Absolute Twin Magician

Absolute Twin Magician
Algojo Raja [ Kate Sonya ]


__ADS_3

"dua vampir mendekat," ucap Kallen setengah berbisik. "Dan kelihatannya, salah satu dari mereka merupakan peringkat tertinggi dari para vampir yg telah kita hadapi."


"Peringkat atas ya. Aku penasaran sekuat apa mereka," ucap Guts, Magic Knight yg ikut bersama kami di operasi ini. "Bagaimana dengan yg satunya?"


"Yg satu itu memiliki aura yg tak terlalu kuat, tapi tidak juga lemah. Sepertinya ia setara dengan Vience atau Chase dalam hal peringkat." Jawabku. "Itu berarti, dia bukan vampir yg kuat."


"Jangan meremehkan mereka, Kate. Kita tak bisa menentukan kekuatan mereka hanya dengan prediksi semata," tegur Kallen.


"Ya ya aku tahu," jawabku.


Dua vampir tak dikenal itu mengikuti kami sampai ke distrik 1, daerah istana kerajaan. Sama sekali tak ada data ataupun informasi mengenai kedua vampir itu di dalam berkas ReVoid. Sepertinya, mereka bukan vampir yg dibawah kepemimpinan Rozalia secara langsung. Kemungkinan, mereka berdua adalah bawahan raja vampir yg kabarnya saat ini sedang tertidur panjang.


Sangat jarang ada bawahan raja yg keluar dari istana, apalagi sampai keluar dari keraajaan Archarke. Karena itulah informasi mengenai mereka sangat terbatas. Yg kami tahu hanya bahwa hampir semua bawahan raja adalah vampir laki-laki yg memiliki kemampuan fisik yg mengerikan.


Kami bersembunyi dari mereka dibalik tembok istana. Saat ini, kami mesti mengamati seperti apa kemampuan yg mereka miliki. Sangat berbahaya melawan musuh secara langsung tanpa mengetahui seperti apa kemampuan mereka.


Kedua Vampir itu berdiri diatas atap istana, menatap kearah dinding besar tempat kami bersembunyi. Salah satu dari mereka adalah vampir laki-laki bertubuh tegap dengan sebilah pedang panjang di tangannya. Sedangkan yg satunya lagi menyerupai anak kecil berumur 15 tahunan. Dan kelihatannya, ia adalah pengguna senjata dengan jangkauan pendek seperti belati. Itu berarti ia memiliki kelincahan yg tinggi, sana sepertiku.


"Hey, apa kalian bisa segera keluar?!" Teriak si pengguna pedang. "Aku sangat berharap bisa berhadapan dengan manusia seperti kalian. Tentu nya dengan pertarungan yg adil."


"Kau masih suka berduel ya, Museri," ucap si pengguna belati.


"Tentu saja. Tak ada yg lebih menegangkan dari pada duel," jawabnya. "Ayolah, berikan aku petarung terhebat kalian! Ayo bertarung dan mati dengan terhormat sebagai seorang ksatria!"


"Hey hey, apa kau berniat untuk mati, Museri?"


"Tentu saja tidak, aku hanya memberi mereka sedikit motivasi," ucapnya lagi. "Aku dengar kalau manusia itu sangat menginginkan kematian dimedan perang. Karena itu, kata-kata ku tadi bisa memicu semangat juang mereka."


"Tapi mereka sama sekali tak muncul."


"Itu benar. Apa mungkin mereka ini benar-benar pengecut?"


"Huuh, aku ingin cepat-cepat pulang. Kenapa kita harus mengikuti kemauan si Rozalia itu sih?"


"Jaga ucapanmu Seiyen. Perintah raja itu mutlak. Raja memberi kita perintah untuk mengawasi Rozalia dan memenuhi keinginannya," ucap si pengguna pedang. "Aku memang tak menyukainya, tapi ini perintah raja."


"Ya, aku mengerti itu. Tapi aku tak suka caranya memerintah ku, si Rozalia itu," ucap pengguna belati. "Dia hanya memanfaatkan Blood Sacrified ku tanpa mendengar pendapat ku."


"Mau bagaimana lagi, kemampuan mu itu memang sangat langka dan juga sangat berguna."


"Karena itu aku tak suka ini ... Dia benar-benar berniat untuk memanfaatkan ku seperti mainannya saja."


Seperti dugaan kami, mereka memang bawahan raja. Dan juga kelihatannya mereka membenci Rozalia, sama seperti Zuan dan bawahannya. Tapi kali ini sedikit berbeda. Membujuk mereka untuk membelot sangatlah mustahil. Sikap loyal mereka kepada apa yg diperintahkan raja mereka sangat besar. Membunuh Rozalia berarti melanggar perintah raja, itulah yg mereka pikirkan.


Mereka adalah kelompok yg sangat loyal pada atasan, dan menentang segala bentuk pengkhianatan. Jikalau mereka mengetahui keadaan Zuan dan komplotannya saat ini, perang saudara pasti akan terjadi dipihak vampir. Ditambah lagi, aura yg dimiliki oleh si pengguna pedang ini setara, bahkan lebih kuat dari Zuan. Mengharapkan bantuan kelompok Zuan sekarang adalah tindakan yg ceroboh. Salah sedikit saja, mereka pasti akan dibantai olehnya.

__ADS_1


"Huh, aku sudah mulai bosan menunggu."


Si pengguna pedang itu mulai mengeluarkan pedang panjangnya. Ia mengangkatnya tinggi-tinggi, dengan aura merah darah mulai menyelimuti seluruh bagian pedang.


"Blood Sacrified : Red Velvet, Arthuria."


Sebuah tebasan horizontal ia lancarkan, mengarah ke dinding besar tempat kami bersembunyi. Jangan-jangan ia sudah dari awal menyadari keberadaan kami?


"Semuanya menghindar!" Teriak Kallen.


Tebasan tadi mengeluarkan aura merah yg menghantam dinding. Seketika, dinding tersebut terbelah dan hancur berkeping-keping. Ledakan yg begitu kuat muncul hanya dari sebuah tebasan pedang sederhana. Benar-benar kekuatan penghancur yg dahsyat. Dengan itu saja, bisa menghancurkan dinding yg begitu tebal ini. Bagaimana jadinya kalau tebasan itu mengenai tubuh kami? Ugh, aku tak ingin memikirkan itu.


Tempat sembunyi kami luluh lantak akibat serangan barusan. Tentu saja itu membuat kami terpaksa keluar dari persembunyian, dan harus menghadapi mereka. Melihat kami muncul, si vampir pengguna pedang itu tersenyum puas.


"Akhirnya keluar juga. Sudah cukup sembunyi-sembunyi nya. Aku akan menghadapi kalian meskipun tidak ada yg terima," ucapnya. "Namaku Museri Max, vampir murni yg melayani raja selama ratusan tahun."



"Dan namaku Seiyen Tingel, rekan algojo raja."


Dua vampir itu memperkenalkan diri mereka dengan santai. Tak kusangka kalau si pengguna pedang itu merupakan vampir murni. Wajar saja kalau dia memiliki kekuatan Blood Sacrified sekuat itu. Ditambah lagi pengalaman bertarung yg dimilikinya setelah ratusan tahun hidup. Dia benar-benar lawan yg sangat tangguh.


Aku mundur sedikit, membiarkan Guts dan Kallen didepan. Sebagai seorang Hunter yg berperan sebagai Assassin, mengahadapi mereka berdua sekaligus dari depan akan sangat berbahaya untukku. Setelah mengamati keadaan, aku menyadari lawan yg cocok untukku hanyalah vampir bernama Seiyen. Melawan Museri yg pengguna pedang akan. Sangat merugikan ku mengingat jangkauan serangannya yg jauh lebih luas dariku.


"Kallen, Guts, kuserahkan Museri pada kalian," ucapku. "aku akan menghadapi si Seiyen."


"Ini lebih baik daripada aku ikut menyerang mereka berdua bersamaan," ucapku.


"Yah, kau benar. Pengguna belati seperti mu akan sangat dirugikan jika bertarung dengan si Museri itu," ucap Guts.


"Benar. Lagipula, sebagai sesama pengguna belati aku tak akan kalah darinya."


"Baiklah. Kalau begitu berhati-hatilah, Kate," ucap Kallen.


"Serahkan padaku."


Aku mundur, dan pergi menjauh perlahan. Kedua vampir itu pasti menyadari gerakan ku. Yah, itu juga salah satu tujuanku. Jika mereka tak sadar kalau aku pergi, rencanaku akan kacau.


"Incrase Up!"


Guts beteriak dengan sangat lantang. Sampai-sampai aku yg sudah pergi menjauh masih bisa mendengarnya. Aura Manna berwarna merah muncul disekitar tubuhnya, menyelimuti tiap sisi tubuhnya. Tanah tempat ia berpihak seketika retak akibat luapan Manna yg sangat besar itu.


Sebelumnya Guts pernah mengatakan kalau ia cukup buruk dalam hal sihir, meskipun ia memiliki jumlah Manna yg lebih besar daripada penyihir pada umumnya. Tapi jika dalam hal ketahanan fisik, ia adalah yg terkuat di Magic Assosiation.


Dan apa yg ia lakukan kali ini menunjukkan kebenaran kata-kata nya.

__ADS_1


"Seiyen, kau kejar yg lari tadi. Dua orang ini bukan lawan yg sepadan untukmu. Lagipula, rasanya aku ingin segera menghadapi mereka berdua sendirian," ucap Museri.


"Lakukan sesukamu."


Sesaat kemudian, Guts menghentakkan kakinya, membuatnya melesat kearah Museri dengan kecepatan tinggi. Dengan pedang besar ditangannya, Guts berniat merebut serangan awak mereka.


Museri menahannya sekuat tenaga, membiarkan Seiyen pergi mengejar ku. Disaat itulah Kallen muncul dan membantu tiap serangan yg diberikan oleh Guts.


Sementara itu, aku yg menyaksikan pertikaian mereka sekilas dikejutkan oleh kehadiran Seiyen yg tiba-tiba muncul didepanku. Ia muncul dari sebuah lubang dimensi berwarna merah yg melayang diudara. Aku tak tahu kapan benda itu muncul disana, tapi nampaknya itu merupakan Blood Sacrified miliknya. Tapi, aku belum pernah melihat Blood Sacrified yg menyerupai sebuah gerbang teleportasi seperti ini. Sepertinya, yg satu ini benar-benar langka. Apa mungkin ini yg membuatnya dijadikan bawahan oleh Rozalia? Kalau memang begitu, sepertinya ia adalah lawan yg cukup merepotkan.


"Cepat juga ya munculnya," ucapku mencoba menjaga ketenangan diri.


"Lawanmu adalah aku. Jangan mengalihkan pandangan mu dariku, nona."


"Dipanggil nona oleh vampir yg elegan sepertimu, aku cukup tersanjung. Apalagi kau cukup imut jika dilihat dari bentuk manusiamu," ucapku.


"Hey, bagiku itu adalah sebuah sindiran. Mengatai pria berumur ratusan tahun seperti ku imut, apa kau mau mati sekarang?"


"Bukankah itu tujuan kita saling bertemu disini?"


"Ya ... Kau benar."


Setelah merasakan niat membunuhnya, aku segera melompat keatas bangunan dan berlari menjauhinya. Seiyen yg menyadari kalau aku melarikan diri darinya segera mengejar dengan portal merah itu. tak seperti portal sihir pada umumnya, sepertinya portal yg satu ini bisa berguna sebagai kereta pengangkut. Ia bergerak mengikuti ku, dengan Seiyen yg bergelantung di sisi lubang portal itu. Yg benar saja, bukankah itu curang. Kalau aku terus berlari, bisa-bisa aku lebih dulu kehabisan tenaga sebelum bertarung melawannya.


"Berhenti berlari! Apa kau memang pengecut seperti ini?!"


Menanggapi permintaannya, aku berhenti mendadak dan melompat kebelakang. Gerakan tiba-tiba ku membuatnya sedikit kaget, dan itu membuat responnya sedikit menurun.


Panah dan busur dengan segera kukeluarkan selagi melompat kebelakangnya. Satu anak panah kutarik secepat mungkin, dan melesat menganai punggung belakangnya. Ia mengerang kesakitan. Tak kusangka, anak panahku bisa melukainya semudah ini. Sepertinya, ia sama sekali belum serius melawanku.


"Sialan kau, beraninya kau melukaiku!"


Seiyen maju, menghunuskan kedua belati di tangannya kearahku. Serangannya cepat, begitu juga dengan gerakannya. Tubuhnya yg kecil itu juga menambahkan kelincahan nya, dan itu membuatku sangat kerepotan. Bahkan tanpa Blood Sacrified nya, ia bisa membuatku terpojok hanya dengan dua belati. Sebagai sesama pengguna belati, aku sadar kalau ia lebih kuat dariku.


Aku menyerang dan bertahan secara bergantian, sembari berjalan menggiringnya ke daerah yg cocok untukku. Membawanya ke tempat yg sempit akan merugikan ku, mengingat kemampuan bertarung mereka lebih maksimal di tempat yg sempit. Karena itu, aku menggiringnya ke area yg luas, lapangan istana.


Di keadaan yg gelap gulita seperti ini, para vampir cukup unggul dalam hal penglihatan. Mata mereka sudah terbiasa dalam gelap, dan bahkan penglihatan mereka jauh lebih tajam di malam hari. Seperti halnya burung hantu, mereka benar-benar berkuasa di kegelapan. Tapi meskipun begitu, mata yg tajam di kegelapan dapat menjadi kelemahan yg sangat fatal.


Aku melemparkan sebuah bola besi kearah Seiyen. Lemparan yg kuberikan terbilang lambat dan tak membahayakan. Bola besi yg kulempar itu melesat tepat ke depan mukanya. Penasaran dengan benda apa yg kulempar barusan, Seiyen menatapnya erat-erat.


Seketika, ledakan cahaya yg sangat terang muncul dari bola besi tersebut. Cahaya yg begitu menyilaukan muncul tepat didepan matanya. Sebagai makhluk yg memiliki penglihatan tajam seperti vampir, cahaya super terang yg muncul secara tiba-tiba bisa mengakibatkan kebutaan pada matanya. Tapi karena mereka vampir, itu tak akan buta permanen. Tapi karena cahaya barusan, setidaknya untuk sementara ia tak akan bisa melihat.


bola kecil itu adalah salah satu teknologi yg dikembangkan oleh Laboratorium teknologi ReVoid. Diawasi langsung oleh ketua Laboratorium teknologi ReVoid, Zack Michelle dan dirancang oleh si ahli senjata Shiki Mikoto. Bom cahaya ini diberi nama "Flash granade". Ini merupakan salah satu senjata yg ampuh untuk membutakan pergerakan lawan kami.


Seiyen mengerang kesakitan sambil mengusap-usap matanya. Ia tak mampu melihat, tapi itu masih belum melenyapkan semangat membunuhnya. Malahan, itu membuatnya semakin emosi.

__ADS_1


"Kurang ajar! Beraninya kau melakukan ini, dasar pengecut!!" Teriaknya. "kubunuh! Kau pasti akan kubunuh!!"


Sepertinya, aku malah memperburuk keadaan disini.


__ADS_2