
Dihadapanku, wanita yg tak lain adalah vampir ini menatapku dengan penuh gairah. Ia dengan cepat melesat ke sisi kananku, mengarahkan taring panjangnya ke leherku.
"G-gawat!"
"Zayn!!"
Seketika sebuah peluru plasma muncul menghantam tanah, membuat sebuah ledakan yg membuatku terhempas menjauh dari vampir itu.
"Aku tertolong, Fiera...." Ucapku. Tapi Fiera Sam sekali tak merespon."F-fiera?...."
Ditempatnya, Fiera menatap tajam vampir bernama Vience itu. Aku bisa merasakan hawa membunuh yg sangat besar keluar dari tubuh Fiera. Gawat, dia benar-benar kehilangan ketenangannya. Ini sebabnya aku tak suka satu tim dengan Fiera. Karena sekali dia marah, dia akan lepas kendali. Membuatnya benar-benar terlihat seperti monster pembunuh yg mengerikan.
"Kau...namamu Vience kan?" Tanya Fiera.
"Vience de Meer, itu namaku." Balasnya.
"Vience ya... beraninya... beraninya kau menggoda Zayn ku dasar lacur sialan!!!"
Eh? Fiera mengatakan itu? Apa dia benar-benar Fiera Flamie teman masa kecilku yg polos?! Tak kusangka Fiera mengucapkan kata-kata sekasar itu. Siapa yg mengajarimu kata-kata seperti itu Fiera?!
"O-oi Fiera, tenanglah...." Ucapku berusaha menenangkannya. Akan gawat jadinya kalau dia benar-benar lepas kendali.
" Hah? Apa Zayn barusan membelanya?" Tanya Fiera. Kali ini dia menatap tajam kearahku.
"Eh? T-tentu saja tidak kan?"
"Oh sayang, tak kusangka kau begitu peduli padaku sampai-sampai membelaku seperti itu." Vience kembali berbicara. Ia seperti berniat memprovokasi Fiera.
"Zayn...."
"Fiera, kalau kau mengamuk bisa gawat nantinya. Bagaimana kalau ada orang yg mendengarnya?"
"Tenang saja sayang, hanya ada kita bedua disini...." Lanjut Vience lagi.
"Kurang ajar kau ********!!!"
Fiera berteriak keras. Sepertinya kata-kata tadi berhasil membuatnya marah. Ia pun menembakkan peluru Manna miliknya dengan membabi buta. Membuat tempat ini menjadi kacau.
Tak ada cara lain, aku harus segera bertarung. Seperti biasa, aku kembali memunculkan tangan monsterku. Aku juga menggunakan penglihatan malam.
Belasan peluru Manna Fiera melesat mengejar Vience. Tapi kecepatannya benar-benar ditingkatan yg berbeda. Tak satu peluru pun mengenainya. Bahkan dengan kecepatanku yg sekarang, aku sama sekali tak bisa menyentuhnya. Jadi ini kekuatan vampir yg sebenarnya.
"Sia-sia saja...." Gumamku.
"Kau benar, sia-sia saja kalian melawanku...." Ucap Vience " bahkan walaupun kalian berhasil mengimbangi kecepatanku, kalian tetap tak akan bisa mengalahkanku."
"Yah, siapa yg tahu." Ucapku "Fiera, Unlimited Rays...."
"Ya, Fiera mengerti."
Untunglah kesadaran Fiera sudah kembali. Sepertinya makhluk ini benar-benar hanya bisa diatasi dengan akal sehat.
Fiera kembali menembakkan laser-laser nya. Dan seperti yg kuduga, Vience menghindari semuanya. Tapi Fiera tak berhenti disitu saja. Ia memunculkan lubang hitam yg menelan tiap laser yg meleset, memunculkannya kembali dari lubang hitam lain, seperti ketika latihan praktek dengan kak Chezie waktu itu.
Tapi tetap saja itu tak mampu menyaingi kecepatan Vience. Aku tahu itu, karena hal itulah aku maju melesat megejarnya dari lain sisi. Serangan dari sisi yg berbeda, aku berniat membuatnya bingung. Sampai pada akhirnya ia masuk perangkap, dan terjebak dalam kurungan black hole Fiera yg telah membentuk bola. Kepungan black hole itu membuat Vience tak bisa kabur, dan terus dipaksa menghindari hujan laser milik Fiera.
Dari Lain tempat, aku bersiap merapal sihir. Ini sihir yg belum kukuasai, karena itu masih membutuhkan proses rapalan yg cukup memakan waktu. Tapi itu bisa kuatasi.
"Inferno Hell!!"
Sebuah lingkaran sihir berwarna merah muncul dibawah Vience yg terjebak di dalam kurungan black hole. Ia tak bisa menghindari serangan yg satu ini. Ini akan menjadi kemenangan telak kami.
Ledakan pilar api muncul dari lingkaran sihir, menghanguskan semua yg ada diatasnya. Suara teriakan Vience juga terdengar begitu keras. Sepertinya serangan ini benar-benar mengenainya, walaupun ini cukup menguras Manna ku.
"...apa berhasil?"
"Wah...ini cukup menyakitkan, kau tahu"
Tak mungkin, seharusnya dia sudah tewas dengan serangan terakhir tadi. Tapi siapa sangka Vience itu kembali muncul, keluar dari balik kepulan asap hitam. Pakaiannya habis terbakar, tapi tubuhnya sama sekali tak lecet. Atau lebih tepatnya, ia beregenerasi dengan sangat cepat.
"Sudah cukup main-mainnya...."
Secepat kilat, Vience kembali muncul dihadapanku. Dengan mulut yg terbuka lebar, ia hendak menggigit leherku yg terbuka lebar. Aku tak bisa menghindar, Fiera juga terlambat merespon.
"Zayn!!"
__ADS_1
"Selamat makan!" Ucap Vience dengan girang.
"Ah, mohon tunggu sebentar nyonya"
Suara pantulan yg sangat nyaring terdengar, seperti besi yg menghantam besi. Tidak, aku kenal suara ini. Tak salah lagi ini suara peluru tajam.
Sesuatu kembali muncul, melesat dengan cepat dan mengenai lengan Vience dan melukainya. Darah segar mengalir deras dari luka itu, membuatnya melompat mundur menjauhiku.
"Cih, dasar orang-orang keras kepala. Padahal sebentar lagi aku bisa mendapatkan darah unik ini" gerutu Vience.
Suara peluru lain terdengar, dan mulai mengenai bagian tubuh Vience yg lain. Ia pun terpaksa mundur dengan tubuh yg terluka.
" Yah...aku masih punya banyak waktu, kita ketemu lagi di lain waktu, sayang."
Tepat setelah mengatakan itu,Vience menghilang dalam kegelapan malam. Ia kabur dengan sangat cepat sampai-sampai aku tak tahu ia lari kearah mana.
"Zayn, kau Zayn baik-baik saja kan?" Tanya Fiera menghampiri ku.
"Ya, aku baik-baik saja, hanya sedikit lelah." Jawabku.
"Hey kalian yg disana!!"
Suara teriakan seorang pemuda terdengar, bersamaan dengan datangnya seorang pemuda dan seorang gadis berambut hitam. Dan yg menarik perhatianku adalah senjata yg mereka bawa.
" Katana...dan handgun?" Gumamku.
Dua orang itu berlari menghampiriku dengan sedikit tergesa-gesa. Sekali lihat aku langsung sadar, kalau dua orang ini kakak beradik.
"Wah, kau sama sekali tak terluka ya, syukurlah. Kami pikir akan ada korban lagi hari ini" ucap yg laki-laki. "Kalian baik-baik saja kan? Apa yg kalian lakukan malam-malam begini?"
"Tunggu, kalian ini siapa?" Tanyaku memotong pertanyaannya.
"Ah maaf, kami lupa memperkenalkan diri" ucapnya "namaku Shiki Mikoto, dan gadis ini adikku, Aoi Mikoto. Kami dari ReVoid."
Sudah kuduga mereka kakak beradik, tapi ada yg aneh. Mereka berdua memakai nama yg tak lain adalah nama orang Jepang. Apa jangan-jangan mereka sama seperti si Osamu itu? Kuharap tidak.
"Hei kami sudah memperkenalkan diri, sekarang giliranmu" ucap yg perempuan, si adik bernama Aoi.
"Huh, namaku Zayn Endarker. Dan gadis ini Fiera Flamie..." Ucapku.
"Endarker? Benar Endarker yg itu?"
"Memangnya ada apa?" Tanyaku. "Selain itu, tadi kau bilang kalau kalian ini dari ReVoid... sebenarnya apa ReVoid yg kalian maksud itu?"
"Ah, ya... sebenarnya itu adalah nama sebuah organisasi dari kerajaan Silverstone...dan kami adalah salah satu anggotanya." Ucap Shiki "ReVoid adalah satu-satunya organisasi yg dapat membunuh vampir. Kami biasa disebut sebagai pembasmi vampir."
ReVoid ya, apa mungkin mereka ini bala bantuan yg paman Oliver maksud?
"Ah, jadi begini Endarker-san...apa kau bisa ikut dengan kami sekarang?" Tanya Shiki.
"Hah? Kenapa aku harus ikut?" Tanyaku.
"Sebenarnya, ketua kami ingin bertemu denganmu" jawabnya.
Pas sekali, kebetulan aku memang ingin bertemu secara langsung pemimpin mereka.
"Baiklah." Jawabku.
"Kalau begitu, ikuti kami."
Kami pun akhirnya bergerak meninggalkan area ini, mengikuti Shiki dan Aoi menuju tempat yg mereka sebut "markas". Suasana kota hari ini benar-benar sepi layaknya kota mati. Selama diperjalanan, kami juga menemui beberapa orang yg mengenakan seragam yg serupa dengan yg dipakai Shiki dan Aoi. tak seperti Magic Assosiation, organisasi bernama ReVoid ini sepertinya memiliki banyak sekali anggota. Lebih mirip seperti sebuah satuan militer daripada organisasi. Mereka semua bergerak secara teratur, dipimpin oleh satu orang yg memimpin sebuah peleton yg beranggotakan 25-30 orang. Benar-benar seperti militer saja.
Setelah lama berjalan, kami pun sampai di sebuah lapangan luas. Didalamnya, beberapa tenda tertancap, tersusun seperti sebuah camp militer. Ada sekitar 15 orang yg menyebar ditiap tenda, melaksanakan tugas masing-masing.
"Ini... tempatnya?" Tanyaku. Ini tak seperti yg kupikirkan.
"Yah, ini hanya camp sementara kami. Karena organisasi kamu berasal dari luar kerajaan ini, kami hanya sempat membangun sebuah camp sederhana." Jelas Shiki "sebenarnya kami juga memiliki kantor cabang ditengah kota, tapi tempat itu terlalu kecil sehingga tak mampu menampung 200 lebih pasukan kami...."
"A-ah...jadi begitu."
"Sepertinya kau terlihat kecewa, apa kau berpikir akan dijamu dengan meriah dan dimanja hanya karena kau tamu hah?" Tegur Aoi. Kata-katanya cukup tajam juga, aku jadi teringat dengan Zero.
__ADS_1
"Aoi, jangan berkata seperti itu. Dia ini tamu kita, kau harus sedikit lebih sopan." Ucap Shiki.
"Baiklah...."
Wah, ternyata dia cukup penurut juga.
"Maaf ya Zayn, adikku ini memang cukup merepotkan." Ucap Shiki.
"Ya, tidak masalah sih. Sebenarnya aku punya seorang kakak yg sama merepotkannya...."
"Kalau begitu kalian tunggu disini, aku akan memberitahu ketua dulu."
"Baiklah...."
Shiki kemudian pergi meninggalkan kami, masuk kesebuah tenda yg cukup besar. Sepertinya itu tenda pemimpin mereka. Aku lun terpaksa menunggu bersama dengan Fiera yg hanya melihat-lihat sekitar. Seperti biasa, dia sama sekali tak tertarik dengan orang yg tak dikenal. Dilain hal, si Aoi ini sama sekali tak mau menatapku. Canggung sekali.
"Menyedihkan, kau mengatakan kakakmu sendiri merepotkan?" Gerutu Aoi.
"Apa kau bilang?"
"Apa aku perlu mengulanginya?"
Sialan, dia benar-benar menghinaku. Jangan sombong kau hanya karena kau ini perempuan.
"Kau...mau kukadukan ke kakakmu?"
"Cih, dasar pengadu...."
Sepertinya dia benar-benar tak berani melawan kakaknya ya...
"Hei Aoi, boleh aku bertanya?"
"A-apa yg kau lakukan?! Memanggil ku langsung dengan nama depan?!"
"Ada masalah?"
"Tentu saja!! Di Jepang itu merupakan hal yg tabu bagi orang yg baru kenal!!"
"Jepang?"
"A-ah... lupakan saja." Ucap Aoi. Ia segera memalingkan mukanya. "Lalu, apa yg mau kau tanyakan?"
"Aku ingin bertanya tentang senjata yg kalian gunakan itu." Ucapku. Aoi tersentak diam." Sebuah katana dan dual handgun...senjata itu, darimana kalian mendapatkannya?"
Aoi sontak menatapku kaget.
"Kau...darimana kau mengetahui tentang senjata ini?"
"Itu bukan senjatayg di produksi didunia ini kan?" Aku melanjutkan.
Aoi diam tak bergeming.
Tak lama setelah itu, Shiki pun kembali dan membawaku bersama Fiera ke tenda yg ia masuki tadi. Sementara itu Aoi masih menatap tak percaya kearahku, diam ditempatnya.
Aku dan Fiera pun segera masuk ke tenda, menemui orang yg mereka panggil sebagai ketua.
Ketika kami masuk, yg pertama kali kami temui adalah seorang pria paruh baya yg sedang duduk di kursinya. Ia mengisyaratkan agar kami berdua duduk di kursi yg telah ia sediakan.
"Kau pasti Zayn Endarker bukan? Dan gadis ini magic Knight lain...." Ucapnya memulai pembicaraan.
"Fiera Flamie, siap bertugas pak Vestine."
Fiera yg segera bangkit memperkenalkan diri dengan tegas itu membuatku kaget. Tak seperti biasanya ia bersikap formal begini. Selain itu, darimana dia mengenal pria ini?
"Kau mengenalnya Fiera?"
"Ya, paman Oliver sudah memberitahu Fiera...."
"Lalu kenapa kau tak memberitahuku?!"
"Eh? Fiera pikir Zayn sudah tahu...."
"Maaf terlambat memperkenalkan diri Zayn, kau pasti terkejut ya...." Ucap pria itu. " Namaku Vestine de Oust, pemimpin utama ReVoid...aku rekan seperjuangan Oliver Grace, dan juga ayahmu, Zean Endarker...."
"Eh? Rekan seperjuangan ayah?!"
__ADS_1
Lagi-lagi orang yg mengenal ayahku bermunculan....