Absolute Twin Magician

Absolute Twin Magician
Kabar yg Mengejutkan


__ADS_3

Gadis berambut merah jambu itu melambaikan tangannya kearahku, membuat semua perhatian menuju padaku yg tak tahu apa-apa ini.


" Zayn!!"


Yah, siapa sangka orang tambahan yg dikirim paman Oliver menyamar sebagai murid sepertiku. Ditambah lagi dia itu orang yg paling tak kusukai. Orang paling menyebalkan yg pernah kutemui.


" Fiera?..." gumamku dengan suara yg tak bisa didengar oleh orang lain.


" Wah, apa dia kenalanmu?" Tanya guru itu.


" Ya, bukan hanya kenalan. Fiera dan Zayn itu saling terikat takdir "


" T-terikat takdir?"


Seperti yg kuduga, kesan pertama yg ditimbulkan Fiera pastinya adalah sebuah kesalahpahaman. Hanya dengan kata-kata itu saja semua orang menatapku kaget.


" Apa yg kau katakan bodoh?!" Balasku. " Jangan katakan kata-kata yg bisa membuat orang lain salah paham!!"


" Salah paham?"


" Ehm...begini, aku dan Fiera itu hanya teman masa kecil. Mohon jangan anggap serius semua ucapannya itu." Ucapku


" heeeh, tapi bukannya Fiera dan Zayn itu seperti kekasih?" Tanya Fiera dengan polosnya.


Samar-samar aku mendengar suara pensil patah dari tempat Elie duduk. Dan itu membuatku sedikit gemetar.


" A-aku tak pernah dengar itu! Lagipula siapa yg mengatakannya?"


" Kak Marry." Balas Fiera lagi dengan muka polos tak bersalah.


Dasar kak Marry. Apa yg sebenarnya kau ajarkan pada Fiera ini sih?!


" Jadi... Sebenernya siapa yg benar disini?" Tanya guru dengan heran.


" Seperti yg kukatakan tadi, aku dan Fiera hanya teman masa kecil. Hanya sebatas itu saja." Sanggahku dan langsung kembali duduk.


" B-baiklah... kalau begitu silahkan duduk ditempat yg kosong Fiera..."


" Baik"


Fiera meninggalkan tempat itu dan duduk di bangku deretan depan. Untuk saat ini aku bisa tenang karena dia tidak duduk di dekatku. Murid-murid lain yg sama sekali tak dekat denganku kembali menatap kearah papan tulis. Pelajaran pun akhirnya dimulai.


" Kau terlalu berlebihan lho Zayn... mengatakan hal seperti itu ke gadis polos seperti Fiera." Sindir Liana yg duduk di depanku, bersebelahan dengan Elie. " Padahal dia itu tulus lho..."


" Yah, walaupun aku tak menyukainya itu tadi tetap saja keterlaluan." Sahut Elie juga.


" Tunggu, jangan bilang kalian kalau marah"


" Yah... sedikit sih"


Huh, apa boleh buat. Ini sudah seperti kebiasaanku memperlakukan Fiera seperti itu. Tapi kalau dipikir-pikir itu memang sedikit keterlaluan. Itu kata-kata yg cukup kasar untuk dilontarkan ke gadis seperti Fiera. Aku jadi sedikit paham kenapa mereka berdua marah.


Yah, sepertinya aku benar-benar harus meminta maaf nanti.


Setelah berjam-jam, akhirnya kegiatan sekolah yg membosankan ini selesai tanpa adanya masalah. Selama di kelas tadi, aku tak sempat berbicara dengan Fiera, dan dia juga tak sempat menggangguku. Setiap jam istirahat, beberapa murid perempuan dikelas selalu saja berdatangan menghampirinya. Sebagai murid baru di kelas, itu sudah wajar.


Aku memutuskan untuk mengajak Fiera jalan-jalan sore ini. Tentu saja Elie juga ikut, dia sama sekali tak membiarkanku berdua saja dengan Fiera.


Dan tak seperti yg kuharapkan, jalan-jalan sore ini sangat buruk. Karena hampir tiap detik, selalu saja ada hal yg mereka debatkan. Mulai dari tujuan kami, tempat apa yg ingin dikunjungi, semuanya menjadi bahan perdebatan yg tak habis-habis. Tentu saja yg berdebat hanya Fiera dan Elie. Aku hanya bisa menjadi pelerai mereka.

__ADS_1


" Hei kalian...aku mengajak kalian berdua itu agar kalian cepat akrab...." Ucapku lesu. " Kalau seperti ini terus tak akan ada yg berubah kan...."


" Tidak, Fiera tak akan pernah akrab dengan si licik yg sudah menculik Zayn ini." Ucap Fiera.


" A-apa yg kau katakan?! Aku bukan penculik!!" Balas Elie emosi.


" Kalau begitu kau bangsawan manja!"


" D-dasar tak sopan!"


" Hei hei, sudah Kubilang kan? kalian itu harus akrab"


" Itu tak akan pernah terjadi!" Jawab Fiera.


" Untuk pertama kalinya aku sependapat dengan anak ini." Balas Elie juga.


" Huh, kalian tahu kan kalau kita ini sekarang satu tim? Kalau terus seperti ini bagaimana kita bisa mengatasi musuh?" Ucapku.


" Itu tak ada hubungannya kan?" Sahut Fiera.


" Itu saling berhubungan, dasar bodoh." Balas Fiera. " Kalau tidak ada rasa saling percaya antar anggota, semuanya akan kacau."


" Wah, sepertinya kau mengakui hal itu Elie. Kalau begitu kau tahu kan apa yg harus kalian lakukan?"


" Tapi tetap saja mustahil kami bisa akrab." Balas Elie.


" Tapi selagi ada kemauan semua pasti bisa kan?" Tanyaku lagi " aku yakin 100% kalau kalian pasti bisa akrab."


" Kalau begitu Fiera tak yakin 200%!!"


"Hah? Apa yg kau katakan Fiera?" Tanyaku heran.


" Tidak, tunggu, aku tak paham apa yg kau maksud."


" Kalau begitu kita akan bertaruh." Lanjut Fiera. Jujur aku tak paham pola pikir anak ini.


" Apa maksudmu?"


" Akan Fiera buktikan pendapat siapa yg akan menang. 100% Zayn atau 200% Fiera!" Ucapnya dengan sangat antusias.


Aku tertawa kecil. Tak kusangka dia sebodoh ini.


" Ya ya terserah...." Ucapku.


Jalan-jalan kami selesai ketika matahari sudah hampir tenggelam. Suasana di kota semakin sepi. Ini tak seperti kota di hari biasa. Seperti mereka terpaksa kembali ketika hari sudah mulai gelap. Kami juga harus segera kembali ke rumah.


" Sudah mau malam, kita harus segera kembali." Ucapku. " Aku akan mengantar Elie pulang. Kau duluan saja Fiera."


" Tidak, Fiera mau ikut."


" Eh? Kau yakin? Bukannya kau membencinya?"


" Aku harus tahu semua tentang musuhku sebelum peperangan. Termasuk lokasi markas musuh." Ucap Fiera


" Ya...terserah lah." Ucapku.


" Cari alasan lain yg lebih bagus lagi bodoh." Ucap Elie.


" Fiera tak mau dengar itu dari musuh." Ucapnya sambil memalingkan mukanya.

__ADS_1


Pada akhirnya, Fiera juga ikut dengan kami menuju kediaman Bathory. Semakin lama langit semakin gelap. Kami harus cepat-cepat kembali ke rumah.


Beberapa menit berjalan, kami akhirnya sampai di gerbang kediaman Bathory. Penjaga gerbang dengan sigap menyambut kami.


" Kau benar-benar anak orang kaya ya...." Ucap Fiera dengan mulut terbuka. Tampaknya ia kagum dengan kemegahan kediaman Bathory yg mewah ini.


" Kalau begitu aku pulang dulu Zayn. Terimakasih untuk hari ini." Ucap Elie tersenyum " jaga diri kalian baik-baik."


" Ya, kalian juga."


Setelah mengucapkan kalimat perpisahan, aku dan Fiera pun meninggalkan gerbang depan kediaman Bathory. Saatnya pulang.


" Eh, tunggu dulu Fiera...." Ucapku. " Kau...tinggal dimana?"


" Hmmm...tidak tahu"


Eh? Yg benar saja?


" Fiera baru datang pagi ini. Zero mengirim Fiera langsung ke ruangan Osamu-sensei..."


" H-hah?! Terus kau mau menginap dimana?!"


" Hmm...tentu saja dirumah Zayn dan kak Kayn" ucapnya girang.


Yg benar saja?! Mana mungkin aku membiarkan Fiera tinggal seatap dengan kami. Lagipula apa-apaan Paman Oliver itu?! Dia mengirim Fiera tanpa persiapan?!


Yah mau bagaimana lagi. Aku juga tak bisa membiarkan Fiera tidur di jalan seperti gelandangan. Setidaknya hari ini kubiarkan dia menginap di rumahku. Besok biar kititipkan saja dia kerumah Elie atau si Osamu itu.


Saat sedang berjalan, aku merasakan hembusan angin malam yg sangat dingin menerpa tubuhku. Musim dingin semakin menambah tingkat dinginnya. Hari sudah gelap, tak ada siapapun disekitar kami.


Mataku merasakan keberadaan seseorang. Dengan cepat kulemparkan pandanganku kearah sebuah rumah. Diatas atapnya, aku melihat sosok wanita dengan sebuah topi lebar menatap kearah kami. Hembusan angin yg kencang kembali menerpa tubuh kami. Membuat mataku terpejamkan.


Saat kubuka kembali mataku, sosok wanita itu sudah menghilang lenyap seperti Bayangan.


" Kemana dia?" Gumamku.


" Mencariku?"


Tanpa kusadari, seorang wanita yg terlihat sangat cantik muncul didepanku. Ia menggunakan topi lebar dan gaun yg cukup indah. Matanya merah menyala, dan kulitnya pucat.


Segera ku bergerak mudur, menjauhi wanita itu. Fiera juga melakukan hal yg sama, dan segera memasang posisi siaga.


" Ah, apa aku mengejutkanmu?" Tanya wanita itu. Suaranya terdengar indah seperti parasnya. Tapi itu tak bisa menghilangkan rasa kagetku barusan. " Padahal aku ingin menghampirimu yg sudah membuatku terpesona pada pandangan pertama ini."


" Siapa...kau?" Tanyaku dengan posisi pertahanan. " Kau...kau bukan manusia biasa kan?"


" Oh ya? Apa yg membuatmu berpikir seperti itu?"


" Kau bergerak dari atas atap dan muncul didepanku dalam waktu kurang dari dua detik..." Ucapku " itu cukup untuk membuktikan kalau kau itu bukan sembarang orang."


Wanita itu tersenyum, dan kemudian tertawa kecil.



" Hebat, kau hebat ya. Tak hanya tampan tapi kau juga cukup hebat dalam berpikir" ucapnya. Aku tak yakin kalau itu tadi pujian. " Ya...kau benar, aku bukan manusia biasa...aku akan memperkenalkan diriku hanya untukmu, tampan."


Dalam kedipan mataku yg selanjutnya, tanpa sadar dia kembali muncul didepanku, bergerak dengan sangat cepat kesisi kanan kepalaku. Sekilas aku melihatnya membuka mulut. Didalam mulutnya, empat buah taring panjang mencuat. Taring yg sangat tajam, tak seperti milik manusia pada umumnya.


" Namaku Vience De Meer, bangsawan yg cantik dan menawan dari kerajaan Archarke..." Semakin lama wajahnya semakin mendekati leherku " kalau begitu, bolehkah aku mulai meminum darahmu, tampan?"

__ADS_1


" Vampir?!"


__ADS_2