
Dengan perginya para vampir, akhirnya sudah tiba saatnya bagi kami untuk melepaskan diri dari ketegangan ini. Yah, di dunia manapun itu, yg namanya perang pastinya penuh dengan ketegangan dalam beberapa artian. Karena itu, setidaknya ada sedikit waktu istirahat untuk kami sebelum melanjutkan pekerjaan terakhir kami di kota ini. Dan untuk itu, kami kembali ke tenda ReVoid.
Kami semua pergi kesana dengan tubuh yg letih. Dan disaat tiba di sana, kami mendapati seorang pria berambut hitam duduk lemas seperti kehabisan nyawa. Sepertinya, ia sedang ditimpa sesuatu yg membuat nya merasa sangat bersalah.
Disaat kami mendekati nya, siapa sangka kalau orang itu adalah Zatrox. Entah apa yg terjadi, tapi sepertinya suasana hatinya sedang buruk.
"Zatrox, apa yg terjadi denganmu?" Tanya nyonya Stephanie.
Mendengar pertanyaan nyonya Stephanie, Zatrox hanya menunduk dan berkata dengan ucapan yg aneh.
"Ini salahku ...aku memang tak berguna. Untuk saat ini kumohon biarkan aku sendirian, merenungi semua kesalahanku."
Eh? Tumben sekali Zatrox merasa terpuruk seperti ini. Dimana sosokmu yg selalu tampak dingin dan penuh misteri itu, Zatrox? Sebenarnya apa yg telah terjadi selagi kami bertarung dengan Rozalia.
"Kau masih memikirkan itu ya? Sudah lah, jangan dipikirkan. Yg namanya manusia itu sudah pasti pernah melakukan kesalahan. Malah aneh jadinya kalau kau selalu saja benar lho," ucap kak Marry berusaha membujuk Zatrox.
Sadar kalau aku sedang kebingungan, Tony mendatangiku sambil menepuk pundak ku.
"Dasar, baru sekali berbuat salah langsung merasa depresi seperti ini ...." Ucapnya.
"Sebenarnya apa yg terjadi?" Tanyaku. Tony menjawab dengan helaan nafasnya.
"Tadi, saat kami sudah selesai bertarung dengan salah satu bawahan Rozalia, Zatrox tiba-tiba muncul dan menyerang Bayorn. Sebenarnya aku tak terlalu mempedulikan nya, tapi karena saat itu Bayorn sedang bertugas menjadi pemijatku, tentunya aku tak bisa tinggal diam. Dan untuk sesaat terjadi pertarungan kecil diantara kami. Tentunya itu karena salah paham. Saat itulah kak Marry maju dan mengatakan yg sebenarnya pada Zatrox," jelas Tony menceritakan panjang lebar. "Tapi siapa sangka, setelah diberitahu ia malah jadi depresi seperti ini. Tak kusangka mentalnya benar-benar lemah."
Jadi begitu, ternyata ada kejadian seperti itu. Yah, aku juga sempat khawatir kalau ia sampai menyerang sekutu kami. Siapa sangka kalau kekhawatiran ku benar-benar terjadi. Kalau aku jadi Zatrox, sudah pasti aku akan merasa sangat malu.
"Sudah lah, jadikan saja kesalahan mu kali ini sebagai pelajaran, Zatrox. Ayo, semangat, walaupun selama ini aku tak pernah melihat semangat membaramu, tapi semangat!" Ucap Guts berusaha menyemangati nya.
"Itu benar, sobat. Jangan depresi karena hal sekecil ini," Gale juga melakukan hal yg sama.
"Maaf, tapi bisakah kalian meninggalkan ku sendiri untuk sementara waktu?" Pinta Zatrox.
Yah, mau bagaimana lagi. Kami pun mau tak mau pergi meninggalkan nya sendirian.
"Cih, dasar payah ...."
"Berhenti mengejeknya, Zero," bisikku.
Setelah meninggalkan Zatrox, kami semua memulai kesibukan masing-masing. Ada beberapa pekerjaan baru bagi beberapa orang, dan sisanya beristirahat di tenda milik ReVoid. Nona Stephanie dan juga Elie membantu pihak medis merawat para prajurit yg terluka saat menahan serangan pasukan vampir. Hughess dibantu dengan puluhan pasukan ReVoid yg masih memiliki tenaga membangun kembali bagian kota yg hancur akibat amukan Rozalia. Kak marry, Gale, dan Guts membantu ReVoid mengurus keperluan para penduduk sipil. Karena apa yg telah terjadi pada kota mereka, para penduduk sipil bermalam di tenda-tenda yg disiapkan oleh ReVoid di pinggir kota. Mereka harus bermalam disana setidaknya untuk hari ini, sampai keadaan kota kembali membaik. Dan sisanya beristirahat di tenda khusus milik ReVoid.
"Huaah, untung saja paman Oliver datang tepat waktu. Kalau tidak kami tak akan tahu apa yg akan terjadi tadinya," ucapku sambil meregangkan badan.
"Kalian akan baik-baik saja. Meskipun aku tak datang, masih ada Tony kan?" Sanggah paman Oliver.
"Apa yg paman harapkan dari si pemalas itu?"
"Aku mendengar nya, Zayn. Tapi yah, aku akui kalau aku memang sedang malas ...." Balas Tony.
__ADS_1
"Kan, baru saja kubilang."
"Seandainya Paman datang lebih cepat, mungkin aku bisa beristirahat lebih cepat ...." Keluh Tony lagi.
"Kalau begitu, kita tak akan kebagian peran untuk tampil. Itu sama sekali tak seru, kau tahu?" Balas Zero cepat. "Bisa-bisa pertarungan ini jadi membosankan karena diambil alih olehnya."
"Zero benar. Kalau aku datang lebih awal, kalian tak akan mungkin berkembang sampai seperti sekarang." Ucap paman Oliver. "Karena keterlambatan ku, kalian jadi harus berjuang lebih keras. Dan tentunya itu membuat kalian semakin dewasa dan semakin kuat."
Ya, kalau dipikir-pikir benar juga. Kalau Paman datang dari awal, kemungkinan aku tak akan pernah merasakan bagaimana rasanya bertarung dengan sesuatu yg hampir mustahil untuk kukalahkan. Bagaimana pun juga, keterlambatan paman Oliver membuat kami mengalami lebih banyak pengalaman berharga.
Ditengah-tengah percakapan kami, kak Chezie datang menghampiri dengan ekspresi wajah kebingungan. Sepertinya ia sedang mencari sesuatu, atau mungkin seseorang.
"Hmmm, sepertinya disini jadi lebih sepi tanpa seseorang," ucap kak Chezie. "Dimana Fiera?"
Ah, ternyata Fiera yg sedang ia cari. Apa yg ingin kau lakukan padanya kali ini kak Chezie ....
"Dia kelihatan sangat lelah setelah pertarungan tadi. Sekarang dia sedang tidur di dalam tenda bersama dengan Liana dan juga Kayn. Yah, meskipun Kayn ada di ruangan yg lain ...." Jawabku.
"Begitu ya ... Yah, biarlah. Lagipula dia sudah berjuang keras tadi. Sepertinya aku harus memberinya sedikit waktu untuk beristirahat," ucap kak Chezie.
Eh? Tumben sekali kak Chezie berbaik hati memberi Fiera istirahat. Apa yg sedang tejadi dengannya??
"Kak Chezie terlalu memanjakan Fiera ya ...." Ucap Zero
*Tidak, Zero. Jujur saja sepertinya ini pertama kalinya kak Chezie berbuat baik padanya," sanggahku.
"Kau pikir aku ini siapa? Iblis?" Tanya kak Chezie. "Aku masih manusia, wajar saja kalau aku mengasihani nya. Lagipula aku ini gurunya kan?"
"Yah, benar juga," ucapku. Aku tak berani menjawab lagi.
Setelah mendapat apa yg ia cari, kak Chezie ikut duduk bersama kami untuk beristirahat. Dan dari dekat, aku jadi tahu apa yg membuatnya sedikit berbeda dari biasanya.
"Kak Chezie, sepertinya suasana hatimu sedang bagus. Apa terjadi sesuatu?" Tanyaku.
Kak Chezie sedikit terkejut mendengar pertanyaan ku. Meskipun begitu, ia tetap menjawabnya sambil tersenyum. Jujur saja, tak kusangka senyum kak Chezie cukup menawan juga. Meskipun ia suda berusia 24 tahun, dia jadi terlihat lebih muda dengan senyuman itu.
"Yah, kau benar. Suasana hatiku memang sedang bagus. Baru saja di sela-sela pertempuran, aku menemukan pangeran ku," jawab kak Chezie.
Eh, pangeran? Sejak kapan kak Chezie yg serius itu menjadi penghayal seperti ini???
"E-eh ... Pangeran?"
"Ya, pangeran hatiku. Aku tak bisa melupakan saat ketika ia berjuang melindungi ku, sambil menggendong tubuhku bagaikan seorang putri. Ah, benar-benar mengagumkan!"
Eeeeh, apa-apaan ini?? Dimana sosokmu yg kejam dan disiplin itu kak Chezie?! Melihat nya yg sedang mabuk cinta sambil berkhayal ria ini membuat bulu kudukku berdiri.
"Oh, benarkah? Kalau boleh tahu, siapa pangeran hebat yg telah membuatmu jatuh hati itu?" Tanya paman Oliver.
__ADS_1
Jujur saja, aku juga penasaran dengan siapa yg ia maksud Pangeran. Sebenarnya siapa yang telah mengubah si kejam kami?
"Ya, kalau itu ...." Kak Chezie tersenyum sambil menyilang kan kedua telunjuk nya "R-A-H-A-S-I-A."
Eh?
"Ugh, inilah yg kubenci dari orang yg sedang mabuk cinta ... Tak kusangka, tadi Zayn dan sekarang kak Chezie juga?" Ucap Zero menatap ku kesal.
"Hey bisakah kau tak mengungkit masalah itu lagi?" Ucapku.
Saat kak Chezie sedang mabuk cinta dan tenggelam dengan khayalan nya, aku kembali terpikir satu hal yg hampir kulupakan.
"Paman, dari tadi aku terus kepikiran. Bukankah para vampir itu hanya bisa dibunuh dengan orang yg memiliki Void di tubuhnya?" Tanyaku.
"Ya, itu memang benar."
"Kalau begitu, kenapa paman yg baru saja datang dan belum menerima Void dari pak Vestine bisa membunuh Rozalia?"
Seketika semua yg mendengar pertanyaan ku terdiam.
"Benar juga. Kau baru kepikiran, meskipun itu merepotkan," ucap Tony. "Apa jangan-jangan hukum vampir telah berubah?"
"Tidak, kurasa bukan itu alasannya."
Meskipun aku dan Tony tampak kebingungan, Zero dan kak Chezie hanya diam tak mengatakan apapun. Aku tak tahu kenapa, tapi nampaknya mereka seperti menyembunyikan sesuatu. Dan, aku sedikit melihat Zero menahan tawa ketika mendengar kata-kata Tony.
"Huh, sepertinya kalian berdua sangat buruk dalam mengulang pelajaran," ucap paman Oliver. "Bukankah kalian sudah pernah dengar tentang apa yg terjadi di kota ini 10 tahun lalu?"
"Tentang serangan vampir dan ib—
Ah, benar juga. Aku Aru kepikiran tentang itu.
"Itu ... Apa mungkin paman menggunakan Void yg diberikan pak Vestine 10 tahun yg lalu?" Tanyaku menebak.
"Benar sekali."
"Eh? Apa yg sebenarnya kalian bicarakan?" Tanya Tony. Sekarang ia terlihat sangat kebingungan. "Aku tak pernah dengar tentang itu dari siapapun."
Yah, itu karena kau pemalas," jawab Zero. "Aku dan kak Chezie sudah tahu dari awal, karena itu kami diam."
Eh, ternyata itu alasan mereka diam. Tega sekali kalian berdua membuat kami kebingungan seperti ini.
"Cih, seperti biasa setiap kata-kata yg keluar dari mulutmu membuatku kesal," ucap Tony.
"Tentu saja, apa kau pernah dengar? Mulut ku harimau mu," ucap Zero. "Asal kau tahu, lidahku ini bahkan lebih tajam dari sebilah pedang."
"Dasar menyebalkan."
__ADS_1