Absolute Twin Magician

Absolute Twin Magician
Orario ( bagian 3 )


__ADS_3

"jadi begitu ... Tak kusangka mereka menggunakan gerbang teleportasi sihir untuk masuk ke dalam kota ...."


"Selain itu, apa sebenarnya yg mereka incar disini?"


"Apapun itu, pastinya bukan sesuatu yg bagus."


Dalam rapat kali ini, aku mengatakan semua yg kudapat pada hari itu. Banyak informasi berharga yg kuperoleh dari pertarunganku dengan Rozalia dan Kuvra. Aku mesti memanfaatkan semua ini.


"Kemungkinan para vampir itu menggunakan gerbang sihir dari dalam hutan luar kota. mereka pasti bersembunyi di suatu tempat disana dan masuk ke kota melalui gerbang sihir itu." Ucap Kayn.


"Apa yg membuatmu berpikir seperti itu?" Tanya pak Vestine.


"Gerbang sihir, mau itu sihir murni ataupun sihir vampir, mereka mempunyai batasan jarak penggunaan. Menggunakan gerbang sihir dari jarak yg sangat jauh itu mustahil," jelas Kayn. "Kalau kuperkirakan, kemungkinan besar mereka berada di hutan. Itu menurut jarak yg kuhitung."


"Jarak ya ... Meskipun itu adalah Blood Sacrified ia, masih memiliki karakteristik sihir pada umumnya ... Bahkan Blood Sacrified bisa diidentifikasi kan sebagai sihir dengan atribut gelap. Itu masuk akal."


"Mengenai apa yg diincar para vampir, sepertinya itu semacam artifak," ucapku. "Vampir bangsawan yg kami lawan waktu itu mengatakan kalau mereka akan merebut sesuatu yg telah direbut dari mereka. Masuk akal jika mengatakan kalau apa yg mereka incar adalah artifak dari sisa penyerangan vampir pada zaman kuno."


"Artifak kuno ... Masalah ini semakin mengarah ke kerajaan. Sepertinya kerajaan ini menyembunyikan banyak hal dari kita." Kallen mulai terlihat sedikit kesal.


"Aargh, aku benci ini! Dari dulu aku memang tak suka bangsawan-bangsawan yg melayani raja di kerajaan ini. Mereka meminta bantuan kita tanpa menjelaskan apapun pada kita. Mereka bahkan menyembunyikan kebenaran ini dari kita." Begitu pula Kate, ia juga terlihat geram dengan keadaan saat ini.


"Sepertinya kita tak bisa tinggal diam. Kita perlu mendiskusikan hal ini dengan raja sesegera mungkin ...." Ucap pak Vestine.


Ini adalah hari ke 6 setelah kemunculan Rozalia yg pertama kali. Sejauh ini, korban jiwa di pihak kami semakin menumpuk. Setidaknya, hanya tersisa sekitar 70-an orang dari kami, termasuk di dalamnya para pembesar ReVoid dan juga bantuan dari Magic Assosiation.


Korban jiwa dari masyarakat sipil juga mulai bermunculan. Para vampir itu telah berhasil memasuki kediaman warga. Selama ini, sekitar 10 orang dinyatakan hilang pada malam hari. Dan ada sekitar 5 orang yg tewas di dalam kediamannya, dengan darah yg habis dihisap. Tapi, kali ini bukan Rozalia yg melakukannya. Sepertinya para vampir bawahan Rozalia sudah kembali bergerak.


Setelah rapat dimalam itu, pada pagi harinya kami mengerahkan tim pengintai untuk mengelilingi hutan. Tujuannya adalah untuk mencari tempat persembunyian para vampir itu. Kelompok itu dipimpin oleh Kallen, Kate dan Shiki. Pak Vestine pergi ke istana kerajaan untuk membahas tentang masalah ini dengan raja. Sementara itu, kami beristirahat di tenda, bersiap akan segala hal. Meskipun ini masih pagi, kami tak bisa terus bersantai. Kayn dan yg lain pun juga ikut meliburkan diri dari sekolah. Saat ini, kehadiran kami disini lebih penting dari sekolah.


Tapi satu hal yg mengganggu ku. Selama hampir 3 minggu ini, aku tak melihat si Osamu itu. Kami memang bertemu di sekolah, tapi tidak diluar itu. Sebenarnya apa yg ia lakukan disaat-saat seperti ini? Dia juga termasuk senior Magic Knight kan? Seharusnya ia bisa setidaknya membantu kami dengan kekuatannya.


"Huh, si sialan itu kemana saja sih?" Gumamku.


"Apa yg sedang kau pikirkan Zayn?"


Aoi datang menghampiriku yg sedang melamun di depan tenda.


"Aaa ... Aoi ya. Tidak ada, aku sedang melamun saja."

__ADS_1


"Hah? Padahal akan lebih bagus kalau kau berpikir tentang rencana atau semacamnya."


Aku menghela nafas. Mana mungkin aku bisa memikirkan hal seperti itu setiap saat.


"Pak Vestine ... Apa dia sudah pergi kesana?"


"Ya, dari tadi," jawabnya "ada apa? Apa kau juga ingim bertemu dengan raja?"


"Hah? Untuk apa? Aku tak tertarik bertemu dengan tua bangka yg hanya diam duduk di kursinya disaat-saat seperti ini. Memikirkannya saja sudah membuatku muak ...." Ucapku.


Aoi tertawa kecil dan kemudian diam sejenak.


"Semoga saja pak Vestine menemukan cara untuk mengakhiri ini semua ...."


"Jangan khawatir, pak Vestine pasti akan menemukan caranya. Karena itulah ia pergi ke hadapan raja saat ini." Elie yg tiba-tiba muncul di belakang kami ikut bergabung. Aku menghela nafas mendengar kata-katanya yg tak terdengar meyakinkan itu.


"Memangnya orang tua itu bisa melakukannya?"


"Ya, kudengar pak Vestine dulunya adalah salah satu dari lima panglima besar kerajaan Voracity. Itu sudah sangat lama sih. Ayahku yg mengatakannya," ucap Elie. "Dulu ia sempat terkenal bahkan di luar kerajaan Voracity. Tapi ia keluar dari keraajaan itu dan berniat akhirnya dicap sebagai pengkhianat ...."


"Begitu ya ...." Ucapku. "Ngomong-ngomong, dimana Fiera?"


"Benar juga aku tak melihatnyadari tadi. Bukankah kalian terus bersama, Elie?"


"Begitu ya ... Sebenarnya apa yg dipikirkan anak itu sih?"


Namun tetap saja aku sedikit heran. Aoi bilang kalau Fiera selalu bersama Elie dan Liana? Sejak kapan mereka bisa seakrab itu?


Hari berjalan dengan cepat, dan kami tak melakukan apapun yg berarti. Sore hari pukul 5, tim pengintai kembali dengan tangan kosong. Mereka bahkan tak bertemu dengan satu vampir pun di dalam hutan. Pak Vestine juga sudah lama kembali dan dari tadi hanya diam di tendanya, tak mengatakan apapun. Apa itu artinya kami sudah menemui jalan buntu? Atau ada sesuatu yg lain sedang menunggu kami.


Keheningan ini sungguh menggangguku.


Dan tepat setelah aku memikirkan itu, sesuatu yg aneh terjadi.


"Zayn, kau bisa mendengarku?"


Suara itu muncul di telingaku. Bukan, lebih tepatnya di kepalaku. Ini bukan transmisi dari alat komunikasi ReVoid. Ini lebih seperti telepati.


Dan suara yg memanggilku, tak salah lagi kalau ini adalah suara si Zero.

__ADS_1


"Z-zero? Bagaimana bisa?!"


"Ya sebelum itu lakukan apa yg kukatakan!"


"Hah?!"


"Sekarang, pergilah ke tempat yg luas dan sepi. Seperti lapangan atau semacamnya."


"Hah? Untuk apa?"


"Lakukan saja dasar banyak tanya!!"


Itu memang Zero dengan mulutnya yg kasar. Mau bagaimana lagi, aku harus mengikuti apa yg ia katakan. Zero tak mungkin main-main dengan sihir telepati dari kejauhan ini. Sesegera mungkin aku bangkit dan berlari mencari lapangan luas.


"Zayn, ada apa?" Tanya Kayn.


"Zero menghubungi ku, aku tak tahu apa yg dipikirkannya tapi aku harus pergi."


"Z-zero?!"


Mendengar itu Kayn juga ikut bangkit mengikuti ku. Tujuanku adalah lapangan tempat kami biasa berlatih. Itu tempat yg luas dan selalu sepi. Sangat cocok dengan apa yg Zero minta.


"Aku sudah di tempat yg kau minta, Zero."


"Selanjutnya, angkat wajahmu. Buat tato di wajahmu tersinar dengan cahaya matahari."


"Hah?! Yg benar saja itu memalukan!!"


"Kubilang lakukan saja!!"


Mau tak mau aku pun mengikuti instruksi nya. Aku mengangkat wajahku, membuat tato di wajahku tersinari dengan cahaya matahari.


Seketika, sebuah cahaya biru muncul dari atas langit dan kemudian menyinari tato di mataku. Sesaat kemudian, sebuah lingkaran sihir muncul di depanku. Aku dan Kayn terkejut. Kami tahu lingkaran sihir ini. Ini adalah sihir khusus milik Zero, Teleport!


"Kerja bagus, Zayn."


Suara Zero muncul dari arah lingkaran sihir itu. Sesaat setelahnya, sosok nya muncul diikuti dengan anggota Magic Assosiation yg lain. Semua Magic Knight hadir kecuali paman Oliver dan jug Zatrox. Meskipun begitu, kedatangan mereka saja sudah membuat kami sangat senang.


"K-kalian benar-benar datang ...." Ucap Kayn.

__ADS_1


"Ya, kami datang untuk membantu kalian, anak-anak ku tercinta."


Perkataan nona Stephanie yg lembut itu telah membawa kembali harapan kami.


__ADS_2