Absolute Twin Magician

Absolute Twin Magician
Awal yg Sesungguhnya


__ADS_3

"perang yg sesungguhnya baru saja akan dimulai ...."


Sebuah Ultimatum di berikan secara langsung oleh Zuan, salah satu petinggi dari para vampir bangsawan yg saat ini menyerang kota Bluelagoon. Sebuah pernyataan perang dari bangsa vampir atas manusia di kota Bluelagoon yg damai.


Pernyataan itu membuat semua yg mendengarnya terdiam. Suasana hening bukan main. Semuanya merasa tak bisa melakukan apa-apa melihat aura merah darah yg menyelimuti vampir itu. Bagaikan Monster raksasa yg siap menghancurkan segalanya.


Tapi, ia tak mulai menyerang. Malahan, ia memberi kami waktu untuk bersiap.


"Hari ini kalian bebas melakukan apapun. Sebaiknya kalian bersiap untuk mati dengan gagah di medan perang besok. Itu jauh lebih memuaskan dari pada melawan musuh yg lengah tak berdaya seperti kalian saat ini." Ucapnya.


Kami para Magic Knight terdiam, menatap tajam kearahnya. Saat ini, kami belum bisa menghadapinya tanpa persiapan apapun. Lagipula kami tak punya informasi apapun mengenainya. Semoga saja ReVoid mengetahui sesuatu tentang mereka.


"Jangan bercanda! Kalau kalian memang ingin memusnahkan kami, lakukan sekarang!!" Teriak Shiki. Aku tak tahu ia melakukan itu untuk memprovokasi nya atau bukan, tapi ia terlihat ketakutan.


"Aku tak ingin mendengar itu dari bocah yg gemetaran seperti mu ...." Ucap Zuan menatap Shiki balik. "Sampai besok, manusia yg malang ...."


"T-tunggu!!"


Aura merah itu perlahan menghilang. Dan hawa keberadaan Zuan juga ikut lenyap. Sepertinya, ia benar-benar memberi kami waktu untuk bersiap. Aku tak tahu apa yg ia rencanakan, tapi sepertinya ia tak berniat untuk meremehkan kami.


"Hey, apa-apaan itu tadi?" Tanya Gale. "Aura miliknya cukup mengerikan ...."


"Zero benar. Aku sekilas kehilangan rasa kantukku karenanya ...." Ucap Tony. "Sepertinya aku sedikit membencinya."


"Selain itu, aku tak bisa merasakan hawa keberadaan nya. Seakan ia muncul tiba-tiba disana," ucap Zero.


"Vestine?" Tanya nona Stephanie, menatap kearah pak Vestine.


"Seperti yg ia katakan, ia merupakan salah satu petinggi para bangsawan vampir. Zuan Von Archimiste," jawabnya. "Ia adalah vampir kepercayaan Rozalia. Dengan posisinya yg berada di tingkatan kedua dari pembesar bangsawan vampir, ia adalah salah satu masalah terbesar setelah Rozalia ...."


"Meskipun vampir yg satu itu tak memiliki hasrat membunuh seperti Rozalia. Tetap saja, dia vampir yg sangat berbahaya," ucap Kate.


"Mereka sampai mengirim makhluk seperti itu. Sepertinya artifak ini benar-benar sangat penting bagi mereka," sahut Kallen. "Death Wand. Tongkat sihir yg dapat melemahkan satu kota."


Seperti yg Zero katakan, vampir bernama Vic itu tidak berbohong. Berita tentang artifak itu benar-benar nyata. Jika benda se berbahaya itu sampai kembali ke tangan vampir, masa depan benua Fitzgerald dalam bahaya.


Meskipun begitu, sebenarnya kenapa artifak itu bisa ada di kota ini?


Malam ini, kami tak menemukan gangguan vampir lagi semenjak kepergian Zuan. Seperti yg ia katakan, kami benar-benar diberi waktu untuk mempersiapkan diri. Dan bukan hanya kami, sepertinya para vampir juga tengah mempersiapkan pasukan mereka untuk penyerangan besok malam.


Karena hal ini, kami tak bisa terus bersantai-santai. Kedamaian benua Fitzgerald ada ditangan kami sekarang. Jika kami kalah, maka benua ini akan tamat.


Di pagi harinya, nona Stephanie ditemani pak Vestine dan Kallen pergi menemui raja untuk membicarakan hal ini. Ini sudah bukan masalah kecil lagi. Jika kita ini benar-benar akan menjadi medan perang, para warga harus segera di evakuasi.


Untungnya, itu berjalan semua lancar. Sepertinya para bangsawan kerajaan itu baru mau bergerak disaat-saat genting saja. Yah, aku tak begitu peduli dengan mereka. Tapi saat ini prioritas kami adalah mengalahkan para vampir dan melindungi warga kota ini.


Dan akhirnya, raja mulai buka mulut. Ia menjelaskan tentang artifak Death Wand itu.


Itu adalah legenda 500 tahun yg lalu, saat lima pahlawan legendaris berperang melawan vampir. Saat itu mereka berhasil merebut Death Wand dan menyegelnya. Dan tempat disegel nya benda itu lama kelamaan berubah menjadi sebuah kota. Dan inilah dia, kota Bluelagoon yg saat ini kami tempati. Keturunan pahlawan itu terus menjaga segelnya dari generasi ke generasi. Namun sepertinya akhir-akhir ini, segelnya mulai memudar, dan keberadaan tongkat itu berhasil di deteksi oleh vampir masa kini. Untuk membalas dendam atas kekalahan mereka di perang itu, para vampir berniat merebut kembali Death Wand.


Dan saat inilah, aku, Guts, Elie, dan Zero berangkat menuju ke distrik 9 yg merupakan daerah pusar pendidikan kota Bluelagoon. Distrik itu memiliki banyak perpustakaan dan beberapa sekolah. Dan diantara sekolah-sekolah itu, terdapat sebuah arena yg terlihat seperti Coloseum di masa Romawi kuno. Menurut perkataan raja, Death Wand di segel di sekitar sini.


"Hmmm ... Pak tua itu jujur. Aku bisa merasakan Manna yg sangat gelap di bawah tanah arena ini," ucap Zero.


"Dibawah tanah ...." Gumam Guts. "Apa ada pintu masuk kesana?"

__ADS_1


"Seharusnya ada. Dan pastinya itu di segel juga," jawabku.


"Kau bisa masuk kedalam, Zero?" Tanya Guts.


"Heh, tentu saja. Itu hal yg mudah."


"T-tunggu, kau ingin menggunakan teleport? Bukankah lebih baik kita izin dan masuk baik-baik?" Tanya Elie.


"Kau naif sekali hey pemula ... Dan juga terlalu polos," ucap Zero.


"Jika pintu itu disegel, itu berarti siapapun kita tak akan diizinkan untuk masuk. Meminta izin akan percuma, Elie," jawab Guts. "Tenang saja, aku tahu perasaan mu. Dulu sewaktu pertama kali masuk rumah tanpa izin aku juga merasa risih seperti ini."


"Eh? Kau dulu pernah merampok rumah orang, kak Guts?!" Teriak Elie kaget.


"Bukan merampok, hanya memeriksa kok. Tenang saja, aku bukan perampok."


Entah kenapa melihat Guts yg akrab dengan Elie membuatku sedikit risih.


"Aaah, kalau begitu semuanya saling berpegangan. Kita akan segera masuk."


"T-tunggu dulu Zero, aku belum siap!"


"Teleport!"


Lingkaran sihir teleport Zero muncul dan membawa kami ke sebuah ruangan dengan sedikit penerangan. Ruang ini cukup besar, aku bahkan hampir tak percaya kalau ini ada dibawah tanah.


Ini adalah ruangan berbentuk setengah bola, dengan diameter sekitar 500 meter. Ditengah-tengah ruangan, sebuah altar kuno berdiri kokoh. Disana, kami bisa merasakan Manna gelap yg begitu besar tersegel. Sebuah tongkat sihir dengan relik kuno melayang di tengah-tengah altar, dilindungi oleh cahaya sihir yg menyegelnya.


Didepan altar, seorang kakek tua yg sepertinya berumur 70 tahunan berdiri menatap kami kaget. Ia dengan sigap menodongkan tongkat sihirnya ke kami. Sepertinya, kakek tua ini adalah keturunan pahlawan yg menjaga segel ini. Seorang penyihir dengan kelas Sage.


"S-siapa kalian?!" Teriaknya.


"M-maaf mengejutkanmu. Tapi kami datang kesini hanya untuk—


"Pencuri! Kalian pasti ingin mencuri tongkat ini kan?!"


Kata-kata Elie dipotong begitu saja, dan dia terus menyebut kami pencuri. Sepertinya pikiran orang ini sudah menua seperti umurnya yg sudah lanjut. Dia benar-benar tak mau mendengar apa yg kami katakan.


"Kami datang atas perintah raja," ucapku.


Mendengar itu, kakek tadi langsung diam dan tak berkata apapun. Ia juga kemudian menurunkan tongkatnya.


"Raja ya ... Kalau memang begitu seharusnya kalian masuk baik-baik dan bicara."


"Tuh kan Zero! Sudah kubilang lebih baik izin!"


"Berisik, bisakah kau diam sebentar, anak baru?" Ucap Zero. Seperti biasa mereka tak bisa akur.


"Lalu, apa yg ingin kalian katakan padaku, utusan raja?" Tanyanya.


Zero maju, menghadap ke kakek tua itu.


"Langsung ke intinya saja. Serahkan Death Wand."


Oi oi, bukankah perkataan mu itu seperti seorang perampok? Bisakah kau sedikit lebih sopan dalam meminta sesuatu? Setidaknya jelaskan kenapa kita mencari tongkat itu!

__ADS_1


"Dea— apa yg kau maksud, t-tak ada benda seperti itu ditempat ini."


Yah, jelas sekali kalau dia berbohong. Kuharap Zero bisa sedikit menahan emosi. Sejauh yg kutahu, Zero sangat benci seorang pembohong.


"Cih ... Aku meminta dengan serius, kakek tua."


Ah, gawat. Seperti dugaanku, ia mulai emosi.


"Z-zero ... Tahan, tahan emosimu," ucapku.


Sekarang, Zero memasang tatapan intimidasi pada kakek tua renta itu. Tatapan itu saja sudah membuat kakek itu sedikit ketakutan. Apa dia benar-benar keturunan pahlawan?


"Nah kek, aku benci pembohong. Aku tahu kalau Death Wand ada disini. Atau lebih tepatnya ada dibelakang mu kan? Di altar itu."


"A-apa yg kau katakan? I-itu hanya tongkat sihir biasa!"


"Mana mungkin tongkat sihir biasa diberi segel sekuat itu, kau kakek sialan!!" Teriak Zero. Ia benar-benar sudah panas. "Cukup acara bohong-bohongnya. Kami tak punya waktu jadi cepat berikan tongkat itu!"


"K-kalau kau mau ambil saja sendiri."


"Segelnya! Hilangkan segelnya, dasar kau kakek sialan! Mana bisa aku mengambilnya kalau segel itu masih ada disana!" Teriak Zero.


"K-kalau aku melepaskan segelnya para vampir akan datang ke kota ini! Aku tak bisa melakukannya!" Jawab kakek itu.


Kami seketika terdiam. Ada apa dengan kakek ini? Apa dia tak tahu keadaan diluar sana?


"Oi kek, kau serius mengatakan itu? Apa kau tak tahu apa yg saat ini terjadi diluar?" Tanya Zero. "Gara-gara tongkat sialan ini, kami jadi kerepotan kau tahu?"


"A-apa yg kau maksud?"


"Huh, jadi kau benar-benar tak tahu ya?" Tanya Zero. "Karena segel itu melemah, para vampir sudah lama datang mengincarnya. Dan sekarang mereka akan datang dengan pasukan mereka hanya untuk merebut benda itu."


Mendengarnya, kakek itu terdiam. Sepertinya, ia sama sekali tak tahu apa-apa tentang serangan vampir selama beberapa minggu ini. Dan sekarang, aku baru sadar kalau seluruh tempat ini dilapisi sihir dan disegel dari dalam. Tak banyak orang yg bisa melepas segelnya, karena itu ia tak mendapat informasi apapun tentang apa yg terjadi diluar sana.


"Karena itu, kota ini sudah tak aman lagi. kami akan mengambil alih tongkat itu." Guts yg dari tadi menonton maju kehadapan kakek itu. "Tergantung situasi, mungkin kami juga harus menghancurkannya."


Setelah terdiam beberapa saat, kakek itu lantas bergerak kearah altar. Ia melakukan sesuatu dengan tongkat itu. Segelnya menghilang, dan tongkat itupun ia pegang dengan sangat hati-hati. Seketika, semua Manna gelap yg tersegel itu menyebar luas. Benar-benar Manna yg mengerikan.


"Aku percaya, dan kalian juga terlihat tak berbohong. Aku sudah sangat tua, dan tak mampu melindungi tongkat ini lagi. Benda terkutuk ini sangat berbahaya. Leluhurku berjuang keras agar dapat merebutnya dari tangan vampir 500 tahun yg lalu," kakek itu kembali berjalan mendekati kami dengan membawa Death Wand ditangannya.


"Baguslah kalau anda mengerti situasi nya," ucap Guts.


"Benda ini milik para vampir yg haus darah. Karena itu jangan sampai mereka—


"Karena itu, cepat kembali kan tongkat itu pada kami, manusia sialan!!"


Itu terjadi dengan sangat tiba-tiba. Sesuatu melesat dengan sangat cepat kearah kakek itu, merebut Death Wand dan bahkan membuat tangan kakek itu terpotong. Ia lantas mundur dan mengerang kesakitan.


"Kakek tua! Bertahanlah!" Teriak Elie, berusaha memberikan pertolongan pertama padanya.


"Siapa disana?!"


"Ozax Mathel, itu namaku."


Sosok vampir muncul dari atas altar. Death Wand ada ditangan nya, dan itu adalah kondisi terburuk yg seharunya tak boleh terjadi.

__ADS_1


"Salam kenal, manusia keturunan pencuri sialan, dan selamat tinggal."



__ADS_2