
"kerja bagus semuanya. Dengan begini, alur pertempuran didepan mata dapat kita ambil alih."
Jam dua dini hari, kami kembali menggelar rapat gabungan antara ReVoid dan Magic Assosiation. Berkat sihir Zero yaitu Spectral Layer, pak Vestine dapat mengamati tiap kelebihan serta kekurangan semua Magic Knight. Ditambah lagi, pihak vampir kembali kehilangan satu Vampir bangsawan. Dengan ini kekuatan pihak vampir bisa sedikit di kurangi.
Rozalia juga tak muncul malam ini. Yah, aku sudah menduganya. Lagipula kalau dia muncul untuk apa dia mengirim Quiela dan dua vampir bangsawan yg tadi untuk menangkap ku. Kalau dia ingin, dia bisa saja dengan mudah menangkapku.
"Dengan bantuan sihir Zero, kurasa aku sudah paham sebagian besar kemampuan kalian, para Magic Knight." Pak Vestine memimpin rapat ini dan memulainya dengan hasil pengamatannya. "Marry dengan kemampuan sihir element dan penciptaan senjatanya, bisa dianggap sebagai kartu as yg kita miliki saat ini. Kemampuan pengendalian senjata jarak jauh ditambah dengan 5 element yg berbeda bisa menjadi hambatan terbesar para vampir."
"Ah, kau tak perlu memujiku seperti itu paman Vestine. Malah sebenarnya kemampuan ku tak sehebat yg dipikirkan," balas kak Marry. Entah kenapa, ia terlihat sangat merendah kali ini.
"Seperti yg Marry katakan, kemampuan nya belum bisa dikategorikan sebagai senjata andalan. Itu karena kemampuannya hanya berporos pada kelima Element itu saja," jelas kak Chezie. Kak Marry juga kelihatan setuju dengan itu.
"Sebenarnya, kemampuan milik Kayn jauh lebih hebat. Karena kemampuan Insomnia miliknya mampu menciptakan senjata maupun sosok imajinasi yg ia bayangkan. Jika ia membayangkan pedang sihir beratribut api, maka pedang api itu akan muncul. Meskipun ia tak memiliki atribut sihir api. Selama ia memiliki gambaran jelas tentang bentuk serta kemampuan suatu objek, ia dapat memunculkannya. Dengan kata lain, kemampuan Kayn jauh lebih fleksibel karena dapat diatur sesuai kondisi yg ia hadapi," Jelas kak Marry. "Jika dibandingkan denganku yg hanya mengandalkan bentuk serta lima element itu, aku belum seberapa."
Mendengar itu, aku sedikit kaget. Tak kusangka Kayn memiliki kekuatan sehebat itu.
"Eh? Apa benar sehebat itu?"
Yah, lebih anehnya lagi si Kayn yg merupakan pemilik kekuatan itu sama sekali tak mengetahui tentang ini.
"Yg benar saja. Kau tak tahu soal ini Kayn?" Tanyaku.
"Aku tahu kalau Insomnia bisa mewujudkan objek yg ku bayangkan. Tapi aku baru tahu kalau kekuatan objek itu juga dapat muncul jika kubayangkan dengan jelas," jelas Kayn.
"Aku terkejut, kau bahkan tak mengetahui potensi sebenarnya kekuatanmu," ucap nona Stephanie sedikit menahan tawa.
"Wajar saja, soalnya semua benda yg kau munculkan itu berasal dari imajinasi mu tentang senjata legendaris zaman kuno, kan? Kau belum pernah membayangkan sesuatu yg benar-benar imajinasi mu," ucap kak Marry.
"Y-ya ... Itu benar." Kali ini Kayn tersipu malu.
Baru kali ini aku melihat Kayn merasa semalu ini. Yah, bagaimana pun dia juga manusia. Tapi aku cukup senang melihat Kayn yg biasanya mempermalukan ku merasa dipermalukan seperti ini. Dengan ini aku bisa istirahat dengan tenang.
"Kemampuan Kayn memang hebat. Tapi ia belum memiliki keterampilan serta pengalaman yg cukup. Dalam pertempuran kekuatan memang penting, tapi pengalaman jauh lebih penting," jelas pak Vestine.
"Ya, kurasa aku setuju dengan itu." Nona Stephanie juga sependapat. Sebenarnya, aku juga memikirkan hal yg sama.
Sebagai mantan tentara, aku tahu pasti hal itu. Di medan perang, banyak orang hebat yg terbunuh karena merasa bisa melakukan apa saja. Mereka yg kuat, namun tak memiliki pengalaman hanya akan membuang-buang nyawa mereka. Sedangkan para profesional yg sudah berpengalaman dapat menguasai pertempuran meskipun mereka tak memiliki kekuatan yg hebat. Seperti apa kata orang, pengalaman adalah senjata terkuat.
"Disisi lain, kita juga memiliki pengawas yg luar biasa. Kemampuan Zero dalam mengawasi musuh memang sangat menakjubkan."
"Itu memang benar. Zero bisa dibilang sebagai sebuah keajaiban."
"Hehehe, silahkan puji aku. Aku tak akan melarangnya," ucap Zero.
Entah kenapa melihat sisi nya yg seperti ini membuatku muak dan sedikit jijik. Untuk seorang pengurung diri, tak kusangka dipuji sedikit saja bisa membuatnya seperti ini.
"Yah, meskipun begitu aku cukup kagum dengan alat komunikasi yg kalian gunakan. Walaupun menggunakan telepati jauh lebih mudah ...."
"Zero, biar kukatakan sekali lagi. Tak semua orang bisa menggunakan telepati," ucap Guts yg duduk di hadapan Zero.
"Ya ya sudah berapa kali kau mengatakan nya?" Balasnya. "Padahal aku sudah baik memuji kehebatan mereka dalam teknologi."
"Lain kali belajarlah cara memuji yg benar, Zero," ucap Gale.
__ADS_1
Mendengar kata-kata Gale, tawa kami pun pecah. Meskipun ini masih dalam masa-masa krisis, sedikit peregangan emosi juga sangat diperlukan. Jika kami terus menerus tegang karena pertempuran ini, bisa-bisa kami kelelahan dan tak bisa mengeluarkan potensi kami. Karena itu sedikit canda tawa juga sangat penting.
Disela-sela rapat, keributan terdengar dari luar tenda. Seakan sesuatu terjadi dan membuat suasana diluar menjadi ricuh. Sesaat kemudian, seorang prajurit ReVoid masuk kedalam tenda dengan tergesa-gesa.
"Permisi, ada kabar penting!"
Kedatangannya membuat rapat terhenti sejenak.
"Ada apa? Apa yg terjadi diluar sana?" Tanya pak Vestine.
Saat aku mencoba merasakan hawa disekitar, aku menemukan hawa keberadaan vampir.
"Ada vampir diluar! Tapi ... Tapi katanya dia tak berniat untuk bertarung."
"Tak berniat untuk bertarung?" Tanya pak Vestine.
"Ia mengatakan kalau ia bukan bagian dari pengikut Rozalia."
Perkataan itu kembali mengingatkan ku dengan dua vampir yg tadi muncul bersama Quiela, si Nebula dan Bayorn. Dua vampir yg tak memiliki sikap loyal sama sekali terhadap Rozalia. Atau bisa dibilang, vampir yg memberontak dari kubu Rozalia.
Setelah mendengarnya, kami segera bergegas keluar dan menemui vampir yg saat ini ditahan di luar area tenda. Karena sekeliling area ini di letakkan perak murni, para vampir tak akan bisa masuk.
Kami perlu memastikan apa yg sebenarnya terjadi. Vampir yg mengatakan dirinya bukan bagian dari Rozalia, apa sebenarnya yg ia inginkan disini? Tapi ini bukan sepenuhnya masalah. Jika memungkinkan, kami bisa mengorek beberapa informasi darinya.
Di sisi Utara markas sementara ReVoid, beberapa prajurit dengan senjata yg menyerupai shootgun model lama berkerumun, menodongkan senjatanya ke seorang pemuda yg tak lain adalah vampir. Ia menutupi kepalanya dengan jubah berhodie, dengan tubuh sedikit gemetaran.
Disaat kami datang, ia langsung mengenali pak Vestine dan hendak mendatanginya.
"Hey berhenti bergerak!"
Pak Vestine maju ke hadapan vampir itu dengan langkah pasti. Prajurit yg lain tetap dalam posisi siaga, bersiap kalau saja vampir itu melakukan hal yg mencurigakan. Karena bagaimanapun dia ini vampir. Mereka pasti akan melakukan apa saja agar tujuan mereka tercapai.
"Kumohon, aku bukan musuh kalian. Aku berani bersumpah kalau aku tak berniat menyakiti kalian!" Ucap Vampir itu.
"Sebelum mengatakan itu, bukankah lebih baik kalau kau memperkenalkan dirimu lebih dahulu?" Tanya pak Vestine.
"M-maaf ... Aku hanya rakyat jelata. Aku belum pernah diajari etika bangsawan sebelumnya," ucap Vampir itu. "Namaku Vic Fenedic. Aku berasal dari Hwatz, desa kecil di Siberia ...."
"Hwatz di Siberia? Kudengar desa itu lenyap dalam semalam karena serangan vampir setengah tahun yg lalu?" Tanya pak Vestine.
"Itu benar. Vampir-vampir itu membunuh seluruh warga desa di tengah malam. Semua orang tewas, dan entah kenapa aku dibiarkan hidup dan menjadi vampir seperti mereka," ucapnya. "Aku tak punya hubungan apapun dengan vampir-vampir itu. Malahan aku sangat membenci mereka. Tapi vampir kelas bawah tak bisa menentang perintah para bangsawan. Karena hal itu aku dengan terpaksa hidup bersama mereka sebagai pasukan penyerang ini ...."
"Lalu, apa hubungannya dengan kedatangan mu saat ini?" Tanya Kallen yg ikut datang bersama pak Vestine. "Meskipun kau dulunya adalah manusia, tapi sekarang kau adalah vampir. Jangan berharap kalau kau ingin meminta perlindungan dari kami ...."
"B-bukan, bukan begitu. Aku sudah tak peduli lagi dengan nyawaku, namun dendam di hatiku tak akan hilang begitu saja!" Teriaknya. "Aku datang kesini untuk membocorkan informasi tentang tujuan Rozalia datang ke kota ini."
"Dan kau kira kami bisa mempercayaimu begitu saja?" Sanggah Kallen lagi. "Bisa jadi ini adalah kebohongan, dan kau adalah mata-mata yg hendak menghancurkan kami dari dalam. Para vampir sangat suka melakukan hal itu kan?"
"B-bukan! Aku benar-benar bukan mata-mata! Aku tak berbohong! Aku benar-benar datang untuk memberitahu kalian informasi yg sudah susah payah kucuri ini!"
"Kalau begitu apa buktinya?"
"Aku ... Aku akan memberikan nyawaku. Kalau aku berbohong, kalian boleh membunuhku!"
__ADS_1
"Tapi bukankah kau tak peduli lagi dengan nyawamu? Begitupun kami. Jadi membunuhmu itu tak bisa dijadikan bukti kalau kau tak berbohong." Kallen membantahnya mentah-mentah. Sepertinya ia benar-benar membenci vampir.
"T-tapi ... Kalau begitu aku—
"Dia tak berbohong, aku menjaminnya."
Zero yg dari tadi memperhatikan dari belakang memotong perkataan vampir bernama Vic itu. Semua perhatian lantas tertuju padanya.
"Apa yg membuatmu berpikir seperti itu?"
"Salah satu sihir milikku, Eye of Truth. Dengan sihir ini aku dapat melihat kebohongan makhluk yg menjadi objeknya," jawab Zero. "Tak ada tanda-tanda kebohongan padanya, selain itu ia tak punya alasan untuk berbohong. Karena itu aku menjaminnya."
Mempertimbangkan alasan Zero, pak Vestine akhirnya menerima vampir itu.
"Kalau begitu, katakan apa yg kau ketahui, Vic Fenedic." Ucapnya.
"B-baiklah!" Jawabnya. Ia kemudian mengeluarkan sebuah kertas gulungan dari salah satu tas kecil yg ia bawa. "Ini adalah alasan para vampir datang ke kota ini."
Pak Vestine meraih gulungan itu dan segera membukanya. Disana, sebuah tulisan tangan dengan sebuah gambar di tengah-tengahnya. Itu adalah gambar sebuah tongkat sihir dengan bentuk yg mirip seperti sebuah artefak. Tidak, ini memang lah sebuah artefak.
"Itu adalah salah satu artefak kuno milik kerajaan vampir di masa lampau. Sebuah tongkat sihir yg mampu melemahkan dan memanen jiwa sebuah kota. Itu adalah benda terlarang yg direbut ketika peperangan antara vampir dan manusia 500 tahun yg lalu. Tongkat kutukan, Death wand," jelasnya. "Dan tongkat itu sekarang sedang disegel di suatu tempat di kota ini."
"Disegel di kota ini?"
"Aku tak tahu dimana itu. Tapi karena itulah para vampir berkeliaran dan mencari keberadaan tongkat itu," Ucapnya.
Jadi begitu. Karena itu tak banyak vampir yg berkeliaran di wilayah warga. dari awal mereka tak berniat untuk memangsa mereka. Karena kalau aku jadi Rozalia, aku pasti akan berusaha sekeras mungkin untuk menemukan tingkat itu. Jika tongkat itu jatuh ditangan mereka, kota ini akan hancur dalam sekejap mata. Dan semua manusia yg ada di dalamnya akan menjadi santapan para vampir.
"Rozalia berencana menghancurkan negara-negara lain dengannya. Karena itu, kalian harus segera menemukan tongkat itu dan meng—
Seketika, sebuah aura merah muncul dan melesat cepat bagaikan anak panah raksasa. Hantamannya yg begitu keras itu membuat kami terhempas mundur. Kepulan asap yg muncul karena hantaman itu membuat pandangan kami kabur.
Dan saat asap ini hilang, sosok Vic berdiri dengan sebuah panah merah yg sangat besar menancap di dadanya. Ia diam tak merespon. Atau lebih tepatnya, ia tewas karena panah raksasa itu menembus jantung nya. Perlahan, tubunya hancur menjadi abu dan menghilang.
"Siapa itu?!"
Dari atas bangunan, kami melihat sosok monster yg terbuat dari aura merah padat, berdiri menatap kami dari atas bangunan tersebut. Makhluk aneh itu memiliki Manna gelap yg begitu pekat. Tingkat kepekatannya jauh diatas Vience, bahkan diatas Kuvra. Dan ditengah-tengah aura monster itu, seorang pria berambut merah berdiri menatap kearah kami.
"Pengkhianat tak pantas untuk hidup!"
Meskipun ia berkata seperti itu, aku tak merasakan hawa membunuh, ataupun hawa kemarahan.
"Siapa kau?!"
"Ia menatap kami dengan tatapan mengintimidasi, tapi hanya itu saja.
"Namaku Zuan Von Archimiste. Vampir bangsawan peringkat kedua ... Dan juga pembawa pesan dari nyonya Rozalia," ucapnya. " Kematian Vience dan juga Quiela ... Kalian benar-benar sudah membuatnya marah besar. Perang sudah pasti akan terjadi di kota kecil ini ...."
"Perang?"
"Wahai manusia yg tak bisa apa-apa. Mulai malam ini, Rozalia le Porte sebagai ratu vampir ke-9 menyatakan perang terhadap kalian!" Teriaknya. "Yah, walaupun ini akan jadi lebih seperti pembantaian dari pada perang ...."
Dari ucapannya barusan, terdengar seakan ia tak menyetujui apa yg barusan ia katakan. Seperti sebuah amarah kebohongan yg dipaksakan.
__ADS_1
"Yah, Bersiaplah manusia, perang sesungguhnya baru saja akan dimulai!"