
Suara dentuman ledakan terdengar dimana-mana, diikuti dengan bekas-bekas pertarungan di tiap sisi distrik. Sepertinya, anggota lain tengah dalam pertarungan yg cukup serius dengan para vampir. Karena mereka berada saking berjauhan, aku tak dapat tahu pasti bagaimana keadaan disana. Tapi aku bisa merasakan kalau tak ada satupun dari mereka yg terbunuh. Tak dipihak kami, tak juga dipihak vampir. Untuk saat ini, itu adalah kondisi yg bagus. Kekuatan para vampir akan sangat dibutuhkan jika mereka setuju untuk bekerjasama. Karena itu, aku harus segera menyampaikan apa yg telah kudapat dari Elsie ke Osamu dan membuatnya menentukan pilihan.
Saat ini, aku masih berkeliaran di antara bangunan-bangunan di distrik 1. Mencari keberadaan Osamu dan Zuan bukan hal yg mudah. Suara dentuman ini mengganggu pendengaran ku. Penciuman ku juga tak bisa mencapai tempat Osamu. Satu-satunya yg bisa kulakukan hanyalah melacak Manna Osamu dan Zuan, lalu memperkirakan lokasinya.
Sekali lagi, suara dentuman yg sangat besar terdengar dari arah distrik 3 yg merupakan alun-alun kota dan juga pusat perkumpulan para petualang. Dari arah itu juga, aku merasakan aura Manna gelap yg sangat besar. Aura gelap ini milik vampir. Dan sejauh ini, tak ada yg pernah mengeluarkan aura sebesar ini kecuali 2 orang. Rozalia dan juga Zuan. Itu berarti Osamu ada disana, di distrik 3.
Cepat-cepat aku melesat pergi, menuju ke tempat Osamu. Dari balik dinding bangunan, sekilas aku dapat melihat pertarungan mereka. Jika dilihat-lihat, Sepertinya Osamu memegang kendali pertarungan ini. Itu bisa dilihat dari perbedaan kondisi mereka berdua. Zuan dengan aura monster raksasanya menerima cukup lecet di tubuhnya, tapi Osamu sama sekali tak tergores. Seperti yg diharapkan dari si pengguna Encounter, ia benar-benar kokoh.
"Apa kau disana Zayn?"
Suara itu menggema di kepalaku. Tidak, itu dari telinga ku. Ah, benar juga! Aku lupa jika kami punya alat komunikasi yg diberikan ReVoid!
"O-oh, kau menyadari keberadaan ku ya Osamu ...." Ucapku.
"Tentu saja, Manna mu itu khas. Aku rasa si Zuan ini juga merasakan aroma darah khas mu dari sini."
"Eh, benarkah?"
"Jangan khawatir, dia terlalu fokus padaku. Ia tak akan pernah mengincarmu," ucap Osamu. "Selain itu, apa yg kau lakukan disana?"
"Aku punya rencana. Tapi aku tak yakin ini akan bekerja dengan sempurna," jawabku.
"Oh ya? Coba kudengar."
"Menurut ku, bagaimana kalau kau mengajak Zuan bekerjasama dengan kita untuk mengalahkan Roza—
"Hah?! Apa kau bodoh?!" Bentaknya. "Kau pikir mereka itu apa? Mereka itu bawahan Rozalia kan?"
"Secara umum, mereka memang bawahan Rozalia. Tapi mereka hanya mematuhi perintah Zuan. Dan Zuan, sama sekali tak menganggap Rozalia sebagai pemimpin," jelasku. "Bisa dibilang, ada semacam kudeta dalam kelompok mereka. Dan kubu Zuan ini merupakan para penentang Rozalia."
"Darimana kau tahu itu?"
"Aku sempat mendengar pembicaraan mereka tadi sebelum bertarung. Kau tahu seperti apa kemampuan telingaku kan?" Tanyaku. "Selain itu, aku juga mendapatkan informasi ini dari salah satu bawahan Zuan yg aku dan Kayn hadapi tadi. Si Elsie."
"Apa dia bisa dipercaya?"
"Aku dan Kayn mempercayainya."
"Tapi meskipun begitu, kau tahu kan kalau vampir itu punya harga diri yg tinggi? Kau pikir mereka akan menurut begitu saja?" Tanya Osamu. "Selain itu, beberapa anggota kita pastinya memiliki dendam dengan vampir. Ide ini pasti akan ditentang."
"Tidak, aku yakin pak Vestine akan setju," jawbaku. "Dari pengalaman ku bersama nya, aku tahu kalau dia itu orang yg akan melakukan apa saja agar orang lain selamat. Meskipun itu mengharuskannya bekerjasama dengan musuh."
"Kau kelihatannya percaya diri sekali ... Aku harap yg kau katakan benar. Soalnya aku juga merasa kalau ini adalah kesempatan yg tak boleh dilepas begitu saja," jawab Osamu. "Tapi kesampingkan itu dulu. Kenapa si Zuan ini ingin sekali membunuh ku?"
"Ah, itu karena Encounter milik mu. Sihir itu sangat mirip dengan Blood Sacrified milik Rozalia, Counter," jawabku. "Sepertinya, si Zuan itu berusaha mencari cara untuk mengatasi kemampuan menyusahkan milik Rozalia itu dengan menggunakan dirimu sebagai alat latihan."
"Menganggap ku alat latihan, bukankah itu kejam ...." Ucap Osamu. "Tapi ya, itu bukan ide yg buruk. Ia pasti mengira kalau aku hanya punya sihir ini saja."
__ADS_1
"Jadi, apa yg akan kau lakukan?"
"Aku akan sedikit bermain-main dengannya. Kau tunggu saja disana sampai aku selesai, Zayn," ucap Osamu. "Lagipula kau pasti lelah setelah berlari mencariku kan? Padahal kau punya alat komunikasi itu."
"Aku tahu, aku lupa kalau kita punya itu. Berhenti membuatku malu sendiri."
Sambungan komunikasi terputus. Saat ini, aku hanya bisa menonton pertarungan mereka dari balik dinding.
Disana, Zuan masih bersikeras menyerang Osamu dari segala sisi, berusaha mencari sisi lemah Encounter. Tapi percuma saja, karena semua serangannya dibalikkan dengan sempurna kepadanya.
"Apa yg sebenarnya kau lakukan Zuan? Bukankah kau sudah tahu kalau ini percuma? Sudahlah menyerah saja"
"Aku tak mungkin menyerah hanya karena sihir anehmu itu. Aku pasti akan menemukan cara untuk menghancurkannya. Tidak, aku harus segera menemukannya," jawab Zuan.
"Huuh, biar kuberi petunjuk," ucap Osamu. "Untuk mengalahkan pedang, kau juga memerlukan pedang ...."
"Kau ingin bilang kalau aku butuh sihir yg sama seperti milikmu untuk menghancurkannya? Benar begitu?"
"Wah, tak kusangka kau cepat mengerti ya. Kalau begitu baguslah," ucapnya. Apa dia berniat memprovokasi Zuan? "Aku ingin tahu, sebenarnya kenapa kau sangat ingin sekali mengalahkan Encounter ku?"
"Tentu saja untuk mencapai tujuan kami. Manusia sepertimu tak akan paham."
"Ya, aku tak paham. Apa hubungannya Encounter ku dengan tujuanmu?" Gumam Osamu.
Osamu diam sejenak, seolah-olah sedang berpikir keras. Sesaat kemudian, ia kembali menoleh ke arah Zuan.
Sontak Zuan menghempaskan serangan yg sangat keras keatas Osamu, menimbulkan sebuah ledakan dan kepulan asap. Tapi tetap saja, itu tak melukainya.
"Wah wah seram kau membuaku kaget, sialan ...."
"Apa yg barusan kau katakan, manusia?" Tanya Zuan. Sekarang, suaranya terlihat gelisah.
"Heee, kau bereaksi karena pertanyaan ku barusan ya? Sepertinya informasi itu benar ya ...."
"Informasi?"
"Tentu saja informasi tentang kalian yg ingin membunuh Rozalia," jawab Osamu. Seperti dugaanku, Zuan kaget dan terdiam. "Kudengar Rozalia punya Blood Sacrified yg dapat memantulkan segala jenis serangan, sama seperti Encounter ku Karena itu kau mengincar Encounter ku kan?"
"Kau ... Dari mana kau tahu semua itu?"
"Rahasia. Mana mungkin aku akan mengatakannya kan?" Tanya Osamu.
"Sepertinya percuma saja menyembunyikannya darimu ...."
"Ya, dan karena itu aku punya penawaran khusus untuk kalian," ucap Osamu. "Saat ini, kita tahu kalau mengalahkan Rozalia adalah hal yg mustahil bagi kalian. Kau saja bahkan tak mampu mengalahkan Encounter ku, apalagi si Rozalia itu. Sepertinya mengalahkan nya hanya akan jadi mimpi yg abadi ...."
"Apa yg kau bicarakan?"
__ADS_1
"Mudah saja, aku menawarkan sebuah perjanjian kerjasama," ucap Osamu. "Kelompok vampir yg diketuai oleh Zuan akan bekerjasama sebagai rekan kami dalam misi penaklukan kali ini. Bagaimana dengan itu?"
Zuan seketika menatap Osamu serius
"Apa kau bercanda?"
"Aku serius. Lagipula untuk apa bercanda disaat-saat seperti ini?"
"Aku tak mungkin menerimanya! Tujuanku adalah membunuh Rozalia dengan tanganku sendiri!"
"Hei tenang, aku tak bilang kalau kami akan membunuhnya. Yg akan membunuh Rozalia adalah kau, Zuan. Dan kami akan membuka jalan untukmu agar keinginan mu itu terwujud. Tenang saja, kami tak akan meminta imbalan atas jasa kami kok," jelas Osamu. "Bagaimana? Bukan penawaran yg buruk kan?"
"Kau ... Apa sebenarnya tujuanmu?"
"Tentu saja untuk merebut kedamaian kami kembali. Pasukan yg dibawa Rozalia benar-benar membuat kami risih. Karena itu kami perlu membunuh pemimpinnya untuk memukul mundur semua pasukan itu," jawab Osamu. "Apa dengan ini kau bisa percaya dengan kami?"
Zuan diam sebentar, memikirkan jawaban dengan matang. Sebagai pemimpin, ia bertanggung jawab atas bawahannya. Karena itu tak bisa mengambil keputusan sembarangan. Selain itu menerima bantuan dari musuh mereka akan menurunkan wibawa mereka sebagai ras terhormat. Apalagi yg membantu mereka adalah manusia, ras yg selalu vampir anggap sebagai ternak dan sumber makanan.
Setelah berpikir cukup lama, Zuan akhirnya angkat suara.
"Aku akan menerima penawaran mu dengan satu syarat," ucapnya. "Aku tak ingin meminta bantuan dari orang yg lebih lemah dariku. Karena itu, kau harus membuktikan kalau kau dapat dipercaya. Berduel lah denganku secara langsung."
"Seperti yg kuduga dari pemimpin vampir, kalian sungguh terhormat. Karena itu aku akan menerima kehormatan ini dengan pertarungan yg menakjubkan," ucap Osamu. "Kali ini aku tak akan menggunakan pelindung Encounter ku. Majulah sekuat tenagamu, Zuan."
"Seperti apa yg kau minta!"
kali ini, Zuan mengeluarkan aura yg lebih kuat dari sebelumnya. wujud monster dari aura itu memancarkan kekuatan yg dahsyat. aku yakin dengan satu hantaman dari tangannya saja tembok yg melindungi kota bisa hancur.
dan sekarang, Osamu berniat melawannya tanpa Encounter? apa dia benar-benar serius dengan itu?! sejauh ini aku tak pernah melihatnya menggunakan sihir selain Encounter dan Infinity Chamber. mungkin dia punya sihir Interfusion yg mampu menciptakan benda dengan alkimia, tapi itu tak akan cukup untuk melawan Zuan
"sejauh ini aku sanggup bertahan karena sihir Encounter mu itu. mari kita lihat, seberapa hebat kau tanpa sihir itu."
"silahkan dilihat sepuasnya. lagipula yg memang pada akhirnya tetap aku juga."
"kuharap kau tak terlalu percaya diri, manusia!"
Zuan mulai maju dengan tangan kosong. meskipun hanya dengan tangan kosong, tebasan tangannya saja membuat bangunan yg ada dibelakang Osamu terbelah dua. dan karena kekuatan dari monster itu, ia bangunan itu hancur berkeping-keping. untung saja ini di dalam ruang sihir. jika ini di dunia nyata, aku tak bisa menghitung semua kerugian yg kami alami.
"cukup hebat, tapi itu belum cukup."
"ini belum berakhir!!"
Zuan kembali menyerang secara horizontal, mengincar bagian kepala Osamu. tapi kemudian, sesuatu menghantam tangannya. kekuatan dari tebasan tangan itu beradu dengan sesuatu yg sangat kuat, menimbulkan sebuah ledakan asap yg membuat Zuan dan Osamu menjauh. dari balik asap itu, aku melihat sosok Osamu memegang sebuah pedang dengan warna kuning bersinar bagaikan sebuah ornamen Sihir.
"kekuatan ini ... hey, bukankah kau bilang tak akan menggunakan pelindung Encounter mu?!" teriak Zuan.
"ya, aku bilang seperti itu dan aku tak melanggarnya. karena aku sama sekali tak menggunakan pelindung Encounter," ucap Osamu. "yg kugunakan adalah, pedang Encounter."
__ADS_1