
" Insomnia : Light Of Plaides"
Pedang serta armor ditubuh Kayn berubah, menjadi sepasang armor dan pedang cahaya. Aura sihir yg begitu besar menyeruak dari tubuhnya, membuat sebuah ledakan Manna kecil.
Satu hentakan kaki, tubuh kami berdua segera melesat secepat kilat menuju Orcholenius. Melihat kami maju, kak Marry menghentikan serangannya, takut melukai kami. Ini bagus karena tak ada lagi pedang yg berjatuhan kearah kami, tapi itu juga membuat pergerakan Orcholenius jadi semakin leluasa. Dua gadis yg dari tadi hanya bisa berlindung dibelakan Orcholenius mulai bergerak maju.
Ditengah-tengah, Orcholenius berdiri santai menyaksikan. Ia sama sekali tak berniat untuk maju menyerang. Beda halnya dengan dua gadis itu. Mereka bergerak cepat, mengejar kami yg berusaha keras mendekati Orcholenius. Tiap kali kami mendekat, mereka selalu saja muncul dan menyerang kami. Mereka benar-benar tak membiarkan kami mendekat. Aku dan Kayn terus menyerang, mengerahkan seluruh kemampuan kami. Aku dengan wujud monster ku, dan Kayn dengan pedang serta kemampuan berpedangnya. Walaupun begitu, dua gadis itu bisa menghindari semua serangan kami. Dan disaat tak terduga, tendangan yg lebih keras dari yg sebelumnya kembali mendarat di perut kami, membuat kami terhempas ke tanah.
" Hebat sekali, kalian bisa bertahan dari serangan Anna dan Jenny. Padahal mereka berdua kuat lho" ucap Orcholenius mengamati pertarungan kami.
" T-tidak juga kok, Anna tidak sekuat itu" ucap si gadis pirang yg dipanggil Anna itu.
" Tuan Nel, kata-kata kuat itu bukan kata-kata yg cocok untuk seorang gadis" sahut si rambut biru, yg tak lain bernama Jenny itu.
" Oh, begitu? Aku tak tahu, soalnya aku laki-laki"
Sial, sifat serta penampilan mereka memang seperti anak-anak. Tapi kekuatan mereka benar-benar tak masuk akal. Bagaikan melawan monster yg tak mungkin bisa kami lawan. Dia benar-benar lawan yg tangguh.
Kayn kembali maju. Aku mengikutinya dari belakang. Gadis berambut pirang yg dipanggil Anna itu kembali bergerak, hendak mengadang Kayn. Sedangkan gadis berambut biru yg dipanggil Jenny itu bergerak kearahku. Kami diserang dari dua arah.
Tapi tentu saja aku tak akan membiarkan hal itu.
Aku memanjangkan tangan kananku. Tangan kiri kuarahkan menahan serangan Anna yg hampir mengenai Kayn. sedangkan tangan kananku menangkap kakinya dan melemparkannya ke udara. Tentu saja itu membuat pertahanan ku terbuka lebar. Dan seperti yg kuduga, Jenny mulai bergerak menyerang bagian belakangku. Tapi dengan cepat kubuka sayap kerasku. Serangan Jenny dengan sempurna juragan. Disaat yg sama Kayn melesat maju ketempat Orcholenius. Dari kami berdua, Kayn memang yg terkuat. Karena itu kubiarkan dia maju menghadapinya. Sementara aku disibukkan dengan dua gadis tadi.
" Kau mengganggu, gadis kecil" ucapku.
Sayap besarku kukepakkan, menimbulkan gelombang angin yg besar. Gelombang angin itu bahkan membuat tubuh Jenny terhempas menjauh. Tak lama setelah itu, aku pun kembali maju dan melesatkan kepalan tanganku dengan sangat keras.
__ADS_1
" Kepalan tangan yg bagus" ucap Jenny.
" Terimakasih"
Satu pukulan yg begitu keras menghantam tangannya. Tubuhnya pun terhempas ketanah, menimbulkan ledakan dengan kawah yg cukup besar. Serangan itu berhasil membuat Jenny terduduk lemas didalam kawah. Walaupun begitu ia hanya tersenyum kearahku.
" Kenapa kau tersenyum seperti itu hah?!!"
Sejumlah besar Manna terkumpul didepan mulutku yg tampak seperti mulut monster. Manna itu terus berkumpul membentuk titik cahaya merah yg kemudian melesat bagaikan laser kearah Jenny yg masih terduduk di kawah. Sebuah ledakan yg cukup besar pun kembali muncul.
Dengan serangan itu, kuyakin Jenny pasti tak bisa apa-apa lagi. Manna ku masih tersisa banyak. Cepat-cepat ku bergegas menyusul Kayn.
Dan seketika, tanpa kusadari Kayn terjatuh dari atas langit tepat didepanku. Kondisinya sangat mengenaskan. Seluruh tubuhnya dipenuhi luka dan lebam. Sontak mataku terbelalak kaget.
" K-kayn?" Panggilku lirih.
" Membosankan! Ternyata kau tak sekuat ayahmu! Mengecewakan sekali!!"
" Dunia ini bukan tempat bagi orang lemah...orang lemah seperti kalian pantas mati" ucapnya, mengarahkan tangannya kearah kami " matilah, serangga"
Orcholenius menembakkan sinar laser biru kearah kami berdua. Kakiku dengan cepat kugerakkan, bergerak ke depan Kayn. Tepat waktu, sayapku melebar melindungi kami berdua. Dengan sayap keras bagaikan perisai ini, aku akan melindungi Kayn.
" Kau pikir aku akan membiarkan Kayn terbunuh hah?!" Teriakku
Seketika, suara benda yg pecah terdengar. Itu suara pecahan benda yg sangat keras.
Sayap kerasku perlahan retak dan kemudian pecah menjadi kepingan kulit keras. Rasa sakit yg sangat kurasakan di bagian pundak ku. Tapi sinar laser biru itu masih melesat. Kini giliran tanganku yg bergerak menahan serangan itu. Sangat panas, dan juga sangat berat. Benar-benar kekuatan yg sangat besar. Tapi untung saja serangan itu selesai tanpa menghancurkan tanganku. Tapi tetap saja, aku kehilangan banyak tenaga.
__ADS_1
" Boleh juga, sepertinya kau lebih kuat dari anak itu" ucapnya " tapi tetap saja, kalian semua lemah"
Orcholenius kembali mengarahkan tangannya. Itu sama seperti serangan yg sebelumnya. Ia akan kembali menembakkan sinar laser. Aku segera memasang posisi siaga.
Tanpa kusadari, Jenny muncul dari sampingku. Ia memegang sebuah belati, bergerak cepat untuk menyerangku. Aku sedikit panik dan kehilangan konsentrasi.tak ada persiapan sama sekali. Aku tak sempat memikirkan tindakan. Selain itu, aku tak menyangka Jenny masih bisa menyerangku.
Tapi kejadian tak terduga terjadi tepat sebelum belati itu mengenaiku.
Tak ada rasa sakit sama sekali. Tapi apa yg kulihat saat ini menimbulkan luka lain yg lebih parah. Bukan luka fisik, tapi luka psikologi, atau mental. Dihadapanku, Elie berdiri lemas. Darah segar mengalir dari luka yg menganga lebar di punggungnya. Ia kemudian tumbang ke arahku. Aku menangkapnya, dan darah segar masih mengalir deras. Disaat yg sama, Jenny mundur ketempat Orcholenius.
" Berkorban demi orang lemah? Menarik...manusia itu memang sudah dimengerti ya" ucap Orcholenius.
Tepat sebelum belati itu mengenai tubuhku, Elie muncul secara tiba-tiba dan mendorongku. Belati itu pun mengenai punggungnya dan membuat luka koyak yg lebar. Ia melakukan itu untuk melindungiku. Tapi kalau begini jadinya mana mungkin aku menerima ini.
" Hentikan...ini...Zayn" ucap Elie lirih.
" Bertahanlah Elie, kumohon bertahanlah! Sebenarnya apa yg coba kau lakukan?!"
" Aku... melindungimu..darinya" ucap Elie tersenyum. Hatiku semakin terkoyak.
" Tapi kenapa?" Tanyaku. Butiran air mata mulai membasahi mataku.
" Karena..." Elie menggerakkan tangannya, menyentuh pipiku Sambil tersenyum pilu."...aku mencintaimu...jauh dari...lubuk hatiku..."
Aku terdiam. Elie kehilangan kesadarannya saat itu juga. Ia pingsan sekaligus kritis. Aku muak. Aku merasa sangat muak. Mau berapa banyak lagi kau merenggut orang yg berharga untukku?! Cukup sudah, aku tak tahan lagi!! Aku tak peduli seperti apa nantinya. Walaupun aku menjadi monster sekalipun, aku pasti akan membunuhmu, Orcholenius!!!
Kesadaranku perlahan memudar. Yg ada hanyalah kenangan-kenangan menyakitkan yg terlihat dialam bawah sadarku. Dan ditengah-tengah kegelapan itu, sesuatu memanggilku.
__ADS_1
" Marahlah... marahlah Zayn, dengan begitu kau pasti bisa mengalahkan semua orang-orang yg melakukan ini padamu"
" Aku, Leon akan meminjamkanmu kekuatanku"