
Sebuah sejarah baru telah muncul. Sejarah yg akan menjadi penentu nasib antar ras, dan akan menjadi sebuah legenda di kota Bluelagoon yg terkenal dengan dongeng-dongeng dan cerita rakyatnya. Dan siapa sangka kalau aku akan menjadi salah satu pelopor dari terjadinya sejarah itu sendiri.
Apalagi? tentu saja yg kubicarakan adalah tentang terbentuknya aliansi antara para vampir, ReVoid, dan juga Magic Assosiation. Meskipun ini adalah aliansi yg terbentuk secara rahasia, tapi sejarah ini akan terus terukir diingatan para prajurit gagah berani yg ikut bertarung bersama kami.
Didalam ruang sihir tanpa waktu, ketiga hubu mengadakan rapat rahasia yg dipimpin masing-masing dari mereka.
ReVoid dipimpin oleh pak Vestine dan Hallen. Magic Assosiation dipimpin oleh nona Stephanie dan Osamu. Sedangkan para vampir dipimpin oleh Zuan dan bawahan terpercaya nya, Elsie.
Sekarang, saatnya membicarakan tentang langkah kami selanjutnya.
"Jadi, jangan bilang kalau kau melakukan ini semua tanpa rencana yg matang, Louise," ucap nona Stephanie.
"Hey jangan meremehkan ku Senie. Tentu saja aku melakukan ini semua setelah berpikir panjang," balas Osamu. "Kita akan terus mengikuti alur yg dibuat Rozalia. Atau lebih tepatnya, kita tak akan merubah rencana awal kita."
"Apa maksudmu? Kalau begitu ini sama saja dengan sebelumnya!" Bantah Hallen tak terima.
"Ya, ini memang sama seperti sebelumnya. Tapi kali ini, kita punya bantuan tak terduga yg sangat menguntungkan kita," ucap Osamu. Ia lalu menatap Zuan.
"Jadi begitu. Kau ingin kita tetap menutupi kerjasama ini dan menggulingkan Rozalia dari belakang dengan memanfaatkan kami," ucap Zuan. Seperti biasa, ia cepat tanggap.
"Benar sekali. Incaran kita kali ini bukanlah vampir yg menyerang bersama Rozalia," ucap Osamu. "Kita akan mengambil hadiah utama kita. Yaitu kepala pemimpin mereka, Rozalia."
"Begitu ... Jika Rozalia terbunuh, moral pasukannya akan menurun, dan besar kemungkinan mereka akan mundur dan tercerai berai," gumam pak Vestine.
"Tepat sekali. Karena itu, kita akan berfokus dalam menyerang Rozalia. Tapi sebelum itu, kita harus mengurus sisa vampir bangsawan yg setia di sisi Rozalia," ucap Osamu. "Seperti sebelumnya, kita perlu memecah belah mereka. Sebisa mungkin, kita perlu membuat mereka berpencar menjadi lima kelompok. Dan di setiap kelompok itu, salah satu bawahan Zuan akan ikut bergabung dengan mereka, dan seolah-olah membantu mereka."
"Jadi kau meminta kami berakting layaknya musuh kalian. Dan disaat kesempatan muncul, kami bisa menghabisi mereka dengan segera?" Tanya Elsie.
"Itu juga benar," jawab Osamu. "Rozalia memiliki kemampuan Blood Sacrified ganda. Yg pertama adalah Orario, naga darah. Dan yg kedua adalah Counter, sama seperti sihir Encounter ku yg dapat membalikkan segala jenis serangan, Counter miliknya juga dapat membalikkan segala jenis serangan. Bisa dibilang, itu adalah Encounter versi vampir."
"Itu cukup sulit ... Benar-benar kemampuan yg menyebalkan bukan?"
"Senie, bisakah kau berhenti mengatakan itu? Secara tak langsung kau sudah menyakiti perasaanku."
"Jadi, bagaimana cara mengalahkannya?" Tanya Hallen.
"Rencana nya adalah, 3 orang yg akan maju menghadapai Rozalia. Kemampuan Counter nya hanya dapat dikalahkan dengan kemampuan yg serupa. Itu berarti aku akan pergi bersama dengan Zayn yg dapat menguasai pertarungan jarak dekat, dan Zuan sebagai pemberi serangan akhir," jelas Osamu.
"Rencananya, Zayn akan maju dan membuat Rozalia sibuk. Sementara itu, aku akan menyerang Counter nya dengan Encounter milikku yg akan kuubah menjadi bentuk peluru. Disaat itulah, Counter Rozalia akan menjadi kacau, dan hancur. Diakhir, Zuan akan menusuk Rozalia dari belakang dan mengakhiri nya."
"Uwah, itu rencana yg cukup kotor," ucap Zero.
"Tunggu, apa maksudmu dengan mengacaukan Counter Rozalia?" Tanya pak Vestine.
"Jika kekuatan itu benar-benar mirip dengan Encounter, maka ia hanya bisa menahan jenis serangan yg sama sebanyak satu kali. Di kesempatan kedua, ia akan kacau dan kemudian hancur. Itu hanya berlaku untuk serangan yg sama diwaktu yg sangat tipis. Karena itu, aku akan menembakkan Encounter ku, dan membuatnya memantulkan kembali serangan itu. Namun, karena serangan itu juga merupakan sihir pembalik yg sama, ia akan kembali membalikkan serangan itu. Itu sudah dianggap serangan kedua dari jenis serangan yg sama. Disaat itu, Counter akan hancur, dan Zuan dapat menembus pertahanan Rozalia."
Osamu menjelaskan semua itu dengan penjelasan yg rumit. Aku hanya mengerti sedikit dari kata-katanya saja.
"Tapi, sepertinya itu hanya berlaku jika itu sihir yg sama bukan? Bagaimana jika ternyata Counter dan Encounter adalah dua sihir yg berbeda?"
__ADS_1
"Ya, itu akan gagal. Tapi jika itu berhasil, akan sangat menguntungkan kita." Ucap Osamu.
"Begitu ya ... Itu patut dicoba," ucap Zuan.
"Sungguh taktik yg memukau," ucap Elsie terkesima.
Sementara itu, Osamu terlihat tersipu malu ketika dipuji-puji seperti itu. Benar-benar seperti anak kecil.
Beberapa detik setelah menjelaskan rencana yg ia pikirkan, nona Stephanie yg dari tadi diam menyimak mengangkat tangannya.
"Yah, aku salut dengan ide dan cara berpikir mu Louise," ucap nona Stephanie. "Tapi, bukankah Blood Sacrified itu sama halnya dengan sihir pada umumnya? Apa aku salah?"
"Ya, kurang lebih itu benar," jawabnya.
"Jika lawannya sihir, bukankah akan lebih sederhana jika menggunakan Disspell milikku daripada menggunakan teori Encounter mu itu? Jika Blood Sacrified adalah sihir, menetralkan nya akan jauh lebih mudah kan?" Tanya nona Stephanie. Osamu terdiam, dan kami semua seketika sadar. "Lagipula, presentase keberhasilannya akan jauh lebih tinggi dari pada teori mu ...."
Benar juga, aku hampir lupa kalau kami punya orang yg bisa menetralkan semua jenis sihir. Dengan Disspell, Counter Rozalia sudah pasti akan hilang.
Seakan kehilangan kepercayaan diri, Osamu terduduk di tanah.
"Wah wah, tak kusangka kau cuma mau pamer kepintaran saja ya. Selalu saja memikirkan ide yg rumit sampai melupakan ide simpel dan mudah seperti ini," ledek Zero sambil berusaha menahan tawa.
"Ugh, berisik ... Berhenti memperburuk keadaanku."
"Uwah, menyedihkan sekali. Apa ini efek karena selalu menyendiri selama bertahun-tahun?" Zero masih belum berhenti mengganggu Osamu.
"S-siapa yg kau panggil penguntit hah?!"
"Dasar Stalker! Hacker!"
"Berhenti menyebut istilah yg tak kumengerti!"
Selagi Osamu dan Zero saling adu mulut, aku datang menghampiri Kayn.
"Kayn, selama aku pergi apa kau mendapatkan semacam informasi dari Elsie? Atau kalian sama sekali tak berbicara satu sama lain?"
"Kami berbicara kok. Si Elsie itu tak seperti kelihatannya, ia cukup cerewet kalau sudah dekat dengan orang ...." Ucap Kayn. Dari raut wajahnya, sepertinya ia dipaksa mendengar semua yg keluar dari mulut Elsie. Apa dia benar-benar secerewet itu?
"Jadi, apa yg kalian bicarakan?"
"Dia memberitahu ku kenapa vampir-vampir ini ingin mengalahkan Rozalia ...."
"Benarkah? Ini cukup menarik."
"Kabarnya, diantara ras vampir Rozalia adalah yg paling rakus dari mereka. Bahkan kabarnya ia juga sering melakukan kanibalisme di kalangan mereka."
"Yah, seperti yg kuduga sih."
"Ditambah lagi, dia itu vampir murni. Bisa dibilang sebagai keturunan langsung leluhur vampir. Ia sudah menjadi vampir dari awal, karena itu ia memiliki sifat rakus yg tak ada habisnya. Dengan posisinya sebagai vampir keturunan murni sekaligus ratu vampir, ia menerapkan pemerintahan diktator dibawah kuasanya. Ia sering memanfaatkan vampir lain hanya demi kepuasan nafsunya. Banyak yg rela menurutinya, dan banyak juga yg enggan menurutinya. Elsie bilang, mereka yg menentangnya telah disiksa dan dibantai oleh Rozalia seorang diri. Itu terjadi sekitar puluhan tahun yg lalu, tepatnya saat masa-masa awal ia menjadi ratu vampir ke-9."
__ADS_1
"Lalu, apa yg raja dan ratu ke-8 lakukan setelah melihat semua ini?"
"Itulah yg membuatku heran. Kabarnya, raja vampir saat ini masih dalam tidur panjangnya setelah perang besar 100 tahun yg lalu. Dan ratu vampir ke-8 hanya diam tak melakukan apapun. Aku tak tahu alasannya, tapi kelihatannya ia tak mampu menentang Rozalia."
"Bahkan ratu ke-8 sekalipun tak sanggup menghadapi nya? Apa semua itu hanya karena Counter nya?"
"Ya, sepertinya begitu. Nampaknya tak ada sihir Disspell dalam dunia persihiran mereka."
"Itu mengejutkan, padahal mereka sudah hidup ratusan tahun lamanya ...."
Sekarang aku sudah paham apa yg mereka rasakan. Hidup dengan diselimuti rasa takut sama sekali tak menyenangkan, meskipun ada beberapa orang gila yg senang dengan perasaan takut yg ia alami.
Para vampir itu tak ingin mati ditangan Rozalia. Dan mereka juga tak ingin secara sukarela menuruti semua keinginannya. Mereka ingin melawan, tapi mereka tak mampu. Karena itu mereka diam-diam memendam perasaan dendam ini jauh di dalam hati mereka.
"Begitu rupanya ... Aku jadi sedikit kasihan pada mereka. Padahal tadinya aku berniat membunuh mereka semua setelah Rozalia dikalahkan. Sepertinya itu tak akan terjadi ya ...."
"Eh? Kau benar-benar berpikir untuk melakukan itu Zayn? Apa kau tak bisa bersikap seperti manusia pada umumnya? Apa kau ini monster?"
"Berhenti menatap jijik kearahku. Lagipula The Monster itu julukanku."
Setelah beberapa saat berdebat, Osamu dan Zero kembali serius. Ini bukan waktunya untuk bercanda, masih belum waktunya untuk itu. Karena itu kami harus serius.
Dihadapan kami semua, Osamu berdeham menghilangkan kegugupan dalam dirinya.
"Kalau begitu, kupikir keputusan ku yg tadi perlu kuubah," ucapnya. "Kayn, kupikir kaulah yg paling cocok dalam tugas kali ini."
"Eh? Aku?"
"Aku sependapat. Dibandingkan diriku, Kayn memiliki kemampuan bertarung yg lebih hebat. Berbeda jauh dariku yg seutuhnya ahli medis dan pertahanan," ucap nona Stephanie.
"Bibi Stephanie benar. Kayn lah yg paling cocok mengisi posisi ini." Kak Marry juga mendukung nya.
"Kalau begitu, Kayn dan Zuan akan menghadapi Rozalia secara langsung. Dan sisanya mengurus para vampir bangsawan yg lain. Apa benar begitu?" Tanya pak Vestine.
"Tepat sekali," jawab Osamu. "Kalian setuju dengan rencana ini, Zuan dan rekannya?"
"Tak Masalah," jawab Zuan. "Selama Rozalia berhasil dikalahkan, aku akan melakukan apapun."
"Bagus," ucap Osamu. "Setelah ini aku akan menghilangkan sihir Infinity Chamber ku. Zuan dan vampir lainnya akan segera mundur dan kembali ke pasukan vampir. Ingat, usahakan untuk berpencar secara perorangan disetiap regu secara alami. Masalah ini kuserahkan padamu, Zuan."
"Tenang saja, aku pasti bisa mengurusnya."
"Kita juga akan kembali dan mengabarkan keadaan saat ini ke yg lain. Semuanya bersiaplah," ucap Osamu.
"Semuanya, berjuang!"
"Baik!!"
"Infinity Chamber, Deactive."
__ADS_1