Absolute Twin Magician

Absolute Twin Magician
Berunding


__ADS_3


"satu orang terbunuh, dan satu lagi terluka ...." Gumam Zuan. "Jangan ada yg bergerak tanpa perintahku lagi. Kalian mengerti?"


"Baik."


Tak seperti Rozalia, Sepertinya Zuan lebih memperhatikan keadaan bawahannya. Ia bukan tipe yg akan mengorbankan bawahannya hanya demi mencapai tujuannya. Bisa dibilang, ia pemimpin yg hebat.


Dan seperti yg ia katakan, dua dari mereka tak dapat memberi bantuan apa-apa lagi. Hermes yg telah terbunuh, dan Vanessa yg terluka parah. Dengan begini, hanya 6 vampir yg akan kami hadapi.


"Zuan ... Pria itu memiliki kemampuan yg mirip dengan Counter Rozalia," bisik Elsie, bawahan terdekat Zuan. Meskipun jarak kami sangat jauh, berkat kemampuan dari Transmutation ku aku dapat mendengar semuanya dengan jelas.


"Seperti yg Elsie katakan, sihir miliknya persis seperti Counter Rozalia," sahut Nebula.


"Kalau begitu, ini jadi lebih menarik," ucap Zuan.


"Jika tuan bisa mengalahkannya, kemungkinan anda juga dapat menemukan cara untuk mengalahkan Rozalia." Ucap Bayorn, ikut berkomentar.


"Itu benar," sambung salah satu bawahan Zuan, Katherine.


Eh? Apa yg barusan kudengar? Dari percakapan mereka, apa mereka berniat mengalahkan Rozalia? Apa ini berarti semacam kudeta untuk menggulingkan posisi Rozalia sebagai ratu vampir? Tidak, mustahil Zuan akan menjadi ratu vampir. Dan lagi kebencian yg kurasakan dari mereka tak bisa dianggap hanya sebatas kudeta perebutan kekuasaan. Apa mungkin mereka memiliki dendam pada Rozalia? Itu berarti semua vampir yg ada disini termasuk ke sekte pemberontak yg hendak membunuh Rozalia?


Heh, perkembangan macam apa ini. Dengan semua ini, mereka dapat kami manfaatkan untuk mengalahkan Rozalia. Jika aku berhasil membuat mereka bekerjasama dengan kami, itu akan sangat menguntungkan. Jika mereka bekerjasama, kekuatan kami akan bertambah, dan kekuatan di pihak Rozalia akan berkurang drastis. Ini kesempatan emas. Tapi meskipun begitu, aku tak bisa memutuskannya begitu saja. Aku perlu lebih banyak informasi lagi.


"Aku harap itu akan berjalan semudah yg kalian pikirkan. Aku akan urus pria itu. Nebula, Elsie, Bayorn, katherine, Gillan, Kalian hadapi yg lainnya," ucap Zuan. "Pria dengan sihir Counter itu milikku."


Semua Vampir itu akhirnya bergerak maju. Saat ini, kami harus berpisah untuk dapat mengimbangi mereka. Vampir akan jadi sangat berbahaya jika dalam kelompok. Karena itu menjauhkan mereka akan jadi lebih aman.


"Nona Stephanie, mereka mulai bergerak," ucapku. "Pemimpin mereka, Zuan, sepertinya ia mengincar Osamu. Aku sempat mendengar apa yg mereka perbincangkan tadi."


"Kau dengar itu Louise?" Tanya nona Stephanie. "Sepertinya kau akan jadi sedikit kerepotan."


"Heh, jangan remehkan aku yg lemah ini," jawab Osamu. "Orang yg lemah itu bisa jadi sangat kuat dan berbahaya jika diremehkan."


"Yah, masalahnya mereka tak menganggapmu remeh. Malah sebaliknya, si Zuan itu mengincarmu karena kau sekuat Rozalia," ucapku.


"Eh, yg benar saja? Apa aku sekuat itu?" Tanya Osamu. "dalam keadaan seperti ini, akan berbahaya kalau aku terdesak. Karena itu mungkin aku akan butuh bantuanmu nanti Zayn."


"Panggil saja aku kalau kau terdesak," jawabku.


"Kalau begitu, semuanya serang vampir dalam formasi dua orang. Abaikan si Zuan," ucap Vestine. "Semoga beruntung, Louise."


"Ya, pergilah!"


Kali ini, kami berpencar dalam formasi dua orang. Dua orang dari kami akan menjauhkan satu vampir dari kawanan nya dan menghabisi nya sendirian. Dengan begitu, tak akan ada vampir yg datang untuk menolongnya, dan kami tak akan terganggu dengan kekacauan yg dibuat vampir lain.


Dalam formasi ini, masing-masing kami harus saling melindungi rekannya. Kupikir tak ada masalah dengan itu. Melindungi sesama sudah menjadi kewajiban kami. Tapi aku masih sedikit cemas dengan Osamu. Dia sendirian harus menghadapi Zuan, si pemimpin kelompok vampir ini. Ia memang memiliki kemampuan yg hebat dalam bertahan, tapi aku tak tahu apa-apa tentang kemampuan bertarung nya. Sejauh ini aku hanya pernah melihatnya menggunakan sihir Encounter dan Infinity Chamber saja, tak ada yg lain.


Yah, kuharap dia baik-baik saja.


Aku dan juga Kayn kembali dalam satu regu, menghadapi vampir wanita yg paling dekat dengan Zuan, si Elsie. Dari yg kulihat sebelumnya, Blood Sacrified miliknya adalah Pierce, peluru darah yg melayang disekitarnya. Ia dapat menembakkan peluru-peluru itu sesuka hatinya. Kemampuan yg cukup kuat, dan juga merepotkan.


Setelah dipancing cukup jauh dari vampir yg lain, kami sampai di distrik 6 yg merupakan daerah pasar dan pertokoan. Area disini cukup luas dan tak memiliki banyak bangunan bertingkat. Area yg cukup bagus untuk seorang penyihir sekaligus pengguna pedang untuk mengeluarkan potensi mereka.


Tapi sebelum benar-benar serius, aku perlu mengorek beberapa informasi terlebih dahulu.


"Dua orang bocah kembar ya ... Sayang sekali, padahal kalian masih sangat muda," ucap Elsie sambil menatap iba kearah kami. "Jujur saja, aku tak tega melihat anak-anak seperti kalian terbunuh ditangan ku."


"Kalau begitu jangan bunuh kami dan biarkan kami menangkap mu," ucapku.


"Ya, itu juga tak bisa kulakukan. Sama seperti kalian, kami juga memiliki sesuatu yg harus kami lakukan demi ras kami."


"Apa maksudmu seperti membunuh Rozalia?"

__ADS_1


Mendengar pertanyaan ku, Elsie diam tak bergeming. Ia menatapku tajam.


"Apa maksudmu?" Tanyanya dengan tatapan penuh diskriminasi. Tapi tak ada kemarahan yg ditunjukkan padaku.


"Kudengar dia itu sangat rakus, dan yg paling rakus diantara para vampir. Dengan sifat itu, aku yakin para vampir sekalipun akan terganggu dan merasa terancam dengan keberadaan nya," ucapku. "Dengan kanibalisme, misalnya?"


Elsie kembali terdiam.


"Ditambah lagi, sepertinya kalian semua memiliki dendam khusus padanya. Apa mungkin aku salah?"


"Kau ... Sepertinya kau tahu banyak hal ya," ucap Elsie. Ia mulai terlihat geram. "Darimana kau tahu semua itu?"


"Aku tak sengaja mendengar perbincangan kalian. Kalau kau bereaksi seperti itu, Sepertinya apa yg kukatakan barusan itu benar ya?"


"Zayn, apa yg sebenarnya mau kau katakan?" Tanya Kayn disampingku. Ia juga terlihat bingung.


"Diam dulu Kayn. Aku sedang fokus menghadapi tekanan ini. Kau tahu kan aku tak terbiasa dalam diskusi penting?"


"Tapi yg kau katakan dari tadi—


"Hei nak, Sepertinya membunuhmu lebih cepat akan jauh lebih baik. Kalau kau memilih, kau lebih suka mati dengan Pierce ku atau dengan Orario Rozalia?" Tanya Elsie memotong perkataan Kayn.


"Kalau boleh jujur, aku sama sekali tak ingin merasakan dua-duanya," jawabku. Sebisa mungkin aku berusaha menjawabnya dengan santai, meskipun aku sedikit merinding hanya dengan hawa membunuhnya.


"Heeh, jawaban yg cukup menarik," ucapnya. "Dan apa kau pikir itu bisa terwujud? Kalau kau berhasil lolos dariku, kau juga pastinya akan mati di tangan Rozalia."


"Jika kalian bekerjasama dengan kami, hal itu tak mungkin akan terjadi," jawabku.


Kaki ini, Kayn juga ikut kaget sama halnya dengan Elsie.


"O-oi Zayn, sekarang kata-kata mu mulai tak masuk akal!"


"Apa yg sebenarnya kau pikirkan?"


"Sederhananya, aku berniat mengajak kalian, vampir yg dipimpin oleh Zuan ini untuk bekerjasama dengan kami. Tujuannya satu, yaitu menghabisi Rozalia," ucapku. "Bukankah kubu kalian juga berniat melakukannya?"


"Mengalahkan Rozalia? Manusia seperti kalian benar-benar berpikir bisa mengalahkannya?"


"Kami mungkin tak bisa, begitu juga dengan kalian. Tapi jika kekuatan kita disatukan, membunuhnya bukan lagi hal yg mustahil," ucapku. "Kalian memiliki apa yg tak kami miliki, dan kami memiliki apa yg tak kalian miliki. Bukankah jika kita bekerjasama semua kekurangan itu dapat ditutupi dengan mudah?"


"Dan apa yg membuatmu yakin kalau kami akan setuju begitu saja?" Tanyanya.


"Kita memiliki tujuan yg sama. Kalian berniat membunuh Rozalia, dan kami hanya ingin menyingkirkan orang yg membawa semua kekacauan ini, yg tak lain adalah Rozalia itu sendiri. Hanya itu saja menurutku. Tapi jika kau masih tak percaya, kita bisa adu kekuatan?" Usulku.


Elsie terdiam sebentar. Bola-bola darah disekitarnya mulai bergerak-gerak. Sepertinya perbincangan semata tak akan membuatnya bekerjasama semudah itu.


"Blood Sacrified : Pierce!"


Seperti yg kuduga, ia menyerang kami lebih dulu.


"Cukup bicaranya Zayn, kita maju."


"Baiklah."


Bola-bola darah itu melesat bagaikan peluru senapan. Tapi tak seperti peluru biasa, bola-bola itu dapat bergerak bebas dan memutar mengejar kami.


"Insomnia : Mljonir Sword!"


Pedang listrik Kayn muncul dengan bentuk yg lebih pipih. Dengan pedang pipih itu, kecepatan gerak dan serangannya menjadi jauh lebih cepat. Ia bahkan dapat memotong bola-bola darah yg diluncurkan Elsie.


Dilain sisi, aku maju mengincar Elsie dengan serangan fisik. Sihir yg kumiliki bukan tipe kecepatan, jadi serangan jarak jauh tak akan terlalu berguna. Karena itu, aku berencana mendesaknya dengan serangan jarak dekat menggunakan pedang tipisku yg diperkuat dengan sihir.


Didesak olehku dan juga Kayn, Elsie pasti akan kesulitan menghadapi kami. Serangnya adalah tipe jarak jauh, itu berarti ia lemah dengan serangan jarak dekat. Tapi karena ia vampir, ia memiliki ketahanan fisik yg kuat. Ia bahkan dapat melukai kami dengan tangan kosong.

__ADS_1


Duet serangan pedang kami dapat mengimbangi kelihaian Elsie. Dan tak kusangka, hanya dengan kami berdua Elise bisa sedikit terluka meskipun tak parah.


"Menarik. Sepertinya kalian bukan orang yg hanya bisa omong kosong saja ya ...." Ucapnya.


"Blood Sacrified : Aura."


Sebuah ledakan aura merah muncul dari tubuh Elsie, tepat ketika aku dan Kayn menyerangnya. Ledakan aura itu membuat kami terhempas dan jatuh ketanah. Tak kusangka, bagaimana bisa dia memiliki dua Blood Sacrified?


"Hei ... Bisakah kau menyebutkan namamu?" Tanya Elsie.


"Zayn, Zayn Endarker," jawabku. Ia lalu menoleh kearah Kayn, meminta jawaban dari pertanyaan yg sama.


"Kayn Endarker ...."


Setelah mendapat apa yg ia inginkan, Elsie tersenyum puas.


"Zayn Endarker dan Kayn Endarker, siapa yg lebih tua disini?" Tanyanya.


"Kayn adalah kakakku, tentu saja dia yg lebih tua," jawabku. "Kalau kau ingin menghabisi kami, lakukan saja dari yg tertua—


"Hey apa yg kau katakan?!!"


"Bercanda, aku tak mungkin membiarkan itu."


Mendengar perdebatan kami, Elsie tertawa lepas. Aku dan Kayn sedikit heran. Perasaan intimidasi dan hawa membunuhnya hilang.


"Ternyata begitu. Tak kusangka kau cukup hebat meskipun hanya seorang adik."


"Aku tak ingin mendengar itu jadi tolong hentikan ...."


"Zayn, mengenai tawaran mu yg tadi. Sepertinya aku bisa menerimanya," ucap Elsie. "Tapi aku tak yakin Zuan bisa setuju semudah itu. Karena itu, jika kau ingin kami bekerjasama dengan kalian, bujuk Zuan agar setuju."


"Aku sudah berpikir kalau itu pasti akan terjadi. Tapi, kenapa kemungkinan Zuan tak setuju dengan ini?" Tanyaku.


"Dia dan Rozalia memiliki dendam pribadi yg cukup dalam. Itu karena Zuan menjadi vampir karena Rozalia. Tapi selama Blood Sacrified yg melindungi Rozalia aktif, tak akan ada yg dapat membunuhnya. Dan juga, ia tak dapat melanggar perintah dari Rozalia. Itu karena secara hukum, Rozalia salah majikan yg harus Zuan patuhi," jelasnya. Seperti yg kuduga, inti permasalahan ini adalah balas dendam. "Jika kau berhasil membuat Zuan percaya dan bekerjasama denganmu, vampir yg lain juga pasti akan ikut. Itu karena Zuan adalah sosok yg mereka kagumi, dan pemimpin mereka."


"Jadi tak ada cara selain membujuk Zuan ya ...."


"Tapi berhati-hati lah. Jika Zuan menolak, itu berarti kami semua akan kembali menjadi musuh kalian. Itu berlaku juga untukku. Tapi karena saat ini aku setuju dengan tawaran mu, aku akan berada di pihak netral untuk sementara waktu," ucapnya. "Jujur saja, aku mendukung rencanamu. Belum pernah terpikir sama sekali oleh kami untuk bekerjasama dengan pihak lain, apalagi manusia yg sering kami anggap remeh. Tapi jika dengan ini masalah dapat terselesaikan, aku senang. Sebenarnya aku juga cukup khawatir dengan Zuan. Ia selalu memaksakan diri dan melakukan semua sendirian tanpa tahu batasan dirinya. Vampir mungkin abadi, tapi pikiran kami juga bisa mati karena lelah. Ia sudah menyimpan dendam ini selama ratusan tahun, karena itu aku ingin dia melepaskan semua beban itu semua secepat mungkin dan hidup dengan aman, walaupun dia adalah Vampir ...."


Aku menyimak semua perkataan Elsie. Dan dari sana saja, aku dan Kayn dapat merasakan emosi yg sangat besar dan hangat dari diri Elsie. Bagaikan rasa kasih sayang seorang wanita pada pria tertentu.


"Apa mungkin, Elsie ... Kau memiliki perasaan pada Zuan?" Tanya Kayn.


Sepertinya ia tak ingin mengambil kesalahan seperti saat membunuh Vience dan menanyakan secara langsung. Meskipun aku tak melihatnya secara langsung, tapi aku mendengarnya dengan rinci dari Elie dan Aoi.


"Aku tak yakin vampir dapat memikik perasaan seperti yg kalian para manusia pikirkan. Tapi sebagai orang yg pernah menjadi manusia, kurasa jawabannya adalah ... Iya," jawab Elsie.


Sama seperti Vience, Elsie memiliki perasaan hangat seperti manusia biasa.


"Aku yakin vampir juga memiliki perasaan seperti itu," Kayn menjawab dengan spontan. "Aku pernah menyaksikannya, dan aku percaya kalau itu nyata."


"Benarkah? Sepertinya kalian sudah mengalami banyak hal ya ...."


"Setidaknya lebih banyak daripada apa yg anak seumuran kami alami," jawabku. "Tentang Zuan, serahkan saja padaku. Aku pasti akan membuatnya berpihak pada kami."


"Aku percaya padamu. Semoga beruntung."


"Kalau begitu, aku akan pergi ke tempat Osamu dan Zuan bertarung. Kayn, tunggu disini dan jangan melakukan apa-apa."


"Kau menyuruhku? Tenang saja, aku tau apa yg harus kulakukan," jawab Kayn.


"Apa kau tak masalah meninggalkan saudaramu sendirian bersamaku?" Tanya Elsie.

__ADS_1


"Tentu saja. Aku tahu kau itu wanita terhormat yg tak akan mengkhianati siapapun," jawabku. "Aku percaya padamu, dan tentunya Kayn juga."


__ADS_2