Absolute Twin Magician

Absolute Twin Magician
Pengorbanan?


__ADS_3

Suasana malam hari yg begitu tenang, dan lagi-lagi ditemani dengan secangkir coklat panas kesukaan ku. Sambil menyeruput minuman masing-masing, aku dan Kayn duduk di ruang tengah sambil melepas lelah. Menghadapi gosip-gosip dan tatapan orang-orang di sekolah ternyata cukup menguras tenagaku. Ini bahkan lebih melelahkan daripada bertarung selama 2 jam tanpa henti.


Setelah kejadian tadi pagi, rencana Elie untuk mengajakku menginap dirumahnya kacau karena Fiera dan Aoi yg ingin ikut serta dalam rencananya. Yah, dibanding ikut serta, lebih tepatnya mereka mengacaukan rencana yg Elie buat. Nampaknya Elie sama sekali tak memikirkan apa yg akan terjadi jika mereka berdua mendengar ajakan nya. Kalau dia mengajakku secara diam-diam, mungkin rencananya bisa berjalan lancar. Tapi tak kusangka ia akan seberani itu mengajakku. Bukan berarti aku ingin menuruti ajakannya, tapi apa dia memang seceroboh ini?


Dimulai dari dia yg memperketat penjagaan nya sampai membuat hubungan kami ketahuan, sampai secara terang-terangan mengatakan kalau ia akan menikahi ku, bukankah ia terlihat sangat terburu-buru? Tenang saja Elie, aku tak akan semudah itu direbut oleh wanita lain.


Memikirkan itu malah menambah beban ku, untuk sekarang lupakan saja. Tapi yah, hari ini benar-benar melelahkan, secara batin khususnya.


"Ada apa Zayn? kau terlihat seperti tak punya harapan hidup." Kayn yg tadi sedang membaca bukunya bertanya.


"Apa aku memang terlihat seperti itu?"


"Yah, tak biasanya kau menghela nafas panjang seperti itu."


Ah, apa aku tak sadar melakukannya?


"Yah ... Sepertinya kau benar. Akhir-akhir ini sekolah terasa sangat berat."


"Apa karena pelajaran, atau karena gadis-gadis itu?" Tanya Kayn.


"Jangan membuatku menjawabnya langsung, kau pastinya sudah tahu kan jawabannya?"


"Yah, kurang lebih aku tahu."


"Kalau begitu untuk apa kau bertanya??"


Anak ini benar-benar menyebalkan kalau diajak bicara.


"Omong-omong, bagaimana dikelasmu? Apa terjadi sesuatu yg menarik disana?" Tanyaku.


"Tak ada yg bagus, seperti biasa. Hanya saja karena Shiki masuk ke kelas yg sama denganku, ia langsung jadi sorotan dikelas," jawab Kayn. "Yah, lagipula dia itu tampan, cukup pintar, dan juga atletis. Sudah wajar kalau orang sepertinya menjadi sorotan dikelas."


"Oh, apa mungkin kau iri?"


"Tidak. kalau dibilang iri, aku lebih iri denganmu yg bisa sekelas dengan Liana dan para gadis, sedangkan aku harus sekelas dengan laki-laki sempurna sepertinya," Jawab Kayn.


Yah, lagipula dia dipanggil dari dunia lain lho. Wajar saja kalau orang sepertinya langsung menjadi sorotan. Rambut dan mata hitam seperti mereka cukup langka di dunia ini. Terkecuali untuk Kayn, dia makhluk langka.


Bahkan Kallen yg berambut hitam itu merupakan keturunan dari salah satu Arrival yg menjadi pendekar pedang terkenal di Silverstone dimasa lampau. begitulah yg dikatakan Shiki.


Karena itu, untuk orang dunia ini rambut dan mata hitam cukup langka. Itu karena mayoritas orang-orang dunia ini memiliki warna rambut yg cerah, seperti warna coklat terang atau perak. Bahkan orang berambut pirang sudah tersebar dimana-mana.


"Jadi, kau ingin pindah kelas?" Tanyaku.


"Kalau itu memang bisa dilakukan ...." Jawabannya.


"Huh, apa sampai sebegitu nya kau ingin bertemu dengan Liana?" Tanyaku. Mendengarnya Kayn sedikit tersentak. "Sepertinya kau benar-benar sedang mabuk cinta ya, padahal dulu kau sempat berniat untuk menolaknya."


"B-berisik! Bukankah kau juga sama?! Dulu kau bahkan menganggap Elie itu menyebalkan dan sangat mengganggu."


"O-oke baiklah, maafkan aku, jadi jangan membuatku mengingat hal itu lagi! Aku salah waktu itu, oke?!"

__ADS_1


Sial, itu malah menjadi bumerang untukku. Tapi yah, siapa sangka kalau kami berdua akan begitu terikat dengan mereka berdua. Padahal tujuan kami kesini awalnya hanya untuk hukuman ku, dan juga awalnya aku merasa sangat terpaksa menginjakkan kaki disini. Tapi lihatlah sekarang, aku malah jadi enggan meninggalkan kota ini. Ini benar-benar perubahan yg tak disangka-sangka.


"Karena kau membicarakan soal ini, aku jadi teringat dengan kata-kata Shiki tadi," ucap Kayn.


"Shiki?"


"Itu ... Pertanyaannya yg waktu itu."


"Ah ... Aku ingat."


"Jadi, apa menurutmu kita perlu melakukan nya?"


"Y-ya ... Itu butuh kesiapan dan waktu yg tepat. Melakukan nya tanpa persiapan hanya akan membuatmu gugup," jawabku.


"Ugh, ini merepotkan."


Yah, tentang apa yg Shiki katakan tadi tentu saja tentang menyatakan perasaan kami pada Elie dan Liana. Saat ini, kami hanyalah teman dekat, bukan sepasang kekasih. Tapi hubungan kami tak bisa dibilang seperti teman dekat pada umumnya. Sampai kami menyatakan perasaan kami dan diterima oleh mereka, kami tak akan mampu berpindah ke posisi itu.


Tapi, menyatakan cinta itu adalah pertempuran sengit yg bahkan tak bisa petarung veteran seperti kami hadapi dengan mudah. meskipun kami sudah tahu hasilnya, itu tetap saja membuat kami gugup.


"Huuh, apa yg harus kami lakukan ...."


"Kalau soal itu, Fiera bisa bantu kok."


Dari balik pintu kamar, Fiera secara tiba-tiba masuk ke percakapan. Entah sejak kapan ia mendengar percakapan kami, dan lagi ia menerobos langsung ke tengah-tengah percakapan.


Karena saat ini Fiera tak punya tempat tinggal di kota ini, ia jadi harus menginap di rumah ini. Awalnya kami hanya berniat menumpangnya selama beberapa hari. Tapi entah kenapa, ia jadi tak ingin pergi dan berniat tinggal disini. Ini merepotkan, tapi untungnya rumah ini punya 3 kamar.


"Kak Kayn sedang bingung bagaimana cara menyatakan perasaan pada Liana kan? Kalau hanya masalah ini, Fiera bisa membantu."


"Entah kenapa rasanya kau jadi semakin ahli dengan hal-hal seperti ini. Selain itu, bukan hanya Kayn yg punya masalah, aku juga punya masalah yg sama lho," ucapku.


"Kalau Zayn tak perlu repot-repot, lagipula kita berdua kan sudah menjadi kekasih yg tinggal seatap."


"Siapa yg mengatakan hal seperti itu bodoh?!"


Ah, aku sudah menduga kalau ia akan mengatakan hal seperti itu. Tapi tetap saja, itu membuatku kesal. Selain itu, jika Fiera sampai beniat membantu kami, ia pasti punya niatan lain.


"Apa kau benar bisa membantu, Fiera?" Tanya Kayn.


"Pastinya ada syarat kan?" Tanyaku.


"Yup, benar sekali! Zayn benar-benar tau selera calon istri Zayn ya?"


"Siapa yg calon istri ku?!!"


Sudah kuduga, pasti ada niatan tersembunyi dibalik kebaikannya itu.


"Yg perlu kak Kayn lakukan hanya mengajak Liana jalan-jalan, dengan kata lain kencan berdua, hanya kalian berdua," ucap Fiera. "Dan disela-sela kencan itu, kak Kayn bisa menyatakan perasaan kakak ketika kalian sedang berduaan di tempat yg sepi."


"Mengatakan nya memang mudah, tapi aku bahkan tak pernah mengajaknya jalan."

__ADS_1


"Kalau soal itu Fiera akan mengurusnya. Kak Kayn hanya perlu kencan dengan Liana sepanjang hari setelahnya."


"K-kau benar-benar bisa melakukannya?!"


"Tentu saja, itu mudah kok."


Kayn terbujuk dengan rencana kencan ini. Yah kalau Fiera yg mengurusnya itu tak masalah. Hanya saja, apa syarat yg akan Fiera berikan? Memikirkannya saja sudah membuatku merasa tak enak.


"Kalau begitu, apa syaratnya?" Tanya Kayn. Mendengarnya, Fiera tiba-tiba tersenyum dan menatapku.


Ugh, firasatku buruk.


"Mudah saja. Zayn harus berkencan dengan Fiera selama sehari penuh."


Sudah kuduga. Firasat burukku tentang Fiera tak pernah meleset.


"Kalau itu bisa membuatku berkencan dengan Liana, aku setuju!"


Eh?! eh?! Tunggu dulu sialan!


"Kau menjual ku Kayn sialan?!!!"


"Y-tenanglah Zayn, hanya kencan saja."


"Hanya kencan kau bilang?! Hanya karena kau kakakku jangan harap bisa memperlakukanku semudah itu!"


"Ayolah Zayn, hanya sehari. Setelah itu kau bebas melakukan apapun padaku," ucap Kayn. Ia sampai memohon-mohon didepanku. Itu membuatku jijik, tapi ia sama sekali tak berniat untuk melepaskanku. Tidak, sampai aku menyetujuinya.


"Bagaimana kalau Elie melihat kami dan terjadi kesalahpahaman? Apa kau mau bertanggungjawab?!" Tanyaku kesal.


"Tentu saja! Aku ini pria yg bertanggung jawab!"


Kayn terus meminta-minta padaku, tapi aku bersikeras untuk menolak. Bagaimanapun ini hanya keputusan sepihak. Disini aku tak mendapat satu keuntungan pun. Bukan malah diuntungkan, aku malah dirugikan karena harus dipaksa berkencan dengan Fiera. Kalau orang biasa mungkin akan senang, karena sebagai seorang gadis Fiera adalah gadis yg cukup manis. Tapi bagiku yg sudah mengenalnya sejak kecil, dan sudah tahu seperti apa sifat dibalik keimutan wajahnya itu, aku sama sekali tak senang.


Namun yah, setelah hampir setengah jam Kayn membujukku, tak ada pilihan selain menurutinya. Jika tidak kemungkinan aku tak akan dibiarkan tidur dengan tenang.


"Baiklah baiklah! Untuk satu hari saja, mengerti?!" Jawabku kesal.


Dan tentu saja, setelah mendengar itu Kayn dan Fiera bersorak puas.


"Terimakasih banyak Zayn, dengan pengorbanan mu, aku pasti akan membuat kemajuan dengan Liana."


"Pengorbanan?!"


"Kalau begitu sudah dipastikan, hari Minggu ini Fiera dan Zayn akan berkencan!" Seru Fiera. "Ah, dan tentu saja kak Kayn dan juga Liana akan kencan juga, tapi di lain tempat ya~"


"Baiklah, untuk besok aku bergantung padamu, Fiera," ucap Kayn.


"Tenang saja, Fiera tak akan gagal kok. Ini demi kencan Fiera dan Zayn!"


Ugh, aku merasa seperti baru saja dimanfaatkan. Kuharap tak ada kejadian yg membuat ku ingin mati besok.

__ADS_1


__ADS_2