
Sebuah lingkaran sihir teleportasi muncul di depan kami. Sesaat kemudian, Zero muncul dari lingkaran tersebut, diikuti dengan nona Stephanie dan para Magic Knight lainnya. Meskipun paman Oliver dan juga Zatrox tak muncul, kehadiran mereka tentunya memberi kami secercah harapan. Sebuah bala bantuan terkuat yg berharga telah datang dengan sendirinya.
"No-nona Stephanie? Bagaimana bisa kalian disini?" Tanya Kayn. Tentu saja ia keheranan. Pasalnya selain aku, Kayn dan Fiera, tak ada anggota lain yg mendapat izin memasuki kota. "Bukankah kita dilarang memasuki kota tanpa izin?"
"Tenang saja, kami tak lewat pintu masuk jadi tak masalah," Jawab Zero.
"Itu bukan jawaban yg kami inginkan."
Nona Stephanie sedikit menahan tawanya. Ia kemudian menatap Kayn yg masih kebingungan itu.
"Kami mendapat pesan permintaan dari raja siang tadi. Mereka meminta kami datang membantu," ucapnya "sepertinya Vestine sudah melakukan sesuatu pada raja tadi pagi."
"Eh? Jangan-jangan ketika rapat di kediaman raja tadi pagi?"
"Ya, bisa jadi waktu itu."
Huh, ternyata itu yg pak Vestine bicarakan dengan raja tadi pagi. Meskipun aku tak tahu apa tepatnya yg ia lakukan disana, tapi itu bukan masalah bagiku.
"Eh? Eeeeh?! Kenapa kalian semua ada disini?!"
Ditengah perbincangan itu, suara Elie yg baru saja muncul memecahkan semuanya.
"Hai Elie, lama tak jumpa," sapa kak Marry ramah sambil melambaikan tangannya.
"Kenapa histeris begitu? Apa kau benar-benar tak ingin kami datang kesini?" Kali ini kak Chezie yg menegurnya. Dan itu sontak membuat Elie sedikit tersentak kaget. Yah, dihadapan para murid yg pernah diajar kak Chezie, sosoknya sendiri bagi mereka sudah seperti monster yg mengerikan.
"T-tidak bukan begitu master Chezie. A-aku hanya sedikit terkejut ...."
Melihat ekspresinya, nona Stephanie tertawa kecil. Begitu juga dengan kak Chezie dan beberapa anggota lain.
"Sudah cukup basa-basinya, kita perlu serius kali ini, nona Stephanie." Gale yg berdiri di sisi nona Stephanie menegur kami. Memang benar kalau disituasi seperti ini, tak baik kalau kami terus bercanda.
"Ya, kau benar Gale," balas nona Stephanie sambil menatapku erat-erat. "Zayn, Kayn, Elie, bawa kami ke hadapan Vestine sekarang. Meskipun kami sudah tahu harus besar masalah saat ini, kami masih butuh beberapa informasi tambahan."
"Ah, benar juga. Pak Vestine sepertinya sedang di tenda sekarang."
"Kalau begitu cepat bawa kami kesana," perintah kak Chezie.
Mau bagaimana lagi, meskipun aku tak suka disuruh-suruh aku tetap tak punya pilihan jika kak Chezie yg menyuruhku. Aku harus mengikuti perintahnya kalau tak ingin habis di ruang uji coba seperti Fiera.
Aku, Kayn, dan juga Elie kembali ke area tenda ReVoid, membawa tamu penting ke hadapan pak Vestine. Namun, karena tak ingin repot aku hanya mengantar mereka masuk ke tenda saja dan menunggu di luar. Aku tak tertarik dengan apa yg ingin mereka bicarakan. Asalkan aku tahu hasil akhirnya, aku tak masalah sama sekali.
Semua Magic Knight yg barusan tiba satu persatu masuk ke dalam tenda ReVoid. Kecuali satu orang. Karena diantara kami semua, ia adalah perwujudan dari rasa cuek.
"Kenapa kau tak ikut masuk, Zero?" Tanyaku.
"Kenapa? Masalah? Aku kesini bukan untuk bertemu si tua yg bahkan tak kukenal itu. Aku kesini untuk tugas, dan juga pelepas bosan. Mengikuti pembicaraan mereka itu membosankan dan aku tak suka itu ...." Ucapnya.
"Seperti biasa ya ...." Gumam Elie sedikit tersenyum.
__ADS_1
"Hah? Ada masalah dengan itu, anak baru?"
"T-tidak, tidak apa-apa kok."
"Tapi bukankah lebih baik kau masuk? Kau bisa dapat banyak informasi kan jika bergabung dengan pembicaraan mereka?" Usul Kayn.
"Hmm ... Kau ada benarnya, tapi aku tak tertarik."
"Menyerahlah Kayn, kau tak akan bisa membujuknya ...." Ucapku. Kayn menghela nafas panjang.
Disela-sela pembicaraan kami, Shiki dan juga Aoi tiba-tiba muncul menghampiri kami. Ia dengan cepat menyapa kami seperti biasa.
"Kalian disini ya Kayn, Zayn, Elie juga ...." Ucapnya setengah terengah-engah. Dan ia terdiam sebentar setelah menyadari ada Zero bersama kami. "Dan ... Siapa gadis pirang ini?"
"Gadis? Apa seperti itu caramu memanggil orang yg lebih tua darimu?" Tanya Zero.
"Eh ... Tak kusangka kau mempermasalahkan hal itu Zero. Padahal kau tak pernah berlaku sopan pada senior yg lain ...." Ucapku.
"Berisik, itu bukan urusanmu kan?"
"J-jadi Zayn, siapa dia?" Tanya Shiki lagi.
"Salah satu Magic Knight, Zero the Apocalypse." Setelah aku menjawabnya, tinggal menunggu waktu sampai reaksi berlebihan mereka muncul.
"M-magic knight ... Katamu?" Tanya Aoi.
"Heee, aku baru tahu kau punya rumor seperti itu Zero."
"Ya, aku juga baru tahu sih. Tapi kedengarannya tak buruk juga." Ucapnya tersenyum menyombongkan diri.
"A-apa sebenarnya kau ini terkenal, Zero?" Tanya Elie heran.
"Hei jangan memasang ekspresi seperti itu, melihatnya saja sudah membuatku muak kau tahu?"
Zero menghindari tatapan heran Elie dan menatap wajah Shiki dan Aoi yg masih sedikit kebingungan. Dengan sebuah tarikan nafas dalam, Zero mengatakan dengan penuh percaya diri.
"Ya, itu aku. Zero the Apocalypse si jenius yg kalian bicarakan itu adalah aku." Zero mengatakan itu dengan lantang dan penuh percaya diri. Kalau saja itu terjadi padaku, pastinya aku sudah merasa sangat malu sekarang.
"Sebuah kehormatan dapat bertemu dengan anda!!!!"
Seperti sebelumnya, Shiki dan Aoi segera menunduk hormat bagaikan tengah bertemu seorang raja. Gerakan serta teriakan mereka yg tiba-tiba dan tak terduga itu membuat Zero kaget dan sedikit mundur. Seakan ia sedang menyaksikan sesuatu yg menyeramkan.
"A–apa-apaan mereka ini?!" Tanya Zero pada kami bertiga. Aku hanya dapat menjawab dengan mengangkat bahuku. "Tindakan mereka terlalu berlebihan!"
"Yah, mereka sepertinya menganggap kita seperti pahlawan atau semacamnya. Bisa dibilang mereka ini seperti penggemar setia."
"Tindakan mereka melebihi penggemar dimataku! Ini lebih mirip seorang budak yg bertemu dengan tuannya setelah sekian lama tak berjumpa!!"
"B-budak?! K-kami mungkin memang penggemar kalian, tapi jangan samakan kami dengan budak!" Bantah Shiki dan Aoi
__ADS_1
"Hei kemana perginya sikap loyal kalian yg barusan?" Sindir ku.
Setelah situasi nya sedikit tenang, akhirnya kami dapat memulai perkenalan kami dengan normal.
"Namaku Shiki Mikoto, Reign of Katana. Dan dia adikku—
"Aoi Mikoto, Reign of Ammo. Senang bertemu dengan anda ...."
Zero memperhatikan mereka dengan seksama. Seakan sedang melihat orang yg sangat aneh.
"Yah, aku sedikit terkejut dengan apa yg kalian lakukan tadi ...." Ucap Zero. Ia kemudian tiba-tiba menatapku. "Lagipula, Reign itu apa?"
"Sudah kubilang, lebih baik kau masuk ke dalam tenda dan mendengar semua penjelasannya disana!"
"Aku tidak mau, itu merepotkan. Lebih baik kalau kalian yg menjelaskannya padaku."
"Tidak, itu merepotkan." Aku dengan segera menolak permintaannya.
"Kalau begitu berhenti menyuruhku melakukan sesuatu yg merepotkan," ucap Zero
Yah, aku berhenti menjawab. Sepertinya lebih baik aku diam dan membiarkannya melakukan apa yg ia mau. Kayn dan Elie juga melakukan hal yg sama, agar kata-kata kasar yg ditujukan kearah kami tak keluar dari mulut Zero. Mendengar kata-kata tajamnya itu rasanya jauh lebih buruk daripada ditusuk dengan sebilah pedang.
"Yah, maaf mengejutkanmu Zero. Mendengar Magic Knight datang membantu kami sungguh membuat kami senang bukan main. Soalnya saat ini kami sedang dalam masalah besar." Shiki menjelaskan sambil memperlihatkan senyum dan wajah ramahnya seperti biasa. Dengan senyum itu, gadis-gadis bisa saja langsung jatuh cinta padanya, tapi tentu saja itu tak berpengaruh dihadapan Zero
"Bisakah kau berhenti memasang senyum itu? Itu menjijikkan dan aku merasa sangat terganggu dengan itu."
"A-ap—?!"
"Seperti yg diharapkan dari si lidah tajam Zero, kau tak punya ampun ya ...." Gumamku. Yah, aku sedikit kasihan dengan Shiki yg harga dirinya baru saja dilukai.
"Tapi yah, apa memang situasi nya seburuk itu? Sampai-sampai pihak kerajaan meminta bantuan kami? Ini perdana lho kerajaan Bluelagoon meminta bantuan secara langsung," tanya Zero.
"Ya, sepertinya aku perlu sedikit menceritakan kondisi saat ini ...."
Akhirnya, Shiki menceritakan secara terperinci keadaan kami. Dimuali dari jumlah musuh, sampai dengan kedatangan Rozalia sebagai sang pembawa bencana. Shiki menceritakan tanpa melewatkan satupun poin penting. Kemampuannya menjelaskan sangat hebat, sampai aku tak akan heran jika ia yg akan ditunjuk sebagai pembawa pesan kerajaan. Walaupun itu tak mungkin terjadi.
"Wah, seburuk itu ya ... Memang itu cukup buruk bagi orang-orang biasa seperti kalian." Zero berkomentar tanpa ampun. Lidah tajamnya kembali menampakkan diri.
"Karena itu, kami sangat membutuhkan bantuan saat ini. Tapi aku tak mengira kalau kalian semua akan datang." Kayn yg sedari tadi diam mulai kembali bicara.
"Yah, walaupun paman Oliver dan si Zatrox tidak datang," ucapku. "Omong-omong, kemana mereka pergi?"
"Seperti biasa, mereka sedang bertugas di daerah sekitar kerajaan Voracity. Belakangan ini ras iblis kuning mulai menampakkan diri di sana." Zero menjawab dengan santai. Seakan itu adalah hal yg biasa.
"Walaupun mereka tak hadir, aku sangat yakin kita pasti bisa mengalahkan para vampir itu dengan kemampuan kita yg sekarang!" Ucap Elie.
"Kau optimis sekali, anak baru. Tapi yah aku tak membenci sifat itu."
Sepertinya, apa yg Elie katakan benar. Dengan jumlah dan kekuatan kami saat ini, kita pasti bisa mengalahkan para vampir.
__ADS_1