
Buruk, ini benar-benar buruk. Walaupun yg dihadapan ku sekarang hanyalah Iblis hijau, ras iblis paling rendah dari ras yg lainnya, tapi beda cerita kalau ia adalah raja iblis. Dari auranya saja, aku bisa tahu kalau dia bukan tandingan ku. Ia benar-benar berbeda dari iblis-iblis lain yg pernah kuhadapi. Walaupun begitu, auranya tak sekuat Orcholenius.
" Nah bocah, kalau anggota organisasi sepertimu ada disini berarti tempat ini benar-benar markas kalian bukan?" Tanya pria yg tak lain adalah Margaret, si raja iblis hijau itu " bisa kau tunjukkan padaku, dimana tempat itu?"
Dia berencana melacak markas ya, mana mungkin kuberitahu.
" Huh, kau pikir aku akan mengatakannya begitu saja?"
" Tidak juga, aku tahu kau pasti menolak. Tapi aku cuma ingin bilang, jika kau memberitahu tempat itu akan tak akan membunuhmu" ucapnya lagi, masih dengan senyumannya yg licik " atau kau ingin melawanku dan mati? Mana yg kau pilih?"
Aku diam, memikirkan apa yg harus kulakukan. Tak mungkin aku memberitahu informasi berharga seperti ini pada musuh. Tapi kecil kemungkinan aku bisa melawannya. Walaupun begitu aku tak boleh mundur atau aku akan menyesalinya seumur hidupku.
Tanpa aba-aba aku bergerak melesat keudara, tepatnya diatas kepala Margaret. Tanganku kuangkat, hendak menghantamkannya ke kepala Margaret. Dan tanpa kusadari, iblis yg dari tadi diam disebelahnya tiba-tiba muncul di depanku, menebaskan dua buah belati panjang kearahku.
Refleks, kutahan tebasan itu dengan kedua tanganku. Tapi gerakannya begitu cepat, bahkan terlampau cepat. Belum pernah kulihat ada sihir yg membuat penggunanya bergerak secepat itu. Ia melompat diudara, berakrobat layaknya ahli akrobat dan mengincar titik butaku. Cepat-cepat kutahan serangan itu dengan tanganku.
Tanah-tanah dibawah mulai bergerak, kemudian mencuat keatas bagaikan duri-duri tajam yg mengarah padaku. Sayapku pun muncul dan melindungi bagaian bawahku. Benar-benar merepotkan. Si Margaret itu mulai menyerang dengan sihir Alchemy-nya. Saat semua sayapku menahan duri-duri dari bawah, iblis dengan belati tadi kembali muncul. kali ini ia diatasku bersiap menebaskan belatinya. Ia benar-benar gesit dan juga lincah.
Diserang dari dua arah yg berlawanan, tenaga ku terkuras. Menyerang sambil menghindar dengan wujud monster ini bukanlah hal yg mudah. Dan lagi gerakan mereka lebih cepat dariku. Aku tak bisa menandinginya. Mau tak mau aku harus mundur dan mengambil jarak aman. Kalau tidak aku bisa terbunuh.
" Wah wah, kau bisa bertahan bocah? Aku cukup terkesan" ucap Margaret. " Rebbeca, sudah saatnya menenangkan monster ini"
" Baik, tuan Margaret"
Rebbeca? Siapa? Apa iblis belati itu?
" Paralytic void "
Iblis yg tadi bergerak, berlari kearahku. Gerakannya begitu cepat sampai-sampai mataku tak bisa mengikuti pergerakannya. Sedangkan Margaret duduk menyentuhkan tangannya ke tanah, bersiap memberikan serangan sihir alchemy. Ah, ini buruk.
Ratusan duri kembali mencuat, meluncur kearahku. Sebisaku kugerakkan tubuhku menghindari duri-duri itu. Dan tanpa kusadari, iblis yg dipanggil Rebbeca itu muncul dari sela-sela duri. Ia memanfaatkan duri-duri yg dimunculkan Margaret untuk bersembunyi dan menyerangku. Ia seperti assasin yg pandai menyamar.
Sontak aku segera menghindar. Tapi gerakannya yg terlalu cepat itu berhasil mengejar ku. Satu serangan belati yg cukup dalam tergores di pahaku. bukan luka yg parah, aku masih bisa bertahan. Dengan cepat aku melompat menjauhi tempat itu.
" Sudah berakhir, bocah" ucap Margaret
" Huh, kau kira serangan lemah seperti ini bisa membuatku.....
Seketika kata-kata terhenti. Rasa sakit dari bekas luka itu tiba-tiba jadi sangat menyakitkan. Tubuhku seketika melemah, tangan dan kakiku tak bisa kugerakkan. Tubuhku terjatuh ketanah, tak bergerak. Apa ini?! Apa yg sebenarnya terjadi?!
" Paralytic void....kau sudah kulumpuhkan "
Iblis dengan belati tadi berdiri di depanku, melepas jubahnya. Seorang iblis berwujud wanita berambut putih panjang dengan mata hijau berdiri di depanku. Belatinya mengeluarkan aura hitam pekat. Jadi begitu, serangannya tadi dilengkapi dengan sihir pelumpuh. Seperti pisau yg dilapisi racun. Aku benar-benar dalam masalah.
" Segera akhiri dia, Rebbeca"
" Dengan senang hati, tuan Margaret"
Gawat, ini gawat. Tubuhku benar-benar tak bisa bergerak. Aku harus melakukan sesuatu, tapi apa yg bisa kulakukan?!
" Insomnia : Plaides Knight"
__ADS_1
Sebuah tebasan pedang muncul menerjang daratan. Membuat Rebbeca yg berada didepanku terhempas mundur. Dari atas, Kayn muncul lengkap dengan armor sihirnya. Seperti seorang ksatria cahaya.
" Kau tepat waktu Kayn" ucapku, berusaha menoleh kearahnya.
" Zayn, aku penasaran dengan apa yg kau lakukan. Dari tadi kau kelihatannya hanya menghindari serangan mereka. Bukan seperti dirimu saja. Sebenarnya apa yg terjadi?" Tanya Kayn, berdiri dihadapanku.
" Kau tidak lihat? Di depan itu Raja iblis hijau" jawabku, membuat Kayn sedikit terkejut.
" Raja iblis hijau?! Pantas saja ada yg aneh denganmu" balasnya. Ia mengarahkan tangan kirinya kearahku, tetap menatap waspada kearah Margaret " Disspell "
Seketika tubuhku bisa kembali kugerakkan. Ternyata itu memang sihir. Untung saja Kayn punya sihir penetral itu.
" Wah wah, datang lagi anggota organisasi itu. Dan kelihatannya kalian bersaudara. Tidak, kembar ya? Mengejutkan...." Ucap Margaret.
" Apanya yg mengejutkan brengsek?" Balas Kayn, menatapnya sinis.
" Mengejutkan, karena ternyata organisasi itu hanya mengirim anak-anak seperti kalian"
" Apa katamu?!"
Rebbeca kembali muncul, diikuti dengan serangan duri-duri Margaret. Kayn yg memiliki reflek dan gerakan yg lebih cepat dibandingku bisa sedikit mengimbangi kecepatan Rebbeca. Sementara Kayn mengurus Rebbeca, aku masih harus mengurus duri-duri yg merepotkan ini. Tapi kali ini, Rebbeca bergerak lebih ganas dari yg sebelumnya. Ia bergerak lebih cepat dari yg tadi, dan itu membuat Kayn kewalahan. Saat aku mencoba maju menyerang, Rebbeca sudah ada disana menyerangku. Ia benar-benar seperti bayangan.
" Insomnia : Light Step!"
Kayn melapisi tubuhnya dengan cahaya, melipatgandakan kecepatannya dan berniat menyerang Rebbeca. Mereka saling beradu kekuatan, dan kalau soal kekuatan, Kayn bisa mengunggulinya. Hanya saja kecepatannya semakin lama semakin meningkat, dan itu membuat Kayn tak bisa mengikutinya.
" Kayn! Dibelakangmu!"
" Laser Beam!"
Beberapa tembakan laser kulepaskan, mengincar Margaret yg tanpa penjagaan. Tapi siapa sangka, kecepatannya sama seperti Rebbeca. Ia menghindari semua seranganku dengan mudah. Begitu juga dengan Rebbeca. Tak satu peluru pun mengenai mereka. Serangan Kayn juga tak membuat mereka terluka parah. Kami benar-benar terdesak.
" Ini gawat, aku hampir kehabisan Manna" ucapku
" Bertahanlah Zayn..." Ucap Kayn, menangkis semua serangan mereka. " Ini gawat, kak Marry dan Zatrox masih cukup jauh dari tempat ini. Dan juga aku tak bisa menghubungi Zero..."
" Kalau begitu, matilah dengan tenang bocah keras kepala"
Tanpa kami sadari, Rebbeca sudah berada di belakang kami. Hawa keberadaannya benar-benar tak terasa.
" Zayn!"
Satu tebasan yg dalam mengenai bagian punggungku. Saking cepatnya aku tak sempat membuat sayap pelindung. Aku terluka, dan lagi-lagi sihir pelemah itu membuatku jatuh tak berdaya ke tanah. Kayn yg kaget spontan menyerang Rebbeca. Tapi duri besi muncul dan menusuk lengan dan kaki Kayn. Kami terluka parah. Dan disaat yg sama lingkaran sihir teleport Zero muncul dan membawa ku kembali ke markas.
Sesaat kemudian, tubuhku sudah terbaring diatas lantai ruangan Zero, dengan darah yg masih mengalir deras dari luka di punggungku.
" Hey hey Zayn, apa yg sebenarnya terjadi?" Tanya Zero. Kali ini raut wajahnya terlihat cemas. Ini pertama kalinya kulihat Zero berwajah seperti itu. kupikir dia tak bisa menunjukkan wajah seperti itu.
" K-kau terluka parah Zayn" ucap Elie bergegas menghampiri ku yg terbaring dilantai.
" I-ini bukan apa-apa " balasku.
__ADS_1
" T-tunggu....dimana Kayn?" Tanya Liana yg saat ini sedang berdiri di samping Elie.
Kata-katanya membuatku teringat. Benar juga, Kayn tidak ada disini. Apa dia tertinggal ditempat itu?
" Si bodoh itu masih disana. Ia menolak teleport ku dan terus menetralkannya " ucap Zero kesal, menatap serius kearah layar hologram " sebenarnya apa yg dipikirkannya? Dia terluka parah!"
Kayn bodoh! Sebenarnya apa yg direncanakannya?! Ia tahu kalau melawan mereka saja mustahil, lalu kenapa dia bersikeras untuk menghadapi mereka sendirian?!
" Z-zero, hubungkan sihir telepati mu padaku dan Kayn!" Ucapku, berusaha untuk bangkit tepat setelah nona Stephanie yg kebetulan berada disana menetralkan sihir pelumpuh di tubuhku. " Cepat lakukan!"
" Sedang kuusahakan!" Jawabnya " Telepath!"
Sejumlah sihir kecil masuk keotakku, membuatku mendengar suara yg cukup bising.
" Tersambung Zayn" ucap Zero
" Kayn!!" Teriakku. Dan setelah itu akupun mendapat respon dari seberang, tepatnya dari Kayn.
" Zayn...kau baik-baik saja ya..."
Apa ini? Suaranya terdengar lemah. Sudah kuduga dia tak akan sanggup menghadapinya seorang diri. Walaupun begitu kenapa dia masih menanyakan kondisiku. Kau sedang dalam masalah bodoh!
" Apa yg kau lakukan?! Cepat mundur!"
" Tidak bisa, aku tak bisa mengambil resiko..." Balasnya. " Margaret mengincar markas kita. Kalau aku kembali...dia pasti akan menemukan tempat itu"
" Siapa peduli soal itu?! Semuanya mengkhawatirkanmu dasar bodoh!!"
"Maaf kalau begitu...tapi aku tetap tak akan membiarkan mereka menemukan kalian"
" T-tunggu Kayn!"
Sihir telepati itu terputus. Jelas sekali kalau Kayn memutus paksanya dengan Disspell. Kalau begini dia tak akan bisa bertahan.
" Zero, segera beritahu zatrox dan kak Marry. Kayn dalam bahaya" ucapku
" Sedang kulakukan"
" Zayn, ap yg dikatakannya? Apa yg Kayn katakan?" Tanya Liana, menatapku dengan penuh harap.
Tapi sayangnya, tak ada harapan yg bisa kuberikan padanya.
" Dia menolak kembali dan berniat menghadangnya sendirian" ucapku. Seketika semua yg ada di ruangan ini terlihat cemas. Terutama Liana. " Raja iblis hijau Margaret. Dia berniat melacak markas utama kita. Kayn tahu itu dan mengorbankan dirinya untuk menjaga informasi tentang letak markas ini. Soalnya, jika dia kembali Margaret akan dengan mudah melacak Manna Kayn. Dan karena aku sudah terlanjur kembali, dia berniat menghadangnya agar tak melacak ku.."
" Itu rencana yg sangat ceroboh. Tak kusangka Kayn akan memikirkan rencana seperti ini " ucap nona Stephanie.
Tak beberapa lama setelah itu, terdengar suara gesekan besi yg sangat nyaring. Suaranya begitu jauh, tapi terdengar sampai sini. Kami diam sejenak, memikirkan suara apa barusan. Dan di tengah keheningan itu..
" T-tunggu....yg benar saja" ucap Zero dengan mata yg terbelalak menatap layar hologram.
kami ikut melihat kearah layar hologram. dan apa yg kami lihat membuat kami kaget dengan mata terbelalak. benar-benar pemandangan yg membuatku sesak.
__ADS_1
" K-kayn!!!"