
Sembari menunggu kembali nya Kayn dan Liana, kami semua berkeliling sebentar untuk melihat kota Vestille ini. Dan tentu saja, kami juga mencicipi beberapa makanan khas kota Vestille. Tapi, meskipun ini masih jauh dari kota Voracity, kami masih harus berhati-hati dalam bertindak. Karena bisa jadi identitas kami diketahui oleh beberapa masyarakat yg mengenal organisasi kami.
Mungkin aku, Elie, dan Fiera masih belum terkenal sebagai anggota Magic Assosiation, tapi berbeda dengan Hughess. Karena sebelum ia menjadi anggota tetap Magic Assosiation, Hughess pernah sekali menjadi buronan kerajaan Redstone, kampung halamannya. Aku tak tahu pasti apa yg membuatnya menjadi buronan, tapi karena hal inilah Hughess sangat jarang keluar dari markas.
Pihak kerajaan yg bersatu dalam aliansi kerajaan-kerajaan Fitzgerald tak menganggap Hughess sebagai buronan, karena itu Hughess bisa sedikit santai ketika menampakkan diri di Bluelagoon saat itu. Karena Bluelagoon termasuk dalam aliansi kerajaan, ia tak akan dianggap sebagai buronan.
Tapi karena Redstone dan Voracity bukan kerjaan yg bergabung dalam aliansi, keberadaan Hughess tak boleh sampai diketahui oleh mereka. Jika ketahuan, Hughess bisa ditangkap dan dibawa ke kerajaan Redstone. Yah, meskipun begitu aku tak yakin mereka sanggup menangkap Hughess dengan kemampuan Alkimia yg tak masuk akal itu. Meskipun aku belum pernah melihatnya bertarung secara langsung, aku bisa tahu dari aura miliknya. Dibalik sifat santainya itu, aura di tubuhnya terlihat sangat ganas.
Karena alasan itu, untuk menutupi identitasnya Hughess selalu memakai tudung dikepalanya dengan masker yg menutupi bagian mulutnya. Terlihat cukup mencurigakan, tapi karena banyak petualang yg berpakaian seperti itu, hal tersebut sudah dianggap wajar.
Selama sejam penuh kami berempat berkeliling untuk mencicipi beberapa makanan setempat. Dan tentunya kami membeli beberapa untuk Kayn dan Liana. Aku merasa tak enak jika hanya kami yg mencicipinya, sedangkan Kayn dan Liana berusaha keras demi kami semua.
Sejam berlalu, waktu yg telah dijanjikan sudah tiba. Kayn dan Liana juga sudah selesai dengan urusan mereka. Akhirnya, kami semua berangkat menuju kota Voracity bersama dengan seorang pedagang yg Kayn katakan sebelumnya.
Seperti kesepakatan, balasan jasa tumpangan ini adalah kekuatan kami untuk menjaga kereta dari serangan. Kabarnya ada banyak binatang buas dan bahkan monster yg akan muncul selama perjalanan ke kota Voracity. Selain binatang buas dan monster, ada kemungkinan juga para bandit akan muncul menyerang mengingat kereta ini mengangkut banyak barang dagangan yg berharga. Karena itu, kami memutuskan untuk bergantian menjaga bagian depan kereta bersama si pedagang. Kami juga bergantian saat berjaga malam. Sepertinya, hal-hal seperti ini adalah hal yg biasa dilakukan para petualang. Itulah yg Hughess katakan. Karena kami semua belum pernah hidup sebagaimana petualang hidup, ini adalah pelajaran yg berharga.
Perjalanan ini akan memakan waktu dua hari dua malam, dan kami kemungkinan akan sampai di pagi ketiga, atau bahkan di malam hari kedua.
Di hari pertama, kami akan melewati daerah dataran rendah yg sangat luas. Sepertinya, ini adalah lembah raksasa dengan rerumputan yg terbentang sepanjang mata memandang. Hanya ada rumput dan hewan liar yg berkeliaran. Sesekali ada pedagang lain yg lewat, tapi tak ada ancaman sama sekali. Dari kejauhan pun, aku tak melihat ada monster atau semacamnya. Benar-benar hanya rumput hijau.
"Duduklah dengan tenang untuk saat ini. Kita akan melewati lembah ini untuk bisa sampai ke jalur tercepat menuju kota Voracity. Ini adalah lembah yg aman, jadi kalian bisa tenang," ucap si pedagang. "Kalian bisa bersantai sambil menikmati pemandangan yg menyejukkan mata ini."
Yah, kuakui pemandangan ini memang menyejukkan mata dengan rerumputan hijau yg segar itu. Udaranya juga segar, tanpa polusi. Hanya saja, ini sangat-sangat membosankan.
Karena tak ada ancaman sama sekali selama perjalanan, yg bisa kami lakukan hanyalah duduk atau melihat sekitar. Benar-benar membosankan.
"Kayn, apa tidak ada monster yg datang?" Tanyaku. "Jujur saja, ini sangat membosankan!"
"Sabarlah, ini hanya dua hari," ucap Kayn. "Lagipula, akan berbahaya kalau monster yg kuat tiba-tiba muncul kan?"
"Kalau hanya monster, itu bukan masalah. Malahan aku berharap ada monster kuat yg datang menantangku."
"Pikirkan kami berdua juga Zayn, melawan monster itu menakutkan!" Protes Elie.
"Elie benar, bagaimana pun juga monster itu berbahaya." Liana juga sependapat
"Kalian berdua lemah, Fiera sependapat dengan Zayn, itu karena Zayn pasti bisa mengalahkan mereka jika muncul. Dengan begitu Fiera bisa melihat kehebatan Zayn secara langsung!"
"Aku tarik kata-kata ku, sepertinya lebih baik jika tidak muncul."
"Eeeh?! Zayn kejam!!"
Seperti yg kukatakan, perjalanan ini berjalan lancar tanpa ada satupun monster yg muncul. Bahkan setelah satu hari berlalu, keadaan masih damai. Ini benar-benar membosankan, tapi aku tak mau jika harus sependapat dengan Fiera.
Di malam harinya, karena kami akan berkemah dan tidur diluar, kami akan bergantian menjaga sekitar. Berkat bekal yg dibeli Kayn dan Liana ketika sampai di kota Vestille, kami bisa makan dengan nyaman malam ini. Pedagang itu juga cukup baik, ia bahkan memberi kami sedikit makanan yg ia punya untuk menghemat bekal makanan kami. Selain itu, ia juga cukup ramah.
__ADS_1
"Jadi, ada keperluan apa kalian di kota Voracity?" Tanya si pedagang.
"Mengunjungi kenalan," jawab Hughess. "kami sudah sekian tahun tidak bertemu. Karenya kami memutuskan untuk menemuinya."
"Kenalan? Boleh aku tahu namanya?" Tanya si pedagang. "Meskipun aku hanya pedangan lewat, aku punya banyak kenalan di kota itu,"
"Namanya adalah Aleesha, Aleesha Makrovic. Apa anda mengenal nya?" Tanya Hughess.
"Hmmm, Aleesha? Apa mungkin si gadis pemilik bengkel itu?" Tanyanya.
"Ah, dia memang punya bengkel di kota Voracity."
"Kalau gadis itu tentu saja aku mengenalnya. Aku banyak berhutang budi padanya karena selalu memperbaiki keretaku ketika mampir. Ia bahkan memperbagus kereta milikku beberapa bulan yg lalu," ucap pedagang itu dengan antusias. "Begitu ya, jadi kalian kenalannya? Kudengar dia datang dari kerajaan Redstone."
"Ya itu benar, dia teman masa kecilku. Meskipun sebenarnya aku lebih menganggapnya sebagai kakakku," ucap Hughess tersenyum.
"Begitu ya. Gadis baik itu memang memiliki karisma seorang kakak."
"Meskipun ia sedikit cerewet," ucap Hughess.
Mendengarnya, pedagang itu tertawa puas. Sepertinya, keberadaan orang bernama Aleesha ini benar-benar dianggap spesial oleh beberapa orang disana. Itu terlihat dari bagaimana orang menceritakan tentangnya dengan antusias. Seakan orang yg sedang diceritakan adalah sosok yg membawa kesenangan dan dipercaya banyak orang.
Aku jadi semakin penasaran orang seperti apa Aleesha ini.
Di hari kedua, kami sudah mulai memasuki daerah hutan rimba yg sangat luas. Berbeda dengan hutan Grand Central yg dipenuhi bukit-bukit dan pohon-pohon yg rindang, hutan yg diberi nama High Forest ini dikelilingi pohon-pohon raksasa yg menjulang tinggi. Bahkan langit-langit hutan sampai tak terlihat dengan jelas karena ketinggiannya. Hutan ini dipenuhi dengan kabut, dan juga sangat lembab. Sekilas saja, aku bisa merasakan banyak makhluk berbahaya yg hidup di dalamnya.
"Ya, serahkan saja masalah keamanan pada kami," ucap Kayn. "Ah, tapi bisa tolong rahasiakan kalau kami menggunakan sihir."
"Begitu, ternyata kalian orang luar ya? Kalian pasti mendengar kalau di kerajaan ini sihir dianggap tabu kan?" Tanya si pedagang "Tenang saja, itu bukan masalah besar. Peraturan itu sudah lama diubah oleh raja yg sekarang. Bahkan raja sendiri memiliki pasukan penyihir khusus. Sihir bukan lagi sesuatu yg terlarang disini."
"Ah, benarkah? Kalau begitu syukurlah."
kalau begitu, tak akan menahan diri untuk menggunakan sihir kami.
Beberapa menit setelah kami memasuki area hutan High Forest, sekelompok serigala muncul menghadang kami. Jumlahnya ada sekitar 10 lebih, dan sepertinya mereka bukan serigala biasa.
Dari buku yg pernah kubaca dulu, sepertinya serigala ini adalah sejenis makhluk sihir yg biasa kami panggil dengan sebutan monster. Serigala dengan ukuran tubuh sebesar rusa dengan mata merah dan tanduk panjang di dahinya ini dinamai dengan Thunder Wolf. Bukan hanya ukuran saja yg menjadi andalan mereka. Kabarnya, mereka bahkan memiliki kemampuan untuk memanipulasi Manna alam menjadi arus listrik. Dengan kata lain, mereka mampu menggunakan sihir element listrik untuk digunakan sebagai senjata berburu mereka.
Untuk menghadapi mereka, kecepatan serta daya tahan terhadap sihir sangat dibutuhkan. Karena itu, aku, Kayn, dan Fiera yg bertugas menyerang mereka semua. Sementara itu, Hughess, Elie, dan Liana bertugas untuk melindungi si pedagang.
Meskipun terlihat menyeramkan, serigala-serigala ini bukanlah makhluk yg terlalu kuat. Hughess mengatakan kalau di mata petualang, mereka adalah monster rank B yg menghuni hutan High Forest.
Karena itu, dengan sihir dan kemampuan bertarung kami yg sudah terlatih, melawan mereka bukanlah masalah besar. Hanya butuh waktu sekitar 16 menit saja untuk mengalahkan mereka semua.
Melihat apa yg kami lakukan, si pedagang itu terkesima dan tak henti-hentinya memuji kami.
__ADS_1
Setelah selesai, kami pun segera melanjutkan perjalanan. Dan selama berjam-jam berjalan, beberapa monster terus saja muncul dan menghadang kami. Ini cukup untuk mengusir rasa bosanku. Tapi mengingat si pedagang yg merupakan orang biasa selalu melewati tempat berbahaya ini ketika hendak ke kota, aku jadi kasihan.
"Apa kau selalu mengalami hal seperti ini ketika mau ke kota, pak tua?" Tanyaku.
"Ah, tidak, aku jarang sekali melewati daerah ini. Itu karena seperti yg kalian lihat, daerah ini sangat berbahaya. Orang biasa seperti ku pasti langsung mati ketika menginjakkan kaki kesini."
"Eh? Lalu bagaimana paman biasanya ke ibukota?" Tanya Elie heran.
"Ada satu jalan lagi yg aman, tapi jaraknya cukup jauh karena harus memutari hutan High Forest. Kami biasanya melalui jalan itu."
"Ah, Jadi karena anda mendapatkan bantuan kami sebagai pengawal, anda memberanikan diri melewati hutan ini agar bisa sampai ke kota dengan cepat?" Tanya Kayn.
"Yah, begitulah."
"Kau berani juga ya, pak tua," ucapku.
Kami melewati hutan tersebut dalam waktu setengah hari. Saat keluar, kami kembali menemui dataran luas seperti sebelumnya. Dengan ini, keadaan sudah menjadi lebih aman. Dan kami pun beristirahat untuk perjalanan besok.
Kami akan sampai di kota Voracity di pagi harinya. Tapi sebelum itu, ada satu hal yg perlu kami persiapkan.
Karena kami akan memasuki kota Voracity, kami sepertinya membutuhkan identitas samaran. Terutama Kayn dan Fiera yg akan memasuki kota dari depan. Karena itu, pemilik kereta ini akan membantu dengan mengatakan kalau Kayn dan Fiera adalah bawahannya. Ini juga merupakan ucapan terimakasih nya karena telah melindungi nya selama di perjalanan. Yah, kurasa itu impas.
Tapi karena aku, Elie, Liana, dan Hughess akan memasuki kota dengan jalan rahasia, kami tak perlu repot-repot menggunakan identitas palsu.
Tepat disaat kami mulai melihat benteng besar kota Voracity, Hughess menghentikan keretanya. Saat ini jarak kami ke kota adalah sekitar 1 kilometer. Jarak yg cukup aman untuk menghindari kontak dengan penjaga gerbang.
"Paman, kami akan turun disini," ucap Hughess. Aku, Elie, dan Liana pun bersiap seperti yg kami bicarakan sebelumnya.
"Eh? Apa kalian tidak mau ikut masuk ke kota?"
"Ah, yah, ada beberapa hal yg harus kami lakukan sebelum masuk. Karena itu kami akan berhenti disini," jawab Hughess.
"Ah, begitu ya. Apa kalian berdua juga turun?" Tanya pedagang itu. "Kalau kalian turun, aku jadi tak perlu mengatakan kalau kalian berdua adalah bawahan ku."
"Tujuan kami bukan kota Voracity, tapi pantai tenggara. Jadi kami tetap ikut bersama mu," jawab Kayn.
"Kalau begitu syukurlah, aku tak kehilangan pengawal," ucapnya. Pak tua itu benar-benar menganggap kami pengawal nya.
"Kalau begitu, kita berpisah disini," ucapku bergegas turun dar kereta. Elie dan Liana juga turun mengikuti Hughess.
"Jaga diri kalian, Zayn, Liana," ucap Kayn.
"Seharusnya aku yg mengatakan itu," balasku.
"Ya, kau benar sih."
__ADS_1
"Kalau begitu, sampai jumpa, Kayn, Fiera."
"Sampai jumpa."