Absolute Twin Magician

Absolute Twin Magician
Detik-detik Sebelum Penyerangan


__ADS_3

"eh?! Yg benar saja?!" Teriak Elie ditengah-tengah kerumunan. "Kita akan bekerjasama dengan vampir?!


"Hey hey, kabar ini terlalu berat untuk dicerna ... Apa yg sebenarnya terjadi selama kalian pergi?" Tanya Kate.


Ini sudah lima menit setelah Infinity Chamber dinonaktifkan, dan para vampir kembali ke sisi Rozalia. Kami para manusia pun segera kembali ke posisi awal, menjelaskan situasi saat ini pada rekan kami yg lain. Tapi, tentu saja kabar ini disambut dengan keterkejutan yg tak terkira.


Kabar tentang kerjasama ini menimbulkan banyak pertanyaan dari pihak yg berjaga di kota. Bagaimana tidak, kabar ini sangat bertentangan dengan rencana awal kami yaitu menghabisi para vampir utusan yg tak lain adalah kelompok Zuan. Mereka bukannya tidak setuju dengan ini, hanya saja kabar ini terlalu mengejutkan bagi mereka. Memikirkan vampir yg mu bekerjasama dengan ras seperti manusia saja sudah membuat mereka pusing.


Wajar saja, ini adalah kali pertamanya manusia dan vampir menjalin ikatan kerjasama.


"Hey Louise. Apa kau benar-benar yakin dengan ini?" Tanya Guts. "Apa rencana ini tak terlalu beresiko?"


"Guts benar. Mereka ini vampir lho. Pasti mereka punya maksud lain dibalik ini semua," ucap kak Chezie menimpali.


"Tenang saja, mereka ini bisa dipercaya," jawab Osamu dengan percaya diri. "Yg terpenting, saat ini kita harus fokus memenangkan pertempuran ini ...."


"Bagaimana dengan rencananya?" Tanya Kallen.


Osamu lalu menjelaskan semua rencana kami dari awal. Semua ia jelaskan tanpa melewatkan satu detail kecil pun. Seperti yg ia jelaskan sebelumnya, yg akan maju menghadapi Rozalia hanya Kayn dan Zuan yg saat ini dan seterusnya akan berada disisi Rozalia. Untuk pasukan lain, Osamu mengerahkan mereka untuk tetap menjaga jalur utama kota dari para vampir. Meskipun itu dilakukan hanya untuk berjaga-jaga saja, karena sebagian besar waktu pertarungan akan terjadi di dalam Infinity Chamber nya Osamu. Mereka hanya akan bergerak jika Infinity Chamber hilang atau rusak. Dan untuk kekuatan utamanya, kami akan membagi dalam beberapa kelompok. Masing-masing akan menghadapi sisa vampir bangsawan yg saat ini masih mengawal Rozalia. Bagaimana mereka bisa berpencar adalah bagian Zuan, ia yg akan memikirkan caranya. Sebagai vampir terpercaya disisi Rozalia, membuat mereka menjauh dari Rozalia pasti mudah.


Tiap kelompok akan terdiri dari 3 sampai 5 orang, yg kemungkinan akan menghadapi sekitar 2 vampir bangsawan. Dan tentunya, keberadaan bantuan juga akan hadir membantu disaat-saat terdesak.


Disaat vampir lain berpencar dan meninggalkan Rozalia berdua dengan Zuan, saat itulah Kayn akan maju sendirian menghadapi nya. Tujuannya hanya untuk menetralkan Counter nya. Saat Counter dinetralkan, saat itulah tugas Zuan untuk mengakhiri nyawa Rozalia.


Rencana yg kelihatan cukup sederhana. Tapi dengan ini, semoga saja pertarungan sia-sia ini akan segera berakhir.


"Jadi kau akan pergi sendirian, Kayn ...." Tanya Liana. Ah, kelihatannya dia khawatir. "Apa kau sanggup melakukan itu semua sendirian?"


"Jangan khawatir Liana, aku pasti akan baik-baik saja," balas Kayn tersenyum lebar. Ia mengatakan itu dengan sangat percaya diri, seperti biasanya.


Mendengar jawaban Kayn, kecemasan Liana sepertinya sedikit berkurang.


"Baiklah ... Kalau Kayn bilang seperti maka tak akan ada masalah, kan?"


"Tentu saja."


Semoga saja apa yg diharapkan Liana benar. Bagaimana pun juga Kayn masihlah kakakku, dan satu-satunya keluarga ku yg tersisa. Aku tak pernah tahu kalau kami punya keluarga lain atau tidak, tapi saat ini hanya dia yg kupunya. Aku tak mau kehilangan lagi, meskipun dia itu menyebalkan.

__ADS_1


Meskipun begitu, aku punya sedikit firasat buruk ketika memikirkan apa yg akan terjadi jika ia pergi sendirian.


Berusaha menghilangkan pikiran itu, aku menoleh kearah Elie yg saat ini sedang menatap keluar jendela. Cahaya matahari yang tenggelam menyinari wajahnya yg ditutupi raut muka cemas. Seperti halnya Liana, ia juga mencemaskan sesuatu.


"Kau sedang mencemaskan sesuatu, Elie?" Tanyaku menghampiri nya. Menyadari kehadiran ku, ia sedikit kaget. "Apa kau takut?"


"T-tidak kok, aku tak takut!"


"Jangan berbohong. Ini pertarungan pertamamu, jadi wajar saja kalau kau takut ...." Ucapku. Elie kembali terdiam.


"Aku ... Bukannya takut. Hanya saja, aku merasa sedikit ... Ragu."


"Ragu?"


"Sebentar lagi kita akan mulai berperang, itu berarti pertumpahan darah akan terjadi ... Aku masih ragu dengan apa yg kupilih. Apa ini hal yg benar atau tidak?" Ucapnya.


"Apa menurut mu bertarung melawan mereka untuk melindungi kampung halamanmu adalah hal yg salah?"


"Tidak, tentu saja itu bukan sesuatu yang salah!"


"Kalau begitu apa lagi yg kau ragukan?"


Ah, begitu. Aku tahu apa yg ia rasakan. Ini perasaan ketika pertama kali hendak membunuh makhluk hidup. Membunuh monster dan membunuh makhluk yg berakal itu berbeda. Karena itu, orang akan jadi merasa bersalah membunuh makhluk berakal, meskipun mereka sudah lama berburu atau membunuh monster. Walaupun yg kita bunuh itu sebelumnya hendak membunuh kita. Aku akan lebih heran jika ia tak merasa terganggu dengan ini.


"Elie ... Kau bukan pembunuh, dan kau belum pernah membunuh. Karena itu, kau boleh saja berhenti. Ini masih belum terlambat untuk melakukan nya,"


"T-tapi, mana mungkin aku mundur dan diam saja sementara kalian semua bejuanh disana!" Balasnya. Rasa keadilan nya cukup tinggi ternyata.


"Kalau begitu, apa yg kau inginkan?" Tanyaku.


"Aku ... Aku ingin terus disisimu," jawabnya lirih, sedikit malu-malu.


"Kalau begitu, kau harus segera menentukan pilihan mu. Jangan takut untuk membunuh, tapi jangan sampai membiarkan dirimu terbiasa dengan itu ...." Ucapku.


"T-tapi ...."


"Ah, dasar anak baru ... Apa yg sebenarnya kau bingungkan sih?!"

__ADS_1


Tanpa kami sadari, Zero sudah muncul disamping kami. Dia pasti menggunakan teleport untuk berpindah disebelah kami, itu pasti. Ia sudah disana tanpa kami sadari, menyandarkan punggungnya ke dinding sambil melipat tangan.


"Z-zero?!"


"Kalau kau tak ingin membunuh, kau tak perlu membunuh. Kau pikir pertarungan hanya bisa dimenangkan dengan membunuh? Cukup lakukan apa yg mesti kau lakukan, kau punya posisimu sendiri, karena itu tentukan pekerjaan apa yg cocok untuk dilakukan oleh dirimu itu. Itu peranmu sebagai seorang Stalwart kan?"


Elie terdiam mendengar kata-kata panjang dari Zero. Yah, aku juga sedikit kaget. Tak kuduga, ternyata dia juga bisa memberi nasihat kepada juniornya. Apa mungkin sebenarnya dia itu sosok senior yg perhatian? Tapi yah, yg dikatakan Zero itu benar. Gelar Elie adalah The Stalwart yg berarti pendukung. Bisa dibilang dia adalah seorang supporter. Bertarung di garis depan bukanlah tugas dan keahlian supporter. Karena itu, ia tak harus membunuh setiap musuh yg ia temui, karena tugas utamanya adalah mendukung penyerang utama.


"Begitu ya ... Sepertinya aku mengerti maksudnya. Aku hanya perlu melakukan tugasku sebagai Stalwart dengan membantu dan mendukung dibelakang Zayn. Benar begitu kan?"


"Kau paham juga ternyata. Baguslah," ucap Zero.


"Begitu ya. Terimakasih banyak, Zero!" Ucap Elie.


Sepertinya, ia telah mendapatkan kembali keceriaannya. Terimakasih untuk Zero.


"Aku akan selalu berada disisi Zayn, membantu dan selalu mendukungnya! Karena itu adalah tugasku sebagai Stalwart! Bukan hanya itu, sudah tugasku juga mendukung pacar yg kucintai setiap saat!"


"Woah, semangat yg bagus Elie," ucap Zero tertawa.


"Itu bagus, tapi bisakah kau berhenti mengatakan itu keras-keras? Itu membuatku sedikit malu, Elie," ucapku. Untung saja tak ada orang yg cukup senggang untuk mendengar ucapan Elie barusan.


"Yah tugas Elie adalah mendukung. Dan melindunginya adalah tugasmu, Zayn," ucap Zero. "Ingat itu baik-baik ...."


"Iya-iya tak perlu kau katakan pun aku sudah paham."


"Baguslah kalau kau mengerti. Akan bahaya nantinya kalau kau terus-terusan fokus menyerang tanpa memperhatikan kebelakang," ucap Zero.


"Selain itu, bukankah seharusnya kau mencari teman untuk berbagi kelompok denganmu, Zero?" Tanyaku. "Apa kau sudah mendapatkan kelompok?"


"Ah benar juga," ucap Elie.


"Hmmm, yah soal itu tak Masalah. Lagipula aku sudah menemukan partner ku," ucap nya.


"Siapa?"


"Kalian berdua tentunya."

__ADS_1


"Hah?"


Yg benar saja. Jadi itu inti dari kedatangannya.


__ADS_2