
Malam yg begitu sunyi. Cuaca yg begitu dingin. Kegelapan yg begitu mencekam. Dan kesunyian yg begitu meresahkan.
Ditengah itu semua, puluhan orang berseragam berkeliaran tanpa mempedulikan apapun. Memonitor semua yg terjadi di tiap sisi kota Bluelagoon.
Dan itulah yg sedang terjadi pada kami saat ini. Aku, Elie dan Aoi bergerak menuju distrik ke-3 kota Bluelagoon. Sebuah daerah pertokoan dengan bangunan bertingkat di tiap sisi jalan. Di lain tempat, Shiki membawa Kayn, Liana dan Fiera ke distrik ke-6. Itu bisa dibilang berada di arah yg sebaliknya dari tempat kami.
Dan suasana disini cukup mencekam, terkhususnya untukku.
"Kenapa dari kalian berdua harus kau yg bertugas dengan kami...." Gerutu Elie. Sejak tadi dia terus saja mempermasalahkan hal ini.
Elie terlihat benar-benar tak ingin bekerjasama dengan Aoi karena alasan yg tak jelas. Itu bisa kurasakan dari sorot matanya yg selalu menatap tajam kearah Aoi.
"Elie...tidak bisakah kau lebih akrab dengan rekan barumu?" Tegurku.
"Tidak, Gadis yg sok kenal denganmu ini berbahaya...."
"Sudah kubilang itu tak mungkin."
"Huuh...aku tak tahu apa yg membuatmu sebegitunya membenciku, tapi bisakah kau menghentikan sifat kekanak-kanakan itu?" Kali ini Aoi ikut menegurnya. "Ini misi yg berbahaya. Kalau terus seperti ini lebih baik kau pulang saja."
"Enak saja menyuruhku pulang! Memangnya kau pikir siapa aku ini?!"
"Seorang amatir yg hanya memikirkan diri sendiri...."
"B-beraninya kau mengatakan itu!!"
Sial, tak kusangka kepribadiannya mirip dengan Zero. Mulut yg kasar itu benar-benar mengesalkan. Wajar saja kalau Elie sampai marah-marah begini.
Setiap malam, ReVoid selalu melakukan pemeriksaan secara menyeluruh ke tiap sudut kota seperti ini. Biasanya mereka akan membentuk tim dengan 2 orang tiap kelompoknya. Bergerak memonitor kesembilan distrik di kota ini.
Distrik 1 yg merupakan pusat pemerintahan di tempati oleh kelompok pembesar ReVoid. Vestine juga ada disana dengan beberapa kelompok lain. Sedangkan distrik yg lain ditempati oleh setidaknya 10 kelompok yg tersebar di tiap sisi. Itu berarti tiap distrik dijaga oleh setidaknya 20 orang bersenjata.
"Vampir biasa bergerak dalam bayang-bayang. Selalu perhatikan sisi yg gelap." Ucap Aoi.
"Kami tahu itu!"
"Omong-omong Aoi, apa kau bisa mendeteksi hawa keberadaan mereka?" Tanyaku.
"T-tentu saja aku bisa. Itu hal yg mudah untuk veteran sepertiku." Jawab Aoi sedikit tergagap.
"Aku masih mengamatimu...kenapa kau tergagap tadi hah?!" Teriak Elie.
"Berisik, apa kau tidak bisa diam sebentar saja dasar bangsawan cerewet."
"C-cerewet?!"
"Yah kalau kau memang bisa melakukan itu cukup melegakan. Aku kurang terbiasa kalau soal mendeteksi musuh asing...." Ucapku. Aoi hanya diam tak menjawab.
"Yah kalau dia tak bisa melakukannya dia akan jadi tidak berguna."
"Apa bedanya denganmu Elie. Sudah diam saja dan terus waspada." Tegurku. "Oh ya Aoi, mengingat ini tugas berkelompok, bagaimana cara kalian saling memberi kabar satu sama lain?"
Seakan teringat dengan sesuatu, Aoi terswntak dan diam. Ia kemudian mengeluarkan sesuatu dari tas pinggangnya.
"Benar juga, untung kau mengingatkanku." Ucapnya dan kemudian melemparkan sesuatu kepada kami berdua. Itu adalah benda kecil seperti sebuah anting dengan kristal berwarna ungu di tengahnya. "pakailah, Itu alat komunikasi yg menggunakan Manna sebagai pemicunya. Konsepnya sama seperti Earphone Mic."
"Erpon mik?" Tanya Elie heran.
"Ah, maaf itu alat komunikasi dari duniaku." Ucap Aoi.
"Huh, berhentilah mengatakan sesuatu yg tak ada didunia ini. Kau pikir kami bisa mengerti itu?" Keluh Elie. "selain itu, memangnya kau dari dunia mana?"
"kau tak tahu kalau aku dan kakakku berasal dari dunia lain?" tanya Aoi heran.
"eh?! yg benar?! tak ada yg memberitahuku!" teriak Elie kaget. ia kemudian kembali bersikap sok tenang. "yah, lagipula tak ada gunanya aku mengetahui itu...."
"Bagaimana cara menggunakannya?" Tanyaku.
"Mudah saja. Kalau kalian bisa menggunakan sihir pasti akan mudah." Jawabnya "kalian hanya tinggal memikirkan target yg akan menerima sinyal kalian, dan setelah itu mulailah berbicara seakan orang itu ada didepan kalian."
__ADS_1
"Hmmm...apa benar sesimpel itu?" Tanya Elie.
"Tentu saja orang yg menjadi target kalian harus memiliki alat ini dan memakainya. Selain itu benda ini juga punya jarak jangkauan yg terbatas." Jelas Aoi lagi
"Seberapa jauh?" Tanyaku.
"Hmm... Kalau saat ini kalian hanya bisa menghubungi orang yg berada dalam kota ini saja. Di kira-kira jaraknya sejauh itu."
Begitu ya, itu lumayan luas. Ini benda yg benar-benar dibutuhkan pada situasi ini. Aku akan mencobanya.
"Hei, kau bisa mendengarku?"
Aku berbicara dengan suara sekecil mungkin. Alat ini sudah terhubung, seharusnya kata-kataku sudah tersampaikan.
"Eh, siapa? Ini kau Zayn?"
Suara yg terdengar samar-samar muncul dari kristal ungu yg kini bersinar redup itu. Suaranya terdengar seperti sambungan Walkie-Talkie.
"Maaf, aku hanya mencoba benda ini saja Kayn." Jawabku. "Akan kuputus sekarang."
"Huh, mengganggu saja...."
Sambungan terputus, warna ungu di kristal yg tadi menyala itu padam, tanda kalau tak ada sambungan Manna yg mengalir.
"Bagaimana, apa bekerja?" Tanya Aoi.
"Ya, benar-benar bekerja." Jawabku.
"Eh? Yg benar? Benda sekecil ini bisa bekerja dengan cara sesimpel itu?" Tanya Elie tak percaya.
"Kalau tak percaya coba saja sendiri." Jawab Aoi. Elie mendengus kesal.
Tapi sebelum Elie mencoba alat itu, aku tiba-tiba merasakan sesuatu. Sebuah suara yg cukup sama terdengar di telingaku.
Ini bukan seperti sambungan Walkie-Talkie. Suara ini juga bukan suara petugas ReVoid. Ini suara makhluk yg berbeda. Dan ia berada didekat kami.
"Aoi, kau merasakan sesuatu?" Tanyaku. Aoi langsung terdiam.
"Diam dulu Elie. Sepertinya ada sesuatu di lorong itu." Ucapku menoleh ke sebuah lorong sempit yg begitu gelap.
Aoi yg tadi diam mulai bereaksi.
"Mereka disini." Ucapnya.
"Mereka?"
"Vampir."
Tubuhku sesegera mungkin bergerak masuk kedalam lorong gelap itu. Kegelapan seperti ini bukanlah masalah didepan penglihatan malamku. Aku terus maju menerobos kegelapan tersebut.
"Zayn!!" Teriak Elie.
"Apa yg kau lakukan Zayn?! Jangan gegabah!!" Teriak Aoi juga.
Mereka berdua segera mengejar ku. Aku juga tak menurunkan kecepatanku. Entah kenapa rasanya aku jadi sedikit bersemangat. Vampir yg akan kutemui ini bisa menjadi korban pertamaku di debut pembasmian vampirku ini.
Di tengah-tengah kegelapan lorong, sosok mereka ditemukan. Ada dua orang memakai jubah panjang berwarna kehitaman disana. Saat mereka menyadariku dan menoleh, cahay bulan terpantul dari kedua mata mereka. Membuat mata merah mereka bersinar terang. Tak salah lagi, itu vampir.
"Ketemu kalian!!"
Aku memunculkan tangan monsterku. Aku juga meningkatkan kecepatanku dengan sihir. Dengan satu gerakan horizontal, aku menerobos maju menyerang mereka.
Seperti yg kuperkirakan, mereka menghindar dengan sangat cepat. Satu dari mereka muncul dibelakangku dan yg satu lagi menghadang didepan. Ini tepat seperti yg kurencanakan.
Sayap kerasku muncul dari bahuku ketika dua Vampir dibelakangku melompat menyerang. Sayapku muncul dengan cepat, membentuk duri besar yg menusuk kearah mereka berdua. Satu vampir berhasil tertusuk di bagian dadanya. Itu serangan yg fatal.
Vampir yg menghadangku didepan mulai bergerak mengangkat tangannya. Apa dia berniat menyerangku dengan tangan kosong.
"Kau percaya diri sekali—
__ADS_1
Sebuah tebasan tangan horizontal menebas sayapku. Hanya dengan satu serangan itu saja, sayapku hancur terpotong. Aku sempat kaget. Dia benar-benar menghancurkan sayap kerasku ini hanya dengan satu serangan? Dan lagi dengan tangan kosong?! Ini tak masuk akal.
"Sepertinya kau yg percaya diri bocah...."
Walaupun ia berhasil membebaskan temannya dari sayapku, Vampir yg tadi tertusuk itu sudah tak terselamatkan. Sayapku sudah mengenai bagian vitalnya.
"Sial...."gumamku.
Satu serangan lagi datang, kali ini ia mengincar bagian leherku. Dengan hati-hati, aku berusah menangkisnya dengan tanganku. Tapi perlahan serangannya mengikis kulit kerasku. Dia terus bergerak dan menyerang. Aku tak bisa mengikuti kecepatannya dan tak mendapatkan celah untuk menyerang balik. Pertahananku juga mulai sampai batasnya.
Dan tanpa kusadari, ia kembali muncul dihadapanku dengan tangan terangkat keatas. Aku tak sempat membuat persiapan. Ia berniat mengakhiri dengan serangan vertikal.
"Zayn menunduk!!"
Aku segera menunduk, dan seketika itu sebuah peluru muncul melesat mengenai tangan kanan vampir tersebut. Serangan itu membuatnya waspada dan mudur menjauh.
Sebuah lingkaran sihir muncul diudara, menembakkan sebuah sinar kuning kearahnya. Dan saat vampir itu menangkisnya, sinar itu meledak dan menyebar ke seluruh tubuhnya. Membuatnya diam tak bergeming.
Aoi dan Elie segera muncul membantuku. Sepertinya serangan sihir itu milik Elie.
Serangan terakhir dilancarkan oleh Aoi dengan santai, dan tepat menembus kepala dan dada vampir yg tak bisa bergerak itu. Ia kemudian mulai hancur seperti abu yg terbakar. Sama seperti vampir yg sebelumnya tertusuk di sayapku.
Pertarungan ini berakhir dengan cepat.
"Apa yg kau lakukan Zayn?! Bisa-bisanya kau menerobos maju seperti itu dan meninggalkan tim!!" Teriak Aoi. Ia sangat marah sekarang.
"Untuk saat ini aku sependapat dengannya, kau benar-benar ceroboh Zayn!!" Elie juga ikut-ikutan. "Kalau misalnya lawannya lebih kuat bagaimana jadinya?! Kalau aku terlambat sedikit saja kau mungkin bisa terbunuh! Apa kau tak memikirkan perasaanku Zayn?!"
"Kalian ini emosional sekali, yang penting aku masih hidup dan vampir itu berhasil dibunuh. Ini pencapaian yg sempurna di debut pertamaku." Jawabku santai.
"Jangan bercanda disaat seperti ini!! Sudah kubilang kan? Jangan pernah remehkan mereka! Walaupun kau kuat bertarung sendirian dan meninggalkan rekan dibelakang itu bukan hal yg benar!!" Teriak Aoi lagi. Sepertinya emosinya benar-benar memuncak. "Kalau kau pikir bisa mengalahkan mereka sendirian, kau bisa mati dalam sekejap. Percayalah sedikit pada rekan setimmu!!"
"Itu benar, Zayn bodoh!!" Teriak Elie juga. "Pikirkan perasaan teman setim mu Zayn!!"
Aku diam, tak bisa menjawab kata-kata mereka. Mungkin itu memang benar, tapi aku melakukan ini bukan berarti aku tak percaya pada mereka.
"Apa yg kalian katakan? Sejak awal aku sudah percaya kalau kalian akan datang membantu. Aku ini bukan orang yg merasa bisa melakukan segalanya sendirian." Jawabku. "Kalau aku yg dulu, itu mungkin saja terjadi. Tapi aku yg sekarang sangat mempercayai kalian."
"Apa...maksudmu?" Tanya Aoi. Dari ekspresinya, walaupun dia terlihat kesal aku tahu persisi kalau ia juga mengkhawatirkanku seperti yg Elie lakukan.
"Tugasku sebagai penyerang jarak dekat adalah memastikan kalau rekanku dapat bekerja semaksimal mungkin. Karena itu aku maju duluan dan mengamankan area agar kalian bisa leluasa membantuku." Ucapku. "Aoi dengan serangan reflek yg cepat bisa membantuku disaat genting, dan Elie bisa membantu serangan ku dengan sihirnya. Kalau saja aku tak maju duluan menghabisi satu dari mereka, kita pasti akan kesulitan. Menurutku, yg kulakukan ini adalah cara terbaik."
Aoi dan Elie terdiam Mendengar pernyataanku. Aku juga diam, beristirahat setelah menjelaskan panjang lebar. Sementara itu, tanpa kusadari Aoi terlihat sangat bersalah.
"Jadi begitu...itu berarti aku yg tak percaya pada rekan setim ku...."
"Hey, Aku tak mengatakan itu. Aku juga sebenarnya salah karena tak mengatakan rencanaku pada kalian." Balasku.
"Itu tidak—
"Kita sama-sama salah. Kau salah karena tak percaya pada Zayn. Zayn salah karena bertindak tanpa penjelasan. Dan aku juga salah karena tak menyadari niat Zayn, padahal diantara kita aku yg paling memahaminya...." Elie mengajukan pendapatnya. Tak kusangka Elie bisa mengatakan hal seperti ini.
Setelah mengatakan itu, Elie menghel nafas, menatap Aoi yg masih terlihat sedih.
"Tadinya kupikir kau ini gadis agresif yg berbahaya. Tapi ternyata kau ini hanyalah gadis biasa yg lemah yg takut berbuat salah...." Ucapnya.
"A-apa yg barusan ku katakan?! Aku tak—
"Kita sama-sama lemah, jadi sudah wajar kalau saling memanggil seperti itu kan?"
Ini pertama kalinya aku melihat Elie tersenyum ramah ke Aoi. Itu cukup membuatku dan juga Aoi terkejut.
"Walaupun lemah kau masih ingin menjadi kuat. Sepertinya aku bisa mempercayaimu." Ucap Elie. "Maaf karena sudah berbuat tak sopan padamu. Mulai saat ini mohon bimbingannya, Aoi Mikoto...."
Aoi tersentak, kemudian tersenyum hangat.
"Seharusnya kau mengatakan itu dari awal, Elizabeth Bathory. Tidak, Elie."
Dan ini juga pertama kalinya Aoi memanggil Elie dengan panggilan itu.
__ADS_1
Sepertinya kejadian ini cukup memberikan kesan kepada mereka berdua. Aku juga mendapatkan pandangan baru mengenai kekuatan para vampir. Dengan begitu aku bisa mengintropeksi diri. Karana aku bisa menjadi lebih kuat dengan kekalahan. Pengalaman adalah guru terbaik.
Setalah itu kami melanjutkan patroli dengan damai. Ditempat lain, beberapa vampir juga muncul ditengah kota. Walaupun begitu, para penjaga gerbang dan dinding sama sekali tak menemukan pendatang ataupun sesuatu yg melewati gerbang maupun dinding. Itu membuatku risih dan berpikir keras. Sebenarnya bagaimana cara para vampir masuk kedalam kota?