
Seiyen meraung keras bagaikan hewan buas yg kesakitan. Sambil mengusap-usap matanya, ia berjalan sempoyongan. Tak dapat melihat, dan panik. Seiyen benar-benar lengah saat ini.
Melihat kesempatan emas seperti ini, aku maju dengan belati di tanganku. Dengan satu serangan lurus, aku menusuk tubuh Seiyen dengan belati. Aku berniat mengincar jantungnya, tapi serangan ku meleset karena pergerakan Seiyen yg seperti orang mabuk itu. Meskipun meleset, belatiku berhasil mengenai bagian atas perutnya dan menancap disana.
Tapi, seranganku barusan malah membawa bahaya baru untukku.
Lubang dimensi milik Seiyen muncul dan menelan kami berdua. Aku yg masih memegang belati yg menancap di tubuh Seiyen dipindahkan di area lain.
Kami muncul diatas langit, dengan ketinggian sekitar 50 kaki. Ini gawat, aku bisa mati jika melepaskan belati ini. Jika aku membunuhnya, aku tak akan bisa bertahan dari ketinggian ini dan mati. Tapi aku bisa dibunuh jika terlalu lama dekat dengannya.
Diatas ketinggian itu, aku dan Seiyen saling beradu pukulan. Aku tak mampu menghindari serangannya, dan itu membuat tubuhku terluka. Tapi, aku juga berhasil menambahkan beberapa luka baru ditubuhnya. Kami sama-sama terluka.
Lubang portal lain muncul dan kembali menelan kami. Sekejap kami kembali muncul diatas tanah, jatuh dan terhempas ditanah. Benar-benar pendaratan yg sangat buruk, aku bisa merasakan kalau kaki kiriku terkilir. Meskipun begitu, pertarungan ini masih belum selesai.
Menyadari keadaanku yg mulai melemah, Sekuen maju dan mendarat kan sebuah tendangan ke perutku. Tendangan yg cukup keras, membuat tubuhku terpental kebelakang. Gawat, aku hampir kehilangan kesadaran ku.
"Sialan ... Kau berani juga melukai ku sampai seperti ini," ucap nya, berjalan mendekati ku yg terduduk ditanah. "Sebagai gantinya, kau akan menjadi makanan pertamaku malam ini!"
Seiyen berlari dengan sisa tenaganya, berniat untuk menerkam ku. Ini gawat, tanganku hampir mati rasa. Aku benar-benar kelelahan. Jika seperti ini, aku bisa mati dibunuh olehnya.
"Blood Sacrified : Crimson!"
Tepat beberapa detik sebelum Seiyen mencapai tempatku, sebuah tebasan cakar yg besar muncul dan mengoyak tubuh Seiyen. Dengan satu serangan tiba-tiba itu, tubuh Seiyen hancur lebur menjadi abu yg berterbangan.
Aku kaget, kupikir aku akan mati tadi.
Tepat dihadapan ku, seorang pria dengan sebuah cakar merah besar ditangan kanannya berdiri tegap.
"Kau ... Vampir?" Tanyaku.
"Namaku Gillan Le Anchor. Salah satu bawahan Zuan," jawabnya.
Keajaiban! Tak kusangka bantuan bisa datang disaat-saat genting itu. Aku selamat berkat bantuan vampir, sepertinya aku mesti berterimakasih padanya nanti.
Disaat aku hendak bangkit, suara serak lain muncul didekat kami. Suara itu terdengar menyeramkan, dan dipenuhi dengan amarah dan niat membunuh.
"Gillan Le Anchor ...."
Suara itu muncul dari Museri. Ia tiba-tiba saja sudah berada didekat kami, menatap tajam kearah Gillan.
"Barusan ... Kau yg membunuh Seiyen?" Tanyanya. Gillan menyadari posisinya, dan sedikit gemetar.
"Kalau memang iya, apa ada masalah?" Meskipun begitu, ia mencoba menjawab setenang mungkin.
__ADS_1
"Pengkhianat ... Tak boleh dibiarkan hidup."
Guts tiba-tiba muncul dan menerjang Museri dengan pedang besarnya. Kallen juga muncul mendekati ku, bersiap dengan serangan Museri.
Aura merah darah dari Museri semakin menyeruak. Pedangnya telah tertutup sempurna dengan warna merah darah. Hanya dengan satu tebasan saja, Guts dihempaskan kebelakang. Ia memang tak terluka, tapi serangan barusan benar-benar mengerikan. Jika saja orang biasa yg mengenainya, bisa-bisa ia hancur berkeping-keping.
"Serangan macam apa itu ...." Gumam ku.
"Berhati-hati lah, Kate. Vampir satu ini benar-benar kuat," ucap Kallen tetap waspada.
Museri sama sekali tak mengalihkan pandangannya dan terus menatap Gillan. Sepertinya, semua amukan dan amarahnya ia tujukan hanya ke Gillan.
Disisi lain, Gillan yg sudah tahu seperti apa Museri itu terlihat begitu cemas. Tapi ia sama sekali tak mundur, ia bahkan tetap mengarahkan senjatanya ke Museri, meskipun tahu kalau ia tak akan menang darinya.
"Matilah, pengkhianat."
Tanpa kami sadari, Museri muncul diatas kami. Ia menebaskan pedangnya dari atas, mengakibatkan gelombang serangan yg menghancurkan semua bangunan disekitar kami. Benar-benar kekuatan penghancur yg mengerikan.
Aku dan Kallen terhempas, begitu juga dengan Gillan. Tapi ia sama sekali tak memudarkan kewaspadaan nya, dan terus berlari menjauhi Museri.
Museri kembali berlari mengejar Gillan. Kecepatan mereka sama sekali tak seimbang. Dibandingkan Museri, kecepatan Gillan jauh lebih lambat.
Museri kembali menghunuskan pedangnya, mengeluarkan gelombang serangan seperti sebelumnya. Gelombang itu terus bergerak melesat kearah Gillan. Untungnya, Guts muncul tepat waktu dan menahan serangan itu. Hanya saja, kekuatan gelombang yg begitu kuat itu membuat mereka berdua kembali terhempas. Sekali lagi, bangunan dibelakang mereka hancur lebur.
Aku yakin, jika saja ia menyerang sebuah kota maka itu berarti akhir untuk kota tersebut. Meskipun ia hanya sendirian.
"Ya, aku terselamatkan," jawab Gillan.
"Terselamatkan katamu?"
Museri sama sekali tak memberi Gillan waktu untuk beristirahat. Ia kembali muncul hendak menyerang untuk yg kesekian kalinya. Tapi kali ini, mereka berhasil menghindar dan menjauh darinya.
"Blood Sacrified : Crimson."
Gillan sekali lagi memunculkan cakar darah besar di tangan kirinya. Kini, ia menggunakan cakar besar di kedua tangannya. Meskipun belum tentu ia bisa mengalahkan Museri hanya dengan dua cakar. Setidaknya, itu bisa menambah kemungkinan bertahannya.
"Kate, kau tetaplah dibelakang," ucap Kallen. Aku mengangguk. aku tahu meskipun aku maju, tak ada yg bisa kulakukan. Aku juga bukan orang egois yg ingin selalu berkontribusi di setiap pertarungan. mundur adalah pilihan terbaik yg kupunya saat ini.
Aku mundur, sambil berupaya untuk memulihkan diri. Sementara itu, Kallen dan Guts kembali maju menyerang Museri.
Guts memperkuat tubuhnya kembali menggunakan "Incrase up" miliknya. Tubuhnya menjadi dua kali lebih kuat dari yg sebelumnya.
Berbeda dengan Guts yg merupakan seorang penyihir, Kallen yg sama sekali tak memiliki sihir hanya mampu meningkatkan kekuatan nya menggunakan Skill.
Skill bagi seorang ksatria sama halnya dengan sihir bagi penyihir. Lebih singkat nya, Skill adalah sihirnya para ksatria.
__ADS_1
Kecepatan Kallen meningkatkan, beserta dengan kekuatan tubuhnya. Ia maju menerjang bersamaan dengan serangan Guts. Dengan serangan mereka berdua, Museri mulai mengalihkan pandangannya dari Gillan dan menganggap mereka berdua sebagai lawan.
"Sepertinya kalian berbeda dengan yg sebelumnya. Apa yg kalian lakukan?" Tanya Museri. "Yah, apapun itu tetaplah percuma."
Museri yg tadi hanya menahan serangan ganda dari Kallen dan Guts mulai menyerang balik. Hanya dengan satu pedang, ia dapat kembali membalikkan keadaan. Kini, Kallen dan Guts kembali didesak oleh Museri. Yg benar saja, kekuatan nya setara dengan 10 orang vampir. Ia benar-benar berada di tingkatan yg berbeda.
"Kau cukup beruntung karena aku tak bisa menggunakan 100% kekuatan ku," ucap Guts.
"Lalu, kenapa kau tak menggunakannya saja? Apa kau meremehkan ku bahkan setelah menyadari perbedaan kekuatan kita?"
"Karena satu dua hal, aku tak bisa menggunakannya."
Aku penasaran dengan alasan yg ia maksud, tapi aku lebih penasaran seperti apa kekuatan penuh Guts.
Ketika mereka berdua sedang didesak, Gillan tiba-tiba muncul dari arah yg tak terduga. Ia melesat dengan dua cakarnya, berniat untuk menebas bagian belakang kepala Museri. Jika serangannya berhasil, kita bisa membuat sedikit kemajuan.
"Kau salah memilih lawan, Gillan Le Anchor."
Museri tiba-tiba berhenti menyerang Kallen dan Guts. Dengan kecepatan yg tak terduga, Museri menebaskan pedang yg telah dilapisi dengan Blood Sacrified. Itu adalah tebasan memutar yg sangat elegan, dan sangat-sangat cepat. Tubuh Museri berputar 360 derajat, dengan pedang yg terhunus. Seakan melihat cakram yg berputar, ia menyerang dari segala sisi. Karena serangan itu, Kallen dan Guts yg berlindung menggunakan senjata mereka terhempas jauh kebelakang. Mereka tak terluka parah, tapi beda halnya dengan Gillan.
Karena serangan tiba-tiba Museri, kedua cakar Gillan hancur berkeping-keping. Ia kehilangan senjat, da juga pijakannya. Ia tak mampu untuk berlindung, menghindar, apalagi menyerang balik. Ia benar-benar berada di situasi yg tak diuntungkan.
Sebuah tebasan menyilang muncul dari serangan Museri. Tebasan itu mengenai tubuh Gillan, memberikan potongan menyilang pada tubuhnya. Aku terbelalak, hanya dengan satu serangan itu Gillan dikalahkan. Kallen dan Guts saat ini tak mampu melakukan apa-apa. Gillan sudah tak tertolong lagi.
"Kau pikir vampir peringkat pertama seperti ku bisa menjadi lawan bertarungmu, peringkat ke-10 Gillan Le Anchor?" Tanya Museri, sambil mengarahkan pedangnya ke muka Gillan.
"Aku tahu mustahil mengalahkan mu, tapi ini adalah tugasku ... Kami pasti akan mengakhiri penderitaan yg tak terhentikan ini ... Baik untuk vampir maupun manusia sekalipun!" Ucap Gillan, berteriak dengan sisa tenaganya.
"Tugas katamu? Apa kau berniat untuk membunuh Rozalia? Dengan kekuatan kecil mu ini?"
"Kau pikir aku melakukan ini sendirian? Kami punya sekutu, karena itu kami pasti berhasil," ucap Gillan. "Rozalia pasti akan menghilang dari dunia ini!"
"Menyedihkan. Kau mengorbankan dirimu hanya karena peluang yg sangat rendah?"
"Kalian juga, bukankah kalian juga berniat untuk mengakhiri hidup Rozalia?... Sebagai bawahan raja, seharusnya kalian tahu seperti apa Rozalia itu."
"Jangan samakan kami dengan pengkhianat seperti kalian ...." Ucap Museri kesal.
"Kenapa tidak kau bunuh saja Rozalia itu? Dengan begitu, kalian bisa kembali ke sisi raja ka—
Kata-katanya terpotong, bersamaan dengan terpenggalnya kepala Gillan. Museri benar-benar telah memenggalnya.
"Jangan seenaknya memberiku perintah, dasar pengkhianat!" Teriak Museri. "Hanya raja yg boleh memberiku perintah, hanya beliau. Karena ia memerintahkan kami untuk mengawasi dan tak membunuh Rozalia, mana mungkin kami akan membunuh Rozalia ...."
Niat membunuhnya tiba-tiba lenyap. Bersamaan dengan terbunuhnya Gillan, Museri benar-benar telah kehilangan niat untuk bertarung. Ia berdiri sambil mendongak kelangit, bergumam dalam lamunannya.
__ADS_1
"Yg mulia raja Grimory ... Perintah ini benar-benar mengganggu ku. Anda sama sekali tak memberi kami perintah untuk melindungi Rozalia, bukan? Kalau begitu apa yg mesti saya lakukan?" Itu terdengar seperti suara hati Museri. Seperti seorang pria yg kehilangan jati dirinya. "Aku ini adalah pedangmu, yg mulia raja Grimory. Kumohon, beri aku perintah ...."