
Beberapa saat setelah tanda dimulainya peperangan ini muncul, kelompok kami yg berlari ke arah distrik 6 dikejar oleh seorang vampir wanita. Aku, adikku Aoi, kak Marry, dan juga Tony menggiringnya menuju tempat luas, agar kami dapat menghadapi vampir ini lebih mudah. Karena kelincahan vampir, melawan mereka di area yg dipenuhi dengan bangunan hanya akan menguntungkan mereka. Karena alasan, itu kami memilih tempat yg luas sebagai tempat pertemuan kami.
Kami berhenti di sebuah jalan yang luas, berhadapan langsung dengan si vampir.
Vampir yg mengejar kami hanya satu orang, dan juga seorang wanita. Jika dilihat sekilas, ia hanya wanita dengan paras cantik dan penampilan yg sangat menggoda. Tapi ia tetaplah vampir, Seperti apapun penampilannya.
Meskipun berwujud perempuan cantik, vampir yg satu ini memiliki aura membunuh yg sangat besar. Bahkan diantara vampir-vampir yg pernah kutemui, aura membunuhnya adalah yg paling besar setelah Rozalia.
"Shiki, apa kau merasakan ada kehadiran vampir lain disekitar sini?" Tanya kak Marry padaku. Aku segera menggelengkan kepala.
"Tidak ada. Aku sangat yakin kalau ia hanya sendirian," jawabku.
"Aku juga tak merasakan apapun selain dirinya. Dia benar-benar sendirian," lanjut Aoi
"Begitu ya ... Berani datang kesini sendirian ketika tahu kalau musuh yg akan ia lawan lebih banyak," gumam kak Marry. "Sepertinya ia cukup percaya diri ...."
"Dia hanya meremehkan kita. Jangan terlalu memujinya kak Marry ...." Ucap Tony.
Dibandingkan dengan kak Marry yg terlihat serius, orang ini benar-benar tak memiliki karisma seorang pejuang. Ia bahkan tak merasa tegang, malahan ia berpose seperti sedang bersantai melayang dengan sihir gravitasinya. Apa dia benar-benar seorang Magic Knight?
Vampir itu berhenti tepat dihadapan kami, kira-kira sekitar 20 meter dari kami. Ia terus menatap kami berempat, sambil mengeluarkan hawa membunuhnya.
"Satu lawan empat ... Sepertinya ini akan jadi cukup menarik," ucapnya. Ia mengatakan itu dengan sangat santai, ia bahkan sempat tertawa.
"Berani juga kau mendatangi kami sendirian ...." Balas kak Marry.
"Oh, tentu saja. Lagipula untuk melawan kalian semua, aku sendiri pun tak masalah."
Mendengar itu, aku mengeratkan gigi. Ia benar-benar meremehkan kami. Aku jadi benar-benar ingin melihat wajah menderitanya.
"Jangan emosi Shiki. Ingat apa yg Louise katakan," ucap kak Marry setengah berbisik. "Selama mereka meremehkan kita, kesempatan untuk menang itu pasti ada."
Louise? Oh, pasti maksudnya si Otaku kepala sekolah Osamu itu.
"Ya, aku tahu. Tapi tetap saja kata-katanya membuatku sedikit jengkel," jawabku.
Setelah mengatakan kata-kata tadi, vampir wanita itu mulai bergerak. Sepertinya, ia sudah tak sabar untuk memangsa kami.
"Blood Sacrified : Evilian."
Seketika aura merah darah muncul dari bawah kakinya, membentuk wujud monster raksasa yg mengelilinginya. Vampir itu berdiri tepat di tengah-tengah tubuh monster itu, sama seperti apa yg pernah Zuan lakukan ketika pertama kali menyerang markas kami. Tak kusangka, ia memiliki Blood Sacrified seperti Zuan. Kalau begini, rasanya seperti sedang menghadapi Zuan versi wanita.
"Sebelumnya aku akan memperkenalkan diriku. Aku ingin agar mangsa yg akan kusantap mengingat namaku sampai akhir hayatnya," ucapnya sambil tersenyum licik "namaku Eleanor Roosevelt, salah satu bawahan teratas nyonya Rozalia yg agung."
Tentu saja, dengan kekuatan serta Blood Sacrified sekuat itu wajar saja kalau ia merupakan vampir bangsawan kelas atas. Malah akan aneh jadinya kalau ia hanya vampir bangsawan biasa.
"Sepertinya dia cukup berbahaya, kak Marry," ucap Aoi memperingati. "Meskipun hanya sendiri, kekuatan nya hampir setara dengan sepuluh vampir ...."
"Ya ... Karena itulah dia dengan percaya dirinya mendatangi kita sendirian," balas kak Marry. "Ditambah lagi Blood Sacrified miliknya, itu sama persis dengan milik Zuan."
"Merepotkan ya, vampir-vampir ini."
Dibelakang ku, Tony hanya berkomentar dengan santai. Seakan-akan saat ini, tak ada satupun bahaya didekat nya. Apa dia tak menyadari seberapa kuatnya vampir bernama Eleanor ini?
Aku sedikit ragu dengannya. Meskipun dia ini seorang Magic Knight yg selalu ku kagumi, kenapa dia bisa sesantai ini? Apa dia benar-benar seorang Magic Knight?
"Sebaiknya kau tak terlalu meragukan kemampuan Tony, Shiki."
Seakan menyadari apa yg kupikirkan, kak Marry menegurku dengan setengah berbisik.
"E-eh?"
"Aku tahu kau pasti meragukan Tony yg pemalas ini. Itu terlihat jelas dari caramu memandang nya," ucap kak Marry. Apa muka ku bisa dibaca semudah itu? "Asal kau tahu, jika Tony benar-benar serius dia bisa mengalahkan paman Vestine dengan mudah lho."
Eh?! Sekuat itu?! Aku tak percaya, apa dia benar-benar sekuat itu?! Aku sampai tak mampu berkata-kata. Jika itu memang benar, berarti memang penampilan tak bisa menentukan segalanya. Jangan menilai seseorang hanya dari sampulnya, sepertinya kata-kata ini yg cocok dikatakan padaku saat ini.
"Kau terlalu melebih-lebihkan, kak Marry. Aku belum pernah menghadapi pak Vestine, jadi itu mana mungkin."
__ADS_1
"Kau terlalu merendah, Tony. Padahal kau dengan santainya bisa mendesak paman Oliver dulu."
"Saat itu paman Oliver benar-benar tak serius melawanku ...."
Eh? Yg benar? Bahkan ketua Magic Assosiation Oliver Grace didesak dengan santai olehnya?
"Ugh, sepertinya orang-orang ini memang Monster, kak," ucap Aoi.
"Ya, aku tahu itu ...."
Eleanor mulai berjalan pelan mendekati kami. Aura darah merah yg menyelimuti seluruh tubunya itu terasa begitu menyeramkan. Bentuk monster raksasa itu bahkan bisa menghancurkan bangunan hanya dengan sekali tebasan tangan. Apa jadinya kalau tubuh kami sampai tertebas olehnya? Ugh, aku tak mau memikirkan nya.
"Sudah cukup perkenalan nya. Aku sedang sibuk sekarang, jadi proses nya akan sedikit lebih cepat dari biasanya ...." Ucap Eleanor.
"Oh, sungguh menakutkan." Kak Marry menatapnya sambil tersenyum kecut.
Sebisa mungkin, kami harus bertahan sampai Kayn berhasil mengalahkan Rozalia. Tak perlu sampai membuat Eleanor terbunuh, asalkan dia tak berpaling meninggalkan kami dan kembali ke Rozalia saja sudah cukup.
"Tony, apa sekarang kau bisa sedikit serius?" Tanya kak Marry.
"Hmmm ... Aku perlu tahu seperti apa kemampuannya, karena itu aku tak bisa," jawabnya.
"Kalau begitu, pergilah dan pantau keadaan dari atas."
"Ah, aku jadi pengamat lagi? Merepotkan, tapi mau bagaimana lagi ...."
"Shiki, Aoi, sebisa mungkin coba incar tubuh aslinya."
"Baik!"
Tepat setelah mengatakan itu, Eleanor dengan tiba-tiba menebaskan tangan monster raksasa itu kearah kami, membuat kami semua berpisah.
Aku dan Aoi berpencar ke sisi kanan dan kiri Eleanor, mencoba untuk mengincar tubuh aslinya. Tony dengan sihir gravitasi nya melesat terbang ke langit dan mengamati keadaan dari sana. Sedangkan kak Marry menghadang Eleanor dari depan, dengan puluhan pedang sihir yg mengitarinya.
"Exchange : Thunder Blazer!"
Zirah kak Marry berubah bentuk, menjadi berwarna biru keemasan dengan seluruh pedang sihir yg dilapisi sihir listrik. Ternyata seperti ini kemampuan dari si Dewi pedang yg dirumorkan itu. Jika dilihat dari dekat, ini benar-benar menakjubkan.
Kepulan asap muncul akibat serangan kak Marry, menutupi pandangan kami. Meskipun begitu, keberadaan nya masih bisa di lihat dengan jelas meskipun dibalik asap itu.
Beberapa menit menyerang, Eleanor sama sekali tak melawan ataupun memberikan reaksi. Apa serangan kami berhasil melukainya?
"Bodoh sekali. Jangan kira serangan seperti ini mampu menghancurkan Evilian," ucap Eleanor. "Hanya satu orang yg mampu menghancurkannya, hanya ratuku Rozalia Le Porte saja yg mampu melakukannya."
Yg benar saja. Bahkan setelah serangan itu ia sama sekali tak tergores. Evilian miliknya benar-benar seperti tank. Serangannya sangat kuat, dan pertahanannya juga tak tertembus. Bagaimana bisa kami mengalahkan monster seperti ini?!
"Tak mempan ya ...." Gumam kak Marry.
"Senjata kami juga tak mempan," Aoi juga tak habis pikir.
"Kalau seperti ini, katana ku juga pastinya tak mempan ...."
Ini buruk. Jika seperti ini hanya tinggal hitungan menit saja kami semua bisa dibantai habis-habisan.
"Tony, bagaimana?"
"Yah, sepertinya—
"Hm? Masih ada lagi ya?"
Eleanor menyadari keberadaan Tony. Ia dengan cepat melancarkan serangan untuk menyerangnya. Tangan monster raksasa itu memanjang, dan melesat cepat kearah Tony. Gawat, jika seperti ini, dia bisa terbunuh karena satu serangan itu.
"Awas!!" Teriakku.
"Huh, merepotkan sekali ...." Tony yg sedang melayang itu melancarkan tinjunya kearah tangan yg melesat itu. Tak ada tenaga dalam gerakannya, tapi sekilas aku merasakan sihir mengalir darinya "Gravity Manipulation : Gravity Fist."
Tak terduga, gelombang sihir muncul dan membuat tangan itu hancur tercerai-berai. Gelombang sihir itu melesat kearah Eleanor, membuat aura darah Evilian yg ia lewati hancur seperti butiran debu yg tertiup angin.
Dengan kecepatan yg tak terduga, Tony melesat mengikuti jalur sihir yg ia buat barusan. Nampaknya, gelombang sihir tadi adalah sihir Gravitasi miliknya. Hanya saja, bagaimana sihir Gravitasi bisa jadi sekuat itu?
__ADS_1
"K-kau menghancurkan Evilian?!"
"Kenapa? Ada masalah dengan itu?"
Tanpa ia sadari, Tony sudah berada diatas kepalanya. Gelombang sihir Gravitasi yg ia buat tadi melubangi wujud Monster darah Evilian, membuat sebuah rongga kosong didalamnya. Tony yg tadi melesat mengikuti jalur sihir tadi sekarang tengah berada didalam wujud Evilian, melayang sambil dilindungi sihir gravitasi yg melapisi dirinya.
Eleanor tercengang, begitu juga dengan kami. Aku tak menyangka sihir gravitasi dapat menimbulkan kerusakan separah itu padanya. Sebenarnya, sihir macam apa yg ia gunakan tadi?
"Kau menghancurkan Evilian semudah itu ... Apa yg sebenarnya kau lakukan?" Tanya Eleanor.
"Sederhana saja. Evilian milikmu memang terlihat seperti monster yg kokoh. Tapi, itu semua hanyalah butiran darah yg membentuk sebuah monster. Dengan kata lain, ia hanyalah cairan atau gas yg menyatu sementara," jelas Tony. "Yg kulakukan hanyalah menghilangkan gravitasi disekitarnya. Aku memanipulasi gravitasi itu, dan membuat partikel yg tadinya menyatu itu menyebar dan tercerai-berai. Hanya dengan itu saja, pertahanan kokoh yg kau banggakan itu hanyalah seperti butiran pasir bagiku ...."
Dia menggunakan sihir gravitasi seperti itu? Bukan hanya itu, dia bahkan dapat memahami teori tentang gravitasi itu sendiri? Tak kusangka ada orang di dunia ini yg mampu memahami teori itu. Tak hanya kuat, ternyata ia juga cukup cerdas. Sepertinya, salahku menilainya hanya dari sampulnya saja.
Eleanor yg tadi tercengang mulai tersenyum licik. Ia menatap Tony dengan tatapan menggoda, meskipun rasa takut masih sedikit menyelimutinya.
"Luar biasa. Tak kusangka ada manusia yg dapat melakukan hal sehebat itu," ucap Eleanor.
"Percuma saja kalau kau memujiku."
"Tidak tidak, aku benar-benar tercengang sekaligus kagum. Hanya saja, sungguh sangat disayangkan karena kau adalah manusia yg memiliki umur yg singkat."
Sekarang, perkataan Eleanor mulai terlihat mencurigakan.
"Apa yg kau bicarakan?"
"Dengan umur yg singkat itu, kau hanya punya sedikit waktu untuk menikmati hasil dari kemampuan mu. Tapi, jika kau seorang vampir, itu itu bukan masalah lagi," ucap Eleanor. "Jika kau menjadi vampir, kau akan memiliki umur yg panjang, kau akan abadi. Ditambah lagi kekuatan sihirmu akan berlipat ganda. Kau akan memperoleh kedudukan yg tinggi di kerajaan Archarke."
Dia berniat membujuk Tony agar menjadi vampir sepertinya? Itu tak boleh dibiarkan.
"Kedudukan katamu?" Tanya Tony. Gawat, apa mungkin dia tertarik dengan tawaran itu?!
"Ya, bukan hanya kedudukan. Jika kau bergabung dengan kami dan menjadi vampir, secara khusus kau akan mendapatkan hadiah spesial dariku."
"Hadiah spesial?"
"Ya. Aku akan memberikan seluruh jiwaku padamu. Aku akan memberikn seluruh jiwa dan ragaku. Dan tentunya, kau bebas melakukan apapun pada tubuhku ini ...." Ucapnya. "bagaimana, apa kau tertarik dengan tawaran itu?"
Tony diam, seakan sedang berpikir keras. Apa jangan-jangan ia benar-benar berniat menerima tawaran itu?! Untuk seorang laki-laki pemalas sepertinya, tadi itu adalah tawaran yg sangat menggiurkan.
"Huh ... Hahahaha!"
Suara tawa meledak dari mulut Tony. Ia tertawa keras sampai mulutnya terbuka lebar. Kami semua terdiam, tak terkecuali Eleanor. Tapi, sepertinya Eleanor menganggap itu adalah jawaban setuju dari Tony.
"Tony—
aku berniat untuk menghentikan Tony, tapi kak Marry dengan cepat menahan ku.
"Hentikan. Ini bukan sesuatu yg bisa kita tangani."
"Tapi Tony akan—
"Percayalah padanya, Shiki."
Tak ada pilihan lain. Jika kak Marry sudah berkata seperti itu dengan yakin, aku tak mampu melakukan apa-apa. Sepertinya, harapan kami bergantung pada apa yg Tony pikirkan.
"Wah wah, apa yg kau harapkan dari ku, Ele ... siapa namamu tadi?"
"Eleanor Roosevelt."
"Ah benar, Eleanor. Kau berharap terlalu banyak. Tadi itu benar-benar tawaran yg menarik dan sangat menggiurkan. Tapi maaf, kau sama sekali bukan tipeku. Malahan, kaya adalah tipe wanita yg paling kubenci ...."
Kali ini, tawa Tony berganti menjadi sebuah tatapan intimidasi yg sangat menyeramkan. Matanya dengan tajam melotot kearah Eleanor. Dari tempat kami, hawa membunuhnya sudah terasa begitu besar.
"Hey ... Jangan kira aku ini adalah pria yg akan tertarik pada tawaran tubuh menjijikkan mu itu, dasar hina," ucap Tony.
"T-tunggu, bukankah tawaran itu sangat menguntungkan bagi—
"Cukup, aku tak mau mendengar ocehanmu lagi ...." Tatapan Tony semakin lama semakin tajam. "Kubunuh kau, wanita murahan."
__ADS_1