut aku dan jangan melawan, kalian mengerti?" Ucapku "kalau kalian melawan dan membuat murid lain bingung, masalahnya akan semakin rumit."
"Kalau begitu biarkan saja kami pergi!" Ucap Aoi.
"Kami menyesal! Kami menyesal!" Shiki juga ikut-ikutan.
"Huh, kalian seperti anak kecil saja...tenanglah, yg tadi itu cuma bual-bualan ku saja...aku hanya ingin mempertemukan kalian dengan seseorang."
"Seseorang?"
Aku tersenyum lebar. Aku yakin dimata mereka ini bukan senyuman yg hangat
"Tentu saja kepala sekolah."
"Sudah kuduga kau mau mengadukan kami!!" Teriak Aoi lagi.
Aku terus berjalan menyusuri lorong sekolah, menyeret dua orang ini seperti tawanan perang yg akan dijual sebagai budak.mereka terus memberontak. Untungnya, saat ini suasana sekolah sudah mulai sepi. Mungkin hanya ada sekitar dua puluh dari ratusan siswa disini yg masih belum pulang.
Aku terus menyeret mereka, sampai kami berhenti di depan pintu kayu yg bertuliskan "ruang kepala sekolah" di atasnya.
"Zayn, kumohon pertimbangkan sekali lagi." Ucap Shiki memelas.
"Kumohon..." Aoi juga ikutan memelas. Aku jadi sedikit kasihan, padahal aku yg membuat mereka setakut ini.
"Tenanglah, asal hati kalian kuat tak ada masalah." Ucapku.
"Hatiku ini sangat rapuh—"
Aku segera membuka pintu tanpa basa-basi, menghiraukan apa yg hendak dikatakan Shiki dan Aoi.
Didalam, Osamu duduk di meja kerjanya,membaca sebuah buku tebal dengan kaca mata yg menggantung diatas matanya. Ia segera menoleh kearahku ketika menyadari kedatangan kami.
"Oh, Zayn Endarker...apa ada masalah?" Tanyanya dengan nada sopan, masih menjaga peran kepala sekolah yg disegani. Ia pun menyadari sesuatu dan menyipitkan matanya menatap Shiki dan Aoi yg terlihat ketakutan. "Dan juga...siapa dua orang ini?"
"Dua orang asing yg menyusup ke sekolahmu..." Jawabku sambil menutup pintu, menarik mereka masuk dan duduk di sofa.
"Hoooh...."
Sebuah tatapan tajam yg penuh diskriminasi muncul, tertuju pada seseorang.
"Penyusup katamu, Zayn Endarker?"
__ADS_1
"eh?"