
Di pagi hari, seperti biasanya kami semua berangkat ke sekolah bersama. Namun kali ini Kayn yg selalu membangunkan kami berdua terlihat lebih bersemangat dari biasanya. Ia bahkan membangunkan kami lebih pagi dari hari-hari sebelumnya. Sesemangat itukah kau hanya untuk mengajak Liana kencan, Kayn? Sampai-sampai melibatkan ku dalam keinginan egoismu dan membuatku bangun lebih awal?
Yah, seperti yg Fiera katakan kemarin malam, ia akan membantu Kayn mengajak Liana kencan dengan syarat aku dan Fiera harus berkencan. Awalnya aku menolak, tapi karena ia terus menerus memintaku, aku jadi tak punya pilihan selain mengikuti keinginannya. Kuharap tak ada kejadian yg diluar dugaan. Kalaupun Elie sampai mengetahui ini, kuharap dia bisa mengerti kondisi ku saat ini. Tapi sepertinya jika itu terjadi, aku benar-benar harus menjelaskannya semuanya dari awal.
Tapi tunggu dulu, jika aku memberitahu nya lebih awal apa mungkin kencan dengan Fiera ini akan berantakan? Kalau memang begitu, sepertinya memberitahu Elie adalah ide yg bagus.
Datang beberapa menit lebih awal, tak ada yg bisa kami lakukan sebelum masuk ke kelas kecuali ikut membersihkan kelas di pagi hari. Sembari membersihkan kelas, Kayn dan Fiera berunding memberitahu rencananya.
"Pertama-tama, Fiera akan membuat kak Kayn dan Liana saling berpapasan, lalu kak Kayn harus menyapanya seperti biasa. Ingat, secara normal," jelas Fiera.
Sekarang ia terlihat sedikit lebih bijak ketimbang biasanya. Seakan-akan Fiera adalah mentor Kayn dalam urusan percintaan.
"Fiera akan membantu kak Kayn membuat Liana menghampiri kakak, setelah itu semuanya tergantung kepada kemampuan kak Kayn sendiri. Fiera cuma bisa membantu dengan isyarat dan arahan saja."
Eh, kalau begitu bukankah percuma meminta tolong padanya? Jika itu semua bergantung pada kemampuan Kayn, kalau begitu dari awal kau tak perlu ikut campur kan?!
Menyadari tatapan ku, Fiera tiba-tiba tersenyum sinis. Apa-apaan itu?! sudah kuduga dia menjebakku!
"Hey Fiera! Kalau begitu percuma saja meminta bantuan darimu kan?!" Tegurku.
Fiera hanya tersenyum seperti sebelumnya.
"Kesepakatan tetaplah kesepakatan."
"K-kau ...."
Benar-benar wanita yg licik.
Awas saja kau Fiera, kencan yg kau inginkan tak akan berjalan seperti keinginan mu. Aku pasti akan mengacaukannya.
Beberapa menit setelah kami tiba, gerombolan murid mulai berdatangan. Tinggal beberapa menit lagi sebelum pelajaran dimulai, semuanya sudah bersiap di meja masing-masing. Elie, Liana dan Aoi sudah datang, dan Kayn juga sudah pergi ke kelasnya. Dan seperti biasa, kami duduk di meja deretan paling belakang, kecuali Fiera yg entah kenapa lebih suka duduk di kursi deretan terdepan.
Dan akhirnya pelajaran kami di hari yg melelahkan ini kembali dimulai.
"Ada apa, Zayn? kau kelihatan lesu," tanya Elie yg seperti biasa duduk disampingku.
"Apa terjadi sesuatu dengan kalian tadi malam?" Tanya Aoi. "kalau tak salah Fiera tinggal serumah dengan kalian kan?"
"Eh?! Yg benar?! Kenapa aku baru tahu itu?!" Elie terkejut dengan sangat histeris.
"Tidak, justru malah aneh kalau kau baru tahu. Bukankah sejak awal dia memang sudah menumpang di rumahku?" Balasku.
"Ya ... Kupikir saat itu dia hanya tinggal sementara. Tak kusangka sampai sekarang dia masih tinggal disana. Tak bisa kubiarkan."
"Aku awalnya juga berpikir begitu ...." Ucapku.
"Lalu, apa terjadi sesuatu? Sampai-sampai membuat Zayn yg selalu lesu ini menjadi semakin lesu lagi hari ini."
"Kata-kata mu tajam juga ya, Liana," keluhku. Aku menghela nafas berat. "yah ... Begitulah."
"Begitulah apanya? Apa kalian melakukan sesuatu malam-malam???"
"Apa yg sebenarnya kau pikirkan, Elie? Kau tahu kan kalau aku selalu berusaha untuk menghindar darinya?" Tanyaku.
"Sekali lihat kami juga tahu tentang itu ... Semua orang juga tahu kalau kau sangat dingin padanya, Zayn," ucap Aoi. "Itu sudah jadi bahan gosip anak satu kelas ini lho."
__ADS_1
Ugh, lagi-lagi rumor tentangku kembali muncul.
"Ini tak ada hubungannya dengan kalian. Kalaupun ada, aku pasti akan memberitahu kalian nanti," jawabku.
"Sudah kuduga, pasti terjadi sesuatu ...." Gumam Elie.
Sudah kubilang, apa yg sebenarnya kau pikirkan, Elie? Kuharap kau tak memikirkan hal aneh padaku.
Pelajaran yg membosankan ini berlaku begitu saja. Sekitar dua jam setelah pelajaran dimulai, akhirnya waktu istirahat tiba. Dan disaat inilah, rencana Kayn dan Fiera dimulai. Seperti yg dikatakan Fiera, ia berhasil membuat Liana pergi keluar kelas dan menghampiri Kayn. Disana mereka berua melakukan percakapan seperti biasa. Dan pada akhirnya, itu ditutup dengan ajakn Kayn untuk berkencan. Seperti yg kuduga, peran Fiera hanya sebatas membuat mereka bicara. Benar-benar tak berguna.
Beberapa saat setelah mereka berbicara, percakapan itu pun diakhiri dengan sorakan bahagia Liana yg entah bagaimana membuatku ikut malu. Ia tanpa sadar berteriak kegirangan ketika Kayn tiba-tiba mengajaknya kencan. Aku tahu itu memang mengejutkan, tapi kau tak perlu berteriak seperti itu kan? suaranya sampai didengar orang satu kelas. Untung saja ini masih di jam istirahat, yg berarti banyak murid yg pergi meninggalkan kelas.
Sepertinya, rencana mereka benar-benar berjalan lancar.
"Zayn ... Apa kau ada waktu sebentar?"
Elie tiba-tiba menarik lengan bajuku, mengisyaratkan kalau aku harus mendengarkan apa yg ingin ia katakan. Ugh, firasatku mulai aneh.
"A-ada apa? Tak seperti biasanya kau memintaku mendengarkanmu," jawabku.
"Yah ... Bukan masalah penting. Kau tahu kan, rencanaku mengajakmu menginap di rumahku kemarin kacau. Karena itu aku berpikir keras untuk menemukan cara lain. Dan pada akhirnya, aku berhenti di satu kesimpulan," jelas Elie. "Seperti dulu ... Sewaktu kita belum kenal dekat. Apa kau mau menemaniku jalan-jalan diakhir pekan seperti dulu?"
"I-itu terdengar seperti kencan saja ...."
"ini memang kencan kok."
Ini buruk. Sangat buruk. Sepertinya aku benar-benar harus memberitahu Elie tentang persyaratan Fiera. Sebelum akhirnya aku menyesal seumur hidup.
"Ugh ... Elie, soal apa yg terjadi semalam, sepertinya aku benar-benar harus menceritakannya padamu."
"Eh? Tentang semalam?"
"Jadi begini ...."
Dan akhirnya, aku memberitahu Elie semua yg terjadi malam itu. Tentang rencana Fiera untuk membuat Kayn dan Liana berkencan, dan tentunya tentang persyaratan yg diberikan Fiera pada kami. Aku memberitahukan semuanya sedetail mungkin. Dan Elie mendengarkan sambil memasang muka geram.
"Si-si cebol itu benar-benar membuatku kesal ...." Ucapnya. "Bagaimana bisa dia melibatkan mu dengan urusan orang lain?!"
"Aku mencoba menolaknya, kau tahu?tapi Kayn terus memohon padaku. Kalau sudah sampai seperti itu, bagaimana mungkin aku bisa kabur."
"Itu hanya keputusan sepihak, kau bisa mengabaikan nya, Zayn."
"Begini-begini aku juga punya harga diri, Elie. Aku tak mungkin mengabaikan persyaratan yg sudah diputuskan itu. Dimana harga diriku sebagai seorang pria nantinya."
"T-tapi, bagaimana dengan ajakan ku tadi?? Apa kau lebih memilih kencan dengan Fiera daripada ku??" Desak Elie.
"Tentu saja tidak. Tapi karena itulah aku memberitahu mu," ucapku. "Menurut mu setelah mendengar ini, apa yg akan kau lakukan? Apa kau akan diam saja sedangkan aku berkencan dengan Fiera?"
"Tentu saja aku tak akan membiarkan nya! Mana mungkin aku membiarkan mu berkencan dengan anak itu!"
"Aku tak bisa membatalkan kencan itu, tapi kau bisa mengacaukan nya, Elie."
"Eh?"
Dan saat itu, Elie langsung menyadari maksud perkataan ku. Ia langsung diam dan duduk tenang, seakan sedang berpikir keras.
__ADS_1
"Kapan dan dimana kalian akan berkencan?"
"Akhir pekan, mulai jam 8 pagi. Dan sepertinya ... Di alun-alun kota."
"Hmmmmm, akan kuingat."
Tak kusangka ia sampai mencatat nya dalam diari miliknya. Dan setelah menanyakan itu, ia diam tak bertanya apa-apa lagi. Kupikir itu aneh untuknya, tapi aku bergantung padamu, Elie.
Tapi tetap saja, ini membuatku kehidupan semangat hidup. Sampai-sampai membuat ku gagal kencan dengan Elie, kalian harus menerima balasannya, Kayn, Fiera.
Jam istirahat berlangsung dengan penuh ketegangan. Dan sebelum berakhirnya jam istirahat, aku beranjak keluar dan melihat bagaimana perkembangan keadaan Kayn dan Fiera.
Saat keluar kelas, aku hanya bertemu dengan Kayn yg diam termenung di depan teras kelasnya. Tak ada Liana di dekatnya, dan juga tak ada Fiera. Akupun bergegas menghampirinya.
"Apa kau masih shock, Kayn?" Tanyaku menghampiri. Seketika kesadaran Kayn kembali padanya.
"A-ah Zayn. Kau pasti tak percaya ini, tapi aku, kakakmu ini berhasil mengajak kencan seorang gadis untuk pertama kalinya! Dan orang itu adalah Liana!"
"Yah kau tak perlu sebahagia itu kan. Sebaiknya kau harus berterimakasih padaku, karena sudah mau mengorbankan diriku ini demi rencana bodoh yg tak ada gunanya ini," ucapku sinis.
"Mengorbankan? Apa maksudmu? Lagipula kenapa kau terlihat sangat lesu begitu?"
"Selagi kau bersenang-senang dalam khayalan mu tadi, aku secara terpaksa dan berat hati menolak ajakan kencan dari Elie," jawabku. Kayn diam mematung. Sepertinya, dia tahu kalau itu kejadian terburuk yg pernah aku alami. "Padahal aku sangat menantikannya, kau tahu?"
"Maafkan kakakmu yg penuh dosa ini, Zayn."
Sekarang dia akhirnya menyadari dosanya, benar-benar memuakkan. Sisanya tinggal memberi si Fiera itu pelajaran.
"Wah wah, sepertinya ada yg sedang berbahagia disini."
Suara sok akrab yg lain, itu pasti Shiki.
"Ah Shiki ya ...." Balasku. Dan seketika dia menarik kembali kata-kata nya barusan ketika melihat reaksiku.
"A-ah ... Sepertinya aku salah ya ... Apa yg terjadi, Zayn? Sampai-sampai membuat wajahmu seperti mayat hidup begitu?" Tanya Shiki.
"Apa aku perlu memberitahumu? Lagipula, apa wajahku memang seburuk itu?"
"Yah, kurang lebih seperti itu," jawab Shiki.
Aku mengusap wajahku, agar tak ada lagi orang yg salah sangka. Disaat yg sama, Shiki menghampiri Kayn dan berbisik padanya, menanyakan apa yg terjadi padaku. Tapi Kayn yg bisa membaca suasana enggan memberitahu nya.
"E-eh, apa yg sebenarnya terjadi?? Apa mungkin Aoi mengganggumu lagi?" Tanya Shiki.
"Kenapa bisa sampai ke Aoi?" Tanyaku.
"Yah, kau tahu, dia sepertinya sangat tertarik padamu."
Mana mungkin aku tahu tentang hal itu, bodoh. Aku bukan orang yg peka sampai-sampai bisa mengetahui apa yg sedang dirasakan seorang gadis. Lagipula aku sama sekali tak terbiasa berurusan dengan gadis asing, tak seperti mu yg playboy ini.
"Yah ... Kalau dipikir-pikir, Aoi juga sedikit membuat ku kerepotan. Sifatnya yg penasaran itu selalu menggangguku. Belum lagi ia terlihat cari-cari perhatian dengan ku," jawabku.
"Sial, aku iri denganmu yg bisa sedekat itu dengan gadis seimut Aoi ...." Gumam Shiki.
"Untuk hal ini, aku setuju denganmu, Shiki." Dan entah kenapa Kayn juga ikut-ikutan.
__ADS_1
"Huh, terserah apa yg kalian pikirkan."
Jam istirahat berakhir, dan kami pun kembali ke kelas masing-masing untuk melanjutkan pelajaran. Aku pun kembali ke kelas dengan hati yg sangat berat, menanti hal buruk apa lagi yg akan terjadi padaku.