
Aura gelap terasa begitu kuat didepan sana. Tak salah lagi, itu pasti Rozalia. Hanya ada dua titik aura, yg itu berarti pasti Rozalia dan Zuan sedang menunggu disana.
Ketika aku dan pak Osamu berjalan mendekat, sesuatu muncul dan meluluh-lantakkan bangunan disekitar kami. Aku menghindar dengan segera, dan tanpa kusadari aku tengah bertatap muka secara langsung dengan Rozalia. Pak Osamu nampaknya berhasil menghindar dan sembunyi. Jika sudah begini jadinya, serangan dadakan sudah tak mungkin terjadi.
Sebuah benda layaknya ular atau naga yg terbuat dari darah meliuk-liuk dihadapanku. Dibelakangnya, Rozalia duduk dan menatapku dengan angkuh. Disampingnya, Zuan berdiri dengan tatapan kosong.
"Kupikir ada penyusup, ternyata hanya seekor tikus yg tersesat," ucap Rozalia dengan tatapan merendahkan.
Terserah mau kau panggil apa kami, Rozalia. Tapi bersiaplah, karena sebentar lagi kami pasti akan menghancurkan mu.
Aku menyiapkan pedang Plaides Knight ku, mengarahkannya ke Rozalia. Melihatku mengarahkan pedang padanya, Rozalia merasa terganggu.
"Berani mengacungkan senjata ke ratu, sepertinya kau mau mati ya?"
Dengan nada malas, ia menatap kearah Zuan yg berdiri disampingnya.
"Aku sedang tak semangat menghadapi nya. Kau urus saja dia, Zuan."
Oh itu tak bagus. Kalau ia tak mau melawanku semua akan sia-sia.
Mendengar perintah itu, Zuan menanggapi dengan santai.
"Saya pikir itu bukan ide yg bagus, nyonya Rozalia. Meskipun terlihat seperti itu, dia sebenarnya sangat kuat," ucap Zuan. "Sangat disayangkan jika anda membiarkan musuh sekuat dirinya menghadapi saya."
"Benarkah? Bagaimana kau bisa tahu itu?"
"Sebelumnya, dialah yg telah membunuh Vience dan juga Hermes. Dia adalah seorang pendekar pedang yg kuat."
"Hoo ... Jadi dia yg telah membunuh Vience ku ya. Dan dia juga yg sudah membunuh Hermes," ucap Rozalia. Sekarang, aku bisa merasakan amarahnya mengarah padaku.
Tapi tunggu dulu, apa-apaan tuduhan itu?! Aku memang sudah membunuh Vience, tapi bukan aku yg membunuh Hermes. Aku tahu kalau ini hanya sekedar akting agar Rozalia secara langsung menghadapi ku, tapi jangan seenaknya membuat kebohongan yg tidak-tidak!
Huh, tak kusangka para vampir ini sangat lihai dalam berakting. Tadinya hampir saja aku berpikir kalau ia benar-benar berpindah pihak ke Rozalia.
"Bukan hanya itu nyonya Rozalia, dia juga merupakan pemilik darah unik sama seperti pemuda berambut abu-abu yg anda incar itu," ucap Zuan lagi. "Kemungkinannya, dia adalah kakak pemuda tersebut."
"Hoo ... Pantas saja sekilas aku merasa seperti pernah bertemu dengannya," respon Rozalia. "Aah ... Sekarang aku jadi semakin ingin melahapnya untuk ku seorang diri!"
Terimakasih untuk itu Zuan, karena dirimu Rozalia jadi semakin bersemangat untuk memakanku. Aku sedikit merinding karena yg akan kulawan kali ini adalah seorang ratu vampir. Tapi meskipun begitu, aku tak boleh terlihat gentar.
Sekarang dua ekor naga merah muncul mengitari Rozalia. Mereka bergerak-gerak bagaikan ular yg tengah melindungi telur mereka. Rozalia juga mulai mengeluarkan niat membunuhnya yg begitu besar. Saking besarnya aku jadi paham kenapa ia dipanggil si rakus.
"Zuan, mundur dan lihatlah bagaimana aku memangsa manusia ini."
"Jika memang itu keinginan anda, saya tak akan melakukan apapun."
Zuan menatapku penuh harap. Aku balik menatapnya, dan memantapkan tekadku.
"Insomnia : Plaides Knight!"
Sekujur tubuhku mulai tertutupi oleh cahaya yg begitu menyilaukan. Armor Plaides ku muncul, melindungi tiap sudut tubuhku. Ditemani dengan pedang Mljonir Sword, seranganku kali ini akan lebih berpusat pada kecepatan serangan. Karena tujuan asliku hanyalah membuat Rozalia mengeluarkan Counter, dan disaat itulah aku akan menetralkannya dengan menggunakan sihir Disspell. Sisanya, tergantung bagaimana respon balasan dari Zuan.
Peranku hanyalah pembuka jalan. Dan yg akan mengakhiri acara ini adalah Zuan. Seharusnya, ini bukanlah tugas yg sulit. Tapi karena aku sedang tak berada di kondisi terbaikku, sepertinya ini akan jadi cukup sulit.
Tanpa aba-aba, aku mulai melesat maju tanpa membiarkan Rozalia mengambil langkah pencegahan. Aku dengan cepat menghunuskan pedangku kearahnya, dengan kecepatan yg melampaui seluruh vampir yg pernah kutemui.
Namun, sepertinya aku terlalu meremehkan Rozalia.
__ADS_1
Tanpa reaksi apapun dari Rozalia, naga darah itu dengan sangat cepat menahan seranganku, dan memberikan serangan balik dengan sangat telak. Berkat itu aku terhempas kebelakang.
Sementara aku terhempas, Rozalia menatapku tajam.
"Berani mengacungkan pedangmu kehadapan ratu untuk yg kedua kalinya, kau benar-benar tak tahu diri ya, manusia," ucapnya.
Tak menungguku bangkit, kedua naga darah itu meluncur kembali menyerangku. Tak ada waktu untuk berpikir, aku dengan sekuat tenaga bangkit dan berusaha menghindar.
Seperti yg dikabarkan, melawan naga darah itu sia-sia. Setiap kali ia ditebas, ia akan selalu kembali ke bentuk semula dan beregenerasi. Satu-satunya cara untuk mengalahkan mereka adalah dengan membunuh penggunanya. Seperti halnya para Summoner, seharusnya Rozalia tak begitu pandai dalam pertarungan satu lawan satu dalam jarak dekat. Karena itu, ia sangat mengandalkan Counter untuk melindungi dirinya apabila naga darah Orario itu berhasil dilewati.
Benar-benar pengecut yg hanya bisa melihat dari balik penghalang.
Tak ada cara lain, aku akan bergerak maju dan sebisa mungkin menghiraukan seluruh serangannya.
"Insomnia : Divine Step."
Satu hentakan kaki, tubuhku melesat bagaikan anak panah yg melesat terbang dari busurnya. Melihatku kembali menyerang, naga darah Orario lantas kembali maju hendak menghadangku.
"Jangan halangi jalanku!!"
Dengan pedang yg dilapisi sihir petir, Mljonir Sword, aku menebas Orario secepat mungkin. Jika Dimata orang lain, aku terlihat seperti cakram yg dilempar dan memotong semua yg melalui nya.
Memang percuma saja memotong kedua naga darah Orario itu, tapi setidaknya dengan itu mereka akan terhenti untuk meregenerasi sel-sel mereka. Dengan begitu aku memiliki kesempatan untuk maju kehadapan Rozalia tanpa gangguan.
Menyadari kemunculan ku, Rozalia tersenyum seakan melihat kemenangan nya.
"Percuma saja, manusia."
Tepat sebelum pedangku menebas kepalanya, sebuah barier pelindung sihir muncul menyelimuti seluruh tubuhnya. Meskipun sedikit berbeda, tapi aku bisa merasakan Manna yg sangat gelap dan begitu pekat darinya. Seranganku ditahan sepenuhnya. Meskipun aku tahu itu, tapi ini cukup mengejutkanku. Ini benar-benar sama persisi dengan milik pak Osamu. Jika begitu, pastinya ada jeda waktu sebelum serangan ku dilempar balik.
"Disspell!!"
Tak menghiraukan kata-katanya, aku cepat-cepat merapal sihir Disspell sebelum seranganku barusan dibalikkan. Alhasil, pelindung yg tadinya mengelilingi seluruh tubuh Rozalia pecah dan menghilang tanpa sisa. Aku dan Rozalia sama-sama menyadarinya. Seketika, aku merasakan tekanan hawa yg begitu besar darinya yg membuat ku sontak mundur menjauh. Tubuhku secara otomatis menyadari bahaya dan membuat ku mundur.
Disisi lain, Rozalia juga segera mundur ketempat Zuan. Masih membelakangi Zuan, Rozalia menatapku geram.
"Kau ... Beraninya kau melakukan itu pada pelindung kesayangan ku!!" Teriaknya.
Menurut perkataan pak Osamu, seharusnya ada jeda waktu penggunaan setelah ia dihilangkan dengan Disspell. Kira-kira selama sekitar sepuluh menit, ia tak akan bisa menggunakan Counter lagi.
Dengan ini, sepertinya kemenangan ada ditangan kami.
"Dasar manusia kurang ajar! Aku sudah tak punya niat untuk menghadapi mu lagi! Zuan, segera habisi makhluk hina tak tahu diri itu!" Teriaknya.
"Dengan senang hati, yg mulia Rozalia."
Zuan yg berada tepat dibelakang Rozalia memberikan sebuah tikaman super cepat ke dada Rozalia dari belakang. Ia menusuk jantung Rozalia dengan tangan kosong, dan menembus dadanya. Tentu saja, Rozalia hanya mampu terdiam menyadari bahwa Zuan baru saja menikamnya dari belakang. Dengan kata lain, ia telah sadar kalau Zuan telah mengkhianati dirinya.
"Zu ... Zuan?? Apa yg kau lakukan?" Tanya Rozalia lirih.
"Sesuai perintah mu, aku telah memusnahkan makhluk hina yg tak tahu diri ini ...." Jawab Zuan dengan tatapan intimidasi. "Makhluk yg kumaksud tentu saja kau, Rozalia."
Rozalia terdiam, seakan tak mampu mengatakan apa-apa lagi.
"Kau sudah berbuat kerusakan di tanah vampir, Rozalia. Karena itu kami sudah tak bisa membiarkanmu hidup dan berkuasa jauh lebih lama lagi. Ini demi kemakmuran ras vampir."
Rozalia yg mendengar nya terbelalak, lalu seketika tersenyum licik. Awalnya aku tak mengerti apa maksud senyumannya itu. Tapi beberapa saat kemudian, aku menyadari nya.
__ADS_1
"Bodoh ... Sangat bodoh. Kau benar-benar budak yg tak tahu diri. Aku adalah majikan, dan kau adalah budak. Sadari posisimu, budak. Apa menurut mu budak seperti mu bisa membunuhku semudah ini?? Hah?! Kau benar-benar tak tahu apa-apa ya?!! Kau pikir karena apa aku dijuluki yg terakus dari yg paling rakus?!" Teriak Rozalia. Disaat yg sama, aura gelap yg begitu besar muncul dari dalam tubuhnya. "Jawabannya adalah, karena aku sangat rakus! Bahkan disaat terakhir sebelum kematian ku, aku tak akan berhenti untuk memakan semuanya. Mau itu manusia, Demi-Human, iblis, bahkan vampir sekalipun!"
Darah berwarna hitam tiba-tiba muncul dari luka yg dibuat Zuan. Darah itu bergerak-gerak, dan seakan hendak menyelimuti tangan Zuan yg masih menancap di dada Rozalia. Darah hitam itu juga merembes keluar, membuat sosok Rozalia tampak seperti mayat hidup yg sangat menyeramkan. Darah itu terus bergerak, lalu membentuk wujud monster raksasa seperti halnya Orario. Namun kali ini, ia membentuk monster raksasa dengan wujud seperti hydra.
Darah itu terus merayap ketangan Zuan yg tak kunjung lepas. Sepertinya, darah itu berniat untuk memangsanya.
"Blood Sacrified : Cancer!"
Sebuah tangan raksasa berwarna merah muncul dan menangkap tubuh Zuan. Dengan sekuat tenaga, Zuan ditarik menjauh dan membuatnya terlepas dari jeratan darah hitam yg menjijikkan itu.
Vampir yg barusan datang menyelamatkan Zuan adalah Nebula, salah satu bawahan Zuan.
"Apa ini? Apa yg sebenarnya terjadi?"
Aku terbelalak menatap apa yg barusan muncul dihadapan ku. Dan tanpa kusadari, satu tentakel yg terbuat dari darah hitam itu muncum dan melesat kearahku.
"Encounter!"
Tepat waktu, pak Osamu lagi-lagi muncul menyelamatkan ku. Aku segera terbangun dari lamunanku.
"Kayn, segera pergi dari sini!" Teriak pak Osamu.
"Eh?! Lalu bagaimana dengan rencana—
"Percuma, ini sudah diluar perkiraan kita!"
Tak berhasil menyerangku, puluhan tentakel kembali muncul dan bergerak menargetkan kami berdua.
Manna ku sudah hampir habis. Aku tak akan bisa melawan mereka. Sedangkan didepanku, pak Osamu mati-matian melindungi kami dengan menggunakan Encounter yg ia ubah menjadi barier pelindung.
Serangan demi serangan ditahan. Semakin lama, tentakel itu jadi semakin banyak. Saking banyaknya, itu sampai membuat Encounter pak Osamu tak sanggup menahan semua beban serangan itu.
Setelah beberapa saat menahan, Encounter pak Osamu sudah kelebihan beban dan sedikit pecah. Seketika beberapa serangan tentakel itu berhasil menerobos pertahanan Encounter dan melukai tubuh pak Osamu. Serangan itu tak terlalu fatal, tapi itu serangan yg cukup dalam. Dan karena serangan tadi, ruang sihir yg dibuat pak Osamu dari awal, Infinity Chamber hancur.
Dan dengan hancurnya Infinity Chamber, seketika kami semua kembali keduania nyata. Waktu pun kembali berjalan, dan kerusakan dikota kembali seperti semula. Namun karena amukan monster yg dimunculkan Rozalia, beberapa bangunan di dekat dinding gerbang barat hancur parah.
Setelah kulihat baik-baik, kini wujud monster Rozalia semakin terlihat jelas. Ia nampak seperti slime raksasa berwarna merah yg membentuk wujud hydra berkepala tiga. Tingginya setara dengan tinggi dinding barat, sekitar 400 meter. Semakin lama ia juga berkembang semakin besar. Tak hanya itu, ia bahkan juga mencerna bangunan yg ia hancurkan, dan mengubahnya menjadi energi yg memperbesar ukuran tubuhnya.
"Pak Osamu, anda baik-baik saja?" Tanyaku, berusaha menggotong tubuh pak Osamu yg terluka parah.
"Yah ... Ini bukan apa-apa. Yg lebih penting lagi, sepertinya kita benar-benar tak bisa melakukan apa-apa dengan monster raksasa itu ...."
Aku mengangguk. Seperti yg pak Osamu katakan, mustahil bagi kami yg sekarang untuk mengalahkan makhluk itu.
"aku benar-benar tak habis pikir. tak kusangka kalau Rozalia juga memiliki kemampuan terkutuk ini ...."
Zuan dan Nebula yg tadinya mundur kembali ketempat kami berlindung. sepertinya, mereka mengetahui sesuatu tentang makhluk ini.
"sebenarnya apa yg terjadi dengan Rozalia?" tanyaku.
"seingat ku, makhluk itu disebut dengan Grand Orario. seperti halnya Orario, ia adalah darah yg dibentuk menyerupai naga. hanya saja, yg satu ini jauh lebih besar dan lebih kuat," jelas Nebula.
"dengan kemampuan ini, satu negara bisa saja hancur dinamakan olehnya. ia benar-benar sosok yg mewakili kerakusan," lanjut Zuan.
aku terdiam. ini bukan masalah biasa lagi. kalau kami tak bisa mengalahkannya, bisa-bisa satu benua ini hancur lebur karena ulahnya. tapi meskipun begitu, kami tak bisa melakukan apa-apa.
"Apa yg harus kita lakukan sekarang?"
__ADS_1