Absolute Twin Magician

Absolute Twin Magician
Elizabeth Bathory


__ADS_3

Aku dan Kayn keluar dari ruangan Osamu, berjalan di koridor sekolah. Tak kusangka, pertemuan kami itu hanya berlangsung selama tak lebih dari satu menit di dunia nyata. Padahal hampir setengah jam kami berbincang-bincang.


   Saat kami keluar dari gedung sekolah, tepatnya di halaman depan sekolah, kesialan lain menghampiriku.


" Akhirnya ketemu, Zayn!"


   Mendengar suaranya saja sudah membuatku kehilangan semangat. Dua bangsawan yg terus saja cerewet dikelas sekarang berdiri didepan gerbang sekolah, menunggu seseorang.   Dari ekspresi mereka ketika melihatku, aku jadi tahu kalau orang yg mereka tunggu itu aku.


" Kau mencoba menghindari kami ya?" Tanya Elizabeth, berjalan mendekatiku. Liliana juga ikut bersamanya. Argh!!! bagaimana bisa anak ini sok akrab dengan orang baru sepertiku?! Walaupun cukup mengganggu, Liliana masih lebih tenang darinya. Lihat, dia hanya malu-malu memandangi kami dari belakang Elizabeth.


   Aku berhenti sebelum mereka semakin mendekat.


" Kayn...kita cari jalan lain saja" ucap ku.


" Hah? Kenapa? Memangnya siapa mereka?"


" Gadis cerewet dikelasku. Sepertinya mereka berniat mengganggu ketenanganku.." jawab ku.


" Eh? Zayn terdesak karena seorang wanita?..." Aku mendengar gumamannya. Ah, firasatku buruk " ah! Begitu ya..."


   Aku menoleh ke Kayn yg tersenyum tak jelas. Ada apa ini? Kenapa dia senyum-senyum begitu? Radar bahayaku mulai mendeteksi ada yg tak beres dengan kondisi ini. Kayn pasti merencanakan sesuatu. Cepat-cepat kubalik tubuhku kebelakang, hendak melarikan diri darinya.


   Eh? Sesuatu menahanku. Sialan! Kenapa si sialan ini malah menarik tanganku. Ia mulai tersenyum tipis, dan memanggil mereka. T-tunggu sialan kenapa kau memanggil mereka ?!


" Oi kalian yg disana!! Kemarilah!!" Teriaknya.


   Keparat! Kenapa kau sama sekali tak bisa diajak kompromi sih?! Lihat, mereka mulai mendekat. Tak ada lagi yg bisa kulakukan kalau mereka sudah menangkapku! Rencana pelarian ku gagal.


" Apa kalian ini teman-temannya Zayn?" Tanyanya dengan nada ramah.


   Elizabeth dan Liliana menatapku dan Kayn bergantian. Ah, aku paham. Mereka pasti berpikir ada yg aneh. Seperti " kenapa muka mereka sama?". Itulah yg kusimpulkan jika dilihat dari ekspresi wajah mereka.


" T-tunggu dulu, kenapa ada dua Zayn?!" Tanya Elizabeth sedikit panik.


" Ah maaf, aku belum memperkenalkan diri " ucap Kayn dengan sangat sopan. " Namaku Kayn Endarker, kakak kembar Zayn "


" Kembar?!"


   Entah kenapa dua gadis ini begitu histeris ketika mendengar Kayn mengucapakan kalau kami kembar. Apa sebelumnya tak pernah ada anak kembar? Reaksi mereka berlebihan sekali. Tapi tunggu dulu, aku jadi dapat ide.


" Ya... begitulah, dia ini kakak kembarku. Dia orang yg sopan dan juga baik " ucap ku. Kayn memandangiku seolah mendengar sesuatu yang menjijikkan " jika kalian mencari teman, si Kayn ini lebih cocok dari padaku. Jadi ajak saja dia"


   Elizabeth menatap masam kearahku. Aku tahu kalau kata-kataku pasti tak mereka terima, tapi apa-apaan ekspresi itu?.


   Elizabeth merengut kesal dan menyambar tanganku.


" Aku sudah bilang akan mengajarimu kan? Bukan kakakmu! Aku tak akan menarik kata-kataku!" Ucapnya tegas sambil menarik tanganku. " Lagipula aku bukan mencari teman. Aku mau membantumu mendapatkan teman. T-tentu saja bukan karena aku peduli padamu, tapi aku tak enak sekelas dengan seorang penyendiri sepertimu"


   Apa-apaan anak ini? Menyebalkan sekali. Kata-katanya terlalu  blak-blakan.


" Kalau begitu kami pergi dulu, kami bawa adikmu Kayn " ucap Elizabeth " namaku Elizabeth Bathory, maaf perkenalannya terkesan buru-buru"


" Tidak apa-apa! Tolong temani adikku!"


" Tenang saja, dia aman bersama kami"


   Apa-apaan perkataanmu Kayn?! Kau membuatku seolah seperti anak kecil yg dititipkan ke taman kanak-kanak. Pada hakikatnya aku ini lebih tua darimu sialan!


   Ah, percuma mengeluh. Lebih baik aku mengikuti apa yg diinginkan dua orang ini pergi dengan tenang. Semoga saja mereka tak melakukan hal-hal aneh.


   Elizabeth terus menarikku. Mereka membawaku masuk lebih dalam ke pusat kota Bluelagoon.


" Ngomong-ngomong Zayn, aku terkejut kau punya kakak kembar" ucap Elizabeth.


" Aku juga. Kalian benar-benar mirip" si Liliana juga angkat suara, setelah sebelumnya malu-malu mendekati Kayn. " Walaupun hanya luarnya sih..."


   Hey, itu sedikit menyakiti hatiku. Kalian mau menyiksa mentalku?


" Hey, kalian mau membawaku kemana?" Tanyaku.


" Tentu saja ke kota. Aku ingin. Menunjukkan keindahan kota ini pada pendatang baru sepertimu" ucap Elizabeth


" Aku tak tertarik..."


" Tenang saja, aku sudah minta izin ke kakakmu itu kok" ucap Elizabeth lagi.


" Bukan itu masalahnya! Lagipula kau tak perlu minta izin padanya."


" Kau tak boleh begitu Zayn, apapun alasannya kau tetap harus izin" kali ini Liliana menceramahiku " izin itu penting"

__ADS_1


   Hari ini aku sangat-sangat sial. Pertama kelas yg berantakan. Kedua pertemuan dengan Osamu yg merepotkan. Dan sekarang aku harus mendengar ocehan mereka. Ah, aku jadi menyesal mencoba membunuh Zatrox.


" Kau boleh memanggilku Elie, sebagai gantinya aku akan terus memanggilmu Zayn." Ucap Elizabeth " kau juga boleh memanggil Liliana dengan Liana kok"


" Apa tak masalah? Nama panggilan seperti itu hanya diucapkan oleh teman akrab kan? Kau bahkan baru mengenalku beberapa jam yg lalu.."


" T-teman akrab? Apa benar begitu?" Tanya Elizabeth " k-kalau begitu aku tak keberatan...la-lagipula kami juga berencana menjadi teman akrabmu kan?"


   Aku terdiam menatapnya. Perkataannya barusan terdengar begitu tulus. Dia benar-benar ingin berteman akrab denganku. Memangnya apa bagusnya orang sepertiku? Kalau ingin berteman lakukan saja dengan Kayn. Ya, walaupun aku protes begitu mereka juga tak akan mendengarku. Aku menghela nafas.


" Huh, baiklah akan kulakukan" jawabku. Entah kenapa tiba-tiba hatiku tergerak untuk memenuhi permintaannya. "... Elie...benar begini kan?"


   Sontak muka Elizabeth memerah ketika aku memanggilnya Elie. entah kenapa ia terlihat malu sekaligus senang.


" Sudah kuduga sebaiknya jangan" ucapku.


" T-tidak, panggil saja aku Elie! Kumohon!" Pintanya. 


" Tapi sebelum itu, boleh aku tanya sesuatu?"


" Bertanya? Tentang apa?"


" Sebenarnya, kenapa kau bersikeras untuk berteman denganku?" Tanyaku


   Mendengar pertanyaanku, Elie diam tak bergeming. Ini pertanyaan yg lama kupendam. Tapi Elie sama sekali tak menjawab. Dan kelihatannya, Liana tak tahu apa-apa. Ini murni keinginan Elie seorang. Liana hanya mengikuti apa yg Elie lakukan. Apa maksudnya ini? Aku butuh jawaban.


" Oi Elie, jawab pertanyaanku"


" Ini hanya soal masa lalu..." Jawabnya lirih.


" Masa..lalu?" Jujur, aku sangat bingung. Apa maksudnya masa lalu?


" Pokoknya aku sudah berkata akan berteman denganmu, aku tak butuh alasan untuk menjadi temanmu. Kau hanya perlu mengikuti apa yg kukatakan, oke?"


   Elie buru-buru mengganti topik. Aku jadi agak bingung. Setidaknya jangan memberi informasi setengah-setengah. Kalau memang tak mau memberitahuku tak perlu menjawab!  Kau jadi membuatku kepikiran! Pikiran perasaan orang lain dasar bangsawan egois!.


   Elie buru-buru memalingkan muka dan lanjut berjalan. Liana masih berdiri disampingku sambil tersenyum hangat.


" Jangan khawatir, Elie mungkin punya masa lalu yg buruk. Tapi dia tulus ingin berteman denganmu kok. Kau tak perlu meragukannya. Percayalah padaku" ucap Liana


" Ya... setidaknya beritahu aku alasannya"


" Zayn, kau harus tahu . Setiap orang memiliki sisi yg tak ingin dilihat orang lain. Semua orang pasti punya rahasia sendiri. Begitu juga dengan Elie. Kau harus tahu batasan sisi itu " ucapnya " mengerti?"


______________________________________


   Mengikuti langkah Elizabeth, aku dituntun ke tenaga kota Bluelagoon. Sore hari ini, semua orang masih terlihat ramai, Terutama ditaman kota dan tempat perbelanjaan. Gadis-gadis ini terus saja mendatangi toko demi toko yg menarik perhatian mereka. Wajar saja, sebagai bangsawan mereka pasti tak takut kehabisan uang. Seharian penuh itu aku terus dipaksa menemani merak berkeliling kota, berbelanja, sna melihat hal-hal yg tak pernah kulihat sebelumnya. Dan aku mulai terbiasa dengan ini.


   Dan entah kenapa, aku mulai menyukai kegiatan ini. Aku memang pernah berkeliling kota bersama Kayn sewaktu kami dirawat oleh Oliver, tapi tak pernah semenyenangkan ini. Melakukan ini bersama orang lain terasa begitu berbeda. Entah apa yg membuatnya berbeda. Aku jadi sedikit menikmatinya.


   Tak terasa hari sudah mulai gelap. Kami harus segera pulang


" Sepertinya kita sudahi sampai disini saja" ucap Liana " sudah hampir malam..."


" Benar juga, saking senangnya aku sampai lupa waktu " balas Elie tersenyum riang. Kali ini ia kembali menatapku, masih tersenyum " nah Zayn, bagaimana? Apa kau menikmatinya?"


   Aku menggaruk kepalaku yg sama sekali tak gatal sambil memalingkan wajah.


" Yah...kuakui, ini lumayan" jawab ku sedikit malu. Ini bertentangan dengan apa yg kupikirkan sebelumnya. " Aku sering melakukan ini bersama Kayn...tapi tak pernah semenyenangkan ini..."


   Elie tersenyum puas sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku sedikit kaget. Dari jarak sedekat ini, aku baru sadar kalau sebenarnya Elie ini adalah gadis yg sangat cantik. Wajahnya terlihat seperti bulan purnama yg bersinar terang dikegelapan malam.


" Sudah kukatakan bukan? Memilik teman itu tidak buruk" ucapnya.


   Elie menunjukkan jari telunjuknya kearahku, sambil tersenyum bangga.


" Ini pelajaran pertamamu Zayn" ucapnya " nomor satu : pertemanan bisa membuat sesuatu yg biasa menjadi luar biasa. Itulah keajaiban dari sebuah kebersamaan"


   Aku memahaminya. Aku juga sudah merasakannya. Aku tak bisa menyangkal itu. Kali ini Elie mengulurkan tangannya padaku.


" Nah Zayn, dengan semua ini apa kau mau berteman dengan kami?"


   Dia melakukan semua ini hanya agar aku mau berteman dengannya. Aku terkesan. Ternyata bangsawan itu orang-orang yg nekat ya.


" Elie, jangan kira aku tak tahu apa-apa tentang pertemanan. Hanya dengan melakukan semua ini kau kira kau bisa dengan mudah membuat orang itu menjadi temanmu? Kau salah. Jika ingin seseorang menjadi temanmu, maka kau perlu mendapatkan kepercayaannya..." Ucapku panjang lebar. Elie dan Liana tertegun memandangiku. Aku tersenyum " ...dan selamat, kau telah mendapatkannya...kurasa aku bisa mempercayai kalian"


   Seketika wajah mereka berdua terlihat berseri. Elie kemudian mendekat, lebih dekat dari sebelumnya dan menggenggam erat tanganku.


" Jadi itu artinya kau mau berteman dengan kami?" Tanyanya

__ADS_1


" Memangnya apa lagi kalau bukan itu!" Balasku dengan pertanyaan " ya... Terimakasih untuk hari ini Elie, Liana..."


   Dan resmi sudah, mulai saat ini aku menjadi teman mereka berdua . Sungguh sesuatu yg tak terduga bagi Zayn The Monster ini.


___________________________________________


   Pintu rumah kubuka, si Kayn sama sekali tak menguncinya. Aku langsung masuk dan mendapati Kayn sedang tertidur di meja belajar, dengan sebuah buku yg terbuka didepan mukanya.


" Oi Kayn, bangun" ucapku menggoyang tubuhnya.


" Ah... Kau sudah pulang ya Zayn..." Balas Kayn setengah mengantuk " bagaimana kencannya? Berjalan lancar?"


" Itu bukan kencan!! Lagi pula apa yg kau lakukan? Membaca buku lagi?"


" Tentu saja. Memangnya apa lagi?"


   Ya, begitulah Kayn . 90% hidupnya adalah membaca dan membaca. Membosankan sekali.


" Seharusnya kau mencari kegiatan lain selain membaca buka Kayn. Membaca buku seumur hidup itu membosankan" ucapku.


" Hanya karena kau barusan bersenang-senang dengan dua orang gadis, kau tak berhak menasihatiku" balas Kayn. "Selain itu, apa kau menyadarinya Zayn?"


" Menyadari apa?" Tanyaku.


   Ruangan tempat kami berada seketika hening.


" Ada yg aneh ditubuh gadis itu.." lanjutnya.


" Elizabeth?"


" Bukan, gadis yg satunya "


   Gadis yg satu lagi, itu berarti Liana. Memangnya ada apa dengannya?


" Kau tahu sihir pendeteksi suci ku kan?" Tanya Kayn. Aku mengangguk. Tentu saja aku tahu itu. " Tak ada satu sihir gelap pun yg luput dari penglihatan ku"


" Kau ingin bilang kalau ada sihir gelap ditubuhnya?"


" Bukan hanya sihir gelap biasa..." Ucapnya " itu kutukan Iblis"


   Aku terkejut. Kutukan Iblis. Itu adalah kutukan yg dapat mengubah inang tempat ia berada menjadi iblis. Tapi iblis yg terlahir dari kutukan Iblis bukan iblis biasa. Kekuatannya bisa saja setara dengan raja iblis, dan lebih parahnya lagi aad kemungkinan kalau iblis yg lahir itu lebih kuat dari raja iblis. Dan sekarang Liana menjadi pemilik kutukan itu? Itu akan jadi sangat berbahaya.


" Lalu, apa kau bisa menetralkannya?"


" Sihirku tak bisa menetralkan sihir yg belum aktif. Aku mungkin bisa menetralkannya sewaktu kutukan itu aktif, tapi itu terlalu beresiko. " Jawabnya.


   Jika sudah begini, aku tahu pasti apa yg harus kami lakukan.


" Jadi..kita perlu mengantarkannya ke nyonya Stephanie dimarkaz?" Tanyaku.


" Itu satu-satunya cara, tapi kita punya masalah disini..." Balas Kayn. " Kita tak boleh pergi ke markas sampai ada kabar yg membolehkan kita kembali"


" Itu benar..." Gumamku.


" Tentu saja kita tak akan mengantarkannya sekarang" lanjutnya " selagi kutukan itu belum aktif, ia sama sekali tak berbahaya."


" Begitu ya..."


   Kayn terus menatapku. Aku mulai merasa kalau ia merencanakan seseorang padaku. Ah, mau bagaimana lagi.


" Baiklah-baiklah,  kau ingin aku melindunginya kan?" Tanyaku " akan kulakukan"


" Yup, adikku ini memang cepat tanggap. Walaupun agak bodoh"


" Oi, jaga mulutmu!"


   Kayn tertawa melihat reaksi ku. Benar-benar kakak yg menyebalkan.


" Ngomong-ngomong Zayn, kau jadi lebih penurut. Apa gadis itu berhasil merubah sikapmu?"


" Cih, itu bukan urusanmu"


" Oh, lagi jatuh cinta ya..."


" Siapa yg jatuh cinta sialan?!" Balasku kesal " aku mau tidur, selamat malam!!"


" Jangan begitu Zayn, orang sepertimu ini membutuhkan cinta yg tulus dari seorang gadis"


" Berisik!!"

__ADS_1


 


  Masa bodoh dengannya. Aku ini bukan orang yg akan jatuh cinta semudah itu. Lagipula, aku bukan tipe orang yg cocok untuk menerima cinta dari gadis sepertinya.


__ADS_2